
Dira berjalan gontai keluar dari kamar mandi. Pakainnya sangat cantik. Mengenakan baju kaos dan dibalut dengan luaran baju kodok dengan panjang yang hanya sampai selutut.
Defan hanya berdecak kagum melihat kecantikan itu. Gaya khas anak remaja tetapi terlihat dewasa. Namun, ia tidak suka kaki jenjang istrinya terekspose.
******
"Baru juga ditinggal, mama sudah rindu sama Dira," celetuk Melva di ruang keluarga.
Melva beserta suami dan anak-anaknya sedang asik menonton tv. Walaupun anak-anaknya sembari memegang ponsel masing-masing. Namun, di minggu pagi ini, mereka lebih meluangkan waktu untuk bersama.
"Baru berapa jam loh ma," singgung Anggi yang mendengar celoteh sang mama.
"Mama nggak pengen ke rumah bang Defan? Kita juga belum pernah kesana," sambung Niar mengalihkan pandangannya pada wajah mamanya.
"Pengen sih, mama belum pernah masuk ke sana. Cuma tahu fotonya aja dari bapak. Kapan-kapan kita kesana aja!" lanjut Melva.
Anggi dan Niar mengangguk bersamaan. "Besar kok rumahnya Defan dan Dira. Bapak cuma lihat sekali pas belinya. Selebihnya orang yang bapak suruh urus," sahut Desman yang juga mendengarkan pembicaraan istrinya.
"Apa hari ini aja ma. Lagian kita libur nggak ngapa-ngapain," keluh Anggi mengulas senyum lebar di bibirnya.
"Janganlah hari ini, baru saja mereka pindah. Siapa tahu mereka juga lagi nggak di rumah atau lagi persiapan beli-beli yang kurang," papar Melva.
*******
"Nggak ada baju lain, Dir?" ucap Defan yang memelototi istrinya dari ujung kaki hingga pucuk kepalanya.
"Kenapa?" balas Dira sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Nggak apa-apa sih. Cuma terlalu terbuka bagian bawahnya," cibir Defan dengan wajah sinisnya. Ia tak mau istrinya mendapatkan perhatian dari laki-laki lain disepanjang perjalanan mereka di dalam mall.
"Yah gini doang kok dibilang terbuka sih," gerutu Dira, ia sangat malas harus mengganti bajunya lagi.
"Hmmmm." Defan memasang wajah penuh amarah. Namun, Dira mengabaikannya.
__ADS_1
"Udah ayo! Mau gagal lagi jalan-jalannya?" sindir Dira bernada sinis. Defan pun mengalah. Mau tak mau, ia mengikuti kehendak istrinya memakai baju itu.
Mereka berjalan beriringan memasuki lift. "Bang, di lantai atas ternyata teman sekelasku yang tinggal disana."
"Hah? Kok bisa?"
"Mana ku tahu. Mungkin anak orang kaya." Dira pun berjalan sekaligus mengedarkan pandangannya, ia takut kalau bertemu Angga kembali.
"Dia tinggal sama siapa?" sahut Defan masih mempertanyakan soal teman istrinya.
"Nggak tahu, sama kedua orang tuanya mungkin. Mana mungkin tinggal sendirian di rumah sebesar itu."
Dira dan Defan langsung ke parkiran yang ada di lantai basement. Keduanya masuk ke dalam mobil audi milik Defan.
Tiba-tiba, mereka dipertemukan kembali dengan Angga yang sedang memarkirkan mobilnya. "Bang itu dia orangnya." Dira menunjuk ke arah luar, lelaki itu sedang memutar stirnya untuk memarkirkan mobil yang cukup mewah.
"Bah, kaya kalilah berarti orangtuanya ya! Lihat saja tuh mobilnya aja lexus. Umur 17 tahun tapi dia sudah nyetir sendiri." Defan membulatkan bola matanya, memastikan wajah pria yang terpantul cahaya lampu basement.
Setelah melihat-lihat lebih dalam, ia semakin yakin kalau pria itu adalah anak lelaki yang ditemuinya tadi saat di lantai 1 tadi pagi. "Oh, tadi juga abang ketemu dia. Nanya tentang kau, siapa tahu dia melihatmu."
"Loh, harusnya jelas loh penuturan abang. Tapi dia malah clingak-clinguk waktu abang tanya."
"Oh ... soalnya aku bilang cuma berkunjung aja ke tempat ini. Bukan tinggal disini hehe," kekeh Dira, wajahnya pun tersipu malu.
"Kenapa nggak kau bilang? Kan biar dia tahu kalau kita tetanggaan." Defan langsung melajukan mobilnya. Beruntung, saat itu Dira tak perlu harus berbasa-basi dengan Angga karena mereka tidak bertemu secara langsung. Lagipula, Angga tidak sadar kalau Dira masuk ke dalam mobil di parkiran yang sama.
"Nggak ah bang. Ntar dia malah lantam ke anak-anak. Apalagi kalau tahu aku udah nikah. Bisa jadi gosip satu sekolah. Sekolahku masih lama," beber Dira diangguki oleh suaminya.
Defan tahu kalau Dira memang sengaja menyembunyikan status pernikahan mereka. Sebab, usianya yang masih 17 tahun duduk dibangku kelas 2 SMA masih terlalu dini untuk menikah.
Apalagi di zaman era modern seperti ini. Ia bisa dicap seperti kisah Siti Nurbaya, menikah yang dijodohkan oleh orang tua karena kedua orangtuanya terjerat hutang.
"Nanti kalau abang ketemu dia lagi, terus nanya-nanya tentang aku, bilang aja abang ga kenal dan nggak tahu ya." Dira pun menoleh ke arah wajah suaminya, berharap pria itu mengerti.
__ADS_1
"Tapi bukan kau sengaja menyembunyikan status pernikahanmu supaya bisa dekat dengan dia kan?" cecar Defan melirik istrinya dengan tatapan begitu sinis.
"Enggaklah! Ngapain juga suka sama cowok kaya gitu. Dia sebelas dua belas sifatnya sama abang kok," balas Dira menyinyir.
"Apa maksudmu?" Defan pun tetap fokus mengemudikan stirnya pada jalanan di depan.
"Ya, dia orangnya cuek dan dingin kaya abang. Cuma karena kami kebetulan jumpa aja, makanya saling sapa. Di sekolah malah kami nggak pernah tuh sapa-sapaan. Kaya orang nggak kenal aja," cerita Dira panjang lebar.
Defan pun menggulum senyum tipis dibibir setelah mendengar perkataan istrinya. Ia semakin yakin kalau Dira adalah perempuan yang tak suka melirik laki-laki lain meski sedang diluar dan tidak bersamanya.
"Bagus deh." Defan berkata cukup lirih tetapi itu terdengar di gendang telinga Dira. Setidaknya, kecanggungan diantara mereka mulai terkikis karena obrolan ringan tentang teman sekelas Dira.
Drrt Drtt
Ponsel Dira bergetar, ada telepon dari sahabatnya yakni Shinta. "Kau dimana Dir? Udah jadi pindah?" ucap Shinta ketika telepon itu diterima oleh Dira. Belum juga Dira menyapanya, beberapa rentetan pertanyaan telah memekik di telinga Dira.
"Pelan-pelan oi, nanti kau keselek. Udah pindah, aku lagi jalan sama bang Defan."
"Hah? Apa? Udah baikan kelen? Tadinya aku sama Carol dan Jenny mau main kesana," sahut Shinta dengan semangat menggebu-gebu.
"Main ngapain?" Dira pun mengaruk tengkuknya yang tak gatal, masih berpikir apa maksud perkataan sahabatnya.
"Mainlah! Acara penyambutan selamatan rumah baru." Shinta terkekeh pada sambungan teleponnya.
"Ah, nanti-nantilah itu! Nggak penting kali. Lagian di rumah nggak ada apa-apa," jelas Dira.
"Ihh ... nggak seru kali kau. Bikinlah acara selamatan. Undang kek keluarga dan teman-teman dekat," ujar Shinta penuh semangat.
Dira pun langsung melirik suaminya yang masih fokus menyetir. Mereka baru saja tiba di peparkiran mall.
Defan menganggukkan kepalanya seraya berkomat-kamit menanyakan siapa yang menghubungi istrinya. Namun, Dira tak menanggapinya karena tidak mengerti apa yang dikatakan pria itu.
"Nantilah ku tanya dulu sama bang Defan ya. Soalnya bang Defan pun nggak bilang apa-apa. Kau lagi sama Carol dan Jenny rupanya?
__ADS_1
"Engga hehe, aku di rumah kok sendiri. Maksudnya kita bakal datang berkunjung ke rumahmu. Sekalian mau lihat-lihat gitu. Suntuk kali nih di rumah nggak ada kerjaan padahal lagi libur."