Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Kisah Sasha


__ADS_3

Setelah selesai mandi Nadiya dan Prasetyo turun ke restoran. Disana sudah duduk Freya dan juga Arya. Freya tampak bermain dengan ponselnya sementara Arya lagi menelpon seseorang.


"Iya bos. Baiklah kita akan bertemu besok pagi." Kata Arya kepada Tuan Burhan.


Setelah itu Arya menutup teleponnya dan tersenyum kepada Nadiya dan juga Prasetyo yang baru saja datang.


"Tanganmu kenapa Pak Arya?" Tanya Nadiya saat melihat punggung tangan Arya memar.


"Ngga papa Bu. Ini hanya luka kecil saja." Kata Arya.


Tiba-tiba Nadiya menjadi kaget dan matanya beradu dengan seseorang. Dia adalah Dara, sahabatnya. Dara sedang duduk bersama seseorang, dia bukan Joan. Lalu siapakah dia?


Dara kemudian tersenyum kepada Nadiya dan karena kejadian dulu telah lama berlalu Nadiyapun membalas senyumannya.


Dara kemudian berpamitan kepada rekan kerjanya dan berjalan mendekati meja Nadiya. Nadiyapun berdiri karena tidak ingin Prasetyo berkenalan dengan beberapa teman masa lalunya. Nadiya sengaja menghindari topik yang berkaitan dengan masa lalu.


Nadiya tidak menyangka jika Dara akan berjalan mendekatinya. Akhirnya Nadiyapun berpamitan kepada Prasetyo untuk pergi kekamar mandi.


"Aku akan ke kamar kecil dulu." Kata Nadiya kepada Prasetyo.


"Baiklah." Kata Prasetyo.


Kemudian Nadiya dan Dara duduk ditempat berbeda.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Nadiya.


"Aku baik. Dan bagaimana denganmu?" Tanya Dara.


"Aku juga baik."


Sesaat merekapun terdiam.


"Maafkan apa yang sudah dilakukan oleh suamiku." Kata Dara.


"Tidak apa. Aku sudah melupakanya. Aku juga tidak ingin mengingatnya lagi. Aku saat ini sudah bahagia bersama Prasetyo." Kata Nadiya.


"Aku ikut bahagia untukmu. Aku lihat suamimu sangat mencintaimu." Kata Dara.


"Iya. Dan kau...apakah masih bersama Joan?"


"Tidak!" Kata Dara. "Kami sudah satu tahun pisah ranjang. Dan kami akan segera bercerai." Kata Dara.


"Ohh." Kata Nadiya.


"Aku tidak bisa meneruskan lagi rumah tangga denganya. Sekarang Kiara sudah besar dan sudah mengerti semuanya. Dia juga tidak keberatan dengan perceraian kami."


"Apakah dia calon suamimu?" Tanya Nadiya.


"Bukan. Dua hanya rekan kerjaku. Kami sedang ada proyek disini. Aku mungkin tidak akan berumah tangga lagi."


"Kenapa?"


"Mungkin aku lebih bahagia hidup sendiri seperti ini." Kata Dara sambil melayangkan matanya jauh kedepan.


"Ohh."

__ADS_1


"Belasan tahun berumah tangga dengan Joan dan aku rasa itu sudah cukup sebagai pengalaman. Dan untuk membuka kembali lembaran baru aku masih tidak siap. Bukan karena aku masih mencintai Joan. Namun karena aku sudah terlanjur nyaman dengan diriku sendiri." Kata Dara.


"Ya. Semua pilihan tergantung pada kita. Jangan sampai kita membuat keputusan yang diintervensi oleh opini publik." Kata Nadiya.


"Kau terlihat gemukan." Kata Nadiya saat melihat pipi Dara yang tembem.


"Kau juga...." Kata Dara.


Prasetyo menelpon Nadiya karena merasa sudah terlalu lama istrinya pergi. Nadiya kemudian mengangkat telepon dari Prasetyo.


"Kamu di mana?" Tanya Prasetyo.


"Aku lagi di jalan." Jawab Nadiya.


"Ya sudah. Setelah ini kita akan pulang." Kata Prasetyo.


"Ya, aku sebentar lagi sampai."


Nadiya kemudian menutup teleponnya.


"Dara, sepertinya aku akan kembali ke Jakarta." Kata Nadiya setelah mendapat telepon dari Prasetyo.


"Ya sudah, hati-hati, lain kali kita berbicara lagi." Kata dara dan mereka pun berpisah.


Dara dan Nadiya kembali ke meja masing-masing.


"Aku pikir kau pergi ke mana?" Kata Prasetyo saat melihat Nadiya datang dari kamar kecil.


"Aku tidak kemana-mana. Apakah kita akan pulang sekarang?"


"Ya, kita akan kembali sekarang."


Amerika


Sementara di Amerika, Sasha sedang duduk dengan seorang temannya. Dia adalah salah satu sahabat Regan, namanya Vano. Regan sudah memperingatkan Sasha agar tidak terlalu dekat dan percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan Vano, karena Regan tahu siapa Vano yang sebenarnya. Dia adalah pria yang tidak bisa dipegang ucapannya. Dia suka bergonta-ganti pasangan dan hidup dengan kebebasan mutlak.


Dia adalah anak tunggal gubernur di salah satu provinsi besar. Dengan kekuasaan ayahnya itulah dia menjadi arogan. Regan sedang melintas dan dia lihat saat itu Sasha sedang asyik berbicara dengan Vano di tangga menuju perpustakaan bawah tanah. Regan langsung mengirim pesan singkat pada Sasha dengan kesal.


"Pulang!"


Itu pesan singkat Regan untuk Sasha.


Sasha menoleh ke sana kemari, namun tidak juga menemukan sosok Regan.


"Cari siapa?" Tanya Vano sambil mengikuti arah pandangan Sasha. Sasha seperti sedang mencari seseorang.


"Nggak! Bukan siapa-siapa." Kata Sasha.


"Ayo kita turun ke bawah." Kata Vano.


"Lorong ini sedikit menyeramkan." Kata Sasha.


"Benar, konon katanya sering ada sosok yang keluar dari jendela sebelah sana." Kata Vano.


"Dari jendela itu?" Tanya Sasha sambil menunjuk ke arah jendela.

__ADS_1


"Apakah itu manusia?" Tanya Sasha.


"Sepertinya bukan. Dia seperti arwah yang tidak diterima oleh bumi dan juga langit." Kata Vano.


"Maksudmu arwah gentayangan?" Tanya Sasha.


"Yapp. Jawabanmu tepat."


"Aku jadi takut. Kenapa kita harus lewat sini?" Tanya Sasha.


"Karena tempat ini jarang didatangi oleh mahasiswa lain sejak muncul arwah itu."


"Sudah tahu begitu kenapa kau justru mengajakku kemari?" Tanya Sasha dan mulai merasakan udara yang pengap dan dingin.


"Perasaanku tidak enak." Kata Sasha.


"Ayo kita keluar dari sini." Ajak Sasha dan semakin ketakutan.


Namun Vano tidak mau, malah duduk di sebuah kursi yang sudah tua.


"Aku takut Vano," kata Sasha.


"Jangan takut honey, tempat ini adalah tempat yang paling nyaman untuk berduaan."


"Maksudmu?"


"Maksudku, tidak ada yang mengganggu."


"Tapi aku takut vano."


"Jangan takut. Sini bersandarlah padaku." Kata Vano dan meraih kepala Sasha kedalam pelukannya.


Saat ini Sasha mengenakan t-shirt berkerah rendah sehingga apa yang tersimpan di dalamnya bisa terlihat jelas oleh Vano, rupanya mengincar Sasha karena dia cantik dan seksi.


Wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang seksi merupakan warisan dari ibunya, Sarah, yang menjadi kembang desa saat dulu tinggal di kampungnya.


Selain itu, Sasha adalah gadis yang masih lugu. Dia pasti masih virgin. Keluguan dan kepolosan Sasha dimanfaatkan oleh lelaki hidung belang seperti Vano yang selalu memacari gadis-gadis yang belum berpengalaman seperti Sasha.


Dia mengincar kemolekan dan keperawanannya. Sudah banyak yang telah terenggut keperawanannya oleh Vano dan rata-rata mereka tidak ada yang berani melawan atau memberontak. Apalagi Vano terkenal licik dan berteman dengan gangster.


Sehingga dengan sedikit ancaman dari Vano, rata-rata mereka memilih untuk bungkam dan tidak mempublikasikannya.


Regan tahu apa yang dilakukan vano dari salah seorang teman wanita yang hampir saja termakan oleh rayuan manisnya. Hingga akhirnya dia bisa selamat dari Vano dan saat ini sedang melakukan pendekatan dengan Regan. Namanya adalah Madina.


Tangan Vano lama-lama menyusup ke dalam baju milik Sasha. Dan perlahan-lahan tangan nakalnya mengelus-elus perut Sasha.


Sasha menatap Vano dan menyingkirkan tangan Vano dari perutnya.


"Ayolah! Ini biasa dilakukan oleh para remaja di sini. Berpikirlah sedikit modern, jangan terlalu kuno." Kata Vano.


Tapi Sasha hanya tersenyum dan memegang kedua tangan Vano agar diam dan tidak merabanya.


"Kau tahu kenapa aku jatuh cinta padamu?" Tanya Vano.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena kau berbeda dengan mereka. Kau jinak-jinak merpati. Aku suka itu." Kata Vano sambil mencium punggung tangan Sasha


dengan bibirnya yang lembut.


__ADS_2