Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Merindukannya


__ADS_3

Seharian Jack berada dirumah sakit menemani Vano. Dia juga bosan, tanpa melakukan kegiatan apapun disana. Akhirnya dia berpamitan pada Vano untuk pergi ke kampus dan sore dia akan datang lagi.


"Lo beneran datang kan?" kata Vano penuh harap.


Jack melihat sekilas kearahnya.


"Gue usahakan datang." kata Jack lalu pergi.


Sampai dikampus Jack duduk dengan beberapa teman-temannya. Mereka terlihat asyik berbicara dan berkelakar. Mereka bercerita tentang hobi yang mereka sukai.


"Jack!" Sasha memanggil dari kejauhan.


"Kemarin aku kekamarmu, kamu tidak ada. Kamu pergi kemana?" tanya Sasha penasaran saat sudah ada didepannya.


Jack lalu mengajak Sasha menyingkir dari teman-temannya.


Setelah hanya berdua saja, Jack baru menjawab pertanyaan Sasha.


"Gue kerumah teman."


"Kangen ya?" tanya Jack.


Sasha diam saja. Sebenarnya dalam hati dia ingin bertanya tentang Vano. Namun Sasha mengurungkan niatnya.


"Udah makan belum?" tanya Jack.


"Makan diluar yuk!" ajak Jack sambil menggandeng tangan Sasha. Sasha lalu mengangguk dan berjalan disamping Jack.


Jack mengajak Sasha makan di restoran diseberang rumah sakit dimana Vano dirawat.


Sasha duduk menghadap kejalan raya dan rumah sakit. Sementara Jack memunggunginya.


"Aku pesan makanan dulu ya."


"Tumben kita makan disini?" tanya Sasha.


"Iya sekali-kali biar ngga bosan." kata Jack lalu berdiri dan memesan makanan.


Mereka duduk dan menikmati makanannya sambil bercerita dan bercanda.


Sementara Vano duduk diatas ranjangnya dan saat ini sedang menghadap kearah jendela. Kondisinya lebih baik dan stabil sebelum operasi uang tinggal menunggu empat hati lagi.


Dia duduk menatap ke pepohonan yang ada disamping rumah sakit. Tiba-tiba dia menjatuhkan pandanganya kebawah. Jauh diseberang sana, dan nampak Sasha sedang tertawa bersama seseorang.

__ADS_1


"Sasha?" gumam Jack pada dirinya sendiri.


"Apakah itu Sasha?" kata Vano sambil mengucek matanya. Dia meyakinkan dirinya jika itu Sasha. Senang rasanya dia bisa melihat Sasha lagi. Dia memang sangat berharap sebelum operasi bisa melihatnya. Dan keinginanya telah terkabul.


Sasha sedang bercanda dengan Jack. Belum ada ikatan diantara keduanya. Hanya saja mereka semakin dekat saat ini.


"Sasha terlihat bahagia bersama Jack. Jack benar, dia telah melupakan aku. Atau mungkin dia marah padaku karena aku tiba-tiba tidak menemuinya." tebak Vano dalam hati.


Vano masih terus memandanginya dari kejauhan, dari tempatnya dirawat. Beruntung sekali dia memilih kamar yang menghadap kejalan raya. Sehingga bisa melihat moment hari ini.


Jauh di lubuk hatinya dia sangat merindukan Sasha. Tapi dia sudah berjanji untuk tidak akan menemuinya lagi. Dan saat ini dia benar-benar merindukannya.


Sasha tiba-tiba berdiri, sementara dari kejauhan Vano masih menatap mereka berdua.


Jack lalu menggandeng Sasha dan tiba-tiba mata Sasha kelilipan. Jack berniat meniup matanya.


deg.


Vano yang melihat apa yang dilakukan Jack, berfikir Jack akan menciumnya. Lalu Vano memalingkan mukanya dan memunggunginya. Dia tidak sanggup melihat pemandangan itu.


Sreeeehhhhsss.


Hatinya seperti tersayat.


Orang yang dicintainya dipeluk oleh laki-laki lain dan bahkan dalam hati Vano berfikir Jack menciumnya.


Akhirnya Vano berbalik lagi dan menghadap ke jendela. Tapi dia lihat Sasha dan Jack sudah tidak ada disana. Mereka sudah pergi tatkala Vano memalingkan mukanya.


"Mereka sudah pergi." Gumam Vano.


"Siapa?" terdengar suara dari pintu masuk. Ternyata itu suara dokter yang akan memeriksanya


"Ohh tidak." kata Vano.


"Kau nampak serius melihat kejendela? Apa yang kau lihat?" tanya dokter penasaran. Rupanya dia sudah berdiri dari tadi dan memperhatikan Vano yang sedang menatap keluar jendela.


"Tidak ada." kata Vano lalu berbaring dan bersiap akan diperiksa.


"Kemana temanmu?"


"Kampus." jawab Vano.


"Sudah?" tanya Vano saat melihat dokter itu baru saja menyuntiknya.

__ADS_1


"Tidak sakit bukan?" tanya dokter balik.


"Tidak."


Dokter sengaja mengajaknya berbicara dan mengalihkan perhatiannya agar dia tidak tegang saat disuntik. Karena Vano termasuk salah satu pasien yang rewel dan takut pada jarum suntik.


"Dimana suster genit itu." tanya Vano.


"Kau akan membuatnya kesal jika kau bertanya seperti itu." kata dokter kepada Vano.


"Kemana dia? Aku tidak melihatnya seharian? Apakah dia libur?"


"Ya dia libur sehari. Temanya menggantikanya satu hari." jawab dokter.


"Pantas saja, tadi yang mengganti bajuku orang lain."


"Kau merindukan suster itu?"


"Tidak! Hhhh untuk apa? Dia lebih baik dari pada suster yang menggantikannya. Dia galak dan kasar." kata Vano.


Dokter lalu tersenyum kearahnya.


"Besok dia akan kembali."


"Baguslah. Pekerjaannya lebih baik." kata Vano yang tidak ingin dirawat sama suster penggantinya. Karena sangat jutek dan tidak bisa diajak berbicara.


"Baiklah. Apakah kau membutuhkan sesuatu? Jika tidak, aku akan pergi."


Vano menggelengkan kepalanya. Lalu dokter itu pergi dan menutup pintunya pelan. Vano sendirian dan bayangan Sasha lagi-lagi terlintas dibenaknya.


Vano meraih handphonenya dan berniat menelponnya. Dia ingin mendengar suaranya.


Namun akhirnya handphone itu dia taruh kembali disampingnya. Dia mengurungkan niatnya. Entah kenapa dia tidak bisa menelponnya.


Dreetttt!


Tiba-tiba handphonenya bergetar. Ada pesan masuk. Dan itu dari atasanya, dimana dia bekerja.


Vano lalu membaca pesan itu. Namun dia tidak berekspresi dan menaruhnya kembali.


Warta berita yang dibawakan Vano memang ratingnya naik dan statistiknya melesat, sejak dia yang membawakan acara tersebut.


Banyak yang beralih untuk menonton berita setengah jam hanya untuk bisa menatapnya. Dan menyukai pembawa acaranya.

__ADS_1


Namun sayang Vano tiba-tiba menghilang dan membuat mereka geram. Mereka berusaha mencari kemana-mana dan bahkan menanyakan keteman-temannya namun hasilnya nihil.


Semua temannya juga tidak tahu keberadaannya, dan mereka mengatakan jika Vano cuti tiga bulan.


__ADS_2