
"Jangan Anggi mah, kak Niar ajalah!" Anggi pun enggan menemui Dania lantaran ia tahu bagaimana hubungan iparnya dengan sahabat abangnya itu.
"Loh ... kok dua-duanya nggak mau sih!" keluh Melva menatap kedua wanita itu secara bergantian.
"Kau aturlah itu ma ... salah satu dari kalian harus ada yang ikut! Kita harus menghargai Dania, dia itu sudah seperti kerabat bagi keluarga kita," kecam Desman dengan tegas.
Melva pun mengangguk sembari melayangkan sebuah senyuman pada suaminya. Sedangkan Niar dan Anggi beradu tatapan karena malas sekali berkumpul diacara keramaian.
"Niar sama Anggi pamit dulu Pak, Ma." Niar meraih punggung tangan sang mama lalu menciumnya dengan lembut. Termasuk kepada bapaknya juga. Secara bergantian, Anggi pun melakukan hal yang sama.
Seperti biasa, Niar setiap pagi selalu mengantarkan adiknya ke sekolah. Namun, untuk pulang sekolah, Niar meminta agar Anggi pulang sendiri. Bisa menaiki ojek online ataupun kendaraan umum.
"Da... mama, pak." Anggi langsung mendaratkan satu kecupan kecil di pipi mamanya. Ia sudah terbiasa seperti itu sejak kecil. Anggi memiliki hati yang lembut meskipun untuk orang yang baru dikenalnya ia tetap bersikap dingin dan galak. Sedangkan Niar, berbeda dengan Anggi. Sejak awal, Niar sudah memiliki watak keras seperti bapak dan abangnya.
Tak pernah mau mengalah, cuek, bahkan bersikap dingin. Kata-kata yang keluar dari mulutnya pun begitu tajam. Tak heran, siapapun yang mendekatinya pasti ketakutan dan tak mau lama-lama bersamanya.
"Ayo Nggi buruan! Nanti kau terlambat!" teriak Niar setelah berada di dalam mobilnya.
Anggi pun bergegas masuk ke dalam, pembicaraan mereka masih menyinggung topik yang belum tuntas tadi. "Kak Niar ajalah yang pergi sama mama hari ini ya! Aku baru ingat ada tugas kelompok loh," kilah Anggi memberikan alibinya.
"Ah ... malas! Kau ajalah! Kalau nggak suruh mama aja sendiri!"
********
Defan tiba-tiba mendekati istrinya. Hingga berada ditumpuan dinding kamar mandi, Dira akhirnya tak berkutik lagi. Ia tak bisa menggerakkan langkah kakinya karena sudah terpentok oleh dinding.
"Mau ngapain sih bang! Buruan, nanti aku telat!" cecar Dira yang sebagian tubuhnya mulai mengering karena kelamaan di kamar mandi.
Tak ada rasa takut lagi, Defan akhirnya mencium bibir gadis itu. Dira sangat terkejut dan histeris. "Abang ngapain sih! Lepasin!" ronta Dira yang memaksa melepas pagutan bibir mereka berdua sembari menepuk-nepuk dada pria itu dengan kepalan tangannya. Namun, tenaganya tak cukup besar untuk melawan pria dingin itu.
Karena Dira terus meronta dan merasa tak nyaman, Defan pun segera melepaskan pagutannya. Ia hanya menyentuh bibir kenyal istrinya sebentar. "Itu hukuman untukmu telah nyuekin aku tadi malam," desah Defan lalu menoel hidung istrinya karena gemas pada ekspresi Dira yang gugup dan ketakutan. Kemudian ia melucuti bajunya di depan Dira.
"Mau ikut mandi?" tanyanya setelah tubuhnya setengah bertelanjang.
"Eng–enggak!" Dira pun langsung pergi meningalkan Defan. Tak peduli keadaan mandinya sudah selesai atau belum.
__ADS_1
Ia hanya mengelap tubuhnya dengan handuk. Sisa sabun itu bahkan sudah menghilang. Ciuman kenyal yang terasa di bibir tipisnya terus melayang di kepalanya. Rasanya manis. Bahkan ia ingin lagi mencobanya.
Dira menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran kotornya. Ia langsung memakai seragam sekolahnya dengan sangat cepat.
Sialnya, saat suaminya itu keluar dari kamar mandi. Pikiran Dira langsung melalang buana. Hal yang pertama dilihatnya adalah bibir seksi milik suaminya itu. Hawa nafsunya ingin sekali lagi mencoba menyatukan pagutan dua bibir mereka. Bahkan ia menggigit bibirnya saat membayangkan hal itu.
"Sial!" maki Dira karena pikirannya tak kian luntur.
"Kenapa?" tanya Defan yang melihat Dira tampak menggerutu.
"Nggak apa-apa bang! Buruan sudah setengah 7 pagi, nanti Dira terlambat."
"Entar ... lima menit lagi beres. Mau sarapan dimana?" tawar Defan.
"Nggak keburu bang, nanti aku sarapan di kantin sekolah aja. Abang aja cari sarapan sendiri."
Pandangan Dira masih melihat tubuh suaminya yang tegap, jenjang, bahkan kekar. Tubuh itu sangat indah untuk dipandang. Tak sadar, bahkan ia ingin sekali memeluknya lagi seperti tadi pagi.
Glek
"Ehem ..." gumam Defan karena tak biasa melihat Dira yang terus memandanginya.
Bokong Defan bahkan terekspose saat ia melepaskan handuknya, hendak memakaikan **********. Dira melihat itu semua tanpa memalingkan pandangannya.
"Apa bang?" tanya Dira dalam lamunannya karena ia terus menatap lekat tubuh suaminya.
"Nggak bosan lihat-lihat tubuh abang terus? Mau ya?" ledek Defan sembari memakai celana bahan panjang berwarna hitam.
"Si–siapa juga yang lihatin abang." Dira pun gugup, langsung memalingkan pandangannya. Ia menuju lemari, mengeluarkan tas gendong miliknya.
"Eh ... kenapa kau masih terus pakai tas itu sih? Tas dari abang nggak pernah dipakai," protes Defan karena tas pemberiannya malah tersimpan di lemari.
"Besok aja gantinya! Aku pakai ini dulu," ucap Dira masih merasa kesal pada suaminya sehingga ia tak mau mengganti tas pemberian suaminya itu.
******
__ADS_1
"Kebiasaan deh si Dira kalau ke sekolah sekarang masuknya saat mau bel berbunyi." Carol mengedarkan pandangannya, menanti teman sebangkunya itu sampai pagi ini.
Namun, tak ada tanda-tanda kehadiran Dira. Jenny dan Shinta yang sudah duduk dibelakang Carol pun juga menunggu kedatangan satu sahabat mereka itu.
"Rol ... jadi kau semalam ke rumah si Dira," celetuk Jenny penasaran.
"Jadilah! Aku malah dikasih makan mie instant!" balasnya bangga.
"Ih ... parah nggak ngajak-ngajak kita!" ketus Shinta protes.
"Kelen kan minta pulang duluan. Aku sampai malam di rumahnya. Sampai bang Defan pulang malahan. Kami asik ngobrol."
"Apa mungkin Dira dimarahin bang Defan ya? Makanya dia belum kelihatan pagi ini," singgung Jenny.
"Ck!" decak Carol mencebikkan bibirnya dengan sebal. Ia jadi berpikiran demikian. Apa mungkin kehadirannya semalam membuat Defan marah dan memberikan hukuman pada Dira hingga tak diperbolehkan sekolah?
******
10 menit sebelum bel berbunyi ...
Dira baru saja tiba di depan sekolahnya. Sebelum ia keluar dari mobil, tangannya meraih punggung tangan Defan yang sudah disodorkannya sejak tadi saat selesai memarkirkan mobilnya.
Ia mencium punggung tangan suaminya dengan lembut. "Jangan lupa nanti sarapan! Ada uang cash nggak?" tanya Defan seraya mengacak-acak rambut istrinya.
"Apa sih bang! Jadi berantakan rambut aku!" sungut Dira menyisir rambutnya dengan jari jemarinya.
"Ada cash nggak? Kalau nggak—"
"Ada!" potong Dira menatap tajam suaminya dengan sinis.
"Yaudah sana pergi! Sebelum pergi, ini dulu!" Defan menunjuk-nunjuk pipinya. Ia bahkan mengetatkan rahangnya bersiap-siap mendapatkan ciuman lembut itu.
Namun, yang ada dipikirannya bukanlah mencium pipi suaminya. Tapi ia ingin mencoba ciuman yang lain seperti saat tadi di kamar mandi.
"Dir ... hei? Malah melamun!" tegur Defan masih menunjuk-nunjuk pipinya.
__ADS_1
Dira langsung membuyarkan lamunannya. Lalu mengecup pipi pria itu seperti permintaannya. Ia pu berpamitan, langsung berlari memasuki sekolahnya.