Haruskah Kumaafkan

Haruskah Kumaafkan
CEO dibalik penangkapan Joan


__ADS_3

"Ha...ha...ha...ha........" Tertawanya lepas dan tanganya mengibaskan kertas yang berisi tanda tangan Nadiya.


Tangan Karina merangkul suaminya dan mendekatkan dagunya pada kening Joan. Kemudian mereka tersenyum lebar dan mentertawakan kebodohan Nadiya.


"Kita menang!" Kata Joan sambil mencium punggung tangan Karina.


"Kamu tetap harus hati-hati sayang. Kamu tahu kan Nadiya bukan orang bodoh yang dengan mudah membubuhkan tanda tangan. Pasti dia sudah merencanakan sesuatu."


"Hemmmm.....Kamu benar. Aku tetap harus waspada. Berkat kelicikannya dia bahkan merebut jabatan CEO itu dariku. Aku takkan membiarkanya menguasai yang sudah aku dapatkan dengan susah payah."


Pintu diketuk dengan lembut......


"Siapa?"


"Mama......"


"Silahkan masuk ma.....!" Kemudian dengan geram Ibu Sofia marah pada Joan dan Karina.


"Bagus! Kalian disini duduk manis sementara rumah kalian disita oleh pihak berwajib!"


"Kenapa ma!? Ada apa!? Siapa yang berani melakukanya!?" Wajah Joan dan Karina memerah dan manik matanya seperti akan terlepas saking shocknya.


"Mama tidak tahu......Salah satu anak buahmu pasti sudah berkhianat padamu!"


Kemudian telepon berbunyi dan Joan mengangkatnya.


"Baik pak. Saya akan segera kesana." Joan menutup telepon dengan gigi yang gemericik. Tanganya mengepal dan mendobrak meja.


Brakkkkkk!!!!


Kakinya menendang kursi, bukanya kursinya yang mental, kakinya yang malah kesakitan.


"Aduh!!!"

__ADS_1


"Lagian sih pake nendang kursi segala! Sakit kan mas?" Kata Karina sambil jongkok dan melihat kaki Joan berdarah.


wwhuhh! wwhuhh! wwhuhh!


Mulutnya monyong meniup luka di kaki Joan. Karina kelewat bucin sama Joan hingga membuat ibu Sofia geram melihatnya.


"Sudah Karina! Ngapain sih kamu begitu! Nanti juga sembuh! Lagian tidak ada yang menyuruhnya merusak barang milik orang lain!"


"Mama!!!!" Karina kesal karena mamanya menyebut 'barang milik orang lain dan menganggap seakan Joan itu orang lain.'


"Sudah Karina! Aku harus segera kekantor polisi. Ada yang harus aku bereskan."


"Apa!? Kantor polisi?"


"Iya. Ada masalah dan aku harus segera membereskanya."


"Jadi.....telepon tadi....dari kantor polisi?" Karina shock dan terduduk kursi didekatnya. Wajah ibu Sofia datar tanpa ekspresi. Huh! baguslah masalahku untuk memisahkan mereka selesai sampai disini. Gumam Ibu Sofia.


"Karina ikut mas...."


"Mama kok gitu sih? Jahat banget!" Kata Karina sambil menekuk wajahnya seperti lipatan kertas


Joan meninggalkan ibu dan anak yang sedang bertengkar karena hal-hal sepele.


"Biarkan saja jika si bodoh itu sampai dipenjara! Nanti mama akan carikan suami yang baik untukmu. Yang bisa memberimu anak dan bisa dipercaya. Tidak seperti dia yang bisanya cuma menghabiskan uang mertua." Ujar ibu Sofia sambil duduk disofa yang ada didalam ruangan Joan. Tanganya meraih ponsel dan menelpon seseorang.


"Kamu ikuti si Joan. Dan laporkan pada saya apapun yang kamu lihat dan kamu dengar!" Kata ibu Sofia memberikan perintah pada sopirnya sekaligus orang kepercayaanya.


Karina melirik ibunya dan tersungut sambil mengatur nafasnya.


"Mama ngapain sih pake suruh orang segala buat ngikutin Joan? Karina ngga suka mama perlakukan Joan seperti itu. Joan itu suami Karina! Sudah berapa kali Karina bilang kalau Karina sangat mencintai Joan dan tidak mau kehilangan dia. Titik."


"Pake pelet apa si Joan sampai kamu tergila-gila padanya? Mama ngga habis pikir dengan cara berfikir kamu!" Ibu Sofia geregetan dengan anak perempuannya yang cinta buta pada sosok Joan yang bahkan sudah beristri dan punya satu anak. Bahkan setelah mengetahui hal itu membuat Tuan Alex shock dan akhirnya sakit. Sehingga membuat surat wasiat untuk Nadiya dan menjadikan Nadiya CEO.

__ADS_1


Sementara dikantor Nadiya sudah mendapat kabar tentang penyegelan rumah dan polisi yang akan memeriksa Joan. Nadiya sudah tahu jika hal itu akan terjadi setelah menyewa detektif bayaran untuk mengungkap korupsi, penggelapan uang, dan penyuapan pada beberapa pejabat. Nadiya tidak sia-sia menyewa detektif terbaik dengan penyamaran yang sempurna sehingga dengan cepat bisa mengungkap dan membuat Joan jera.


Joan tidak akan mengira siapa yang ada dibalik penangkapanya karena salah satu anak buahnya telah rela mengorbankan nyawanya dan ikut dipenjara atas ancaman Nadiya. Dan rupanya taktik Nadiya berhasil. Meskipun Nadiya harus membiayai seluruh hidup keluarga anak buah Joan yang telah mengorbankan dirinya.


Tapi semua itu bukan masalah bagi Nadiya. Nadiya sudah berjanji jika dia mau mengorbankan dirinya maka Nadiya akan menjamin kesejahteraan hidup termasuk menyekolahkan anak-anaknya sampai sarjana dan menjadi mandiri. Akhirnya mereka membuat kesepakatan dan anak buah kepercayaan Joan menyerahkan diri pada polisi. Hukumannya akan berkurang karena Nadiya akan membantu dengan menyewa pengacara terbaik di kota tersebut.


Karena kesaksian dan barang bukti yang memberatkan Joan maka polisi memutuskan untuk langsung menahan Joan sampai proses penyelidikan dan persidangan selesai. Dan memutuskan apakah dia terlibat atau tidak sehingga sambil menunggu keputusan hakim polisi menahan Joan dalam jeruji besi yang dingin.


Sementara Karina gemetar saat mengetahui Joan ditahan dengan beberapa kasus yang memberatkanya. Terlebih ada saksi dan barang bukti yang sudah ditangan kepolisian. Berbeda dengan ibu Sofia yang langsung sumringah dan bahagia karena anaknya bisa terlepas dari jerat cinta menantunya tersebut.


Ditempat lain CEO Ardy sedang memarahi sekretaris barunya karena bajunya yang tidak sopan saat dikantor.


"Terus terang saya tidak suka kamu memakai pakaian yang terlalu seksi seperti ini." Kata Ardy saat hanya ada mereka berdua didalam ruanganya.


"Iya maaf pak! Besok saya akan berpakaian yang lebih baik. Saya pikir bapak......." Namanya Susan. Maklum sekretaris yang baru kebanyakan nonton sinetron tentang CEO yang mata keranjang. Sehingga dia pikir Ardy yang diketahui hidup sendirian tanpa kekasih akan suka dengan cara berpakaianya dan mengajaknya berkencan.


Namun sejak kepergian Nadiya ternyata Ardy sangat berubah. Tidak seperti Ardy yang sebelumnya gemar melihat badan seksi dan montok apalagi yang berpakaian seksi dan menggoda. Kehilangan telah membuat cara berpikir dan sudut pandangnya berubah 180°.


"Kamu pikir saya seperti kebanyakan laki-laki?"


Sekretaris itu tertunduk. Merasa malu pada dirinya sendiri karena mencoba menggoda CEO alias atasanya yang ternyata diluar dugaannya.


Ardy tersenyum penuh kepahitan karena sesaat terkenang kejadian beberapa tahun yang lalu. Yang merenggut kebahagiaan dan menghancurkan rumah tangganya.


"Kamu tidak membaca peraturan dikantor? Khusus pegawai wanita dilarang berpakaian terlalu seksi, berdandan terlalu glamor dan melakukan skandal dengan sesama pegawai dan jika sampai melanggar maka akan mendapat surat teguran dan bisa diberhentikan dari perusahaan jika tidak mau berubah atau setelah dikasih surat peringatan masih tetap melanggar."


"Maaf pak. Saya tidak tahu jika ada aturan seperti itu. Mohon jangan pecat saya. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."


"Karena kamu baru disini maka saya hanya menegur kamu. Tapi perhatikan apa yang saya ucapkan tadi."


"Baik pak. Saya mohon diri." Sekretaris Ardy kemudian meninggalkan ruangan Bosnya.


Sementara Ardy menggenggam telepon yang dia temukan tadi didepan rumahnya. Ada yang menghubunginya tapi saat mendengar suaranya, tiba-tiba telepon itu diputus.

__ADS_1


*Apakah penelpon tadi ada kaitannya dengan pengintai dirumahnya? Ardy harus menyelidiki siapa pemilik hp ini. Selama ini dia merasa tidak mempunyai musuh. Tapi entah kenapa dalam beberapa hari ini dia merasa seperti ada yang terus mengamati gerak-geriknya.


Bersambung*.......


__ADS_2