
"Jeslin, ayo kita membuat suasana yang tenang dan menyenangkan." Kata Andro dengan memasukkan tangannya kedalam baju Jeslin yang seksi dan terbuka.
"Apa maksudmu?" tanya Jeslin kaget saat tangan Andro meremas buah sensitif miliknya.
"Sudah lama kita tidak melakukanya." Kata Andro sambil terus meremasnya.
"Aku sedang mens." Kata Jesline berbohong. "Dan sebaiknya kita menjaga jarak mulai sekarang."
"Kenapa? Apakah kau membuangku setelah semua keinginanmu terwujud?" kata Andro kaget dan mengeluarkan tanganya dari dalam baju Jeslin. Dia lalu meraih tangan Jeslin dan menggenggamnya.
"Apa maksudmu? Aku yang melakukan segalanya dan mengorbankan diriku demi semua ini?" kata Jeslin dan menarik tangannya dari genggaman Andro.
"Apa yang kau katakan? Kau pikir aku tidak ikut andil sehingga membuat usahamu maju?"kata Andro mulai meninggikan suaranya.
"Aku bahkan rela menunggu hingga sekarang. Kau bilang saat usahamu maju berkat suamimu, kau akan menceraikan ya." Andro mengingatkan Jesline pada janjinya dulu.
"Aku masih membutuhkanya."kata Jeslin merendahkan suaranya saat Andro mulai meninggikan suaranya atau mereka akan bertengkar.
"Apakah semua ini belum cukup? Sampai kapan kau ingin agar aku menunggumu?" kata Andri mulai putus asa.
"Kau boleh mencari wanita lain, jika kau tidak sabar menungguku." kata Jeslin yang memang ingin mengakhiri hubungannya dengan Andro.
"Kau egois. Kau sangat egois. Kau lupa siapa dirimu dulu? Jika bukan karena bantuanku, kau tidak akan mengenal suamimu." kata Andro mencoba menyadarkan Jeslin jika dia ibarat kacang lupa sama kulitnya.
"Itu adalah takdir dan keberuntunganku?" kata Jesline penuh percaya diri.
"Kita akan menikah tapi kau meninggalkanku dipelaminan dan kau justru menikah dengan dirinya." kata Andro dan teringat perbuatan Jeslin dimasa lalu.
"Jangan membahas itu lagi. Berapa kali sudah kubilang. Semua ini demi masa depan kita." kata Jeslin yang tidak suka jika Andro terus mengungkit masa lalu itu.
"Bukan kita. Tapi arogansimu! Semua ini hanya untuk kesenanganmu saja. Kau bahkan tidak memikirkan betapa malunya aku dan keluargaku karena dirimu." kata Andro yang mulai kesal dengan sikap Jeslin yang serakah.
"Bukankah aku sudah memberikan uang yang banyak untuk kesalahanku itu? Apakah semua itu masih belum cukup?" kata Jeslin yang merasa sudah memberikan uang yang sebanding dengan kesalahannya. Bahkan sampai sekarang dia masih memberikan uang kepada Andro agar menutup mulutnya.
"Aku ingin dirimu. Tinggalkan suamimu. Ayo kita mulai apa yang saat itu tertunda. Kita lupakan semua yang sudah terjadi." Kata Andro dengan menahan emosinya.
"Aku masih belum bisa. Tanpa dirinya aku tidak yakin usahaku akan bertahan."Jeslin masih ragu dengan kekuatanya sendiri.
"Kau juga hanya memanfaatkan nama dan popularitasnya. Kau juga tidak mencintainya bukan?" kata Andro menebak hati Jeslin.
"Ayo kita bahas masalah lain saja. Bahkan karena kecerobohanmu aku sudah memecat semua asistenku." Kata Jeslin mengingatkan Andro pada kecerobohanya.
"Itu aku minta maaf. Tapi katakan...kapan semua ini akan berakhir?" kata Andro mulai khawatir dan mendekatkan wajahnya pada Jeslin.
__ADS_1
Katanya sambil mencium leher Jesline.
"Berhentilah sampai disini. Aku tidak ingin kau menunggu untuk sesuatu yang aku tidak bisa memberikan kepastian."
Andro masih tetap menciumnya dengan penuh cinta dan kerinduan.
"Keluarlah sekarang. Aku lelah."
"Baiklah. Aku akan keluar tapi pembicaraan kita belum selesai."
Kata Andro lalu meninggalkan Jesline dikamarnya sendirian.
Setalah Andro pergi, Jeslin lalu melempar sepatu dan tasnya kesudut ruangan.
Dia benar-benar kesal dan lelah oleh semua ancaman Andro yang bisa menghancurkan semua karir, nama besar, dan juga bisnisnya. Dan bahkan dia bisa kehilangan semua kehormatan dan juga yang lebih parah lagi di ceraikan oleh suaminya.
Dia lalu mengambil satu gelas wine dan meminumnnya.
Dua duduk dilantai dan bersandar pada ranjang dengan kesal dan marah.
Sementara diluar Sasha dari tadi mencari Andro dan tidak menemukanya dimanapun.
Lalu tiba-tiba mereka berpapasan didepan kamar ibu Jeslin.
"Ayo, aku akan membantumu." Kata Andro berjalan keruangan yang besar penuh dengan baju-baju yang digantung dengan rapi.
Dia masih berusaha menetralkan darahnya yang sempat memanas karena bersentuhan dengan Jeslin.
Dia sangat menginginkan kehangatan darinya yang sudah lama tidak dia dapatkan.
Tiba-tiba dia melihat sesuatu yang indah dibalik kaos yang dipakai Sasha.
Sasha sedang menunduk dan kaosnya mengendur kebawah.
Sesuatu yang indah dan masih kencang menarik perhatian Andro yang saat itu sedang membara dan terbakar oleh geloranya sendiri.
Andro menatapnya tak berkedip. Dia menelan salivanya berulang kali. Dan Sasha masih tidak menyadari semua itu.
Andro terus memperhatikannya dan berjalan mendekati Sasha. Dia juga menunduk tepat didepannya.
Wajahnya semakin memerah karena ingin meraih buah yang indah itu. Saat ini terlihat semakin jelas dan lebih indah daripada milik Jesline yang sudah agak kendur karena usia.
"Sangat indah." Kata Andro tanpa disadarinya.
__ADS_1
Sasha kaget lalu menatap wajah seniornya.
"Gaunnya sangat indah." Kata Andro berusaha mengalihkan perhatian Sasha.
Andro kemudian menatap wajah Sasha dengan senyum yang berbeda.
"Apakah kau ingin menjadi model?"
Sasha lalu terhenyak saat Andro menawarkan untuk menjadi model.
"Model?"
"Iya, kau cantik dan postur tubuhmu juga sangat pas untuk seorang model."
"Apakah bisa?"
"Tentu saja. Aku banyak mengorbitkan model baru dan sekarang mereka semua menjadi model kelas atas."
"Benarkah?"
"Apakah kau tertarik."
"Saya juga ingin menjadi model."
"Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan membantumu agar kau bisa menjadi model."
"Terimakasih pak."
"Jangan panggil pak. Itu terlalu tua menurut ku. Aku bahkan belum menikah."
"Lalu...."
"Panggil Andro saja. Atau mas Andro."
"Em...baiklah pak, eh mas Andro.
"Oke. Sekarang aku akan keluar sebentar. Apakah kau bisa melakukanya sendiri?"
"Bisa pak. Eh, mas Andro."
Andro lalu tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya.
"Burung Pipit terbang tinggi, aku akan mendapatkan merpati yang indah." Kata Andro sambil keluar dari ruangan itu.
__ADS_1