Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
Tidak terungkap


__ADS_3

Menteri tidak terlihat dirumah duka, namun hadir dipemakamanya. Dia dan Cathrine nampak memakai baju hitam dan juga kacamata hitam. Mereka berdiri agak jauh dari kerumunan mahasiswa.


Catrine nampak memayungi papinya. Matahari sedang terik-teriknya sehingga beberapa mahasiswa berteduh dibawah payung masing-masing.


Suasana begitu sunyi.


Dan setelah upacara pemakaman selesai hanya tinggal Sasha, Rossa, Madina dan Vano dipemakaman itu.


Catrine melihat mereka dari kejauhan. Tidak lama kemudian Catrine dan papinya juga meninggalkan tempat itu.


"Sudah Sasha, jangan menangis lagi. Ayo kita pulang." Kata Rossa sambil memegang bahu Sasha.


Sasha memang yang paling terguncang diantara semuanya.


Akhirnya Sashapun bangun dan menabur bunga diatas pusara yang masih basah. Setelah itu dia meninggalkan tempat itu dan masuk kedalam mobil Vano.


Nampak Vano sudah duduk dibelakang kemudi.


"Ayo masuk!" kata Vano kepada Sasha agar Sasha duduk didepan.


Sementara teman-temannya duduk di bangku belakang.


"Sudah jangan melamun." Kata Vano.


"Iya Sasha, jika kamu terus bersedih seperti itu maka jiwa pelatih tidak akan tenang disana. Langkahnya akan menjadi berat." kata Rossa.


"Kita kemana nih?" tanya Vano.


"Langsung pulang aja." kata Sasha.


"Baiklah." kata Vano.


Sementara setelah tidak ada siapapun Catrine dan Menteri mendekati makam itu.


"Maafkan aku. Kau sudah membuatku berbuat sejauh ini. Kau yang memaksanya. Kau yang mengakhiri hidupku sendiri. Sudah kubilang jangan ikut campur masalah ini. Tapi kau malah membuat kesalahan fatal." kata Menteri lalu menaburkan bunga diatas pusaranya.


"Ayo Catrine...." Kata Menteri lalu mengajak Catrine pergi dari tempat itu.


Merekapun meninggalkan area pemakaman itu.


Diasrama.


Satu Minggu kemudian...


Jack menghampiri Vano yang sedang duduk bersama Rossa dan Sasha.


"Ke klub yuk!" Ajak Jack sambil membuang bekas botol air mineral ditanganya.


Vano menoleh kearah Jack disampingnya.


"Gue lagi malas. Udah lama gue ngga keluar malam."


"Ya udah gue cabut ya!" kata Jack lalu pergi sendirian.


"Kalian ngerasa ngga sih, ada yang beda dari Jack?" kata Sasha kepada kedua temannya.


"Beda gimana?" tanya Rossa sambil menatap Sasha.


"Dia dulu ngga suka keluar malam. Dan matanya seperti sayu. Seperti..." tapi Sasha ngga jadi meneruskan kalimatnya.


"Seperti apa?" tanya Rossa.

__ADS_1


Vano yang tahu jika Jack berubah diam saja. Vano sebenarnya tahu apa yang membuat Jack berubah, namun dia tidak suka membahas sesuatu yang bukan urusannya.


Tiba-tiba Catrine lewat didepan mereka. Wajahnya sangat senang dan ceria.


"Hai!" Sapa Catrine pada mereka semua.


"Darimana?" Tanya Rossa.


"Dari tempat Regan. Tapi dianya ngga ada. Kalian lihat dia ngga?" tanya Catrine.


Mereka semua menggelengkan kepalanya.


"Kalau lihat Regan, tolong bilang kalau gue nyariin dia." Kata Catrine.


"Okey."kata Rossa.


Sasha tiba-tiba teringat pada pelatihnya yang sudah tiada.


"Aku tiba-tiba teringat pada pelatih." kata Sasha. "Aku merasa latihannya janggal. Namun aku juga tidak tahu kenapa aku merasa seperti itu."


"Kau benar. Aku juga merasakan hal yang sama. Namun kita tidak tahu apapun. Dan ini hanya perasaan kita saja." kata Vano.


"Akupun merasa kematianya seperti tidak wajar. Tapi itu hanya ada didalam hatiku. Karena pada kenyataannya kita tidak punya informasi apapun tentang kejadian ini." kata Rossa.


"Ya sudahlah! Sebaiknya kita lupakan kejadian ini. Nanti malah ada gosip yang menyebar tanpa adanya bukti. Kita bisa kena masalah." kata Vano.


"Gue sepertinya harus kestudio." kata Vano. "Sasha ikut yuk!" Ajak Vano.


"Ehmm...gimana ya?" Sasha nampak berfikir tapi akhirnya dia mengangguk.


***


Sasha duduk dikantor bersama beberapa kru yang bekerja dibelakang layar. Mereka duduk didepan komputer masing-masing untuk memprogram acara tersebut.


"Hemm..." Vano diam saja dan langsung kekantor CEO.


Disana CEO sudah menunggunya dan menatap kearah Vano yang baru masuk.


"Kau akan mengundurkan diri? Kenapa?" Tanya CEO itu.


"Ada masalah!" jawab Vano.


"Katakan!" ucap CEO itu.


"Saya tidak bisa mengatakannya." kata Vano.


"Kau pikir ini kantor nenek moyangmu? Semaunya kamu bekerja dan tiba-tiba mau mengundurkan diri?"


"Tapi saya tidak bisa datang besok."


"Kau harus datang! Aku tidak mau tahu, sebelum ada penggantinya kau tidak boleh berhenti." Ucap CEO itu.


Lalu Vano keluar dari kantornya.


Entah apa sebabnya Vano tiba-tiba akan mengundurkan diri.


Kemarin seharian dia juga menghilang entah kemana. Hanya Vano yang tahu kemana dia pergi. Dia tidak mengatakan kepada siapapun


"Ada masalah?" tanya seorang kru pengatur kamera.


"Tidak!" jawab Vano singkat.

__ADS_1


Seperti biasa Vano bersama salah seorang rekan kerjanya duduk dan mulai membawakan acara berita.


"Kamera siap! Team siap semua!" Teriak wakil CEO.


"Kalian berdua lihat kelayar!" Kata wakil CEO itu kepada Vano dan seorang rekan kerjanya.


"Lima, empat, tiga ,dua, satu, mulai!"


"Kamera mulai!"


Wakil CEO itu berdiri sambil terus memperhatikan bagaimana Vano bekerja dan membawakan acara tersebut.


Sasha duduk sambil melihat kesalah satu layar yang besar. Disana Vano terlihat sangat cakap dalam membawakan acaranya.


Dia memang berbakat dan luwes berbicara serta


mengatur setiap kata yang akan disampaikan kepada pemirsa.


Acaranya hanya berlangsung setengah jam.


"Selesai!" Teriak wakil CEO.


"Ganti!" Katanya.


Vano lalu mengemas beberapa lembar kertas diatas meja yang dia gunakan sebagai data dalam menyampaikan berita.


Dia berdiri dan keluar dari studio. Disana Sasha sudah berdiri menunggunya.


"Kau terlihat pucat." kata Sasha kepada Vano.


"Benarkah?" tanya Vano lalu mengambil sapu tangannya dan dia mengusap keringat didahinya.


"Haruskah kita kerumah sakit?" tanya Sasha.


"Tidak perlu." jawab Vano.


"Kalau begitu, ayo kita pergi sekarang?" kata Sasha.


Mereka lalu pergi ke restoran didekat pantai.


"Kita sudah sampai,"kata Vano lalu turun dari mobilnya.


Vano turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Sasha.


"Kenapa kau mengajakku kemari?" tanya Sasha kepada Vano.


"Aku akan cuti tiga bulan." kata Vano sambil mengatur nafasnya dan melirik kewajah Sasha.


"Cuti? Kenapa?"


"Aku tidak bisa mengatakannya. Tapi kita tidak akan bertemu selama tiga bulan."


"Hhhh....kau tidak mau berbagi padaku? Apakah artinya ....aku tidak mengerti maksudmu..." kata Sasha.


Sasha berfikir Vano akan mengungkapkan rasa cintanya pada Sasha. Dan Sasha juga sudah mempersiapkan jawabannya.


Dia tidak akan menyuruhnya menunggu seperti sebelumnya. Dia juga akan langsung mengatakan iya, jika Vano mengungkapkannya.


Namun ternyata, Vano justru akan menjauhinya.


"Temuilah Jack! Dia sangat menyukaimu. Kau datanglah padanya jika membutuhkan bantuan. Aku tidak akan bisa membantumu mulai hari ini." Kata Vano sambil mengusap matanya yang tiba-tiba perih.

__ADS_1


"Tapi kenapa? Apa alasannya?"


"Ayo kita pulang!" Kata Vano tanpa menjawab pertanyaan dan kebingungan Sasha.


__ADS_2