Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Figura


__ADS_3

Dikantor seorang pengacara sedang duduk dan karena lama dia lalu memanggil Prasetyo yang saat itu melintas didekatnya.


"Anda ada disini?" tanya Prasetyo yang baru saja memanggil bibinya untuk membersihkan kamar Sasha.


"Ibu Nadiya yang memanggil saya," kata Pengacara itu yang tadinya akan memasukkan Sasha kedalam kartu keluarga Prasetyo.


Prasetyo lalu baru saja ingat jika saat itu dia pernah membicarakan hal ini pada Nadiya. Dan Nadiya menyetujuinya, jika Sasha akan dimasukkan ke dalam kartu keluarga mereka.


"Ohh ya saya ingat. Baiklah, silahkan anda tunggu disini, saya akan membicarakan lagi dengan Nadiya." Lalu Prasetyo naik keatas dan menemui Nadiya.


"Kau memanggil seorang pengacara? Aku tidak menyangka akan secepat ini." kata Prasetyo dengan bahagia dan tersenyum kepada Nadiya.


Namun tidak dengan Nadiya. Wajahnya menjadi muram dan tanpa ekspresi.


"Aku akan turun kebawah." kata Nadiya.


"Apakah kau tadi mencari berkas dikamar Sasha?" tanya Prasetyo.


"Iya." jawab Nadiya.


"Lalu kenapa kamu tiba-tiba menangis dan menjadi aneh?" tanya Prasetyo.


"Tidak papa. Aku hanya sedang PMS."


"Ohh begitu rupanya." kata Prasetyo yang sudah mengenal sikap Nadiya kalau lagi PMS ada-ada saja yang membuatnya bertingkah aneh.


Bahkan saat tidak terjadi apa-apa, dia tetap gelisah dan tiba-tiba sedih.


"Ya, aku mengerti. Ayo kita turun kebawah!" ajak Prasetyo.


Lalu mereka kebawah dan menemui pengacara dikantor Nadiya yang ada dilantai dua didalam rumah itu.


"Maaf pak, bapak menunggu lama." kata Nadiya lalu duduk didepan pengacara tersebut.


Itu adalah pengacara yang sudah dikenal Nadiya sebelum Nadiya menikah dengan Prasetyo. Nadiya sangat mempercayainya karena pekerjaannya yang memuaskan. Dan dia selalu bisa diandalkan.

__ADS_1


Nadiya lalu menyerahkan berkas kepada pengacara tersebut.


Namun bukan berkas tentang nama Sasha yang akan diadopsi menjadi keluarga mereka, namun berkas tentang tanah disalah satu hotelnya yang akan dibeli oleh Arya untuk membuat kafe.


Pengacara itu nampak sedikit bingung, karena tadi saat dia datang Nadiya mengatakan hal yang berbeda.


Dia dipanggil untuk memasukkan Sasha kedalam kartu keluarganya. Namun sekarang yang diserahkan justru berkas tentang kepemilikan tanah itu.


"Ini saja pak. Saya akan berpikir ulang tentang yang tadi kita bicarakan." kata Nadiya dan membuat Prasetyo jadi bengong.


"Nad, bukankah kau akan mengadopsi Sasha?"


Tanya Prasetyo sambil menatap Nadiya dan pengacara itu secara bergantian.


"Itu nanti kita akan bicarakan lagi. Sekarang hanya ini saja pak." kata Nadiya dan melihat dari reaksinya sepertinya dia ingin agar pengacara itu segera pamit.


Pengacara yang sudah hafal gelagat dan sikap Nadiyapun langsung pamit dan pergi dari rumah Nadiya.


Setelah pengacara itu pergi, Prasetyo menyusul Nadiya kekamarnya.


"Ya. Aku tidak menemukan berkas dikamar Sasha. Nanti kita tunggu hingga Sasha pulang. Sebaiknya kita bicarakan hal ini denganya dulu sebelum kita memutuskan untuk mengadopsinya. Dia sudah dewasa. Kita akan menanyakan pendapatnya dulu." kata Nadiya lalu berbaring diranjang.


Prasetyo mengangguk dan sebenarnya masih ragu dengan sikap Nadiya.


Namun dia tidak ingin menanyakanya terlalu detail.


Nadiya melihat jam ditanganya. Dia tahu jika sebentar lagi Sasha akan pulang. Lalu dia akan menemui Sasha dan akan mengatakan hal yang penting diantara mereka berdua.


Dia tidak ingin Prasetyo dan Ibu Monic mengetahui rahasia apa yang tersimpan dari kelahiran Sasha.


Dan masa lalu yang kelam, dia tidak ingin mereka tahu semua hal itu.


Namun dia perlu berbicara dengan Sasha. Ya, hanya berdua saja.


Prasetyo lalu tertidur lebih cepat dari biasanya. Besok dia harus bangun lebih pagi karena dia harus keluar kota. Dia akan pergi selama satu Minggu.

__ADS_1


Dan hari ini dia sengaja tidur lebih awal. Sementara Regan belum pulang, karena dia masih asyik bermain ditempat yang tadi bersama Prasetyo.


Namun Prasetyo pulang lebih awal dan meninggalkan Regan disana.


Prasetyo teringat jika besok pagi dia harus keluar kota sebelum waktu subuh.


Ada proyek besar dan penting yang harus dikunjunginya. Biasanya Nadiya akan ikut jika Prasetyo pergi selama satu Minggu. Namun kali ini Nadiya memilih untuk tetap tinggal dirumah karena ada yang lebih penting saat ini.


Sasha.


Terdengar pintu kamar Sasha terbuka. Nadiya langsung bangun dan akan menemuinya. Namun dia hanya berdiri saja dipintu dan masih mempersiapkan diri untuk berbicara dengannya.


Tiba-tiba Sasha keluar dan melihat Nadiya mematung didepan pintu.


Sasha lalu menegurnya.


"Tante? Tante belum tidur?" tanya Sasha sambil tersenyum manis pada tantenya yang sudah mengurusnya dengan baik.


"Belum. Tante akan...." Nadiya masih ragu untuk meneruskan kalimatnya.


"Tante akan kedapur untuk mengambil minum." kata Nadiya lalu berjalan kedapur untuk mengambil air minum.


Sasha lalu mengangguk dan memberikan ucapan selamat malam pada tantenya.


Sasha masuk kekamarnya kembali dan mengunci pintunya.


Dia lalu rebahan dikamarnya. Tiba-tiba dia teringat pada ibunya, dia lalu membuka laci dan mengambil figura.


Dia kaget saat tahu kaca di figura itu pecah, padahal kemarin masih utuh.


Siapa yang melihat foto ini? Dan siapa yang memecahkanya?


Jika Om Prasetyo? Itu tidak mungkin, karena Om Pras, sudah mengenal ibunya sejak lama. Bahkan mereka tinggal dirumahnya di Amerika.


Mungkinkah Tante Nadiya?

__ADS_1


Sasha akan menemui bi Parti dan menanyakanya. Namun dilihatnya saat ini sudah larut malam. Bi Parti pasti sudah tidur. Lalu Sasha akan menanyakanya besok pagi-pagi sekali.


__ADS_2