Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Ambil baju pengantin


__ADS_3

Seminggu sebelum hari pernikahan, Defan dan Dira kembali ke Bridal Tailor untuk mengambil baju pengantin mereka. Baju pengantin yang sebelumnya masih dalam perombakan agar tidak ada yang kurang.


Sikap Defan kembali berubah. Ia semakin malas untuk mengambil hati Dira. Defan kembali menjadi pria kaku dan dingin. Jadwal hari ini, Defan dan Dira harus mengambil baju pengantin mereka.


Tapi tidak ada kabar dari Defan untuk menjemput Dira di sekolahnya. Dira menunggu-nunggu kepastian dari Defan. Akhirnya ia berinisiatif untuk mengirimkan pesan kepada Defan.


"Bang hari ini Dira dijemput nggak? Jangan lupa kita mau ambil baju pengantin"


Dira mengirimkan pesan itu pada jam makan siangnya. Tapi hingga dua jam berlalu tidak ada balasan dari Defan.


Rupanya Defan sedang sibuk dengan sidangnya hari ini. Ada kasus yang harus dia selesaikan sebagai pengacara kliennya. Dia bahkan tidak sempat untuk mengecek ponselnya selama persidangan berlangsung.


Hingga pelajaran Dira berakhir, tidak ada balasan dari Defan. Dira pun kebingungan harus bagaimana cara mengambil baju pengantin tersebut.


Dia tidak memiliki kendaraan pribadi. Padahal jadwal pengambilan baju pengantin jam tiga sore. Dira segera merapihkan buku-bukunya.


"Carol apa kau membawa mobil hari ini," tanya Dira yang berharap Carol membawanya sehingga ia bisa menumpang.


"Iya Dir, aku bawa. Kenapa?"


"Aku boleh menumpang. Bang Defan nggak ada kabar hari ini. Jam tiga harusnya aku ambil baju pengantin. Tolong ya Carol," pinta Dira.


Carol mengangguk menyetujui permintaan sahabatnya itu. Lagipula tidak ada jadwalnya untuk les tambahan.


"Kami ikut," teriak Shinta dan Jenny.


Dira langsung melihat Carol. Dira tidak bisa menyetujui permintaan kedua sahabatnya yang lain tanpa persetujuan Carol. Akhirnya Carol dengan senang hati menyetujui kedua sahabatnya yang lain.


"Yeyyyy!!! Jalan-jalan kita," ucap Jenny kegirangan.


Mereka berempat langsung masuk ke dalam mobil. Dan Dira memberikan alamat Bridal Tailor pada Carol. Dan Carol yang mengetahui alamat tersebut dengan cepat menginjakkan gas mobilnya.


"Dir, memangnha abang itu kemana? hal sepenting ini masa kau lakukan sendiri?" tanya Shinta penasaran. Karena tidak bisanya Dira bergerak sendiri mempersiapkan hal penting untuk pernikahan mereka.


"Aku juga nggak tahu Shin! Nggak ada kabar dari abang itu. Pesanku saja tidak dibalas," jawab Dira sambil melihat layar ponselnya.


"Lagi sibuk kali," balas Carol.


"Masa menjelang pernikahan, dia malah sibuk," sindir Jenny.


Mereka akhirnya tiba di Bridal Tailor. Dira masuk ke dalam ruangannya dan menunjukkan tanda pemesanan baju pengantin tersebut. Akhirnya pemilik Bridal mengeluarkan tiga pasang baju pengantin.

__ADS_1


"Gila Dir! cemana kita bawa banyak baju gini? berat lagi," celetuk Jenny.


Dira menggaruk tengkuknya dan merasa kebingungan juga. Tapi ia yakin bisa membawa semua baju tersebut dengan rapih.


"Tenang! mobilku muat kok," Carol menyakinkan ketiga sahabatnya.


"Satu-satu saja bawanya! Agar bisa ditata rapih dan tidak rusak," lanjutnya.


Carol mengangkat satu baju, sama halnya dengan yang lain membawa masing-masing satu baju. Carol mulai menggantungkan satu-satu baju dipegangan tangan bagian kursi penumpang yang ditempati oleh Shinta dan Jenny.


"Weee! sempit kalilah kami nanti dibelakang," ucap Shinta yang melihat kursi penumpang dipenuhi baju Dira.


"Maaf ya semua! Aku jadi ngerepotin kelen semua," kata Dira dengan wajah sendunya.


Dira semakin kesal dengan Defan yang tidak peduli dengan jadwal pengambilan baju pengantin milik mereka. Kalau saja Defan membalas pesanya dan datang menjemputnya, dia tidak akan merepotkan ketiga sahabatnya.


"Santai aja Dir! Kita kan sahabat," balas Carol sambil menepuk pundak Dira.


Semua baju sudah tertata rapih di dalam mobil Carol. Baju-baju itu tergantung rapih agar tidak rusak. Shinta dan Jenny duduk lebih rapat karena adanya tiga pasang baju pengantin.


Saat Dira dan ketiga sahabatnya jalan pulang menuju rumah Dira, ponsel Dira pun berdering. Tertulis nama Defan dilayarnya. Tapi karena Dira kesal dengan perilaku paribannya hari ini, ia sengaja tidak mengangkat teleponnya.


Tiga kali ponsel berdering dan diabaikan oleh Dira.


"Biarin ajalah! Masa hal sepenting ini dia lupkan," ketus Dira.


"Cieeee merajuk kau yaa," goda Jenny.


"Mana ada aku merajuk! Biar dia sadar diri ajalah," jawab Dira dengan ketus.


"Udah angkat aja Dir! Siapa tahu abang itu malah khawatir!" balas Shinta.


Dira dengan watak kerasnya tetap mengabaikan ponselnya. Karena teleponnya tak kunjung diangkat, akhirnya Defan membalas pesan Dira.


"Abang tadi sibuk dek! Kau dimana? Biar abang susul"


Pesan itupun dibaca oleh Dira dan diabaikannya. Tidak ada alasan dari sibuknya Defan membuat Dira semakin marah.


"Kelen lihatlah ini we! Katanya dia sibuk? Tapi nggak jelas sibuk ngapain," rengek Dira.


"Mungkin sibuk beneran kali Dir. Udah kau jangan kaya anak-anak kalilah. Kan bentar lagi kau mau jadi istrinya," kata Jenny.

__ADS_1


Ucapan dari Jenny tetap diabaikan oleh Dira. Ia dengan sengaja tidak membalas pesan dari Defan.


Dira bersama sahabatnya tiba di rumah Dira. Mereka berempat mengangkat tiga pasang baju itu ke dalam rumah Dira.


"Dir mana si Defan? Kok malah kawanmu yang kau suruh bawa baju ini," tanya Rosma yang kebingungan melihat Dira dan ketiga temannya sedang sibuk megeluarkan baju pengantin.


"Nggak tahu mak! Mamak tanya ajalah sama abang itu," ucap Dira ketus.


"Kok nggak tahu? Kan bisa kau telepon," Rosma semakin bingung dengan jawaban borunya.


Dira melengos melintasi mamaknya dengan cuek. Karena rasa kesalnya belum hilang, ia harus mengurus baju pengantinnya bersama ketiga sahabatnya.


Sementara Defan yang tidak kunjung mendapat jawaban dari Dira berinisiatif langsung mendatangi Bridal Tailor. Baru saja dia tiba disana, dan langsung mempertanyakan tentang pengambilan baju pengantinnya.


"Maaf pak! Bajunya tadi sudah diambil semua oleh calon istri bapak," jawab salah satu pelayan di Bridal Tailor.


Defan akhirnya meninggalkan Bridal Tailor dan mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya. Ia kembali menelepon Dira tapi tak juga diangkat.


"Si Dira ini kenapa sih? Dari tadi telepon dan pesan tidak juga dibalas," batinnya.


Karena tidak ada balasan, akhirnya Defan menghubungi orangtua Dira.


"Halo"


Suara dari seberang telepon langsung menjawab. Suara mamaknya Dira, Rosma langsung dikenali oleh Defan.


"Nantulang apa Dira ada di rumah?"


"Iya ada! Dia baru pulang,"


"Baik! Aku akan kesana" Defan menutup teleponnya dan merasa lega kalau Dira sudah berada di rumahnya.


Defan langsung menuju rumah Dira. Sedangkan Dira malah bersantai dengan ketiga sahabatnya. Mereka malah asik makan siang berempat dihalaman rumah Dira.


"Dir nggak kau hubungi abang itu? Nanti dia nyariin loh," Carol membuka suaranya meski mereka sedang makan.


"Udah dia hubungi tadi mamakku. Udahlah biarin aja! Nanti juga dia kesini," jawab Dira dengan santai sambil menikmati makanannya.


"Dir enak juga masakan mamakmu ya! Sering-seringlah kau ajak kami kesini! Gausah malu kau," puji Jenny dengan masakan Rosma yang menghidangkan menu ayan kampung gulai.


"Nggak enak aku loh we! Rumah kami jelek kayak gini. Beda sama rumah kelen yang bagus-bagus," jawab Dira.

__ADS_1


Baru saja selesai makan dan tidak sempat membersihkan meja. Defan tiba-tiba datang dengan wajah dinginnya.


"Ssst. Udah datang abang itu we! Cepat kita rapihkan ini," ucap Carol mengarahkan sahabatnya agar segera membersihkan meja di halaman rumah Dira.


__ADS_2