
Dengan cepat Ardy mengalihkan pandangannya pada Nadiya. Ardy selalu cemas bila ada dihadapan Nadiya dan Sarah.
Karena jika Sarah sampai mengatakannya pada Nadiya, Ardy akan kehilangan segalanya.
Sarah merasa Ardy sengaja menjauhinya.
Bahkan saat menatapnya Ardy langsung memalingkan mukanya. Ternyata benar kata Nadiya.
Bagi Ardy tak ada yang lebih penting daripada keluarganya.
"Aku bisa melihatnya Ar. Dari tatapanmu yang seakan menyuruhku menjauh dari Nadiya.
Kau pasti sangat cemas jika aku mengatakan kita pernah tidur semalam.
Kau selalu saja salah tingkah jika ada dihadapan Nadiya dan ada aku disana.
Ternyata aku hanya bunga yang telah kau buang kesampah setelah kau hisap madunya." Dengan perasaan sedih dan kecewa Sarah duduk lagi disamping Leo.
Leo tersenyum pada Sarah. Bagi Leo ini merupakan awal yang bagus, dan keinginannya rujuk dengan Sarah akan menjadi kenyataan.
Leo juga tak mau bertanya ini dan itu seperti biasanya pada Sarah.
Leo mulai mengalihkan sikap posesifnya pada Sarah karena hal itulah yang selalu membuat mereka bertengkar.
"Yuk kalau sudah selesai kita jalan-jalan dulu." Kata Leo sambil berdiri. Sarah juga mengangguk dan tak menolaknya.
Saat ini jika dia sendirian pikiranya akan melayang kemana-mana.
Apalagi jika sudah menyangkut bayi yang ada dalam kandungannya.
"Apakah kamu bahagia hidup sendirian?" Tanya Leo pada Sarah.
"Aku tidak tahu Leo. Apakah aku bahagia atau tidak? Karena beberapa hal yang tak terduga kadang-kadang membuat kita kehilangan rasa bahagia."
"Aku lihat kamu dari tadi cemas. Ada apa? Apakah kamu mau berbagi padaku?"
Sarah berpikir sejenak.
"Apakah mungkin seorang janda bisa hamil tanpa suami Leo?" Leo terperanjat. Dan menatap Sarah dengan tajam. Mengetahui hal itu Sarah langsung mengatakan sesuatu."Temanku Leo yang sedang sedih. Aku jadi turut sedih jika ingat temanku itu."
"Ya mungkin saja dia hamil dengan pacarnya." Kata Leo kemudian.
"Tapi dia tidak punya kekasih." Kata Sarah.
Leo tertawa karena perkataan Sarah yang tidak masuk akal.
"Seorang wanita hamil tanpa suami juga bukan dengan kekasihnya. Lalu siapa yang menghamilinya?"
"Aku juga tidak tahu. Temanku tidak mengatakannya."
"Sudahlah Sarah. Jangan memikirkan apa yang tidak perlu kamu pikirkan.
Apalagi kamu juga tidak tahu siapa yang membuatnya hamil.
Bagaimana kamu akan membantunya jika temanmu itu menyembunyikan sebagian kisahnya.
Biarkan saja temanmu itu menyelesaikan masalahnya sendiri.
__ADS_1
Karena sebelum berbuat dia harus sudah tahu resikonya.
Jadi biarkan saja mereka memutuskan apa yang terbaik bagi kehidupanya."
"Bagaimana jika ternyata yang menghamilinya adalah laki-laki yang sudah punya istri dan istrinya juga sedang hamil. Apa yang sebaiknya dilakukan temanku itu?"
Leo mulai berpikir tentang pertanyaan Sarah yang sedikit rumit. Karena tak punya jawaban Leo malah bertanya balik pada Sarah.
"Bagaimana kamu tahu jika yang menghamilinya sudah berkeluarga dan istrinya sedang hamil? Apakah dia mengatakannya padamu?"
"Iya ini hanya seandainya kejadiannya begitu. Apa yang harus dilakukan temanku itu?"
Leo berpikir lagi.
"Menurutku ini sangat rumit. Istrinya sedang hamil. Temanmu itu juga sedang hamil. Mereka tidak terikat hubungan apapun. Dan jika laki-laki itu tahu jika dua wanita hamil dalam waktu bersamaan karena kelakuanya. Dia pasti sangat pusing. Karena dia harus memilih antara keduanya."
"Apakah dia harus memilih?" Tanya Sarah putus asa karena bahkan Leo tidak punya jawabannya. "Tidak bisakah mereka hidup bersama?"
"Menurutmu artinya poligami?"
Sarah mengangguk.
"Ya jika istri sahnya bisa menerima kenyataan itu, ya mungkin poligami bisa dilakukan. Bagaimana jika istri sahnya tidak mau, dan tidak bisa menerima penghianatan suaminya. Tentu saja suaminya harus memilih diantara keduanya."
"Jika suaminya harus memilih. Menurut kamu siapa yang akan dipilihnya?"
"Tentu saja istrinya. Mereka punya ikatan yang sah. Dan sedangkan temanmu yang kamu bilang hamil itu, bahkan tidak punya ikatan apapun. Bukan wanita yang dicintainya juga. Bagaimana jika dia menyangkal kalau itu bukan anaknya?"
"Jadi apa yang harus dilakukan temanku itu?"
Kemudian mereka terdiam. Sarah diam seribu bahasa dan wajahnya sangat murung dan cemas.
"Sudahlah Sarah, kok jadi kamu yang sedih?"
Kemudian Sarah mendongakkan wajahnya dan tersenyum. Senyum yang dipaksakan.
Mereka kembali ke kantor Ardy. Kemudian Sarah kembali kemobilnya. Didalam mobil Sarah tidak langsung menyalakan mobilnya.
Bahkan setelah berbicara pada Leo tentang apa yang meresahkanya, Sarah tidak menemukan jalan keluar dari masalahnya.
Dan tiba-tiba teleponya berdering.
"Nadiya?" Gumam Sarah. Kenapa Nadiya menelponya.
"Sar kamu lagi dimana? Apa kita bisa ketemuan."
"Ya Nad. Ketemuan dimana?"
"Di taman dekat kantor Ardy."
"Oke. Aku akan segera kesana."
Setelah sampai ditaman Sarah langsung mencari tempat yang dimaksud Nadiya.
Dan ngga membutuhkan waktu lama, Sarah sudah menemukanya. Nadiya lagi duduk dipinggir kolam dekat air mancur.
"Nad." Nadiya menoleh kearah Sarah.
__ADS_1
"Sudah dari tadi?" Tanya Sarah.
"Ngga baru saja. Duduk sini Sar." Sarah kemudian duduk disamping Nadiya.
"Oh ya Sar. Beberapa waktu lalu aku ngga sengaja bertemu Leo. Dia menanyakan kabarmu. Kelihatanya dia masih sangat mempedulikanmu. Apa kalian jarang bertemu?"
"Iya Nad. Kita sudah sangat jarang bertemu. Apalagi setelah Leo sekarang punya proyek baru. Dia sangat sibuk."
"Gimana hubungan kalian?"
"Maksud kamu Nad?"
"Ehmm. Apakah jika Leo masih sangat mencintaimu dan mau mengubah sikapnya, kamu mau menerimanya?"
Sarah diam saja. Pantesan tadi saat bertemu Leo sikapnya berbeda dari biasanya. Apakah itu yang dimaksud Nadiya?
"Aku belum tahu Nad. Aku juga tidak yakin kami akan rujuk kembali."
"Menurutku Leo adalah pria yang sangat mencintaimu, mungkin beberapa sikapnya tidak kamu sukai. Tapi beberapa waktu lalu dia mengatakan akan merubah sikapnya menjadi lebih baik dan dewasa."
"Leo ngomong gitu Nad?"
Nadiya mengangguk. "Tapi.....aku....." Sarah tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Hampir saja dia keceplosan kalau sedang hamil. Aku harus merahasiakan kehamilanya. "Apa iya Leo akan menerima dirinya kembali kalau tahu dirinya hamil?" Gumam Sarah.
"Kenapa Sar?"
Nadiya memahami kekhawatiran Sarah, pasti karena kehamilanya. Dengan pura-pura tidak tahu kalau sarah hamil, akan memudahkan langkah Nadiya untuk menyatukan mereka.
"Sepertinya kita ngga mungkin rujuk lagi Nad." Sarah tidak yakin dengan keputusanya untuk rujuk karena kehamilanya.
"Bagaimana jika aku membantu kalian untuk rujuk kembali. Dan hidup berbahagia. Leo pasti akan mengubah sikapnya. Aku adalah sahabatmu, bagaimana jika kulakukan ini untuk kebahagiaan sahabatku. Bukankah kalian tadinya saling mencintai?"
"Kamu yakin Nad Leo akan berubah? Tidak posesif dan......."
"Leo adalah pasangan yang tepat untukmu Sar. Coba kamu pikirkan lagi. Jika kamu mau kamu, Leo ingin rujuk dalam waktu dekat ini. Karena....."
Nadiya tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Karena aku takut dengan kehamilanmu yang akan berpengaruh pada Ardy dan rumah tanggaku. Kata Nadiya dalam hati.
"Karena jika kamu bahagia aku sebagai sahabatmu juga merasa sangat bahagia."
Memikirkan tawaran Nadiya, membuatnya mulai sadar jika anak dalam kandunganya membutuhkan pengakuan yang jelas.
Sebenarnya dia memang tidak ingin rujuk dengan Leo, dia tidak yakin sikap Leo akan bertahan lama.
Tapi setidaknya bayi ini membutuhkan seorang ayah atau rasa malu akan membuat nama baiknya hancur.
Juga anaknya akan mendapat beban rasa malu seumur hidupnya. Lahir dari seorang janda, tanpa suami, bekerja di club' malam, dan orang akan mulai bertanya, siapa ayahnya.
Ya, sanksi sosial dari masyarakat pasti akan menyulitkan hidupnya juga buah hatinya.
Memikirkan hal itu, Sarah setuju jika akan rujuk dengan Leo dalam waktu dekat.
Saat ini yang Sarah pikirkan adalah perutnya yang akan segera membesar.
Sebelum Leo tahu jika dirinya hamil, lebih baik dia rujuk saja. Masalah yang lainya akan dia pikirkan setelah anak ini lahir.
Hati Nadiya menjadi lega karena Ardy tidak akan tahu jika Sarah sedang mengandung anaknya.
__ADS_1