Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
menimbrung


__ADS_3

Dira dan sahabatnya baru sampai di sebuah restoran yang sangat mewah dari pilihan dari Jefri.


Saat di dalam perjalanan, mereka memang sempat mengobrol-ngobrol menceritakan tentang kejadian saat awal mula bagaimana Jefri mengungkapkan perasaannya pada Carol hingga akhirnya mereka sepakat untuk berpacaran.


Dira tak menyangka Carol mau mencoba hal yang pertama kali baru terjadi di dalam hidupnya. Padahal, awal alasan sebenarnya Carol menerima Jefri karena merasa kasihan pada pria itu. Namun lambat laun, ia malah semakin memiliki rasa bahkan mulai menyukai Jefri.


Semuanya masuk ke dalam restoran, Dira dan ketiga sahabatnya merasa takjub dengan restoran mewah pilihan pacar Carol. Untung saja, Jefri sudah melakukan reservasi untuk traktiran kali ini.


Semua disiapkan dengan sempurna, sebuah meja besar di lantai bawah, dengan tampilan restoran yang otentik, menawarkan masakan khas China untuk melengkapi makan sore mereka.


"Wih ... bagus kali nih restorannya," puji Shinta, setelah mengedarkan pandangan, melihat sekitar restoran yang memang terlihat sangat mewah dan menakjubkan.


Ini adalah kali kedua, Shinta bisa menginjakkan kaki di restoran mewah, yang pertama berkat ajakan dari suami Dira. Bahkan, mereka bisa sambil puas bernyanyi meskipun tengah menikmati hidangan yang disajikan.


"Favorit kita nih, makan bisa nyambi karokean! Haha!" canda Jenny, seraya terkekeh kecil.


"Iya, seru juga di restoran ini!" timpal Dira, ikut terkekeh.


"Tokoh utama kita lah yang sumbang suara. Kan si Carol paling bagus suaranya!" cecar Shinta.


"Nantilah, kita makan dulu saja!" sahut Carol.


Semuanya sudah duduk di kursi masing-masing. Tiba-tiba saja, Jefri mengingat seseorang yang tadi sempat bersama mereka.


"Shin, mana si Diki?" celetuk Jefri, memicingkan mata saat menatap wajah Shinta.


"Hah, apa?" ucap Shinta seraya mengedarkan pandangan mencari sosok pria yang ditanyakan oleh seniornya.


"Itu kawanmu yang cowok tadi siang!" papar Jefri, mengingatkan.


"Oh ... dia! Mana kutahu, Bang!" ucap Shinta, menatap sengit pria itu.


"Loh, katanya dia mau ikut mau bareng sama kita?" tanya Jefri.


Jefri mengira kalau Shinta dan Diki terus berhubungan dan berbagi kabar.


"Udah lah, nggak usah dipikirkan. Lagian dia juga nggak penting!" jawab Shinta acuh.

__ADS_1


"Tapi kenapa dia nggak bersamamu?" Jefri masih penasaran pada pria itu, sekaligus biar dia ada teman mengobrol karena perkumpulan mereka hanya dari kaum wanita saja.


"Iya, aku juga nggak tahu, kami beda jurusan kok! Cuma kenal-kenal gitu-gitu aja, Bang!" terang Shinta.


"Oh!" Jefri hanya menatap Shinta dengan datar.


"Oke, semuanya! Kita mulai perayaan hari jadian kami. Eh, tepatnya untuk memberikan perayaan karena kami sudah berubah status menjadi berpacaran," jelas Jefri.


Jefri Memberikan sambutan sebelum acara inti makan-makan dimulai. Oleh karena itu, dia juga memberikan sambutan yang singkat bagi semua teman-teman pacarnya.


Namun saat menyampaikan sambutan, tiba-tiba ada seseorang yang baru saja datang ikut meramaikan acara itu.


"Permisi!" ucap seorang pria dengan dengan cengiran kuda.


Semua orang menoleh pada pria itu. Lalu, dia melenggang menghampiri Dira dan teman-temannya.


Tanpa rasa malu, ia mendekat dan duduk di samping Shinta .


"Eh, Diki baru saja saya mencarimu. Untung kau tahu tempat ini!" kata Jefri, saat Diki bergabung dengan perkumpulan itu.


Saat jam makan siang, Jefri memang langsung melakukan reservasi pada sebuah restoran yang kerap menjadi tempat makan-makan keluarganya. Restoran itu adalah langganan keluarga besar mereka.


"Eh, nanti sore kita ke restoran yang ada di pusat kota, ya!" tutur Jefri, memberi alamat yang pasti untuk tempat mereka makan-makan.


Tak hanya itu, Jefri juga meminta Dira bersama teman-temannya lebih baik ikut berangkat dengannya menuju tempat tersebut.


"Siap, Bang!" jawab Diki seraya tersenyum lebar.


Pletak ...


"Eh, kau nggak diajak!" canda Shinta, seraya menjitak kepala Diki tanpa rasa segan.


"Aw!! Sakit Shin," erang Diki, mengelus pucuk kepala agar nyerinya menghilang.


Hal itulah yang terjadi hingga Diki bisa mengetahui tempat yang akan dikunjungi Shinta bersama teman-temannya. Diki memang terlambat lantaran dia sibuk berkeliling mencari lokasi yang ditujukan. Lokasi itu belum pernah didatangi sebelumnya.


Dan ternyata, butuh waktu 15 menit untuk mengitari tempat-tempat yang ada hingga dia baru sampai sesuai alamat restoran.

__ADS_1


"Iya, Bang! Hampir nyasar aku!" keluh Diki, mengerutkan dahinya.


"Kau ini orang Medan bukan? Ke sini saja bisa nyasar!" protes Jefri.


"Wajarlah, Bang namanya juga belum pernah ke tempat mewah seperti ini," sesal Diki, menundukkan kepalanya.


Sementara, Shinta hanya menatap dengan sengit pengakuan Diki. Bahkan, dengan adanya pengakuan itu, Shinta semakin penasaran sebenarnya mobil siapa sering digunakan oleh Diki, mengapa ia terlihat seperti pria kaya raya pada umumnya.


Meski menaiki mobil mewah tentu tak merubah sikap Diki, ia sangat berbeda dengan pria kaya raya yang sering ditemui Shinta.


"Yaudah, kita lanjut lagi, ya!" sahut Jefri memberikan pengarahan.


"Oalah Kukira tadi suamiku yang datang," celetuk Dira, karena ia juga penasaran pada sosok pria yang baru datang.


"Suamimu bukannya kerja, Dir? Emang dia mau ke sini?" tanya Carol, menatap Dira dengan lekat.


"Iya, kerja kok tapi bentar lagi harusnya udah pulang. Katanya dia juga mau ikut dalam perayaan ini dan akan memberikan traktiran di trip kedua!" seru Dira.


"Ah ... asyik, enaknya bergabung dengan circle orang kaya!" ledek Jenny, seraya bertepuk tangan.


Prok ... prok ...


Riuh tepuk tangan membuat semua orang semakin girang dengan adanya rencana trip kedua untuk traktiran itu.


"Jadi ada acara lanjutan nih?" timpal Diki, merasa bahagia bisa bergabung dengan teman-teman baru dalam perkumpulan itu.


Yang ternyata perkumpulan itu adalah bagian dari orang-orang kaya sehingga ia bisa menikmati semua apa yang sudah dirasakan oleh Shinta.


"Kau mau ikut juga?" cecar Shinta.


"Yaiyalah, kenapa enggak kalau selama aku diajak juga!" sahut Diki, tanpa rasa malu Diki tetap saja menimbrung dengan teman-teman Shinta.


"Ih gak ada malunya!" cibir Shinta, mulai merasa tidak nyaman dengan kelakuan Diki.


"Lagian emang kenapa sih kalau ikut sama kalian? Aku kan temanmu, Shin!" tukas Diki, dengan lugas.


"Teman apaan kau ini, seperti benalu! Lagian kau juga cuma mengaku-ngaku sebagai temanku," sindir Shinta, tak kehabisan akal agar Diki semakin tak kuat mental dengan cibirannya.

__ADS_1


"Sttt, udah! Kita lanjutkan lagi acaranya," kata Jefri, menengahi keributan yang terus saja terjadi dan tak henti-henti.


*****


__ADS_2