Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Saling menyalahkan


__ADS_3

Jack bersiap untuk kembali kerumah sakit. Dia ingat jika sudah berjanji pada Vano untuk menemaninya.


Jack lalu berjalan keparkiran dan segera melajukan motornya. Rumah sakit itu tidak terlalu jauh dari kampusnya. Dan tidak lama kemudian dia sudah sampai disana.


Kreeekkkk!


Pintu terbuka.


Vano yang awalnya sedang terjaga akhirnya pura-pura tidur. Dia sedang tidak ingin berbicara kepada Jack karena apa yang dia lihat tadi siang.


"Apa kau sudah tidur?" tanya Jack yang melihat Vano menutup matanya.


"Jam segini kau sudah tidur?" Jack bertanya lagi. Namun Vano tidak bergeming dan tetap diam, pura-pura tidur.


Tuuuuuuuttttttt!


Terdengar suara kentut.


Yang jelas itu buka Vano yang kentut.


Jack baru saja akan kekamar mandi, namun dia sudah tidak bisa menahan hasrat ingin kentutnya.


Akhirnya dia kelepasan.


Aaahhhhhkkk


Erangnya lega, setelah dari tadi merasa perutnya agak begah.


Vano yang pura-pura tidur akhirnya membuka matanya karena tidak tahan dengan bau diruanganya.


Bau kentut itu sangat menyengat. Entah apa yang dimakannya. Baunya sampai hampir membuatnya muntah. Perutnya mendadak jadi mual.


Vano pelan-pelan menutup hidungnya.


uuuueeeekkkk!


Dia tidak bisa bernafas. Beberapa saat dia menahan nafas agar bau kentut itu tidak terhirup olehnya.


Akhirnya ngga tahan juga, Vano kemudian membuka matanya.


"Apa sih yang kau makan? Baunya seperti ikan busuk!" kata Vano.


"Kau belum tidur?" Jack malah bertanya.


"Sial! Baunya ngga ilang-ilang." kata Vano.

__ADS_1


"Sorry, gue kelepasan." kata Jack sambil duduk didekat Vano.


"Apakah kau lapar? Atau kau ingin makan sesuatu? Biar aku beli untukmu." kata Jack yang sedih melihat sahabatnya yang beberapa hari lagi akan dioperasi.


"Tidak usah. Aku sudah makan tadi." kata Vano.


"Aku akan keluar sebentar." kata Jack.


Vani hanya melihatnya dengan sudut matanya.


Tidak lama kemudian Jack masuk dengan roti mirip burger ditanganya. Dia hanya membawa satu bungkus. Untuk dirinya sendiri. Vano sedang tidak ingin makan.


Jack duduk disamping Vano. Vano hanya meliriknya sekilas.


Jack perlahan membuka bungkus roti itu, lalu melumurinya dengan saos tomat.


Vano terus melihat apa yang dilakukan Jack. Tidak terasa Vano meneteskan air liurnya, dia mencium aroma roti yang harum dan lezat.


Diapun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memakannya.


Dengan cepat dia mengambil roti itu dari tangan Jack saat Jack akan memakanya.


Tanpa menunggu lama Vano langsung menggigitnya. Dan menikmati roti itu tanpa mempedulikan Jack yang terbengong karena rotinya sudah berpindah tangan.


"Ahk kau! Tadi aja ngga mau," kata Jack pada Vano saat melihat sahabatnya memakan roti dengan lahapnya.


Tinggalah Jack yang melongo dan bengong karena dia tidak makan apa-apa. Jack lalu berdiri dan membuang bungkus serta bekas saosnya ketempat sampah.


Vano dengan cepat menghabiskan rotinya, tiba-tiba dokter masuk dan melihat bekas roti daging ditempat sampah.


"Siapa yang memakannya? Aku harap Vano tidak memakannya." kata Dokter itu kemudian berjalan kearah Vano.


Vano masih mengunyah sisa roti dagingnya. Mulutnya penuh dan dia tidak bisa menjawab perkataan dokter itu.


"Apa yang kau makan?" kata dokter sambil menatap mulut Vano yang menggembung.


Vano menggelengkan kepalanya.


Jack hanya diam saja.


"Kau yang membeli makanan itu?"


Jack mengangguk.


"Dia yang memakannya. Aku tidak makan." kata Jack membela dirinya sendiri.

__ADS_1


"Sebelum operasi dan setelah operasi satu bulan dia tidak boleh makan daging cepat saji. Atau kondisinya bisa memburuk."


"Aku hanya makan sedikit." Vano akhirnya jujur kepada dokter itu.


"Sedikit atau banyak sama saja. Kau tetap harus mematuhi aturan dan anjuran dokter. Apakah kau tidak ingin sembuh?" kata dokter itu kesal.


"Dia yang membelinya." kata Vano tidak mau disalahkan setelah melihat dokter itu kesal.


"Aku hanya membeli untuk diriku sendiri. Dia tiba-tiba merebutnya saat aku akan memakannya." kata Jack tidak mau disalahkan.


Dokter itu menatap mereka berdua bergantian. Dia terlihat menahan kesalnya.


"Jangan makan yang tidak boleh dimakan pasien didepannya. Kau ingin dia sembuh bukan?" kata dokter lalu meninggalkan mereka berdua.


"Makanlah diluar." kata dokter itu sambil menutup pintu.


"Ini salahmu!" kata Vano juga kesal karena telah membuat dokter itu marah.


"Apa? Kau yang makan aku yang disalahkan?!" kata Jack membela diri dan tidak mau disalahkan.


"Kau membawa makanan lezat. Tentu saja aku jadi ingin makan. Jadi....aku memakannya."


"Hhhhhh!" Jack menarik nafas panjang.


Walau bagaimanapun dia tidak ingin membuat kesehatan Bank menjadi buruk. Dia ingin sahabatnya sehat dan kuat seperti sedia kala.


"Jika kau sudah tahu, makanan itu tidak boleh dimakan kenapa kau memakanya?!" kata Jack kesal karena Vano tidak berhati-hati terhadap makanan yang dia makan.


"Aku lupa."


"Itu alasan konyol!" kata Jack lalu meraih handphonenya dan ada pesan dari Sasha.


"Kau ingin mati Hah!"


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Vano.


"Kalau begitu, jangan makan sembarangan!" kata Jack lalu membaca kembali pesan Sasha.


"Dia akan kerumah sakit." kata Jack.


"Siapa?" tanya Vano.


"Sasha....."


"Temanya sakit. Dia mengantarkan temanya yang sedang sakit."

__ADS_1


Deg.


Aku pikir kau mengatakan jika aku ada dirumah sakit ini? Jantungku hampir berhenti karena kaget.


__ADS_2