
Joan sudah menunggu Karina diruang tamu dengan harap-harap cemas. Berulang kali dia melihat ponselnya, berharap Karina memberikan kabar baik untuknya. Namun sampai sekarang tidak satupun pesan Joan yang dibalas olehnya.
Tiiinnnnn!
Terdengar klakson mobil dari luar, kemudian Joan beranjak dari tempat duduknya dan melihat mobil siapa yang datang. Ternyata itu adalah mobil Karina, orang yang sudah dinanti-nantikanya dari tadi.
Tidak sabar rasanya dia menunggu Karina berjalan kearahnya. Sehingga dia lebih dulu nyamperin Karina yang baru saja turun dari mobilnya.
"Gimana? Apakah papi menyetujuinya?" Tanya Joan sudah tidak sabar menunggu Karina masuk kedalam.
"Sabarlah, Belum juga Karina masuk. Tunggu sebentar...kita berbicara didalam saja." Kata Karina sambil berjalan melewati Joan dan tidak mempedulikanya.
Kemudian Joan mengejar Karina dibelakangnya sambil terus bertanya tentang keputusan papinya.
"Apakah Papi menyetujui jika aku bekerja lagi?" Tanya Joan.
"Iya. Mulai besok kamu boleh bekerja di perusahaan papi." Kata Karina sambil minum air putih dan duduk dimeja makan.
"Secepat itu? Kamu memang lihai, aku salut padamu."
"Iya. Kamu harus bekerja keras dan jangan bermalas-malasan itu pesan papi."
"Okay bos. Tentu saja aku akan bekerja keras. Aku akan datang pagi-pagi dan pulang malam-malam." Kata Joan yang suka rajin jika diawal bekerja, tapi setelah itu dia akan mulai melupakan janjinya.
"Ngga usah sampai segitunya kali." Kata Karina geregetan karena Joan suka berlebihan.
"Kan kata papi kamu aku harus bekerja keras. Maka aku akan membuat perusahaan papi kamu lebih hebat dari perusahaan Prasetyo, suaminya Nadiya." Kata Joan mulai sombong.
"Ya. Kamu harus tunjukan pada papi, jika kamu bersungguh-sungguh dan bisa dipercaya."
"Ya. Itu sudah pasti." Kata Joan dengan mantap.
"Besok kamu harus sudah mulai bekerja dicabang A." Kata Karina.
Uhuk!
"Kok dicabang A?" Kata Joan yang hampir saja tersedak karena mendengar Karina berbicara jika dia akan bekerja dikantor cabang, bukanya dikantor pusat.
"Iya...kata papi kamu bekerja dari nol, dicabang A, makanya kamu harus bekerja keras dan tunjukan kepapi kalau kamu lebih hebat dari Nadiya. Sehingga lama-lama kamu bisa naik pangkat dan memimpin dikantor pusat." Kata Nadiya.
__ADS_1
"Aku pikir akan bekerja dikantor pusat dan menjadi CEO, ternyata cuman memimpin kantor cabang." Kata Joan dengan nada kecewa.
"Daripada kamu tidak bekerja dan jadi pengangguran. Lebih baik kamu bersabar dulu, dan tunjukan jika kamu memang pekerja keras, sehingga jabatan Nadiya suatu saat bisa kamu ambil alih." Kata Karina menasehati Joan yang maunya serba instan.
"Sebenarnya aku malu bekerja dikantor cabang, secara aku ini menantu pemilik perusahaan, masa iya bekerja dikantor cabang? Apa kata orang nanti?" Kata Joan sambil tersungut.
"Terserah kamu. Karena jika kamu tidak bekerja maka tidak ada satupun perusahaan yang akan mempekerjakan kamu. Sekarang uang bulanan ku juga sudah dibatasi oleh Nadiya. Jadi lebih baik kamu bekerja mulai besok." Kata Karina.
"Ya sudahlah. Aku akan bekerja dan aku tidak jadi mengajakmu keliling dunia."
"Kok gitu?" Kata Karina kesal.
"Ya. Karena tidak sesuai ekspektasi." Kata Joan.
Kemudian Joan pergi keluar dan menghilang dengan Mogenya.
🌹🌹🌹
Joan sampai ketempat yang baru pertama kali dikunjunginya. Kantor pusat PT Adam Karya. Berdasarkan alamat yang tertera di sebuah kartu nama yang pernah diberikan Ardy padanya maka tidak membutuhkan waktu lama untuk mencari lokasinya.
Dipintu masuk dia didekati oleh security dan bertanya akan bertemu siapa?
"Apakah bapak sudah ada janji dengan beliau?"
Kemudian security itu menemui sekretaris Ardy dan menunggu sebentar sampai sekretaris itu kembali.
"Baiklah suruh dia masuk." Kata Ardy dari dalam kantornya.
"Baik pak." Kata sekretarisnya sambil undur diri.
Kemudian sekretaris itu menemui security dan menganggukkan kepalanya, dan menyampaikan jika Bapak Joan silahkan langsung menuju keruangan CEO.
"Mari pak saya antar." Kata security itu dengan hormat.
tok! tok! tok!
Security itu mengetuk pintu CEO dan setelah mendengar sahutan dari dalam kemudian menyuruh tamunya masuk kedalam.
"Ya. Masuk." Kata Ardy sambil berbalik dari kursi putarnya.
__ADS_1
"Wah! wah! wah! Sangat luar biasa pak CEO yang terhormat." Kata Joan sambil betapa megahnya ruangan Ardy dan kantornya yang terlihat sangat elite.
"Duduklah. Katakan ada urusan apa kau menemuiku." Kata Ardy tanpa basa-basi. Karena dia tahu saat ini dia sedang berhadapan dengan ular menurutnya.
"Ya. ya. ya....." Kata Joan sambil manggut-manggut. "Sabar...kita baru saja bertemu lagi, apakah tidak ada minuman untuku? Tenggorokanku sangat kering. Suruh sekretarismu untuk memberikan minuman untuku, aku butuh segelas kopi." Kata Joan tanpa rasa sungkan. Ardy sangat kesal dengan ulahnya yang menyebalkan.
Kemudian Ardy menelfon sekretarisnya dan menyuruhnya untuk membuatkan dua cangkir kopi.
Tidak lama kemudian sekretaris itu sudah datang dengan dua gelas kopi panas, dan meletakkannya diatas meja Ardy.
"Terimakasih. Kau boleh pergi." Kata Ardy kemudian.
Setelah sekretaris itu pergi Ardy bertanya apa keperluan Joan datang ke kantornya.
"Katakan. Untuk apa kau datang ke kantorku?" Tanya Ardy.
"Aku butuh pekerjaan." Kata Joan kemudian sambil nyeruput kopinya.
"Bukankah kau bisa bekerja di perusahaan istrimu?"
"Tidak! Aku akan bekerja padamu. Berikan aku pekerjaan." Kata Joan sambil mainkan pulpen diatas meja.
Kurang ajar! Si ular ini pasti sedang memerasnya. Jika dia tidak menurutinya mulutnya yang berbisa ini bisa menghancurkan kehidupanya. Sial! Kenapa aku harus berurusan dengan manusia ular seperti dia. gumam Ardy.
"Baiklah, mulai besok kau boleh bekerja disini." Kata Ardy.
"Nah gitu dong! Jadi kita impas. Aku pernah membantumu beberapa waktu lalu jadi sekarang kita sudah impas." Kata Joan sambil menghabiskan kopinya.
Membantu tapi tidak bisa membatalkan pernikahan Nadiya. Dan sekarang dia malah harus satu kantor dengan ular ini.
"Jika tidak ada yang ingin kau bicarakan pergilah. Aku mau bekerja. Ada rapat penting beberapa hari." Kata Ardy mengusir Joan, karena jika tidak maka kehadiranya membuatnya tidak bisa konsentrasi bekerja.
"Baiklah Tuan CEO. Hamba mohon diri." Kata Joan sambil cengengesan keluar dari ruangan Ardy. Kemudian dia berbalik lagi. "Terimakasih kopinya. Besok aku akan datang lebih awal. Dan....kita akan lebih sering bertemu setelah ini." Kata Joan sambil menutup pintu ruangan Ardy.
Joan berjalan sambil senyam-senyum sama beberapa pegawai Ardy yang cantik-cantik.
Heran! Banyak sekali disini pegawai yang cantik-cantik dan Ardy sama sekali tidak tertarik. Malah masih mengejar mantan istrinya yang terang-terangan sudah menikah dengan orang lain. Dasar sibodoh itu! Suasana disini pasti akan membuatnya betah bekerja. Apalagi banyak wanita cantik yang akan membuat suasana tidak garing dan membosankan. Tidak seperti dikantor Nadiya. Hening seperti kuburan. Yang kerja juga tidak ada yang cantik menurutnya. Apalagi si oon Danar itu, jelek tapi jadi wakil CEO, heran gue. Ada gue yang ganteng, malah tidak dimanfaatkan. Carinya yang dibawah standar! Dasar wanita aneh, si Nadiya itu! Gumam Joan sambil cengengesan dan tersenyum penuh kemenangan.
Sementara Ardy sangat kesal dengan kedatangan siJoan yang sedang memerasnya.
__ADS_1
Ardy berdiri dan tanganya mengepal lalu meninju meja sampai terdengar oleh sekretaris yang mejanya tidak jauh dari ruangannya.
Kemudian Ardy berdiri didekat jendela dan menatap kebawah gedung. Disana mobil berlalu lalang sangat rame dan terlihat kemacetan di sana-sini dari tempatnya berdiri. Konsentrasinya jadi buyar karena kedatangan Joan yang mendadak tanpa pemberitahuan.