Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
si paling lebay


__ADS_3

Dua minggu berlalu ...


Dira bersiap-siap pergi ke kampus, di mana hari pertama memulai ospek sebagai mahasiswa kedokteran.


Pagi itu, Defan mengantarkannya hingga ke gerbang kampus. Para mahasiswa baru (maba) sudah memenuhi halaman dengan berbagai pernak-pernik yang dikalungkan maupun di atas kepala karena senior mereka telah mempersiapkan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus atau yang sering disebut ospek.


Sebelum memulai kegiatan sebagai mahasiswa, Dira dan ketiga sahabatnya berkumpul di kantin. Mereka berempat sangat heboh membicarakan senior-senior tampan yang akan menguji mereka hari ini.


Seminggu yang lalu ...


Sebelum memulai kegiatan kampus, ternyata Anggi sudah lebih dulu diantarkan oleh Melva ke ibu kota. Dia tinggal di sebuah apartemen yang tak jauh lokasinya dari kampus.


Selama seminggu pula, Melva turut menemani putri bungsunya hingga masuk kuliah di hari pertama. Saat ini, Melva juga masih berada di sana, memastikan Anggi dapat berbaur dan mengikuti proses perkuliahan selama tinggal di Jakarta.


****


"Dir, gimana udah cantik belum aku? Mau ku gaet dulu salah satu seniorku!" ujar Shinta, memutar tubuh di depan Dira.


Namun, gelak tawa malah menyambut penampilan Shinta. Baik Jenny, Dira, maupun Carol tertawa terbahak-bahak, sebab penampilan Shinta sangat aneh.


"Kau kalau mau cari perhatian senior yang ganteng jangan hari ini lah. Udah ngaca belum kau?" timpal Jenny, terkekeh kegelian.


Carol pun ikut berkomentar pada penampilan Shinta. "Kau tengok dulu wajahmu, sana hush ... hush ... " usir Carol.


"Emang kenapa sih? Wajar penampilannya gini, namanya juga lagi ospek. Lagian ini disuruh sama seniorku! Harus kayak gini penampilan maba hukum!" tandas Shinta, memberi pembelaan pada diri sendiri.


Bagaimana ketiga sahabatnya tidak tertawa, penampilan Shinta sangat tidak cocok untuk mencari pasangan. Rambut kepang kuda, topi kertas bertuliskan "Maba Si Paling Lebay" serta kalung dari tali plastik dengan aksesoris sayur-mayur.


Tak hanya itu, make up Shinta sengaja dibuat berantakan, pipi dengan blush on merah merona melingkar, serta lipstik merah terang melengkapi penampilannya sebagai seorang maba.


"Kau hapus dulu lipstikmu itu, Shin! Merah kali, udah kayak mau jual diri," tambah Dira seraya tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Jangan! Ini sudah peraturan dari senior, nggak kau lihat anak lain juga memakai make up serupa? Tuh ... Tuh lihat dia." Shinta menunjuk anak-anak hukum yang melintas di kantin kampus, dengan penampilan yang sama.


"Astaga!" Jenny mengelus dada, seakan terkejut melihat penampilan anak lain.


Berbeda dengan Jenny dan Dira, wajah mereka polos. Khusus maba dari fakultas kedokteran, tidak diperbolehkan menggunakan make up sedikit pun. Alhasil, wajah Jenny dan Shinta sangat natural, bahkan sekedar lipbalm saja tidak boleh dipakai.


"Kelen dua kok nggak pakai bedak sih!" protes Shinta, yang melihat kepolosan dua sahabatnya.


"Udah aturan dari fakultas, tidak boleh pakai make up. Jangankan ngalis, pakai lipbalm pun tidak boleh," tutur Dira cuek.


Meski ia tak menggunakan make up, kecantikan Dira tetap mewarnai wajah-wajah maba hari ini. Bibir yang berwarna pink tanpa polesan lipstik salah satu andalannya. Tak heran, jika suaminya sendiri sangat candu pada bibir itu.


"Iya, aku aja palak, kau lihat kan mukaku!" Jenny menunjuk ke arah wajah.


"Kalau kau memang jelek, Jen," celetuk Shinta, tanpa merasa bersalah.


"Ah, kimbeklah kau!" maki Jenny, menoyor kepala Shinta dengan keras.


"Jadi kelen dua polos aja gitu? Enak kalilah, nggak pakai apa-apa?" tanya Carol, meneliti tubuh Jenny dan Dira bergantian.


"Ya!" jawab Jenny dan Dira kompak, diiringi tawa yang renyah.


"Kau juga enak kok, Rol! Meski penampilanmu gitu, tetap cantik," puji Dira, setelah menelisik penampilan Carol dari atas ke bawah.


"Hehe! Kalau aku cuma pake atribut nggak jelas ini saja! Kalau make up bebas sih, asal jangan menor," ungkapnya seraya membusungkan dada, terlihat disana kalung dari tali plastik dengan kertas tertempel, ada foto carol yang dianggap sebagai foto paling terjelek selama hidupnya.


"Yah, aku juga mau lah kayak kelen bertiga! Cuma di fakultasku aja paling lebay!" gerutu Shinta, menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.


"Pas lah itu, fakultasmu lebay, sama kayak kau!" ejek Jenny, merebut topi yang dipakai oleh Shinta, lalu mengibaskan ke atas.


"Heh, sini! Kalau rusak nanti aku harus bikin lagi. Paoklah! Capek aku bikin itu semalaman," hardik Shinta menyelipkan makian, lalu mengejar Jenny yang berlari berputar-putar di sekitar.

__ADS_1


Carol dan Dira hanya tertawa seraya menggelengkan kepala melihat kelucuan dua sahabatnya yang kerap sekali bertengkar. Keduanya sudah tak aneh melihat Shinta dan Jenny yang sering saling mengejek ataupun sangat akur.


"Ssttt, udah we! Bentar lagi kita disuruh kumpul ke lapangan loh!" papar Carol, menenangkan dua makhluk astral yang sedang ribut tersebut.


Akhirnya, Shinta menyerah, nafasnya terenggal-enggal karena mengejar-ngejar Jenny tetapi tak kunjung tertangkap. Jenny pun tertawa penuh kemenangan, masih mengibas kertas topi milik Shinta.


"Kasihlah itu Jen, kalau rusak nanti si Shinta jadi bulan-bulanan seniornya," ungkap Dira, khawatir kalau atribut sahabatnya malah rusak.


Jenny pun mendengarkan omongan Dira. Ia mendekati Shinta yang terduduk lemah di samping Dira, terlihat keringat yang membasahi dahi membuat make upnya sebagian luntur.


"Shin, ngaca dulu kau, make-upmu luntur tuh," beber Carol, memberikan cermin kecil yang dirogoh dari dalam tas.


"Astaga! Gara-gara si Jenny semua ini! Argghhh!" decak Shinta, mengerucutkan bibirnya.


Jenny menyodorkan topi milik Shinta. Lalu, meminta maaf seraya terkekeh kecil. "Ups! Sorry! Tinggal poles lagi, mau kubantu?" tawar Jenny, memicingkan mata, entah niat apalagi yang ada dipikirannya.


"Nggak usah! Nanti malah aneh-aneh kau taro make upku!" desah Shinta, memalingkan wajahnya dari pandangan Jenny.


Shinta dengan cepat mengambil tisu dari dalam tas. Mengelap keringat yang mulai bercucuran membasahi dahi dan tepian wajahnya. Tak lama, ia dengan lihai memoleskan make up, mengulang polesan make up menor seperti awal.


"Dir, kau betul-betul udah pulih? Berapa lama mertuamu nginap di rumah?" ucap Carol, mengalihkan pembicaraan pagi itu.


"Hmm udah... seminggu aja kok. Soalnya mertuaku langsung ngantar iparku ke Jakarta," jelas Dira, menatap lekat Carol.


"Loh, iparmu yang anak siapudan mertuamu itu, ya?" tanyanya lagi.


Dira mengangguk. "Dia diterima kuliah di Jakarta, universitas nomor satu di negara kita. Udah pasti tahulah kau, ya! Nggak harus kujelaskan lagi," sahut Dira.


"Oh, aku tahu. Paten kali dia! Bisa masuk sana, kuat nggak mentalnya itu? Hidup di ibukota yang keras!" tandas Carol.


"Selama duitnya kuat, nggak masalah sih! Lagian dia memang pintar kok!" tambah Dira, mengacungkan jempol atas kepintaran Anggi.

__ADS_1


__ADS_2