Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
bayi coming soon?


__ADS_3

Setelah mengelilingi rumah itu, semuanya duduk di ruang tamu. Beralaskan tikar yang sudah disiapkan oleh Rosma sebelum kepindahan mereka.


Sementara, Sahat bersama anak lelakinya, ikut membantu supir dan kenek menurunkan barang dari dalam truk. Mereka mempercepat penurunan barang agar bisa bersantai sejenak.


******


Defan telah menyelesaikan penyusunan berkas. Hanya tinggal beberapa berkas dengan perkara yang masih dalam penanganan. Hari itu, sudah menjelang siang, ia penasaran dengan keadaan istrinya serta kepindahan keluarga Dira.


Proses kepindahan itu bertepatan dengan dirinya pula. Ia diberikan kantor baru, sedangkan keluarga Dira menempati rumah baru.


Defan mengambil telepon genggam yang bertengger di atas meja. Melakukan panggilan satu kontak. Tak berselang lama, Dira langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo, bang?" sapa gadis itu melalui sambungan telepon.


"Bagaimana keadaan di sana? Apa sudah sampai di rumah baru, sayang?" balas Defan, seraya merebahkan diri di kursi kebesaran.


Ia sibuk pada sambungan telepon, sedangkan asistennya masih meletakkan berkas ke atas meja.


Bahkan, 30 menit yang lalu, kantor mereka sangat ramai dengan kahadiran dua OB yang membawa kursi dan meja kerja untuk Juni. Dua OB bersama satu OB yang menangani berkas pun pergi bersama setelah semua penataan selesai.


"Sudah, bang, agak jauh dari kota. Mungkin kalau dari kantor abang sekitar 30 menit."


"Bagaimana rumahnya? Lebih bagus dari rumah lama?" Defan tampak menunggu jawaban gadis kecilnya.


Sebenarnya, ia juga penasaran dengan rumah sang mertua. Namun, karena kesibukan bekerja serta rencana untuk berlibur, ia tak bisa meninggalkan tugas hingga hari kerja terakhir.


"Bagus kali, bang! Luas dan nyaman. Cantik lah pokoknya," jawab Dira menggebu-gebu.


"Syukurlah! Apa kau sudah makan? Mama sama Anggi masih di sana?" lontar Defan.


"Masih, bang! Kita belum sempat makan, masih bantu-bantu bereskan barang," sambung Dira.


Dira masih berdiam diri saat menjawab telepon dari sang suami. Sementara, yang lain masih sibuk menata barang serta membersihkan rumah.


"Yaudah, sayang! Jangan lupa makan. Mudah-mudahan abang pulang tepat waktu. Kalau kau pulang terlambat kabari, ya? Jadi abang nggak buru-buru pulang."


"Iya, bang! Udah dulu ya, aku mau lanjut beres-beres lagi." Dira mematikan sambungan telepon setelah percakapan mereka berakhir.


******


Defan sedikit lelah, tubuhnya terasa remuk karena setengah hari dilakukan untuk mengurus kepindahan kantor.


"Jun, minggu ini ada sidang?" tanya Defan, menatap wanita itu cukup tajam.


"Tidak ada, pak! Tapi kalau minggu depan ada. Kebetulan hari pertama bekerja, hari senin," tandas Juni, mengangkat satu lembar perkara yang akan disidangkan minggu depan.


"Waduh, Senin, ya?" Defan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

__ADS_1


Memikirkan nasib liburan mereka. Mungkin tidak akan menjadi masalah, selama kasus itu ia dalami mulai dari sekarang. Bahkan, kalau perlu, selama liburan ia akan membawa berkas itu.


Namun, setelah dipikir-pikir kembali, kasus itu akan mengganggu keintiman honeymonn mereka. Bisa-bisa Defan tak fokus berlibur, malah sibuk bekerja.


******


"Ayo, kita makan!" ujar Rosma setelah beberapa nasi padang yang terbungkus di sajikan di atas tikar, tempat dimana mereka berisitirahat.


Untungnya, tidak ada komplain dari besannya. Bahkan, Melva senang saja ikut membantu kepindahan keluarga Dira.


"Ayo!" Semua langsung berkumpul di ruang tamu.


Beberapa jam lalu, semua barang telah diturunkan. Tinggal dilakukan penataan barang saja. Supir dan kenek pun langsung bergegas pergi setelah Sahat memberikan upah pengangkutan perabotan rumah tangga.


Sahat langsung memimpin doa siang itu, sebelum mereka menyantap makan siang. Semua tampak menikmati nasi padang dengan isian yang penuh. Nasinya tertimbun tinggi, dengan lauk-pauk yang terkenal nikmat yaitu rendang. Beberapa adik Dira justru memilih lauk ayam bakar karena daging rendang terlalu kecil bagi mereka.


"Enak juga naspad ini. Di mana kalian beli ini," tanya Melva setelah menghabiskan seluruh isi bungkusan nasi padang yang terkenal dengan isi melimpah.


"Nggak jauh dari sini, bou! Ada warung naspad di pinggir jalan sana. Sekitar 1 meter," sahut Parulian.


"Nanti kalau kami ke sini lagi, beli naspad ini ajalah kita. Bumbunya pekat nggak pelit. Rasanya pun mantap. Nggak ada yang kuranglah. Apalagi kuah gulenya pedas-pedas mantap, duh ngences lagi aku jadinya. Paten lah yang masak itu," ujar Melva, serasa sedang mereview makanan yang telah ia habiskan.


Setelah selesai makan, semua orang tengah beristirahat. Sahat beserta ke lima anak lelakinya justru melanjutkan dengan tidur siang. Sedangkan Melva dan Rosma masih berbincang-bincang.


Anggi dan Dira berbaring di ranjang di dalam kamar yang sudah terisi dengan barang-barang lengkap.


Carol


Jadi gimana Dir? Maunya bang def, ikut sama kita ke Toba?


Shinta


Iya, udah nggak sabar kali aku loh! Bosan kali nih di rumah!


Jenny


Apalagi aku, nggak ada kerjaanku! Tidur-tidur di rumah! Suntuk kali jadinya argghhhh!


^^^Dira ^^^


^^^Jadi!^^^


Melihat jawaban singkat Dira, semua langsung histeris. Tak menyangka, dua sejoli itu akan mengajak mereka bertiga liburan, bahkan membiayai seluruh masa liburan itu.


Carol


Serius kau? Jadi kita berangkat Sabtu ini kan?

__ADS_1


Jenny


Asikkk... ditraktir kita, berarti nggak keluarlah uang kita selama liburan ya? yeyeye


Shinta


Langsung gaslah! Duh, bisa dipercepat nggak nih, hari sabtunya?


^^^Dira^^^


^^^Tenang kelen di situ! Kalau versi bang defan tadi pagi udah minta izin sama mertuaku, padahal dia nggak bilang samaku loh. Tapi justru dia jelasin ke mamanya mau honeymoon kedua. ^^^


Jenny


asikkk... top kalilah itu, cocok juga kalau untuk kelen honeymoon kedua, uhuyyy dede bayi coming soon!


Shinta


Cocoklah memang, apalagi hawa-hawa dingin di sana, apa nggak bikin lengket terus! upsss


^^^Dira ^^^


^^^Apanya yang kelen bicarakan? Kok jadi ngaco?^^^


Carol


Jadi mau berangkat jam berapa hari sabtu?


Shinta


Subuh lah, jadi 4 jam perjalanan, pagi-pagi udah di sana kita. Dir, booking vila dari sekarang lah! Kami bertiga nggak apa-apa satu kamar hehe


Jenny


Ia biar hemat, vila isi dua kamar aja. Satu untuk kelen pengantin baru yang udah agak berjamur karena udah nggak baru lagi, satu untuk kami.


^^^Dira^^^


^^^Udahlah itu! Nanti ku kabari lagi. Soalnya bang defan juga belum jelasin bagaimana detail liburan kita. ^^^


Chat grup watsapp pun berakhir, saat Dira menoleh pada iparnya. Ternyata, Anggi sudah tertidur sangat pulas. Mungkin lelah karena sejak pagi sibuk membantu.


Dira beranjak dari kasur, berjalan gontai menuju ruang tamu. Melva dan Rosma masih asik mengobrol. Entah apa yang diobrolkan, sekilas Dira mendengar lagi-lagi tentang kehadiran cucu.


"Dak, udah nggak sabar kali aku ingin menimang cucu," papar Melva dalam obrolan.


"Samalah, dak! Hampir dua tahun kita menunggu. Semoga saja anakku cepat isi. Biar dia bisa jadi perempuan sempurna," balas Rosma, mereka saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2