
Sasha melepas semua bajunya dikamar mandi. Dia melihat perutnya didepan kaca. Perut yang sekarang langsing beberapa bulan lagi akan semakin besar.
Beberapa bajunya mungkin juga sudah tidak akan muat lagi. Dia sadar, saat perutnya membesar maka dia tidak akan bisa lagi menyembunyikannya.
Aibnya akan tersebar luas dikalangan semua teman-temannya.
Dan diantara mereka akan ada yang bertanya, siapakah ayahnya?
Airmatanya menetes karena merasa tertekan dan takut.
Setelah mandi, Sasha lalu keluar dan menelpon Arya.
Hanya Arya yang tahu, bagaimana semua ini bisa terjadi. Dia pasti bisa membantunya.
Dia lalu memegang ponsel dan memencet nomor Arya. Namun niat untuk memberitahukan kehamilannya akhirnya diurungkannya.
Tidak sekarang!
Jika nanti aku tidak punya jalan keluarnya, maka aku akan minta bantuan om Arya.
Selama dia masih bisa mengatasi masalahnya sendiri, maka dia tidak akan meminta bantuan Arya.
Nanti dia akan mengatakan semuanya diwaktu yang tepat. Sasha juga sadar, dia akan sangat membutuhkan bantuan Arya saat kehamilanya semakin besar.
Dia harus sering pergi kedokter dan melakukan check up jika ingin terus mempertahankan kehamilannya.
Belum lagi vitamin dan juga biaya lainya. Persalinan dan biaya rumah sakit. Dia juga tidak mungkin tinggal diasrama setelah perutnya besar. Dia harus tinggal di apartemen. Dan semua itu memerlukan biaya.
Dia melamun memikirkan beberapa bulan kedepan.
***
Nadiya sedang duduk melamun melihat anak-anak berlarian di jalanan.
"Sekar, bisa bantu ibu sebentar."
"Ya Bu." Kata Nadiya bangun dari tempat duduknya.
Karena Nadiya tidak punya nama, akhirnya ibu Sandra memanggilnya Sekar.
"Tolong bantu ibu angkat kasur ini. Kita akan menjemurnya mumpung matahari lagi terik."
Nadiya dibantu oleh ibunya Sandra mengangkat kasur dari kamar untuk dijemur dihalaman.
"Tadi malam kamar ibu bocor, jadi kasurnya basah. Sepertinya ada genting yang merosot."
"Apakah kamar kamu juga bocor?"
"Tidak Bu."
"Ya sudah. Kalau tidak bocor. Kalau ada yang bocor dan kasurnya basah biar dijemur sekalian."
Nadiya lalu ikut Ibunya Sandra kedapur.
"Tunggu diluar saja. Biar ibu yang memasak ikan ini."
"Ngga papa Bu. Sekar bosan diluar, biar saya bantu." Nadiya lalu membuat bumbu ikan.
__ADS_1
Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu dari luar.
"Bu! Bu...."
"Iya tunggu sebentar."
"Ini Bu, pesananya." Kata salah seorang tetangganya yang baru saja panen bawang merah.
Dia menjualnya kepada ibunya Sandra, karena tahu jika ibunya Sandra menjual bawang goreng.
"Terimakasih Bu."
"Sama-sama."
Setelah membayar bawang merah itu lalu Ibunya Sandra masuk lagi kedapur.
"Banyak amat Bu pesananya."
"Iya. Minggu depan ada pesanan 100 toples bawang."
"Waahhhh, lumayan ya Bu."
"Iya Sekar, sejak kamu disini, Ibu jadi banyak pesanan. Kamu emang bawa rejeki."
Ibunya Sandra sangat senang dengan kehadiran Sekar atau Nadiya. Karena selain pesanannya rame, dia juga ada yang bantu-bantu pekerjaan rumah.
***
Vano sedang duduk dibawah pohon sambil merenung. Dia merasa kesal, marah, dan kecewa karena jika benar apa yang dikatakan Elena.
Vano terlihat sedih karena dia benar-benar tidak bisa memiliki cintanya.
Dia sudah memiliki ikatan yang sangat kuat, yaitu anak didalam rahim Sasha.
Siapa kekasihnya?
Bukan aku, bukan Jack. Apakah kekasihnya tidak ada disini?
Ternyata aku harus melupakannya.
Dia sudah milik seseorang? Apakah mereka sudah menikah? Secepat inikah?
Lama Vano termenung.
Pertanyaan yang sama juga ada dibenak Jack. Dia juga sedang duduk sendirian dikantin. Dia juga berpikiran sama seperti apa yang dipikirkan Vano.
Sasha sudah milik seseorang. Kehamilannya sudah membuktikan jika dia sudah ada yang memiliki. Entah siapa yang berhasil memilikinya.
Mereka terhanyut dalam pikiran dan perasaan masing-masing.
***
Sementara Sandra terus berusaha mendekati Prasetyo dan memikat hatinya. Segala cara dia coba untuk mendapatkan simpatinya.
Dia memasak masakan kesukaannya, tapi terpaksa dia harus kecewa karena Prasetyo masih enggan duduk dimeja makan.
Dia masih memikirkan tentang Nadiya yang tidak diketahui keberadaanya.
__ADS_1
Sandra sangat kesal karena dia sudah bangun pagi-pagi sekali demi bisa membuat masakan yang enak untuk Prasetyo.
"Pras! Sarapan dulu. Sandra sudah masak makanan kesukaanmu." Kata Oma sambil memakan sarapannya.
"Sepertinya Pras tidak sarapan hari ini. Tadi malam Pras makan terlalu kenyang. Pras berangkat dulu Oma." Prasetyo lalu berangkat kerja.
Sandra terlihat cemberut dan kecewa. Oma bisa melihat kekecewaan diwajah Sandra.
"Masakanmu sangat enak. Biar Oma yang makan jika Prasetyo masih kenyang." Kata Oma agar Sandra tidak merasa terlalu kecewa.
Sandra mengangguk dan tersenyum kepada Oma meskipun terlihat sebuah keterpaksaan dari senyumnya.
Oma merasa tidak enak dengan Sandra. Karena selama tidak ada Nadiya, Sandra sudah sangat membantu mereka.
Dia mengurus semua urusan rumah tangga dan juga menjaga anak-anaknya.
Setiap hari Oma berharap Nadiya segera kembali jika dia masuk hidup. Namun ini sudah enam bulan berlalu dan dia tidak kembali juga.
Mereka sudah melewati enam bulan tanpa Nadiya. Tidak ada kabar dari kepolisian tentang keberadaanya. Atau jika dia telah tiada setidaknya ada yang menemukan jasadnya.
Namun dia hilang seperti tidak berjejak.
***
Setelah enam bulan, kehamilan Sasha semakin besar. Beberapa baju sudah tidak bisa dipakai lagi. Akhirnya Sasha membeli beberapa baju yang longgar sehingga bisa menyamarkan perutnya.
Dan memang sampai saat ini tidak ada yang curiga denganya. Dia menjadi gemuk karena banyak makan. Dan semua temannya berfikir jika Sasha memang gemuk dan perutnya juga menjadi buncit.
Dia jarang keluar dari kamarnya sehingga tidak banyak yang melihatnya. Setelah pulang dari kampus, dia juga langsung masuk kamar.
Madina yang keluar dan membelikan segala kebutuhannya.
Regan juga tidak tahu tentang kehamilan Sasha, karena mereka tidak pernah berjumpa lagi.
Kadang Madina menemui Regan, tapi tidak pernah membahas tentang Sasha. Dia juga menyimpan rahasia kehamilan Sasha dari siapapun.
Karena jika terbongkar, maka akan menjadi gempar.
Menginjak ketujuh bulan, Sasha mengajukan cuti selama empat bulan. Dia akan kuliah secara daring.
Dia juga berpamitan pada Madina karena tidak akan tinggal diasrama lagi.
Dia akan tinggal di apartemen yang tidak jauh dari kampusnya. Karena tidak lama lagi dia akan melahirkan dan tentu kehamilannya yang semakin besar tidak bisa dia sembunyikan lagi.
"Hati-hati, kami pasti akan sangat merindukanmu." Kata Madina, ada Vano dan juga Jack disana.
"Ah, seperti aku akan pergi kemana aja. Aku cuma pindah diapartemen. Dan apartemennya tidak jauh dari sini. Kalian sering-seringlah main kesana. Biar aku ngga kesepian."
"Tentu, kami akan sering main kesana."
"Aku akan mengantarmu." Kata Vano karena kasihan melihat Sasha membawa koper dan beberapa barang dengan perut yang besar.
"Baiklah." Kata Sasha sambil memeluk Madina dan Elena yang baru saja datang.
"Jika kau membutuhkan sesuatu, telepon aku. Aku akan datang membantumu." Kata Elena.
Sasha mengangguk dan berjalan bersama Vano meninggalkan asrama.
__ADS_1