
"Mau gimana lagi? Bapakku udah ngusir kita. Terpaksa mau nggak mau, aku pisah lah sama mama," jawab Defan mendramatisir.
"Ah abang lebay. Kan bisa saja abang menolak," sanggah Dira.
"Dah sana! Buruan masuk. Kita udah sampai loh," imbuh Defan setelah memberhentikan mobil audinya tepat di depan sekolah Dira.
Dira masih belum terbiasa dengan Defan. Ia keluar mobil tanpa berpamitan. Tidak ada cium tangan ataupun hanya sekedar pamit.
Defan hanya menggeleng-gelengkan tindakan istrinya yang tak pernah mau berpamitan. "Dira.. Dira... Apa-apa tuh harus diajarin terus," guman Defan mengeluh.
Ia terpaksa melajukan mobilnya setelah melihat Dira masuk ke dalam sekolahnya. Selama 15 menit perjalanan sampai ke kantornya, di lobi kantor sudah ada Dania yang menunggu.
Defan berjalan gontai di lobi, ia ingin masuk ke dalam lift. Tapi dicegah oleh sahabatnya. "Def, kita jadi ke rumah Shaira?" ucap Dania tanpa merasa bersalah.
"Mau kapan berangkatnya Def?" cecar Dania tanpa tahu diri.
Sementara Defan masuk ke dalam lift tanpa menjawab pertanyaan itu. Sedangkan Dania hanya mengekori dari belakang mengikuti kemana Defan pergi.
Ternyata Defan ingin mampir ke ruangannya sebelum menemui sang korban. Ia mengambil satu kamera beserta tripodnya. "Ngapain disini?" sindir Defan merasa terusik karena kehadiran Dania.
"Akukan menunggu jawabanmu Def! Gimana sih! Aku juga ingin menebus kesalahanku!" tutur Dania dengan wajah sendunya. Namun, hal itu membuat Defan bukannya terenyuh melainkan semakin muak.
"Udahlah! Kau di kantor saja. Urus pekerjaanmu, tidak perlu ikut denganku hari ini!" tegas Defan dengan sinisnya.
"Yaampun Def, kemarin kaukan sudah berjanji. Kenapa sekarang malah batal gitu aja," sanggah Dania tidak terima.
"Sudahlah! Tidak perlu Dan. Biar aku saja sendiri yang kesana. Aku bisa mengurusnya," ketusnya berjalan meninggalkan ruangannya. Dania hanya merenung terdiam bak patung di dalam ruangan itu.
Memang benar ia sudah membuat kesalahan fatal tapi seharusnya hari ini ia bisa menebus kesalahannya. Apakah ini salah satu awal untuk memisahkan Defan dan Dania?
Semenjak beristri, Defan sudah mulai menjauhiku. Semua karena si Dira nih!
Dania bergumam menggerutu, ia bahkan menghentak-hentakkan kakinya lantaran merasa sangat kesal dan jengkel.
Hari ini, lebih baik Dania fokus mengerjakan pekerjaannya daripada harus memikirkan gagalnya jalan berdua dengan sahabatnya.
Dania pergi dari ruangan Defan, ia masuk ke ruangannya meski masih merasa kesal.
*******
__ADS_1
"Dir mana oleh-olehnya?" cecar Jenny sesaat Dira masuk ke dalam kelas.
"Tenang! Tenang! Oleh-oleh ada disini." Dira mengangkat totebag yang ditentengnya sedari tadi dengan percaya diri, mengulas senyum pada teman-temannya.
"Yeeyyyy," sorak ketiga sahabat itu kompak. Mereka bertiga langsung mengerubungi Dira yang belum duduk tenang di kursi belajarnya.
"Tenang-tenang! Aku duduk dulu dong, heboh kali pun kelen," sergah Dira menenangkan ketiga sahabatnya.
"Hehehe! Kau sih kemarin nggak bawa oleh-olehnya. Jadi sekarang kami serang!" sambar Shinta dengan heboh.
Dira duduk dengan santai. Ia membuka totebag yang dibawanya. Namun, perhatian teman-temannya tak lagi tertuju pada oleh-oleh tersebut. Khususnya Carol pecinta barang branded langsung heboh melihat tas yang Dira yang tadi disimpan di lacinya.
"Woooooiii! Gila tas si Dira ini! Mahal kali ini loh," celetuk Carol dengan hebohnya.
"Hah iya kok cantik kali sih!" tambah Shinta kegirangan.
"Ahhh pasti ini dari bebeb Defan yaa!!" Jenny menepuk-nepuk pundak Dira dengan histeris.
"Awwww!" pekik Dira kesakitan, menyingkirkan tangan Jenny dari pundaknya.
"Tenang dulu kelen woi! Heboh kali, bentar lagi bel bunyi loh," ucap Dira menenangkan.
"Jujur kau Dir, siapa yang kasih tas ini." Carol menatap Dira dengan tajam penuh selidik, diekori oleh dua sahabat lainnya yang ikut menatapnya dengan sengit, tak sabar mendengar jawaban Dira.
"Woooo," ketiganya berteriak heboh sembari menepuk-nepuk meja hingga menimbulkan kegaduhan.
"Ssstttt! Berisik oi," timpal teman sekelas mereka.
"Sirik aja kau," ledek Jenny memutar bola matanya dengan malas menatap teman yang protes itu.
"Perhatian kali sih mbeb Defan itu! Ah mau satu dong kaya dia. Kalau nggak, dia aja untukku gimana?" goda Shinta mengerling.
"Yeeee! Masa punya teman sendiri diembat!" protes Carol membela sahabatnya.
"Udah jangan berisik kelen, ganggu anak-anak lain loh. Tenang dulu kelen woi! Duduk manis, biar kubagikan oleh-oleh ini," kata Dira.
"Iyaah!!" ucap ketiga sahabat itu kompak, mereka duduk tenang di kursi masing-masing. Beruntungnya, kursi mereka berdekatan. Dira duduk di depan bersama Carol, sedangkan Shinta duduk di belakang mereka bersama Jenny.
Dira mulai membagikan pernak-pernik yang dibelinya dari Bali. Ada gelang yang dibelinya kembar berempat, kaos yang sama juga berempat, serta celana pendek katun juga samaan.
__ADS_1
"Dir, banyak kali kau beli. Pakai uang siapa?" seloroh Jenny penasaran.
"Ya, ayang mbeblah," racau Shinta tertawa terbahak-bahak. Membuat Dira kesal lalu menutup mulut Shinta yang terbuka lebar.
"Ssst jangan heboh napa sih!" protes Dira.
"Nggak bisa kelen tenang woi! Ribut kali, pusing aku lihatnya," erang Carol seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kemudian Dira mengeluarkan sesuatu dari dompetnya. Ia memamerkan satu kartu sakti pada ketiga sahabatnya itu.
"Hari ini aku yang traktir," teriak Dira sembari mengibas-kibas kartu ATM yang diberikan suaminya.
Tiba-tiba Carol merampas kartu itu. Menelitinya dengan tenang. Seketika ia semakin heboh kalau kartu ATM yang dimiliki oleh sahabatnya adalah ATM nasabah prioritas seperti yang dimiliki oleh kedua orang tuanya.
"Bandit kau memang ya Dir!!" decak Carol semakin hebohnya.
"Ada apalagi Carol?" Dira semakin panik, karena baru kali ini melihat Carol histeris.
"Ini kartu ATM nasabah prioritas loh!" sambar Carol melompat-lompat kegirangan.
"Apa?! Serius kau?" hardik Jenny tak percaya.
"Iya!! Bandit memang si Dira ini. Bisa pula dia dapat laki-laki kaya seperti bang Defan," geram Carol.
"Jaga baik-baik kartunya, jangan sampai hilang." Carol mengingatkan lagi pada sahabatnya.
Dira sendiri bahkan tak tahu kalau ATM miliknya seistimewa itu. "Emangnya kalau nasabah prioritas berapa isinya?" sahut Dira polos.
"Minimal 500 juta tertahan di rekening itu dalam satu tahun. Artinya di dalam ATM bisa lebih dari 500 juta! Gila nggak tuh," desis Carol semakin menggila.
"Woooooo," goda Shinta dan Jenny saling menatap satu sama lain.
"Sahabat kita ini mendadak kaya rupanya. Sering-seringlah traktir kami ya Nyonya Sinaga," ledek Jenny mengerling.
"Ah ribut kali kelen woi! Aku memang belum cek isi ATM ini. Paling kita jajan di kantin kutraktir dari sisa uangku. Karena aku belum ngambil uang dari ATM," ungkap Dira.
"Heh gosip terus kelen empat. Nggak sadar itu guru udah mau masuk. Diam!" perintah salah satu teman sekelas Dira.
*Hening
__ADS_1
Seketika kelas menjadi hening setelah satu guru masuk ke dalam kelas.
"Buka buku kalian, pelajaran kita mulai," ucap guru itu dengan tenang setelah duduk di kursinya.