
"Hakim Ketua, terdakwa sudah terbukti melalui cctv melakukan tindakan pencurian," ujar Jaksa penuntut umum menerangkan kejadiannya.
Penayangan CCTV sejak awal sudah dipertontonkan untuk seluruh tamu persidangan. Bahkan, terdakwa sudah ketakutan saat video CCTV itu ditayangkan ke seluruh orang-orang yang menyaksikan.
******
Ting Tong
Hanya sekali tekan bel, Dira langsung membukakan pintu rumah pada ketiga sahabatnya.
"Dira!! Aaaaaa rindu kali aku," celetuk Jenny langsung berlari memeluk tubuh ramping milik Dira.
"Halah ... halah ... baru juga ketemu kemarin udah rindu! Ngelawak kau ya!" Dira dengan polosnya memukul kepala Jenny dengan pelan.
"Aawww!" pekik Jenny pura-pura kesakitan.
"Lebay kali si Jenny ini," sambar Shinta, kemudian menerobos masuk, sebelumnya ia mencium pipi kiri dan pipi kanan pemilik rumah itu.
Disusul dengan Carol, ia juga tak lupa mencium pipi Dira sebagai sambutan hangat seorang tamu.
"Kelen lah memang ya, pagi-pagi udah heboh bertandang ke rumah orang!" keluh Dira sinis, berjalan menuju arah dapur untuk mengambilkan minuman dan snack pada ketiga sahabatnya.
"Bantulah aku we! Jangan kelen bikin aku kayak pembantu di rumahku sendiri," kekeh Dira.
Ketiganya pun ikut memberondong menuju dapur. Melihat seisi dapur Dira dan isi kulkas yang penuh dengan snack yang disukai gadis-gadis remaja seperti mereka.
"Eh, jadi kau sama bang Def bikin ponakan untuk kita." Tiba-tiba Shinta membuka obrolan frontal itu lagi.
"Iya, kan udah cukup umur kau hahaha," timpal Jenny.
"Kepo kali lah kelen dua!" Carol mencubit lengan Jenny dan Shinta bergantian.
"Jadi!" jawab Dira singkat.
"Hah? Serius?" papar Shinta. Sontak, ketiga sahabatnya itu langsung mengerumuni tubuh Dira.
"Jadi kau udah nggak gadis lagi lah ya?" ucap Shinta lalu meraba-raba tubuh Dira, membuat perempuan itu pun merasa risih.
"Apa sih! Heboh kali kelen, udah duduk aja sana! Malah bikin ribet!" Dira menghempaskan tangan Shinta yang menjulur ke tubuhnya.
__ADS_1
"Hehe! Sorry, mana nih yang mau kuangkat?" tawar Carol mengerlingkan mata.
"Tuh, ambil di dalam kulkas snack-snack itu. Bawalah semuanya," desak Dira menunjuk ke arah kulkas.
Dira menuangkan minuman orange jus dari tempatnya ke dalam gelas. Orange jus kemasan tepatnya karena Dira tak mungkin kerajinan untuk mengolah sendiri.
Ia membawakan nampan berisi empat gelas orange jus ke ruang keluarga. Di sana, keempatnya mengobrol tentang lanjutan liburan mereka.
"Eh, kita kan masih lama kuliah! Gimana kalau kita liburan ke Danau Toba, yuk? Jujur aku belum pernah kesana," celetuk Carol setelah mereka berkumpul sambil mengunyah snack yang telah dibuka.
"Kau orang kaya aja belum pernah! Apalagi aku yang kismin," timpal Dira menatap bergantian ketiga wanita di hadapannya.
"Tapi sekarang kau udah jadi orang kaya, Dir! Aku juga belum pernah kok!" tutur Jenny dan Shinta kompak.
"Mau coba nggak kesana?" tanya Carol penuh harap.
"Aku sih mau aja, asalkan suamiku boleh ikut!" Dira menyengir kuda.
"Ih! Nggak seru! Malah bawa pasangan kau! Kita kan pengennya cewek-cewek ajalah," protes Carol menatap penuh sinis.
"Kalau aku sih nggak apa-apa bang Def ikut, asal kita dibayarin. Ya, nggak?" kekeh Jenny.
"Ya, namanya juga mau lain sendiri, berarti harus berani ngalah. Kau kan ingin suamimu ikut, harus siap dengan resikonya lah!" Shinta menjawab dengan lugas.
"Nanti kutanya dulu deh soal itu ke bang Def! Kapan mau berangkat?" cecar Dira.
"Pas weekend aja! Kan suamimu libur Dir," usul Shinta.
"Iya, cocoklah itu. Weekend minggu ini?" sambung Dira.
"Iya, minggu inilah. Orang suntuknya sekarang! Masa weekend tahun depan sih," gerutu Carol.
"Yaudah, nanti kutanya dulu sama bang Def, ya? Mudah-mudahan aja dia mau," jawab Dira.
"Udah kan? Fix soal liburan kita? Nah, sekarang coba ceritain pengalamanmu, Dir?" desak Jenny penasaran.
"Pengalaman apa sih?"
Dira menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, menatap tajam ketiga sahabat yang sedang asik memakan cemilan. Remahan cemilan itupun mengotori karpet tempat mereka berkumpul.
__ADS_1
*********
"Mohon maaf, hakim ketua, memang benar terdakwa mencuri susu itu. Dan kejadian itu baru pertama kali terjadi. Dan susu juga sudah dikembalikan. Sepertinya sudah tidak ada masalah, mohon dipertimbangkan kembali. Terdakwa juga memiliki bayi yang harus dijaga dan dirawat. Suaminya juga sudah tiada," kata pengacara terdakwa menjelaskan panjang lebar.
"Meski begitu, terdakwa tetap harus diberikan sanksi Hakim Ketua," cecar Jaksa penuntut umum.
"Tenang ... tenang!" Hakim Ketua memperingati.
"Bagaimana dengan pihak korban?" tanya Hakim Ketua memberikan kesempatan.
"Dari korban sudah menyepakati perdamaian. Terdakwa cukup melaksanakan sanksi sosial, bekerja di minimarket milik korban selamanya. Dan akan digaji sesuai dengan upah minimum kota ini," tutur Defan.
Zuleha pun menangis mendengar permintaan korban yang sudah menyepakati untuk berdamai. Bahkan, Zuleha sampai bersujud dibawah kursi lantaran mendengar permintaan korban yang akan memperkerjakannya bahkan diberikan upah yang layak.
Ia menangis dengan tatapan penuh haru. Tak menyangka, korban memiliki hati yang besar. "Terimakasih pak!" jawab Zuleha penuh haru seraya menyeka air mata yang terus berseluncur dari pelupuk mata.
"Tenang ... tenang ..." Hakim ketua kembali memperingati.
"Baiklah! Berdasarkan keputusan sidang, terdakwa dijatuhi hukuman sanksi sosial untuk bekerja selamanya di minimarket milik korban. Dan, terdakwa akan dibebaskan dari hukuman penjara!" Hakim Ketua mengetok palu sampai tiga kali pertanda disahkan vonis hukuman tersebut.
Zuleha langsung menghampiri korban dan meminta maaf dengan lapang dada. Bahkan, ia bersujud di kaki korban lantaran rasa bahagian yang menyelimuti.
"Nggak perlu begitu bu!" lontar korban pemilik minimarket seraya mengeratkan tangan di kedua bahu Zuleha dan mengangkatnya untuk segera berdiri.
"Semoga apa yang saya berikan bisa meringankan beban ibu dalam membantu menafkahi keluarga ibu," lanjutnya.
"Iya, terimakasih banyak pak! Saya akan berusaha sebaik mungkin saat menjadi karyawan di sana!" Zuleha pun menggenggam tangan pemilik minimarket seraya tersenyum penuh haru.
Tatapan berbinar itu mampu meluluhkan pemilik minimarket. "Jangan pernah melakukan itu lagi, ya, bu! Mudah-mudahan dengan bantuan saya ini, ibu bisa hidup lebih baik," ujar pemilik minimarket.
"Terimakasih pak pengacara, berkat bapak semua berjalan dengan lancar. Solusi dari bapak ini menyadarkan saya kalau masih banyak orang yang butuh pertolongan di luar sana," tambahnya lagi.
"Sama-sama pak, dengan kejadian ini, semoga rejeki bapak juga meningkat derastis. Menolong sesama adalah hal yang sangat terpuji." Defan pun berpamitan pada pemilik minimarket dan pelaku.
Ia didampingi oleh Juni berjalan meninggalkan ruangan persidangan. "Bapak keren kali loh." Juni mengacungkan jempol atas apresiasi kinerja bosnya.
"Agh! Sudah biasa itu! Sudah sewajarnya kita membantu korban dan pelaku," jelas Defan sembari memasuki mobil di perpakiran, diekori oleh Juni yang juga duduk di samping pria itu.
"Kok bisa sih bapak meluluhkan pemilik minimarket? Gimana caranya pak? Padahal pemilik minimarket itu sudah konsisten mau memenjarakan pelaku," cecar Juni.
__ADS_1