
Tiba-tiba Defan mengalihkan pembicaraan itu, tak mau membuat istrinya salah tingkah. Apalagi Defan dan Dira belum benar-benar serius saling jatuh cinta dan menerima perjodohan ini.
"Inang jangan dululah. Dira masih sekolah. Kalau Defan masih belum terlalu memikirkan hal itu. Tunggu sampai Dira selesai sekolahnya baru kita serius memikirkan ke arah sana," lontar Defan seraya tersenyum tipis.
"Iyah, tapi nggak apa-apa kalau dicoba dulu. Daripada nanti kebobolan," sahut Melva dengan serius.
"Betul itu, kalau kebobolan pas masih sekolah lebih bahaya lagi. Bisa-bisa si Dira kami nggak lulus sekolah," ujar Sahat menimpali.
"Gimana Dir, semua keputusan ada ditanganmu," lanjut Rosma sembari menunggu suara borunya yang daritadi hanya terdiam mematung, memerhatikan pembicaraan mereka.
"Nantilah itu mak! Dira aja belum dekat sama bang Defan. Boro-boro dekat, bang Defannya aja galak kali," celetuk Dira membuat seluruh mata membelalak, mengecam perlakuan Defan.
"Nah itulah kau Def, harusnya kau pun mulai pendekatan sama istrimu. Udah tahu istrimu belum menerima perjodohan ini," cecar Desman tak habis pikir dengan sikap anaknya yang dingin dan arogan.
"Iya sayang, kurang-kurangi sifat dingin sama aroganmu itu. Kalau kaya gitu terus sikapmu, perempuan manapun yang ada di dekatmu bisa kabur semua," cemooh Melva tak membela perlakuan anaknya.
Semua orang disana tak ada yang membela Defan kali ini. Semua malah balik menyerang pria itu.
"Aduhh kenapa jadi aku yang diserang ini? Aku udah berubah kok, sikapku juga semakin baik dan perhatian sama Dira. Betul nggak Dir?" Defan menoel dagu Dira dengan genit.
Namun tangannya ditangkis oleh Dira. "Nggak betul tuh Mang, Nang, Mak, Pak. Bang Defan terus cuek dan galak. Waktu honeymoon aja kasar kali, nggak peduli samaku," tampik Dira menimbulkan suasana yang semakin menegang.
"Ihh apa sih sayang," goda Defan menoel pipi Dira dengan gemas.
"Nggak.. Nggak.. Dira ini suka membalikkan fakta. Udah Mamak sama Inang lihat tadikan kami mandi berdua?" seloroh Defan membalikkan keadaan.
"Oh jadi betul kalian itu mandi berdua?" timpal Rosma. Matanya beradu sengit dengan Defan.
Defan mengangguk pelan tapi malah mendapat amukan tatapan amarah dari kedua mertuanya.
"Kaupun Def, pelan-pelanlah prosesnya. Langsung sat set aja kau ngajak anakku mandi bersama," cibir Sahat.
"Eng—nggak betul itu pak. Tadi itu betulan salah paham," ucap Dira tergagap karena salah tingkah.
Hihi emangnya enak malah gantian siapa yang salah tingkah.
Defan menertawai kemenangannya, larut dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Yaudahlah, besok si Dira ini harus pasang KB. Apapun yang terjadi, mamak nggak mau tahu. Pokoknya sebelum dia lulus sekolah, jangan dulu sampai hamil," tegas Rosma tak ingin mendapat penolakan dari anaknya.
"Iya Dira sayang. Ini hanya untuk antisipasi saja. Takutnya ada kecelaan," sela Melva seraya tersenyum pada menantunya. Ia tak ingin melukai hati Dira, sehingga membicarakannya dengan hati-hati.
"Yaudahlah." Dira menjawab dengan lesu sekaligus kepala tertunduk. Sekarang situasi malah membuatnya semakin rumit. Mau tidak mau dia harus menuruti keinginan orang tua dan mertuanya.
"Udah malam sekali nih. Kami pamit pulang lah ya," pamit Sahat kemudian beranjak dari kursinya.
"Iyah nggak terasa sudah jam 9 malam. Hati-hatilah kalian. Biarkan supir kami yang antar," tutur Desman mengekori langkah kaki besannya itu.
Semua beranjak dari kursi masing-masing. Tak terkecuali dengan Defan dan Dira, mereka juga mengekori orang tuanya yang berjalan ke depan rumah.
Sebelum berangkat, semua orang bercipika-cipiki mengakhiri pertemuan mereka.
Dira dan Defan menjabat tangan Rosma dan Sahat.
"Ingat ya Dir, besok kita ke bidan atau rumah sakit. Telepon mamak jam berapa mau berangkat," tutur Rosma menggenggam tangan Dira dengan lembut.
"Ya kita bertiga dong," timpal Melva tak ingin ketinggalan.
"Besok Dira datang ke rumah, jemput mamak," lanjut Dira lagi.
"Udahlah ya! Kami pamit dulu. Sehat-sehatlah kalian," pamit Sahat seraya melambaikan tangannya pada besan dan menantunya setelah duduk di kursi penumpang.
"Heh ayo-ayo masuk," teriak Rosma pada kelima putranya.
Semua berbondong-bondong masuk ke dalam mobil yang disediakan oleh Desman. Supirnya pun mulai memutar kemudinya, berjalan meninggalkan halaman rumah Defan.
Semua saling melambaikan tangan mengakhiri pertemuan mereka malam itu.
"Inang, tadi mamak sama bapak datangnya naik apa?" celetuk Dira setelah mereka semua mulai masuk ke dalam rumah.
"Oh tadi edak itu nelepon Inang, katanya mau datang. Jadi supir kami suruh menjemput mereka," balas Melva merangkul menantunya itu.
"Tapi jadi kau udah siap mau KB besok?" tanya Melva penasaran, karena ia tahu kalau Dira sebenarnya belum ada persiapan untuk melakukan hal itu.
"Ya, mau gimana lagi Nang, mamak bilang untuk antisipasi," sahutnya datar.
__ADS_1
"Kalau belum siap jangan terlalu dipaksa. Nanti Inang bilang sama Defan. Tapi sebenarnya bagus kalau untuk antisipasi. Waktu kalian masih panjang," ucap Melva menenangkan pikiran Dira.
"Nanti aku putuskan lagi lah ini. Harus bicarakan ini baik-baik sama bang Defan," tandas Dira.
Dira akhirnya berpamitan dengan kedua mertuanya, menaiki anak tangga mengejar Defan yang sudah lebih dulu pergi meninggalkan mereka.
Di dalam kamar, Defan terbaring santai, menatap kehadiran istrinya. Ia juga tak membicarakan apapun lagi setelah kejadian pembicaraan panas di meja makan tadi.
"Bang," lirih Dira seraya menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.
"Kenapa?" sahut Defan menatap serius ponsel yang ada ditangannya.
"Aku mau bicara," ucap Dira, menolehkan wajahnya ke arah suaminya, menatap lekat wajah pria itu.
"Ya, bicara aja," ujar Defan tanpa memalingkan wajahnya.
"Bang, lihat aku dulu. Aku mau bicara serius." Dira merenggut ponsel yang ada dilengan pria itu, menaruhnya di atas meja nakas.
"Ada apa sih?" tanya Defan, membenarkan posisi tidurnya. Ia memiringkan wajahnya, menatap lengkat manik mata yang indah milik istrinya.
"Apa aku harus pasang KB?" tutur Dira tanpa basa-basi.
"Terserahmu," balas Defan singkat.
Dira semakin bingung dengan jawaban yang gamang dari Defan. Sebelumnya mereka tidak pernah menyinggung persoalan ranjang. Bagaimana persiapan Defan maupun Dira, tidak ada yang membahas persoalan tersebut.
"Aku serius bang!" ketus Dira karena Defan tak terang-terangan menanggapinya.
"Emangnya kau sudah siap untuk melakukan hal itu," seloroh Defan menatap lekat wajah cantik dihadapannya.
"Nggak tahu kalau itu! Aku saja belum suka sama abang," desis Dira seraya memalingkan wajahnya. Menatap langit-langit kamar mereka.
"Yaudah! Tunggu aku bikin dulu kau suka samaku. Baru nanti kita bisa sama-sama siap melakukan itu," goda Defan mengerling.
"Ih abang! Aku serius!" papar Dira.
"Iya. Tenang saja. Aku juga belum berselera dengan anak kecil sepertimu. Makanya dewasa dulu, bikin suamimu ini tergoda," sergah Defan masih menatap lekat manik indah yang tak lagi memandang wajahnya.
__ADS_1