
Entah memang itu kebetulan atau memang rencana Tuhan. Masih menjadi misteri bagi keduanya. Apa jadinya kalau Angga mengetahui kebenaran kalau Dira sudah menikah?
Namun, sepertinya itu hal yang tidak penting baginya. Apapun status Dira, hubungan mereka hanya sebatas teman sekelas saja.
******
Defan membuka smart lock pada handel pintu rumah itu. Ia menelisik, tak ada tanda-tanda suara Dira. Semakin aneh saat dirinya melihat ruangan yang kosong.
Sebelum berjalan lebih jauh menuju kamar tidur, Defan menyimpan kantong kresek yang berisi cemilan untuk gadis kecilnya. Ia mencari sosok perempuan yang dirindukan.
"Dir, Dira?" teriak Defan dari ruang dapur.
Tidak ada tanda-tanda kedatangan Dira. Bahkan suara sahutan pun tidak ada. Defan langsung menuju kamar utama. Betapa terkejutnya Defan, saat melihat Dira sedang tepar tertidur bahkan mengiler dengan mulut menganga.
"Astaga, Dira ... sudah jam berapa ini," keluh Defan yang melihat wanita itu belum terbangun meski ia sudah berada di sekitar.
"Sayang, bangun." Defan menggoyangkan lengan Dira dengan lembut.
"Hey, sayang, bangun! Udah sore loh, sampai abang pulang kok masih teler," sindir Defan setengah berteriak.
Dira yang tertidur pulas mendengar suara-suara berisik. Ia belum menyadari kepulangan suaminya. Padahal, Dira mulai tidur saat jam 2 siang, hingga jam 5 sore, perempuan itu belum juga bangun.
"Dir! Bangun, udah mau maghrib loh," cecar Defan, merengkuh tubuh ramping itu ke pelukannya.
"Hah? Apa?" desah Dira, mulai membulatkan kedua bola matanya.
Bayang-bayang wajah Defan terlihat masih samar, Dira bahkan mengira kalau Defan yang di sampingnya hanyalah sebuah mimpi.
"Bangun, yang! Abang, udah pulang." Defan mencium bibir tipis itu, meski masih tersisa iler disekitar tepi bibir.
Setelah sadar, Dira mendudukkan tubuhnya. Mengucek bola mata, lalu melihat ke arah jam dinding. "Loh, udah jam berapa sih ini, bang? Kok abang udah pulang?" cecar Dira, menoleh ke arah Defan yang masih duduk di tepian ranjang.
"Emang kau tidur dari jam berapa? Sampai sore gini, nggak bangun-bangun!" sesal Defan, melihat tubuh kusut milik istrinya.
"Nggak tahu aku, bang. Seingatku sih sekitar jam 2 siang." Dira mulai merapihkan rambut yang acak-acakan, lalu menyeka air liur yang masih menempel di sudut bibir bawah.
__ADS_1
"Kok lama kali tidurmu? Kebo kali kau," lirih Defan dengan wajah datar.
"Nggak tahu, bang! Akhir-akhir ini, aku sering kelaparan, makan banyak kali, kalau kecapekan sampai badanku terasa remuk. Tapi baru kali ini, aku tidur siang selama ini," beber Dira seraya kebingungan.
"Kecapekan kali kau itu, sana ke dapur. Ada cemilan abang bawa." Defan berjalan ke arah kamar mandi. Membuka setelan jas dan kemeja serta celana. Menyimpannya ke keranjang baju kotor.
Sementara itu, Dira langsung beranjak dari kasur setelah melihat kepergian suaminya ke kamar mandi. Perutnya sudah terasa lapar lagi, memikirkan kata cemilan, Dira kembali bersemangat.
Dira berjalan gontai ke ruang dapur, matanya berbinar ketika melihat dua kantong plastik berisi makanan. Dengan cepat, Dira membuka kantongan plastik. Melihat isi di dalamnya.
Setelah melihat gorengan dan lupis, Dira lebih memilih memyantap lupis saja. Ia mengambil satu piring kecil sebagai wadah lupis. Memindahkan isi lupis ke dalam piring itu.
Tak lupa, kelapa yang dibungkus secara terpisah dihempaskan berhamburan ke atas lupis. Lalu, Dira menyiram dengan kuah gula merah agar lupis terendam dan terasa manis.
"Ahh, lapar kali aku," gumam Dira memelototi lupis yang sangat menggiurkan.
Tak lama, Dira langsung menyambar dengan sendok. Mengambil potongan kecil, hingga melahap dengan rakus. Dalam sekejap, lupis yang ada di dalam piring telah tandas.
"Astaga! Kalap lagi aku kayaknya. Udah makan sebanyak itu tapi kok masih lapar aja perutku, ya?" Dira memegang perut dengan kedua tangan, memastikan kalau perutnya itu seperti perut karet. Tak ada rasa kenyangnya.
Satu bakwan ia ambil, melahap dengan cepat. Setelah tertelan semua, Dira kembali mengambil tahu isi, lalu menyantapnya dengan buru-buru bak kesetanan.
Defan yang baru saja keluar kamar, mencari keberadaan istrinya, langsung terdiam saat melihat istrinya seperti kerasukan, makan dengan sangat rakus.
"Eh, sayang! Sadar! Kok rakus kali kau?" tutur Defan, menatap tajam ke arah istrinya.
Tahu isi yang melekat di bibir Dira, sontak saja terjatuh saat dipergoki oleh pria itu. "Eh, abang ... hehehe." Dira hanya terkekeh, tertawa lebar seperti sedang dipergoki berbuat hal yang tak pantas.
"Kok makannya kayak gitu?" cecar Defan mendekati sang istri.
"Lapar kali aku bang, hehe ..." Dira tertawa terbahak-bahak.
"Nggak kayak biasanya. Terbuat dari apa perutmu ini? Apa ada isinya?" Defan meraba perut istrinya yang sangat datar.
"Hah?" Dira termenung seketika, saat mendengar penuturan pria itu.
__ADS_1
"Isi?" beo Dira seraya tampak memikirkan sesuatu.
"Udah makan lagi kalau masih lapar," titah Defan membuyarkan lamunan itu.
Dira pun mengunyah makanan pelan-pelan, memasukkan gorengan itu dengan anggun ke dalam mulut.
Namun, satu hal masih mengusik pikiran. Tingkahnya memang beberapa hari ini sangat aneh, dia sendiri pun menyadari perubahan itu.
"Masa iya sih udah isi? Perasaan baru berapa minggu ini?" gumam Dira sembari larut dalam pikirannya.
Disisi lain, Defan ikut memakan gorengan itu. "Sayang, malam mau makan apa?" tawar Defan.
"Banyak bang, aku pengen kali soto medan, ayam bakar, nasi padang dan ... apalagi, ya?"
"Eh, eh, sadar! Apa habismu sebanyak itu?" timpal Defan saat terkejut melihat kemauan istrinya yang sangat banyak.
"Habis kayaknya bang." Dira sangat yakin dengan ucapannya.
"Astaga! Kesambar apa istri abang ini. Kok jadi maruk kali," desah Defan seraya mengeluarkan nafas kasar.
Keduanya pun lagi-lagi terdiam, melanjutkan menjejal cemilan gorengan itu.
"Bang, aku mandi dulu ya." Dira bergegas meninggalkan suaminya.
Defan hanya melihat tubuh Dira dari belakang yang semakin menjauh. Namun, entah mengapa ia meras body Dira sedikit berisi.
"Apa karena dia lagi doyan makan?" batin Defan sembari mengunyah gorengan itu.
Tak terasa, lima gorengan telah dihabiskan oleh Defan. Perutnya terasa kenyang. Defan pun menunggu istrinya di tepian ranjang.
Matanya kali ini mengacu pada sebuah koper yang tergeletak di atas lantai. Dia langsung mendekati koper itu, membuka isinya. Memastikan kalau semua baju, celana, dalaman yang diperlukan sudah ada di sana.
Ternyata, Dira sangat mengetahui keinginan Defan. Semua sudah lengkap, tak ada yang ketinggalan, termasuk dua jaket tebal pun sudah dimasukkan ke dalam koper.
Dira melangkah gontai, menutupi tubuhnya dengan handuk kecil. Alhasil, atas dada dan bawahnya terekspose dengan sempurna. Kumpulan rambut tipis mendapat sorotan tajam dari pria itu. Dengan santainya, Dira melenggang tanpa memperdulikan sang suami.
__ADS_1