
Sarah mencari taksi dan memberikan alamat yang ditulis oleh sekuriti itu kepada sopir taksi.
"Pak, antarkan saya kealamat ini." Kata Sarah sambil memberikan alamatnya.
"Baik ibu."
"Apakah jauh dari sini?" Tanya Sarah penasaran.
"Kurang lebih satu jam perjalanan." Kata Sopir taksi itu.
"Baiklah pak." Kata Sarah sambil memeluk putrinya yang masih bersedih karena tidak bisa bertemu dengan papinya.
"Jalan sini macet Bu, bagaimana kalau lewat jalan tikus saja." Kata Sopir itu.
"Baiklah terserah bapak saja." Kata Sarah sambil melihat jauh ke depan yang memang sedang terjadi kemacetan panjang.
Setelah melewati jalan perkampungan yang berlika liku yang orang sebut jalan tikus tidak lama kemudian mereka sudah sampai ketempat yang dituju.
Sarah turun dan melihat argo dan membayar sejumlah yang tertera pada argo.
"Ini kembaliannya Bu. Tidak usah pak, bapak simpan saja." Kata Sarah sambil menutup pintu taksi.
"Terimakasih Bu." Kata sopir taksi kemudian melaju dan meninggalkan pemakaman umum itu.
Sarah menggandeng tangan Sasha dan berjalan menuju pos penjagaan dan bertanya letak kuburan sesuai kertas yang diberikan oleh sekuriti itu.
"Ya. Mari saya antarkan kesana." Kata penjaga itu. Kemudian mereka sampai pada gundukan tanah yang bertuliskan nama Leonardy di batu nisannya.
Sarah langsung menangis terduduk sambil memegang batu nisan itu. Sementara Sasha berdiri dan menangis sesenggukan karena papinya terkubur didalam tanah dan mereka tidak bisa berjumpa lagi.
Padahal Sasha sangat merindukanya. Terakhir kali mereka bertemu usia Sasha baru lima tahun. Dan sekarang usianya sudah sembilan tahun. Bagaimana mungkin dia tidak merindukan sosok papinya yang dia lihat saat pertama kali mengenal dunia ini.
__ADS_1
Maafkan aku Leo, aku tidak menyangka jika kita tidak akan bertemu lagi. Kau begitu marah dan meninggalkan rumah dalam keadaan sangat marah. Dan aku tidak bisa menghubungimu lagi karena aku pikir kau tidak akan pernah memaafkanku.
Sekarang kau sudah damai disisiNya, aku hanya bisa mendoakan agar kau tenang disana. Maafkan aku karena terpaksa membohongimu dan tidak jujur padamu. Dan lihatlah anakmu sekarang sudah besar dan dia sangat merindukanmu. Kau adalah ayahnya, tapi kau tidak mau mendengarkanku waktu itu. Jika saja kau tidak pergi dari rumah dan memberikan aku kesempatan sekali saja untuk memperbaiki semuanya, mungkin kita akan hidup bahagia.
Pasti kau sangat sedih dan kecewa hingga kau bahkan tidak mendengar jika kami sangat merindukanmu dan menyayangimu.
Kemudian setelah mendoakan dan menabur bunga diatas pusara itu, Sarah mengajak Sasha untuk kembali ke hotel.
Sesampainya di hotel Sasha langsung tidur karena lelah sementara Sarah masih terjaga dan bersedih atas kepergian Leo. Walau bagaimanapun Leo sudah berjasa padanya dengan menyelamatkan kehormatannya dan juga memberikan nama dan pengakuan untuk Sasha.
Akhirnya Sarah memutuskan untuk secepatnya kembali ke Amerika lebih awal dari rencana sebelumnya. Jika mereka terus berada disini maka bayang-bayang kesedihan akan terus membuat hati putrinya hancur. Lebih baik secepatnya dia tinggalkan negara ini, karena sudah tidak ada yang tersisa disini.
Keesokan harinya Sarah mengajak Sasha untuk makan direstoran dimana dulu dia sering makan bersama Leo. Sekedar mengenang beberapa momen kebahagiaan yang pernah dia lewati bersama Leo.
Sarah duduk dimeja paling ujung dan agak jauh dari pintu masuk. Dia sedang menikmati makan siang dan minuman dingin, namun tiba-tiba terdengar suara orang yang sangat dikenalnya sedang berbicara pada kasir. Dan saat Sarah menoleh ternyata itu adalah Ardy dan Elis yang sedang membayar pesananya.
"Ardy?" Kata Sarah sambil terbengong dan tidak percaya jika dia akan bertemu dengan Ardy. Dan Sasha? Tidak! Aku tidak akan mempertemukan mereka. Bagi Sasha ayahnya sudah tiada. Aku tidak perlu mengungkapkan kebenaranya. Untuk apa? Dia adalah lelaki brengsek yang lari dari perbuatanya dan tidak mau bertanggung jawab.
Sarah mengajak Sasha untuk segera pergi dari restoran itu padahal makanan mereka belum habis.
"Makanan Sasha belum habis mami." Kata Sasha sambil membawa sisa burger yang masih sisa setengah.
"Nanti kita akan makan direstoran lain."
Kemudian Sarah dengan cepat berjalan dan memanggil taksi. Namun dia apes sekali karena Ardy melihatnya saat dia akan naik kemobilnya dan dengan cepat menarik tanganya sebelum taksi yang dia pesan membawanya lari.
"Sarah?" Kata Ardy sambil menariknya menjauh dari jalan raya. Sasha hanya terbengong melihat lelaki yang tidak dikenalnya menarik ibunya. Kemudian dia mengambil batu dan melemparkanya kearah orang itu yang sudah menyakiti maminya.
Dahi Ardy berdarah karena batu yang Sasha lempar lumayan besar sehingga kesempatan itu digunakan oleh Sarah untuk melarikan diri dengan taksi yang sudah menunggunya.
"Jalan pak." Kata Sarah setelah mereka berhasil kabur dan masuk kedalam taksi.
__ADS_1
"Ardy? Dahi kamu berdarah. Lagian kamu ngapain sih main tarik orang segala!" Kata Elis yang heran melihat tingkah sahabatnya.
"Cepat hentikan mereka!" Kata Ardy namun taksi yang membawa Sarah dan Sasha sudah pergi meninggalkan tempat itu dengan sangat cepat.
"Ayo masuk kemobil kita akan mengejarnya!" Kata Ardy kemudian dengan cepat masuk kedalam mobil dan mengejar taksi Sarah.
"Aku tidak boleh kehilangan anaku lagi!" Kata Ardy masih terus mengejar taksi. Jarak mereka lumayan jauh dan jalanan memang agak sepi saat itu. Sarah sangat ketakutan didalam taksi dan dia menyuruh sopir untuk melajukan mobilnya dengan lebih kencang.
"Kecepatannya sudah maksimal ibu. Dan ini sangat berbahaya." Kata sopir taksi itu.
Sementara Ardy juga melajukan kecepatannya dengan maksimal sehingga jarak mereka menjadi sangat dekat.
"Ardy ini sangat berbahaya!" Teriak Elis yang berpegangan kuat.
"Aku tidak boleh kehilangan dia lagi. Dia adalah anaku." Kata Ardy sambil menekan gas lebih kencang. Mobil itu melaju seperti terbang.
"Anak siapa maksudmu?" Tanya Elis makin bingung. Bukankah anaknya laki-laki, tapi kenapa sekarang dia bilang kalau anaknya perempuan. Apakah dia sudah gila? gumam Elis.
"Dia adalah anakku. Anaku jangan pergi. Papi ingin memelukmu." Kata Ardy tanpa mempedulikan keselamatanya dan terus mengejar taksi itu hingga jarak mereka sangat dekat.
"Pak lebih cepat lagi!" Kata Sarah kepada sopir itu saat dia tahu jarak mereka semakin dekat.
"Jangan ibu, sangat berbahaya, sebentar lagi ada tikungan tajam." Jawab sopir itu.
Duarrrrr!!!! Taksi itu bertabrakan dengan truk dan terpental, berguling-guling hingga menabrak sebuah pohon.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu berteriak histeris dan langsung berhamburan mendekati taksi yang sudah penyok sana-sini.
Ardy yang menyaksikan kejadian itu langsung menghentikan mobilnya dan berlari menuju taksi yang ditumpangi Sarah dan putrinya.
"Oh Tuhan Tidaaaakkkkkkk!!!!! Ardy berteriak dan membuat Elis histeris, karena ulahnya nyawa dua wanita itu dalam bahaya.
__ADS_1