
Dikantor
Catrine dan Menteri lalu masuk kedalam kantor didalam kampus. Catrine tapi tidak masuk kedalam. Dia tidak berani berada diantara percakapan orang tuanya dan Rektor. Dia memilih untuk kembali kekamarnya, dan menunggu disana.
Sementara Menteri duduk bersama Rektor. Mereka lalu berbincang-bincang dan terlihat begitu serius.
"Saya rasa Sasha tidak bisa menjadi wakil dari universitas ini. Kakinya Cedera, dan dia tidak akan berlari dengan cepat. Bagaimanapun Sasha dan Catrine mempunyai kemampuan yang seimbang. Saya berbicara bukan sebagai ayahnya, melainkan saya ingin agar kita tidak menyia-nyiakan peluang yang ada dengan mengirim orang yang salah." Kata Menteri sambil tersenyum dan manggut-manggut.
"Baik pak, nanti saya akan berbicara dengan pelatih, apa yang harus kita lakukan dan siapa yang akan mewakili universitas ini." Kata Rektor sambil mempersilahkan Menteri untuk minum teh hangat yang sudah disediakan oleh salah satu mahasiswi.
Menteri pun menyeruput teh itu lalu meletakkan kembali cangkirnya dengan hati-hati. Dia lalu mengatakan sesuatu lagi untuk mempengaruhi keputusan Rektor.
"Saya dengar dari dokter jika Sasha harus dirawat selama satu Minggu disana. Dan belum lagi masa pemulihan, setelah itu latihan, tentu dengan kondisi kakinya yang cedera semua latihan itu tidak bisa dilakukan." Kata Menteri yang sengaja menaruh beberapa anak buahnya untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan Sasha.
Rektor kemudian diam dan sedang memikirkan sesuatu. Setelah berpikir sejenak Rektor lalu manggut-manggut dan menatap Menteri.
"Memang benar, saya juga sudah menelepon dokter dan mendengar kabar itu. Saya juga sangat menyesal kenapa dia harus berlari dengan kaki yang terluka. Tapi ini akan menjadi masalah serius jika kita membuat orang lain melanjutkan kompetisi selanjutnya. Jika sampai ada jurnalis yang kritis maka kita akan terkena masalah dari opini publik. Dan nama universitas ini bisa menjadi buruk." Kata Rektor setelah memikirkan keuntungan dan kerugian dari pendapat dan usulan Menteri.
"Ya, ya. Lalu bagaimana menurut anda agar kita tidak dirugikan dan tetap diuntungkan meskipun kita tidak menggunakan Sasha dalam kompetisi selanjutnya?" Tanya Menteri.
Tiba-tiba pelatih masuk dan matanya langsung melihat kearah Rektor dan Menteri yang sedang berbicara dengan serius.
"Kebetulan anda datang. Kami sudah menunggu anda dari tadi." Kata Menteri sangat ramah.
Namun Pelatih sepertinya mencurigai sesuatu dari pertemuan ini. Dan ini ada hubunganya dengan kompetisi yang baru saja dilakukan.
Pelatih juga melihat bagaimana Catrine yang merupakan anak satu-satunya dari Menteri ingin memenangkan kompetisi ini. Dan dia sedikit kurang beruntung karena saat mendekati garis finish, Sasha berhasil mendahuluinya.
Sebaiknya aku harus hati-hati dengan pembicaraan ini. Jangan sampai keinginan mereka membuat pekerjaanku menjadi taruhannya.
Jika tercium aku bersekongkol dengan mereka maka karirku bisa hancur. Dan selamanya aku tidak bisa menjadi pelatih lagi.
Gumam Pelatih itu didalam hati. Dia lalu duduk dan bergabung dengan mereka. Dia juga ingin tahu kenapa Menteri harus ikut campur dalam kompetisi ini? Dia sangat sibuk. Tapi masih menyempatkan diri untuk mengurusi kompetisi ini. Ada apa sebenarnya?
"Kami mengundang anda karena masalah kompetisi selanjutnya. Seperti anda tahu juara pertama mengalami cedera. Dan juara kedua hanya selisih beberapa detik saja. Bisa dibilang kemampuan mereka seimbang." Kata Menteri.
"Ya. Saya juga melihatnya. Mereka mempunyai semangat dan kemampuan yang sangat bisa diandalkan. Dan aku yakin mereka akan bisa meraih medali emas antar universitas."
__ADS_1
Diluar pintu kantor Vano akan masuk dan tiba-tiba dia mendengar pembicaraan dan menyebut nama Sasha dan juga Catrine. Salah satu dari mereka akan mewakili universitas dalam ajang kompetisi bergengsi.
"Jika tidak Sasha maka Catrine akan menggantikanya." Kata Rektor kepada pelatih dan juga menteri yang duduk disana.
Diluar Vano masih terus mendengarkan apa yang mereka katakan. Pintu kantor agak terbuka sehingga dari luar suaranya terdengar meskipun kecil volumenya.
Vano tadinya berniat untuk masuk kedalam, namun dia juga ingin tahu apa yang mereka bicarakan, apalagi itu menyangkut Sasha.
Sebenarnya dia juga tahu jika itu tidak baik dan hal seperti menguping pembicaraan orang lain tidak boleh dilakukan. Namun pembicaraan mereka seperti akan menggantikan posisi Sasha dengan Catrine.
Hal itu tidak boleh dibiarkan. Bahkan demi bisa mewakili universitas ini, Sasha sudah berjuang hingga kakinya cedera dan dirawat dirumah sakit selama satu Minggu. Orang lain tidak akan berjuang seperti itu. Namun Sasha adalah seorang yang tidak mudah menyerah dan terus berusaha dalam mencapai impiannya. Vano tahu benar itu.
Dan sekarang mereka mau seenaknya menukar hasil yang sudah Sasha raih. Ini tidak boleh dibiarkan. Atau tidak akan ada yang mengikuti kompetisi ini dikemudian hari jika ada kecurangan didalamnya.
Jika apa yang mereka perjuangkan menjadi sia-sia maka untuk apa ada juara satu dan juara dua.
Mereka berlatih mengerahkan seluruh tenaga dan segenap kemampuannya namun pada akhirnya ada kecurangan didalamnya.
"Keputusannya tidak bisa diambil sekarang. Kita harus menunggu Sasha pulang dari rumah sakit. Dia adalah juaranya. Dan kita akan menguji keduanya setelah Sasha sembuh." Kata Pelatih sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah jika sudah tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi maka saya permisi dulu." Kata pelatih tersebut.
"Saya juga permisi." Kata Menteri kepada Rektor.
Vano cepat pergi ketika mengetahui pembicaraan mereka sudah selesai. Diaenyelinap diantara pepohonan dan pura-pura sedang menelpon seseorang.
Pelatih berjalan lebih dahulu meninggalkan kantor Rektor. Namun ternyata Menteri mengejarnya dan akhirnya memanggil pelatih tersebut.
"Kau sangat bijak. Kau pelatih yang profesional. Aku bisa merekomendasikanmu untuk menjadi pelatih tingkat Nasional." Kata Menteri kepada pelatih.
Mendengar apa yang dikatakan Menteri tersebut maka pelatih itu langsung terkejut dan melebarkan matanya.
Pelatih nasional? Dan gaji yang lumayan besar?
Tawaran yang bagus. Kapan lagi akan mendapatkan tawaran seperti ini?
Pelatih itupun diam sejenak dan menatap mata Menteri dan mencari keyakinan dari apa yang baru saja diucapkannya.
__ADS_1
"Aku berjanji padamu. Kau akan menjadi pelatih Nasional." Kata Menteri tersebut setelah memikirkan cara untuk menawarkan kesepakatan yang bagus.
Jika Rektor tidak bisa membuat kesepakatan dengannya, maka dia akan membuat kesepakatan dengan pelatihnya.
"Anda pasti memberikan ini tidak gratis. Selalu ada keinginan dari setiap pemberian." Kata Pelatih mencoba menebak apa yang tersirat didalam tawaran Menteri.
Wajahnya terlihat ramah namun matanya mengisyaratkan sebuah perintah dan belenggu.
Pasti ini adalah belenggu. Sebuah belenggu yang sudah dipersiapkan jauh-jauh sebelumnya .
Putri satu-satunya ikut dalam kompetisi ini. Dan ingin mendapatkan juara. Apakah ayahnya akan tinggal diam tanpa melakukan upaya apapun? Sementara kekuasaan dia punya, sekali perintah semua akan bergerak sesuai kemaunanya.
Mungkin ini juga bagian dari kuasa. Sebuah kekuasaan yang dengannya orang bisa mengatur banyak hal.
"Hahahaha...kau benar. Didunia ini tidak ada yang gratis. Selalu ada kesepakatan jika ternyata saling menguntungkan." Kata Menteri sambil tertawa, rupanya pelatih itu sangat cerdik. Dia menggunakan akalnya juga.
"Ya. Dan tidak akan terjadi kesepakatan jika salah satu pihak merasa tidak diuntungkan." Jawab Pelatih itu.
"Akan saya pikirkan tawarannya." Akhirnya pelatih itupun tertarik dan akan memikirkan kesepakatan dari Menteri.
Yah, namanya juga manusia biasa. Saat belum ada kesempatan maka semua terasa baik dan dijalur yang seharusnya.
Begitu ada tawaran yang menggiurkan, akan ada pertanyaan, kapan lagi mendapatkan kesempatan yang sama?
Peluang ada, dukungan ada, tinggal mengatakan iya, maka dunia serasa berpihak kepadamu. Kau ada diketinggian tanpa melakukan banyak hal. Hanya menurut pada skenario sang penguasa. Murah sekali untuk mempertahankan harga diri dan nilai kebaikan.
Terpaksa ditukarkan dengan sebuah kesepakatan demi kekuasaan, uang, kejayaan dan popularitas.
"Sampai Minggu depan kau benar-benar harus memikirkan semuanya. Atau kau akan kehilangan kesempatan emas ini."
"Baiklah."
"Tahun depan akan ada pemilihan pelatih untuk skala Nasional. Pikirkan namamu akan ada disana. Dan aku yang akan menjamin bahwa kau yang akan memenangkan pemilihan itu. Pikirkanlah!" Kata Menteri sambil menepuk bahu pelatih tersebut.
Menteri kemudian pergi mendahului pelatih dan sudah menunggu kedua anak buahnya yang sudah berdiri disamping mobilnya.
Anak buahnya membukakan pintu untuk Menteri dan setelah Menteri masuk maka anak buahnya menutup kembali pintu mobil tersebut.
__ADS_1