Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
ronde ketiga


__ADS_3

Disclaimer!


khusus Yang berusia 18+


Yang tidak suka adegan ranjang, langsung skip aja ya!


"Awas, ya! Kalau malah menikmati," cibir Defan, mengerlingkan mata.


"Genit kali lah abang ini, awas abang kalau kayak gitu juga ke perempuan lain! Aku colok mata abang!" desah Dira dengan tatapan tajam.


"Enggak dong! Kayak gitu cuma sama istri abang aja." Defan yang sudah telanjang bulat mulai memeluk tubuh istrinya.


Kemudian, ia melepaskan sisa dalaman milik Dira. Dengan secepat kilat, tubuh mereka sama-sama naked. Defan langsung menyambar melumatt benda kenyal milik sang istri, si kembar pun jadi sasaran, dipegang dengan lembut.


Perlumatan semakin dalam, mereka menjelajahi rongga mulut, bertukar saliva, lidah Defan pun semakin nakal, melilit lidah Dira dengan gemas menyebabkan gairah kian memuncak.


Setelah saling mencumbu, Defan mengungkung tubuh gadis kecil itu. Lalu, keduanya larut dalam penyatuan. Defan mengambil alih secara dominam dalam permainan panas malam ini. Istrinya sudah semakin candu baginya.


Penyatuan itu pun selesai ketika nafsu mereka tersalurkan. Keduanya saling memeluk dengan nyaman ketika penyatuan berakhir.


Tak hanya sekali, penyatuan kedua pun berlanjut saat berada di kamar mandi. Defan yang sengaja menempeli Dira terus-menerus saat membersihkan diri, Dira pun mulai ikut bergairah.


Dira bahkan tak malu meminta agar mereka melanjutkan pada ronde kedua. Tentu saja, Defan menyambut dengan antusias.


Setelah keduanya lelah menikmati penyatuan, akhirnya Dira dan Defan kembali diserang rasa lapar yang dahsyat.


"Hm ... bang, masakin mie instant dong! Masakan abang tuh enak kali tahu!" seru Dira, mengerlingkan mata.


"Huh kalau ada maunya aja bilang kayak gitu! Dasar anak kecil." Defan mencubit kedua pipi Dira dengan gemas.


"Awww," pekik Dira kesakitan, pipi itu langsung memerah.


Ia langsung berlari mengekori sang suami dari belakang.


Bugh!

__ADS_1


Dira memeluk suaminya dari belakang, mengikis jarak diantara mereka. Alhasil, pelukan itu membuat langkah Defan terhenti.


"Jangan mulai goda-goda abang lagi deh!" keluh Defan dengan tatapan datar mengarah ke dapur.


"Ihh, aku cuma mau peluk aja kok! Buruan jalan!" titah Dira tak mengendurkan pelukan itu.


"Gimana abang mau jalan, dipeluk terus gini!" sesal Defan, tapi ia terus mencoba berjalan pelan, diikuti dengan langkah kaki Dira yang semakin mengeratkan pelukan kaitan tubuh mereka.


Dengan pasrah Defan tetap berjalan dalam pelukan wanita itu. Selama memasak mie instant, Dira yang tak memiliki kegiatan hanya memeluk pria itu dengan mesra.


Mengganggu apapun yang pria itu lakukan, Defan dengan rasa sabar terus saja membiarkan tubuhnya didekap dengan erat. Hingga selesai masak, dua mangkok mie instant dihidangkan di meja makan.


"Masih mau makan sambil pelukan kayak gini?" cecar Defan, berdiri di depan meja makan.


"Hehe ... pelukannya dilepas saat makan aja ya, abis itu kita pelukan lagi!" ucap Dira polos, menyengir kuda dengan riangnya.


"Hmmm." Defan akhirnya merasa lega setelah lilitan tangan Dira terlepas.


Kemudian, ia duduk dengan santai di kursi, begitupula dengan Dira. Keduanya menyeruput mie instant kuah dengan masing-masing dua telor rebus.


"Halah, itu kan katamu. Bukan kata orang, lagian kau malas masak kan! Uhh!" Defan mencubit hidung Dira dengan bertenaga.


"Awww." Kali ini, Dira benar-benar kesakitan, pucuk hidungnya ikut memerah.


"Cepat habiskan mienya, biar lanjut ronde ketiga," terang Defan dengan rasa acuh, melanjutkan kembali menyantap mie instant yang tinggal setengah di dalam mangkok.


"Apa? Ronde ketiga? Nggak salah, abang?" Dira membelalakkan mata, menatap suaminya penuh selidik.


Defan pun mengangguk, setelah tadi dipeluk dengan erat, tubuhnya sedikit bergetar. Si kembar yang menempel di punggung membuat ia sedikit bergairah.


"Ah, capek kali aku loh bang! Masa harus ronde ketiga lagi!" celetuk Dira.


"Loh, tadi siapa yang goda-goda duluan coba? Makanya kalau nggak mau ronde ketiga, tadi harusnya nggak pake acara peluk-pelukan." Defan menyeruput kuah terakhir langsung dari mangkok.


Sementara, Dira dengan cepat menghabiskan mie instant yang tersisa. Menyeruput kuah mie instant yang terasa lezat malam itu.

__ADS_1


Baru saja Dira menyeka air keringat yang muncul di dahi, Defan tiba-tiba mendekati. Menyambar dari belakang, bergantian memeluk wanita itu dengan erat.


"Kalau di sini aja gimana?" bisik Defan, suara nafasnya berderu dengan keras di sisi telinga Dira. Alhasil, dirinya pun merasakan kegelian karena hembusan nafas itu.


"Hihi ... geli, bang? Masa di meja makan sih, kalau tiba-tiba ada yang datang gimana?" tanya Dira, menengadahkan kepala ke atas, menatap wajah tampan itu dengan tatapan menggoda.


"Tuh, kau aja genit kayak gitu. Gimana suaminya nggak tergoda." Defan langsung mengecup bibir itu dari atas, lalu menarik kepalanya dengan cepat.


Tak berselang lama, ia melucuti baju Dira tanpa aba-aba. Lalu, membuka seluruh baju yang ia kenakan. Keduanya melakukan hubungan intim di atas meja makan.


Hanya suara rintihan dan desahaan dari keduanya. Saling menikmati cumbuan yang saling dilayangkan. Malam itu, ronde ketiga penyatuan mereka berakhir dengan rasa lelah serta kaki bergetar.


"Bang, aku udah nggak kuat! Udah ya, jangan ada ronde keempat atau keberapalah itu!" desah Dira, ia berjalan gontai tanpa memakai apapun ke arah kamar mandi yang berada di dalam kamar.


Defan langsung berlari mengejar wanita itu, memeluknya dari belakang. Rasa lengket di area bagian bawah mereka pun membuat keduanya saling tertawa.


Dira langsung dibantu oleh sang suami, menyiram area tubuh Dira yang penuhi cairan yang begitu lengket. Pria itu sangat telaten membersihkan tubuh istrinya.


Setelah itu, dia berlanjut membersihkan seluruh bagian bawah miliknya. Keduanya sama-sama keluar dari kamar mandi, tak ada rasa lengket maupun bau khas cairan berwarna putih susu itu.


"Abang, lupa kalau baju kita ada di meja makan." Defan langsung tertawa terbahak-bahak mengingat momen adegan panas mereka di ruang dapur.


"Iya, sana abang aja yang ambil. Aku capek kali loh." Dira langsung menghempaskan tubuh polosnya ke atas ranjang, membiarkan prianya bekerja sendiri.


Defan hanya memakai handuk, mengambil piyama yang berserakan di atas lantai. Ia menuruti apa saja yang diperintah oleh istrinya.


Lalu, ia berjalan gontai ke kamar, memakaian piyama Dira dengan pelan-pelan. Dira yang kelelahan hanya pasrah, tubuh polosnya itu dipakainan piyama.


Kemudian, Defan menyelimuti tubuh Dira, mendekap dalam pelukan. Kepala Dira menyandar di lengan Defan, keduanya tidur dengan pelukan hangat nan mesra.


******


Seperti biasa, Dira masih bersantai di atas ranjang meski matahari pagi telah menghangatkan. Ia menatap syahdu wajah tampan meski mata pria itu masih terpejam dengan erat.


Lalu, Dira mencium bibir Defan dengan lembut. Mengeratkan pelukan mereka, mengalungkan tangannya di punggung Defan.

__ADS_1


__ADS_2