
Nadiya melihat Freya sedang menata makanan dibantu oleh Prasetyo. Ingin rasanya Nadiya menggantikan Freya dan membantu Prasetyo menyiapkan makanan. Namun saat ini rasanya tidak mungkin mewujudkan keinginannya.
Aku hanya bisa melihatmu dari kejauhan tanpa bisa menyentuhmu ataupun duduk berdua dan bercerita tentang hari esok. Aku saat ini sedang ditakdirkan untuk menjadi orang asing bagimu. Tadinya kita menghiasi seluruh tempat ini dengan riang dan tawa. Dan dalam sekejap aku menjadi orang asing bagimu.
"Nadiya..." Ibu Monic mengagetkan Nadiya dari lamunannya.
"Iya Mami...."
"Jangan melamun. Bergabunglah dengan mereka."
"Tidak mi. Nadiya disini saja. Nadiya mau menghias tempat ini dengan bunga yang sudah Nadiya petik." Kata Nadiya lalu mengambil beberapa bunga dari keranjang itu. Nadiya kemudian mulai merangkainya dan menghias tempat itu sehingga menjadi tempat yang cantik dan indah.
"Edsel! Eiden! Ayo kemari!" Teriak Ibu Monic memanggil kedua cucunya yang sedang bermain bersama Arya.
"Iya Oma!" Jawab mereka bersamaan. Mereka kemudian berjalan mendekati Omanya. Diikuti oleh Arya yang berjalan dibelakang mereka.
Arya menatap Nadiya dari kejauhan dan tersenyum pada Nadiya saat mata mereka berpapasan.
"Kalian sama Oma. Om akan membantu mami kalian memasang rangkaian bunga." Kata Arya.
Kemudian Arya mengangkat tangga dan mulai mengambil rangkaian bunga yang sudah disiapkan Nadiya. Arya kemudian mengikat ujung-ujungnya dari setiap rangkaian bunga dan menariknya lalu membentangkannya mengelilingi tempat makan itu.
"Terimakasih." Kata Nadiya saat melihat Arya sudah selesai menghias tempat itu dengan bunga yang dirangkai oleh Nadiya.
"Kita tinggal memasang lampu disekelilingnya." Kata Nadiya.
"Saya akan memasangnya. Dimana lampunya?" Tanya Arya.
"Ada di gudang pak Arya." Kata Nadiya.
"Baiklah saya akan mengambilnya digudang." Kata Arya sambil berjalan kegudang.
Sementara Nadiya menunggu sambil sesekali melihat kearah Prasetyo dan Freya yang duduk dan berbicara secara dekat.
"Kenapa pak Arya lama sekali?" Tanya Nadiya. "Lebih baik aku menyusulnya. Mungkin Pak Arya tidak tahu letaknya." Kata Nadiya lalu menyusul Pak Arya kegudang.
"Pak Arya!" Nadiya memanggil Arya dari luar.
"Pak Arya!" Nadiya kemudian masuk kedalam saat dia lihat pintu gudang terbuka. Artinya Pak Arya masih ada didalam.
Gudang itu sangat luas sehingga Arya tidak mendengar saat Nadiya memanggilnya. Arya sedang sibuk mencari lampu dilaci-laci gudang, namun begitu banyak laci disana sehingga membuatnya kewalahan dalam mencarinya.
Nadiya kemudian menarik tangga dan menaikinya lalu menarik laci paling atas dan mengambil lampu disana. Namun saat akan turun tiba-tiba dia terpeleset dan jatuh kelantai.
Greeeekkkk!
Buuukkkk!!
Arya yang mendengar suara gaduh itu langsung mencari dari mana asalnya suara tersebut. Arya berjalan pelan-pelan mencari arah suara yang seperti barang terjatuh. Matanya menyapu sekeliling ruangan dan dia langsung kaget saat melihat Nadiya tergeletak dilantai di samping tangga.
"Bu Nadiya...." Kata Arya langsung berlari mendekat.
"Apa yang terjadi, bagaimana Bu Nadiya bisa jatuh seperti ini?" Tanya Arya panik.
"Saya tidak papa pak Arya. Tapi mungkin kaki saya terkilir." Kata Nadiya meringis kesakitan. Tangannya terus memegang kakinya yang sebelah kiri.
"Biarkan saya lihat kakinya Bu..." Kata Arya sambil melihat kaki Nadiya yang terkilir.
"Sakit sekali." Kata Nadiya saat disentuh oleh Arya.
"Baiklah saya akan menggendong ibu dan kita akan memanggil tukang urut saja."
__ADS_1
"Ya sudah jika begitu." Kata Nadiya yang memang hanya bisa pasrah. Jika saja Prasetyo ingat segalanya maka dia tidak akan membiarkan orang lain menggendongnya. Namun saat ini Prasetyo sedang ditakdirkan menjadi orang asing baginya, sehingga dia tidak mungkin menunggu Prasetyo datang menggendongnya seperti saat dulu.
Dulu Prasetyo selalu menggendongnya bahkan saat dia tidak terjatuh sekalipun. Dan jika melihatnya terluka sedikit saja, maka Prasetyo langsung panik bukan kepalang. Dia tidak akan berhenti mengoceh dan terus berbicara karena saking paniknya. Namun saat ini Nadiya bahkan tidak bisa memanggilnya dan meminta pertolongan. Untunglah ada pak Arya yang bisa membantunya.
"Mari Bu Nadiya." Kata Arya membuyarkan lamunan Nadiya.
"Baiklah. Pelan-pelan saja Pak Arya." Kata Nadiya sambil merangkul Arya dan saat itu tercium aroma parfum yang biasa dipakai Ardy.
"Ardy?" Bisik Nadiya dan sesaat Arya berhenti lalu terdiam.
"Bu Nadiya menyebut nama seseorang?" Tanya Arya yang mendengar nama Ardy disebut oleh Nadiya.
"Ohh. Tidak pak. Lupakan saja. Hanya saja parfum bapak mengingatkan saya pada seseorang." Kata Nadiya.
"Mungkin kita menyukai parfum yang sama Bu Nadiya. Sehingga membuat Bu Nadiya ingat pada seseorang."
"Benar. Parfum ini tidak asing bagi saya."
"Sudah sampai dikamar Bu Nadiya." Kata Arya yang menurunkan Nadiya dengan pelan diatas tepat tidurnya.
"Saya akan memanggil tukang urut untuk memijat kaki Bu Nadiya." Kata Arya.
"Nomor tukang urut langganan kami ada dibawah telepon Pak Arya. Namanya Bu Iyem."
"Baiklah saya akan menelponya untuk segera datang." Kata Arya.
Arya kemudian berjalan kebawah dan ditangga berpapasan dengan Ibu Monic.
"Nak Arya. Apakah Nak Arya melihat Nadiya?"
"Bu Nadiya ada dikamar nyonya. Karena tadi terjatuh dari tangga saat mau mengambil lampu digudang."
"Apa? Jatuh?" Kata Ibu Monic kaget.
"Dimana Nadiya sekarang?" Tanya Ibu Monic panic.
"Ada dikamarnya nyonya." Kata Arya.
"Apakah sudah telepon tulang urut?" Tanya Ibu Monic.
"Saya akan menelponya sekarang Nyonya." Kata Arya.
"Ya sudah kalau begitu. Suruh tukang urutnya datang segera." Kata Ibu Monic lalu naik kekamar Nadiya.
Arya kemudian menelpon tukang urut tapi matanya melihat keluar halaman. Dilihatnya Prasetyo dan tamunya sedang memasak sambil bercanda dan tertawa seakan dunia hanya milik mereka berdua.
"Semoga saja ingatanmu tidak pernah kembali!" Bisik Arya.
"Halo...."
"Ini dari rumah ibu Nadiya. Ibu bisa segera datang kemari? Ibu Nadiya kakinya terkilir." Kata Arya.
"Ya. Saya akan segera datang. Tapi...."
"Kenapa bu?" Tanya Arya.
"Anak saya yang biasa antar kesana kemari lagi pergi. Apakah saya bisa dijemput?"
"Baiklah. Saya akan menjemput ibu. Dimana alamat ibu?"
"Jalan kemuning no 19." Kata tukang urut itu.
__ADS_1
"Ya. Saya segera kesana." Kata Arya lalu menutup teleponnya dan berjalan kehalaman dekat parkiran mobil. Di sana Arya memarkir motornya. Kemudian Arya langsung menaiki motornya dan keluar dari halaman rumah Nadiya.
Prasetyo menatap Arya dengan tatapan aneh seakan pernah melihatnya di suatu tempat dalam memorinya yang serba hitam. Prasetyo berusaha mengingatnya namun dimana? Ada juga bayangan wanita rambut pendek duduk disampingnya.
Prasetyo kemudian menatap Freya dan bertanya padanya.
"Apakah kau pernah menggunting rambutmu sebahu?" Tanya Prasetyo mencoba mencari tahu bayangan hitam seorang wanita yang duduk disamping ranjangnya.
"Tidak. Aku tidak pernah menggunting rambutku sebahu. Rambutku selalu panjang." Kata Freya.
"Aku seperti pernah bersama pria itu dan aku bersama seorang wanita. Namun wanita itu rambutnya pendek. Aku pikir itu adalah kamu." Kata Prasetyo.
"Itu bukan aku."
"Kepalaku sangat pusing. Dunia seperti berputar." Kata Prasetyo sambil memegang kepalanya.
"Sudah Pras! Jangan terlalu memaksa untuk mengingat banyak hal. Ingat pesan dokter. Jika kau terus memaksanya maka kau akan sama sekali kehilangan seluruh memori dan sulit untuk dipulihkan kembali. Ayo duduk sini. Aku akan memijat kepalamu." Kata Freya.
Prasetyo kemudian duduk bersandar pada kursi sementara Freya berdiri dibelakangnya sambil memijat kepala Prasetyo dengan lembut.
"Aku tidak bisa mengingat apapun. Dan ini sangat menjengkelkan!" Kata Prasetyo.
"Ingatanmu akan kembali perlahan-lahan." Kata Freya.
"Entahlah. Semua hanya seperti bayangan hitam dan tidak terlihat jelas saat aku memimpikanya." Kata Prasetyo.
"Tidak papa. Itu adalah bagian dari yang telah kamu lupakan. Lambat laun semuanya akan jelas dan kau akan mengingat semuanya."
"Kadang aku bermimpi seperti aku sedang bulan madu. Tapi bagaimana mungkin, karena kita bahkan belum menikah?" Kata Prasetyo.
"Ya mungkin itu hanyalah mimpi yang tidak ada kaitannya dengan kita. Ayo kita panggil Nadiya. Dan kita akan makan bersama." Kata Freya mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba Arya datang dengan motornya dan memboncengkan seorang ibu separuh baya.
"Darimana Pak Arya?" Tanya Prasetyo saat melihat Arya datang dan akan masuk kedalam.
"Manggil tukang urut. Bu Nadiya jatuh." Kata Arya.
"Apa?! Nadiya terjatuh? Dimana jatuhnya?"
"Digudang. Sekarang lagi mau diurut." Jawab Arya sambil melihat Freya yang sedang memijit kepala Prasetyo.
"Aku akan melihatnya." Kata Prasetyo dan berjalan diikuti oleh Freya dibelakangnya.
"Dasar! Suami tidak berguna!" Gimana Arya sambil berlalu.
Prasetyo membuka kamar dan Nadiya menoleh. Nadiya kemudian tersenyum lalu diam tak berbicara apapun. Prasetyo duduk disamping Nadiya dan menatap wajahnya.
"Apakah kau jatuh?" Tanya Prasetyo.
"Iya." Jawab Nadiya.
"Harusnya kau jangan naik-naik. Aku akan membantumu jika kau butuh sesuatu." Kata Prasetyo.
"Aku hanya akan mengambil lampu untuk hiasan taman. Tapi tiba-tiba kakiku terpeleset, dan aku jatuh."
"Lain kali, biarkan aku yang akan mengambilkanya untukmu. Kau akan diurut sekarang?" Tanya Prasetyo.
Nadiya mengangguk.
"Aku akan keluar dulu." Kata Prasetyo.
__ADS_1
"Kalian makanlah dulu. Aku mungkin tidak bisa ikut." Kata Nadiya.
"Tidak. Setelah diurut kau pasti bisa ikut makan malam bersama kami. Kami akan menunggumu dibawah." Kata Prasetyo lalu pergi dari kamar Nadiya.