Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Dibalik tabrak lari Sasha


__ADS_3

Regan berlari mendekati Sasha. Saat ini Regan tepat berada dibelakangnya.


"Sasha, kenapa kau berjalan seperti ini?" Tanya Regan dan matanya tertahan pada perban di kaki Sasha.


"Kakimu terluka?" Tanya Regan dan menatap wajah Sasha.


"Aku jatuh saat latihan tadi pagi." Kata Sasha.


"Kau jatuh? Bagaiamana mungkin? Kau terbiasa lari dengan profesional, mana mungkin bisa terjatuh?" Tanya Regan.


"Aku jatuh. Beneran." Kata Sasha lalu berjalan kekamarnya.


Regan masih berdiri tidak percaya jika Sasha terjatuh. Mana mungkin jika jatuh lukanya bisa selebar itu. Paling tergores sedikit.


Reganpun lalu mengejar Sasha dan menyusulnya hingga dipintu kamarnya.


Sementara Sasha sedang berbaring diranjangnya. Badannya terasa sakit dan juga kakinya. Dia harus istirahat saat ini. Namun matanya kaget saat melihat Regan berdiri dipintu.


Rossa masih duduk disamping sahabatnya. Sebenarnya jantung Rossa juga berdebar-debar entah apa sebabnya.


"Kau tidak sedang berbohong kan?" Tanya Regan.


"Tidak." Jawab Sasha.


"Ya sudah jika begitu istirahatlah." Kata Regan lalu pergi.


***


Regan sedang duduk didalam perpustakaan dan membaca sebuah buku.


Tiba-tiba dia dikagetkan dari belakang oleh Elena. Elena diam-diam suka dan terus saja berusaha mendekatinya. Namun Regan masih tidak tertarik pada siapapun saat ini. Termasuk pada Madina, yang juga sahabatnya.


Bukan hanya Elena dan Madina, Catrine pun masih berusaha meruntuhkan hatinya. Namun rupanya Regan juga masih betah menjomblo dan tidak membuka pintu hatinya untuk siapapun.


Ternyata Regan mengalami trauma pada masa lalu ibunya dan juga papinya. Trauma itu masih terbawa dan perceraian itu juga masih membekas didalam hatinya. Meskipun saat itu dia masih kecil. Sebenarnya dia tahu semuanya dia juga menyaksikan, dan juga merasakan rasa kesepian, kehilangan dan rasa tidak bahagia.


Hanya saja dia bukan anak perempuan yang bisa menumpahkan segala unek-unek dan bisa curhat pada siapa saja, termasuk buku diary.


Dia adalah anak laki-laki yang hanya bisa memendam semua rasa dimasa lalu itu tanpa bisa mengatakan pada siapapun. Termasuk pada ibunya, Nadiya. Dia tidak ingin ibunya sedih jika mengetahui hatinya yang hancur dan terluka.


Dia juga tidak bisa mengatakan kepada papinya karena mereka tidak pernah bertemu pada awal perpisahan ibunya. Dan juga karena tidak ingin memperkeruh suasana.


Dan semua itu masih berdampak pada sudut pandangnya dan juga sisi lain dari kehidupannya. Dia bahkan masih tidak bisa menerima sebuah rasa cinta dan tetap membiarkan hatinya menjadi miliknya seorang. Dan dia tidak ingin memberikannya pada siapapun.


Bahkan dia juga melarang Sasha berpacaran dan selalu menghalangi jika ada yang berusaha mendekatinya. Dia juga takut Sasha kecewa dan terluka akibat orang yang dicintainya.


Hingga sekarang mereka berdua masih menjomblo dan belum punya pacar.

__ADS_1


Hubunganya dengan Catrine dimasa lalu bukanlah hubungan yang sesungguhnya. Regan hanya memanfaatkan Catrine agar tidak ada lagi perempuan yang berusaha mendekatinya.


Meskipun bagi Catrine itu menguntungkan biarpun hanya hubungan palsu. Setidaknya semua orang mengakui jika hubungan itu benar adanya. Catrine bahkan bisa sering dekat dengan Regan meskipun sering tidak dianggap ada. Dan lebih sering dicuekin daripada diajak bicara.


Regan kesal dengan banyak wanita yang terus mendekatinya dan mengganggu aktifitasnya. Itulah sebabnya dia membiarkan Catrine menjadi kekasih palsunya.


Elena berjalan perlahan dan berdiri disamping Regan.


"Kau sepertinya sedang tidak membaca buku. Kau lebih terlihat sedang melamun." Kata Elena bercanda.


Regan kaget dan menoleh kearahnya.


"Ohh. Kau sedang apa disini?"


"Aku juga sepertimu. Gabut, dan aku pikir akan mencari buku yang asyik untuk dibaca." Kata Elena.


"Kau masih membawa alat-alat. Darimana?" Tanya Regan.


"Ohh tadi aku baru saja selesai mengobati Sasha yang tertabrak orang naik motor. Orang itu bahkan tidak berhenti dan bertanggung jawab. Malah meninggalkanya yang terluka." Kata Elena.


"Sasha? Kau yang mengobati?" Tanya Regan.


Elena mengangguk.


"Dan...tadi kau bilang Sasha tertabrak? Dimana? Aku kok tidak tahu. Dia bilang tadi jatuh saat latihan." Kata Regan.


"Ya sudah jika begitu. Aku pergi dulu." Kata Regan lalu berlari keluar dari perpustakaan itu.


Elena hanya berdiri seperti patung dan bengong melihat Regan berlari seperti itu.


***


Rossa tidak ada dikamarnya karena sedang menemui seseorang.


Sementara Regan sudah berdiri didepan pintu kamar Sasha. Namun Sasha sedang tidur dengan pulas saat itu.


Regan lalu berjalan pelan tanpa bermaksud mengganggunya. Regan berhenti didekat Sasha dan duduk disampingnya.


Matanya melihat luka itu dan beberapa tanda kebiruan dikakinya. Berarti dia jatuhnya lumayan kencang. Hal itu bisa terlihat dari beberapa tanda biru dikakinya yang putih.


Awal jatuh memang tanda biru itu tidak terlihat. Tapi beberapa jam kemudian baru akan terlihat tanda kebiruan. Dan jika tersentuh pasti akan sakit dan nyeri.


Regan lalu mengusap kulitnya yang biru di beberapa titik dengan pelan dan hati-hati. Ini pasti sakit, memang bukan sekarang, akan terasa nanti atau besok pagi, pikir Regan.


Tiba-tiba Sasha membuka matanya dan dia kaget saat Regan sudah ada disampingnya.


"Kau disini? Sejak kapan?" Tanya Sasha lalu berusaha bangun. Namun saat akan bangun tiba-tiba badanya terasa pegal semua.

__ADS_1


"Aduh!" Pekik Sasha sambil kesakitan.


"Sakit?" Tanya Regan.


"Sedikit," jawab Sasha.


Regan sudah menduga Sasha masih berusaha menyembunyikan masalah ini darinya. Buktinya dia tidak jujur jika jatuh karena ditabrak motor, bukanya jatuh tersandung.


"Kakimu sampai seperti ini. Bagaimana kau bisa jatuh?" Tanya Regan.


"Aku lari terlalu kencang dan tidak melihat ada batu kecil didepan, lalu aku tergelincir dan jatuh. Saat pagi jalanan memang lebih licin." Kata Sasha.


"Kau tidak mau mengatakan yang sejujurnya?"


"Maksudmu?" tanya Sasha.


"Katakan siapa yang melakukan ini padamu? Apakah kau melihat wajah orang uang sudah menabrakmu? Seperti apa wajahnya? Atau ciri-cirinya?" Kata Regan.


"Kau sudah tahu semuanya?" Sasha malah balik bertanya.


"Kau tidak pandai berbohong." Kata Regan.


"Tapi sayangnya aku tidak melihat wajah mereka. Aku hanya melihat punggung mereka, dan mereka memakai baju warna hitam." Kata Sasha.


"Ciri yang lebih detai?" tanya Regan.


Sasha menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada. Hari masih gelap. Semuanya terlihat samar, suasana juga masih berkabut." Kata Sasha.


"Pasti ini ada hubunganya dengan turnamen lari maraton." tebak Regan.


"Darimana kau tahu?"


"Aku hanya berpikir, kenapa bisa hari ini. Padahal kau besok harus lomba lari. Bagaiman jika kau mundur saja. Dan tidak usah mengikuti kompetisi ini. Kakimu sakit dan terluka." Kata Regan.


"Besok pasti sembuh. Aku akan membalutnya dengan kain yang kuat." Kata Sasha.


"Aku sangat khawatir," kata Regan.


"Tenanglah. Mungkin orang tadi tidak sengaja menabrakku. Dan semua ini hanya kebetulan." Kata Sasha.


Padahal dalam hati Sasha berfikir jika ini ada hubunganya dengan pertemuannya dan Menteri.


Karena Sasha tidak mau mundur dan menerima suap, mereka melakukan hal ini. Kedua orang itu mungkin ajudan dari menteri yang duduk disana saat itu.


Setiap hari Sasha berlatih disepanjang jalan itu, dan kenapa baru sekarang ada kejadian seperti ini? Dan jalanan begitu sepi dan lengang, bagaimana mungkin motor itu bisa menyerempetnya, ini pasti sesuatu yang disengaja.

__ADS_1


Dia tidak menabrakku dengan tujuan membunuhku, dia hanya ingin melukai kakiku agar aku tidak bisa berlari lagi, gumam Sasha.


__ADS_2