Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Alasan Regan melarangnya


__ADS_3

Diana sedang berbaring dikamar Rossa. Lalu tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Diana lalu berdiri dan membukakan pintu untuknya.


Saat Diana membuka pintu, pria didepan itupun tersenyum padanya.


Dia adalah Vano. Dan mereka belum pernah bertemu dan berbicara sebelum ini. Namun Vano pernah melihat Diana saat bertemu Shakira.


Cantik.


Itulah yang ada di kepalanya saat melihatnya setelah pulih dari traumanya.


"Eemmm...siapa ya?" Tanya Diana.


"Vano."


"Ohh ya. Silahkan masuk." Kata Shakira.


"Terimakasih, berkat keberanian mu aku bisa selamat." Kata Diana.


"Ohh. Itu juga berkat bantuan dari teman-teman yang lainya." Kata Vano. "Bagaimana keadaanmu?" Tanya Vano.


"Sudah lebih baik dari kemarin." Kata Diana.


"Kau sendirian?" Tanya Vano.


"Ngga. Aku bersama Rossa. Tapi mungkin Rossa lagi ada kepentingan. Soalnya pagi-pagi sudah pergi." Kata Diana.


"Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu." Kata Vano sambil tersenyum pada Diana. Diana juga membalas senyumnya.


Entah karena dia sudah berjasa menolongnya atau karena memang wajahnya yang tampan membuat Diana mulai mengaguminya.


Diana memandang Vano hingga menghilang dari pandangannya.


Tidak lama kemudian Rossa masuk dan memberitahukan kalau akan ada lomba lari maraton. Dan saat ini Rossa sedang menjadi salah satu pengurus dan bertugas untuk mencatat siapa saja peserta yang akan mengikuti lomba tersebut.


Pemenangnya nanti akan mewakili universitas dan akan membuat nama baik universitas dimana dia menimba ilmu.


Dan tidak hanya itu, bagi yang berhasil menang maka akan punya kesempatan untuk bertemu dengan presiden Amerika dan akan mendapat undangan khusus. Dan akan mendapatkan sponsor dan juga bintang iklan sebuah sebuah produk terkenal dan bergengsi.


Banyak yang sudah mendaftar dan mengajukan nama. Diantaranya Sasha untuk grup wanita dan Vano untuk laki-laki.


"Apa? Sasha juga?" Tanya Diana pada Rossa yang sedang membuka laptopnya.


"Iya. Sasha baru tadi mengajukan untuk ikut. Dan berharap menjadi pemenangnya. Dia ingin menjadi bintang iklan dan juga model," kata Rossa.


"Ohh. Kapan dimulai pertandingannya?" Tanya Diana.


"Untuk babak penyisihan akan dimulai Minggu depan dari setiap grup. Nanti pemenang dari masing-masing grup akan diadu kembali. Dan setelah itu baru bisa ikut turnamen lari antar universitas," kata Rossa dan mulai mengetik nama-nama orang yang akan ikut lomba.


"Aku aka mnendukung Sasha dan berharap dia menang." Kata Diana.


***

__ADS_1


Regan berlari menyusul Sasha yang baru saja menemui Rossa dikantor untuk mendaftar turnamen lari itu.


Regan ingin mencegahnya untuk ikut karena suatu hal.


"Sasha! Tunggu!" Teriak Regan dan Sashapun menoleh kebelakang. Dilihatnya Regan sedang berlari kearahnya.


"Ada apa?" Tanya Sasha saat Regan sudah berdiri disampingnya.


"Kau dari mana?" Tanya Regan.


"Aku dari kantor. aku akan mendaftar untuk lomba lari maraton."


"Sebaiknya kau tidak usah ikut." Kata Regan.


"Tapi aku ingin sekali menjadi terkenal dan menjadi bintang iklan. Selain itu aku ingin jadi model dengan prestasi." Kata Sasha.


"Lebih baik kau ngga usah ikut. Aku mengkhawatirkanmu." Kata Regan.


"Aish kau ini kenapa? Ini hanya lomba lari bukan maju berperang. Tidak akan terjadi apa-apa denganku." Kata Sasha.


"Kau ini keras kepala. Pokoknya aku tidak akan menonton pertandingan ya jika kau ikut. Aku juga tidak akan mendukungmu." Kata Regan.


"Isshhh jahat sekali. Ada apa sih? Apa yang kau sembunyikan? Dan kenapa kau tidak ingin aku ikut lomba ini?" Tanya Sasha.


"Aku tidak bisa mengatakanya. Tapi jika kau masih menghargai aku sebagai saudaramu maka dengarkan kata-kataku ini." Kata Regan.


"Aku kali ini tidak bisa menurut padamu. Akan aku buktikan jika aku akan membawa medali emas itu." Kata Sasha.


"Hahahaha kau ini ada-ada saja. Mana mungkin aku menyerah semudah itu. Aku ikut turnamen ini agar menang. Bukan untuk mengalah dan menjadi pecundang." Kata Sasha.


"Kau ini keras kepala. Ini buka hanya sekedar turnamen biasa. Ada unsur politik disana." Kata Regan.


"Sudahlah kakak ku yang ganteng. Kakak dukung saja aku. Aku pasti menang dan aku bisa menjadi model dengan segudang prestasi."


"Aku tidak akan melihat turnamen itu." Kata Regan sambil pergi meninggalkan Sasha.


Sasha hanya bengong saja melihat Regan meninggalkanya begitu saja. Rupanya jelas terlihat dari wajah Regan jika dia kesan karena Sasha tidak mau mendengarkan perkataanya.


Sasha sendiri bingung dengan keinginan Regan. Kenapa bukanya malah mendukungnya karena dia akan membuatnya bangga. Regan malah ketakutan jika Sasha menang lomba tersebut.


Ini tidak masuk akal. Ketakutanya tidak berdasar dan tidak beralasan. Vano bahkan mendukungnya agar dia ikut dan menang. Semua teman-temannya mendukungnya kecuali Regan.


***


Pagi harinya Sasha sudah bangun jam 5 pagi sebelum matahari memancarkan sinar hangatnya.


Sasha sudah menggunakan sepatu khusus untuk lari yang sudah didesain khusus agar terasa ringan. Sasha memesannya melalui online shop. Dan tidak sampai 24 jam sepatu itu sudah sampai.


Ukuranya pas, dan juga sangat nyaman untuk berlari. Sasha lalu berlari keliling kampus dan juga asrama. Tiba-tiba dia berpapasan dengan seorang gadis yang tinggi dengan beberapa pengawal dan sedang berlari juga.


Ternyata dia adalah anak salah satu menteri dan satu universitas dengan Sasha.

__ADS_1


Namun Sasha juga tidak begitu mengenalnya karena dia sedikit sombong.


Namun sekarang mereka berpapasan. Jadi mau tidak mau Sasha harus menyapanya.


"Hai....kau juga ikut turnamen ini?" Tanya Sasha.


"Tentu saja. Ini adalah impianku untuk membawa pulang medali emas."


"Semoga kau berhasil!" Kata Sasha.


"Kau juga." Jawabnya.


Merekapun saling berlalu dan melanjutkan latihannya.


***


Saat ini semua yang ikut turnamen lari disuruh untuk berkumpul di lapangan. Mereka akan dibimbing oleh seorang pelatih. Dan akan mendapatkan perbekalan serta pengetahuan tentang lari maraton atau biasa disebut lari jarak jauh.


Sasha belum juga nyampai dilokasi, sementara Rossa sudah sangat khawatir karena takut akan didiskualifikasi. Karena salah satu syaratnya adalah disiplin hadir dan tidak boleh terlambat.


Pelatih ini juga terkenal disiplin, dan juga tegas. Rossa melihat keseluruh peserta dan Sasha tidak ada disana.


"Kemana perginya Sasha? Niat ngga sih dia? Ini adalah pertemuan pertama peserta dan pengenalan antar peserta dan juga pelatih. Kenapa dia terlambat sekali. Acara hampir dimulai dan pintu akan ditutup. Dia yang mau ikut lomba gue yang gregetan." Gumam Rossa dan matanya tertambat pada seorang gadis berambut pirang.


Gadis itu nampak energik dan juga sepertinya sudah sering mengikuti event lomba. Aku pernah melihatnya, tapi dimana?


Ohh aku ingat sekarang. Dia berdiri disamping seorang menteri pemberi donatur terbesar untuk universitas ini.


Apakah dia anaknya pak Menteri? Jika iya, maka saingan Sasha akan semakin berat.


Kemana anak itu?


Tinggal dua menit lagi acara akan dimulai.


Dari jauh terlihat Sasha berlari kearah Rossa dan absen.


"Kau hampir saja terlambat. Kau bikin jantungku berdegup. Aku pikir kau mengundurkan diri dan tidak jadi mengikuti kompetisi ini." Kata Rossa sambil menandai absen kehadiran Sasha dipertemuan pertama.


"Apa acaranya?" Tanya Sasha sambil mengangkat salah satu kakinya secara bergantian.


"Perkenalan dan pembagian grup secara acak." Kata Rossa.


"Masuk sana ketengah lapangan. Yang lain sudah siap!" Kata Rossa.


"Okey." Sashapun berlari ketengah lapangan dan satu menit kemudian acara dimulai.


Ada pelatih yang berdiri didepan barisan peserta.


Itu adalah pelatih yang sama pada kompetisi tiga tahun lalu. Dan terpilih kembali di acara maraton tahun ini. Acara ini memang tidak diadakan setiap tahun. Namun diadakan tiga tahun sekali.


Kecuali lari jarak pendek yang diadakan tiap tahun.

__ADS_1


__ADS_2