
"Semoga rumah ini menjadi tempat ternyaman untuk kalian berdua. Memiliki rumah tangga yang harmonis di dalam rumah ini. Menghantarkan kalian sampai memiliki anak cucu," ucap Desman di aminkan oleh semua pihak keluarga dan teman-teman Dira.
Acara yang tadinya biasa saja menjadi cukup sakral bagi mereka berdua. Tak lupa, Desman pun menaburkan butiran beras itu di kepala Dira dan Defan.
"Jadilah pernikahan seumur hidup! Sampai maut memisahkan kalian berdua," tandasnya kembali diikuti kata amin oleh para semua tamu.
Acara makan-makan terakhir diadakan cukup sore. Padahal niatnya Defan mau langsung memulai makan-makan tanpa ada acara kata sambutan. Tapi orang tua mereka meminta itu harus dilaksanakan sebagai ritual penyambutan rumah baru.
Prosesi terakhir adalah Defan mengajak seluruh tamu berkeliling di rumah mereka. Mulai dari kamar-kamar, dapur, ruang keluarga, sedangkan ruang tamu sudah mereka lihat sejak awal karena tempat perkumpulan seluruh tamu.
Desman biasa saja melihat rumah itu karena dialah yang membelinya. Tidak untuk yang lain. Mereka semua takjub dengan luas rumah, furniture, serta penataan barang-barang tersebut.
Sampai malam pun mereka semua betah di rumah itu. "Kami boleh kesini sering-sering kan, Dir?" ucap Jenny mengerling. Otaknya pun sudah mulai nakal, bisa jadi rumah Dira lah tempat perkumpulan mereka nanti.
Defan langsung mengambil alih untuk menjawabnya. "Boleh." Defan pun memberikan senyuman tipisnya.
"Asikkk, dengar kau tuh Dir. Nggak ada alasan kau nolak kami," kekeh Shinta menimpali.
Setelah jam 8 malam, semuanya pun berpamitan pulang. Sahat dan Rosma menciumi boru panggoarannya karena tidak sering bertemu lagi.
"Mamak, bapak sama ito-ito mau diantar sama bang Defan?" Dira menawarkan keluarganya agar tak perlu menaiki taksi online. Namun, tawaran itu ditolak oleh Sahat. Berhubung sudah malam, ia tak mau merepotkan helanya.
"Udah di rumah aja kalian. Banyak kerjaan yang harus kalian lakukan," tegas Sahat menatap piring kotor di belakang padahal sedang dikumpulkan oleh seorang pembantu yang datang tadi bersama mertuanya.
"Nggak apa-apa mang, paling bentar mengantarkan amang dan inang." Defan pun berlari mengambil kunci mobilnya. Ia juga tak mau keluarga istrinya pulang naik taksi online.
Dira juga bersalaman dengan mertua dan edak-edaknya. Mereka berpamitan. Sekaligus teman-temannya pun ikut berpamitan.
Defan pergi mengantarkan keluarganya. Sebelum pergi, ia meminta izin pada mamanya agar pembantu mereka menginap hanya untuk malam ini saja. Lantaran acara yang tuntas sampai malam, terpaksa Defan pun tak bisa langsung menyuruh Nena untuk pulang ke rumah saat malam-malam.
Dira dan Nena ditinggal berdua di dalam rumah. "Mbak, makan dulu," titah Dira karena ia tadi tak melihat pembantu mertuanya itu makan karena sibuk beres-beres di belakang.
"Iya, tunggu beres ini non." Nena cepat-cepat membereskan semua piring-piring kotor dan mengumpulkan bekas sisa makanan untuk dibuang.
__ADS_1
Sedangkan Dira ikut membantu, ia melipat-lipat karpet serta menyapu rumah sehingga saat suaminya pulang, rumah itu telah bersih dan rapih.
********
Pagi itu, Dira dan Defan sudah mempersiapkan keberangkatan mereka. Melakukan aktivitas seperti biasa. Mereka pun bangun tepat waktu lantaran berkat bantuan pembantu mertuanya. Semua rapih dan bersih sampai jam 10 malam.
"Mbak, ayo!" ajak Dira bergegas memanggil pembantunya untuk diantarkan pulang ke rumah majikan utamanya.
"Mbak, harusnya mbak tinggal disini aja! Biar aku ada temannya." Dira duduk di samping Defan, Nena pun duduk dibelakang pasutri itu.
"Kalau aku sih disuruh tinggal sama nyonya atau non mau-mau saja," jawab Nena lugas seraya membuat lengkungan di sudut bibirnya.
"Bang, kenapa sih mbak Nena nggak sama kita aja?" ujar Dira melirik suaminya diam-diam.
"Nggak dibolehin mama." Defan tetap fokus menyetir.
"Bujuklah bang. Supaya mau inang ngasih mbak Nena sama kita. Lagian rumah itu terlalu besar, aku kan nggak mungkin sendirian ngeberesinnya," keluh Dira berharap kali ini didengarkan pendapatnya.
"Lah, jadi setiap hari emang nggak harus nyapu dan ngepel?" cecar Dira menatap lekat suaminya itu.
Sementara Nena hanya mendengarkan obrolan dua pasutri muda itu. Ia menatap Dira dan Defan secara bergantian. Kalau bisa memilih, Nena sebenarnya ingin tinggal bersama Dira. Mereka seumuran, bisa lebih akbrab dan enak seperti layaknya teman.
"Tetap haruslah. Nanti banyak debu loh." Defan tak melirik istrinya itu sedikit pun. Ia enggan pendapatnya goyah ketika melihat raut wajah memelas Dira.
"Nah kan, tetap aja harus disapu, dipel. Aku sekolah. Udah capek, harus juga beres-beres rumah! Please deh bang, atau cari pembantu lain aja kalau inang nggak ngebolehin mbak Nena tinggal sama kita." Dira pun tak mengalihkan pandangannya, ia menatap tajam suaminya agar segera luluh.
"Janganlah. Kita kan cuma tinggal berdua. Beberes rumah sendiri juga bisalah," ungkap Defan dengan segala pendapatnya.
"Mending abang pikir-pikir dulu deh. Aku kan ibu rumah tangga bukan asisten rumah tangga (ART)," ketus Dira.
"Emang siapa yang bilang kau asisten rumah tangga?" Defan pun akhirnya menoleh ke arah Dira dengan cepat, lalu ia mengalihkan lagi pandangannya ke arah depan dan fokus menyetir.
"Ehmmm." Nena berdehem, merasa tenggorokannya gatal mendengar pembicaraan dua sejoli itu.
__ADS_1
"Napa mbak Nen?" ucap Dira menoleh ke arah Nena.
"Nggak apa-apa non. Gatal tenggorokanku," balas Nena jujur.
"Bang, nanti coba abang rasain ya! Kita ganti-gantian beresin rumah. Hari ini, aku yang bakal beresin tapi besok abang. Gimana?" usul Dira dengan otak piciknya. Ia ingin suaminya itu merasakan peran yang kerap dilakukan oleh asisten rumah tangga.
Biar abang tahu gimana capeknya!
Dira bergumam dengan pikirannya sendiri. Lagi-lagi ia mengharapkan Defan untuk mengubah pilihannya agar segera mencari pembantu untuk rumah mereka.
"Oke! Siapa takut! Besok abang yang beres-beres rumah!" tandas Defan mengulas senyum lebar dibibirnya.
Yah ... kenapa dia mau sih! Harusnya nolak dong.
Dira mengungkapkan pikirannya di dalam bantinnya.
*****
"Mana si Dira, kok belum muncul dia?" ujar Carol mencari teman sebangkunya.
"Hari ini kita kumpul di rumah Dira aja yuk," timpal Jenny.
"Baru juga kemarin kesana, nanti dia repot lagi," sahut Shinta yang baru datang menghampiri dua temannya itu.
*****
"Daa ... mbak Nena." Dira melambaikan tangannya pada Nena yang diturunkan di depan halaman rumah Desman.
Defan pun berpamitan pada sang mama yang berdiri di depan rumah saat mengetahui kedatangan putranya. Suara khas mesin mobilnya sudah ditebak oleh Melva. Lagipula, saat itu ia mengantarkan suaminya ke halaman hendak berangkat kerja.
"Ma ... Defan nggak turun ya, buru-buru mau antar Dira ke sekolah," tutur Defan menggulum senyum diwajahnya.
"Iya nak. Hati-hati kalian ya." Melva melambaikan tangannya sebagai ucapan perpisahan mereka pagi itu.
__ADS_1