Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
pertarungan


__ADS_3

"Hmm ... enak juga cake di sini," tutur Dania yang terdengar jelas di gendang telinga Juni.


Juni langsung menyambar spontan. "Iya, bu, di sini viral kali. Kopi dan cakenya terkenal enak," imbuh Juni.


Alhasil, Dania langsung menoleh ke arah Juni. Mereka tiba-tiba tertawa bersama. Entah mengapa, suasana canggung berubah menjadi suasana yang berbeda. Keduanya mulai mengakrabkan diri.


Namun, karena merasa tak cocok dengan pembicaraan masing-masing. Akhirnya mereka memilih kembali diam, sibuk menikmati kopi dan cake tersebut.


Sesekali memainkan ponsel yang ada digenggaman tangan. Hingga malam pun tiba, mereka berdua tetap nongkrong di cafe, malas pulang cepat-cepat. Menikmati suasana cafe yang begitu ramai.


Flashback Off


****


Setelah menyelesaikan makan malam, Dira dan Defan berpamitan pulang. Mereka mencium punggung tangan Sahat dan Rosma secara bergantian. Saling bersalaman dengan kelima adik Dira.


Defan membukakan pintu mobil untuk sang istri, kemudian mengitari mobil, lalu duduk di jok di samping Dira.


"Da ... mak, pak! Kapan-kapan kami ke sini lagi." Dira melambaikan tangan serta tersenyum lebar, sedangkan Defan melayangkan senyuman untuk mertuanya.


Yang tinggal di rumah itupun langsung ikut melambai sampai mobil Defan tak terlihat lagi. Namun, saat di dalam mobil, tiba-tiba saja Dira mengungkit kepergian Defan saat ke cafe tadi.


"Sama siapa abang pergi ke cafe?" cecar Dira, menatap penuh selidik.


"Hmm ... sama asisten abang dan Dania," balas Defan tanpa berpikir, ia langsung menjawab dengan jujur.


"Kok abang nggak bilang-bilang? Nggak ngabarin ke aku? Giliran aku mau ke mana-mana harus ngabarin abang," cibir Dira, menatap sangat tajam ke arah Defan.


"Maaf, tadi memang dadakan, sayang. Itu juga untuk penyambutan kantor baru. Awalnya, abang berdua sama asisten, tapi si Dania minta ikut juga," jelas Defan panjang lebar.


"Apa? Berdua sama asisten? Abang udah gila ya? Masa sering berduaan sama asisten abang sih," gerutu Dira menyerang.


"Loh, dia kan asisten abang. Nggak ada hubungan apapun, kita hanya sebatas rekan kerja!" timpal Defan, sesekali menoleh ke arah Dira dengan tatapan datar.

__ADS_1


"Asisten abang itu perempuan atau laki-laki? Kok abang nggak pernah cerita punya asisten baru?" sergah Dira.


"Perempuan." Defan berlagak serius menyetir, pura-pura tak mendengar ocehan wanita di samping.


"Hah? Kok abang nggak pernah cerita sih! Jadi abang tiap hari sama perempuan itu?" Dira menatap curiga pada sang suami.


"Iya, kan dia asisten abang!" papar Defan.


"Awas, ya! Kalau abang ketahuan selingkuh! Tamat riwayat abang!" ancam Dira, menatap tajam ke arah suaminya.


"Ih, siapa yang mau selingkuh dari istri secantik punya abang sih." Defan mencubit genit dagu Dira tetapi mata tetap fokus ke arah jalan.


"Ya! Mana kita tahu, kalau tiba-tiba abang suka sama dia! Apalagi sering berduaan, satu ruangan berdua?" cecar Dira lagi.


"Iya." Defan tetap fokus pada kemudi stir serta jalanan di depan.


"Astaga! Kenapa nggak pisah ruangan aja sih! Masa bos sama karyawan satu ruangan. Ck," decak Dira semakin sebal melihat keputusan Defan yang begitu acuh.


"Justru itu mempersingkat pekerjaan, sayang. Abang nggak perlu keluar manggil-manggil, mau nyuruh ini-itu, orangnya sudah di depan mata," tampik Defan.


******


Dania dan Juni pulang secara terpisah. Keduanya sama-sama naik ojek online, kebetulan arah jalan pulang mereka pun dengan arah yang berbeda.


Di tengah jalan, Juni menggerutu tingkah Dania yang begitu egois. Apa-apa meminta tolong padanya. Termasuk untuk memesankan ojek online, padahal perempuan itu bisa langsung memesan melalui ponsel sendiri.


Tapi ia beralasan tidak memiliki aplikasi ojek online. "Dasar, perempuan nggak tahu diri. Bisanya cuma nyuruh-nyuruh! Sok bossy kali," umpat Juni dengan kesal.


Juni semakin yakin untuk menjauhi perempuan itu, tak ada alasan bagi Juni untuk terus berdekatan dengan perempuan yang tak memberikan manfaat. Malah membebaninya.


"Kalau nggak karena pak defan, sudah habis kau!" sesal Juni.


Sementara itu, Dania selama perjalanan tersenyum penuh kemenangan. Ia menganggap Juni hanyalah seorang budak yang bisa disuruh-suruh.

__ADS_1


Apalagi, Juni baru satu tahun bekerja di kantor mereka, dengan leluasa Dania sebagai senior di kantor itu memanfaatkan keadaan.


"Enak juga, ya, si Defan bisa punya pembantu kaya si Juni! Harus sering-sering aku mampir ke ruangan si Defan! Biar leluasa aku merintah-merintah babu itu! Hahahah," lirih Dania dengan wajah picik.


Pertarungan antara kedua wanita itu tak kunjung usai. Entah apa yang mereka perebutkan sampai-sampai harus saling beradu. Padahal, pria yang diperebutkan pun sudah tak berminat pada perempuan lain.


*****


"Sayang, merajuk lagi?" ucap Defan, membuka pembicaraan mereka setelah tiba di rumah.


Dira berpura-pura tak memperdulikan suaminya. Ia langsung membungkus diri dibawah selimut. Sementara, Defan dengan tahu diri, masuk ke dalam kamar mandi.


Membersihkan diri sebelum beranjak ke atas kasur. Sebab, seharian ia sudah lelah bekerja dan bersih-bersih ruangan. Oleh karena itu, tubuhnya penuh bau keringat dan debu.


Dira langsung tidur setelah membungkus diri di dalam selimut. Rasa kantuk telah menyerobot di pelupuk mata. Ia tak tahan lagi, akhirnya pun tertidur pulas, masuk ke dunia mimpi meski suaminya belum selesai mandi.


Tubuhnya remuk dan lelah setelah membantu kepindahan kedua orangtuanya. Belum sempat berganti baju, Dira langsung tertidur nyenyak.


Setelah dua puluh menit di dalam kamar mandi, Defan keluar ruangan, mengedarkan pandangan, bola matanya tertuju pada gundukan selimut yang tak lain adalah istri kecilnya.


"Astaga! Dira! Masih merajuk aja," sindir Defan lirih.


Ia berjalan gontai, menarik selimut yang menutupi wajah Dira. "Nggak sesak apa di dalam sana," lirih Defan menatap ke arah wajah Dira yang sudah tertidur pulas.


"Ck! Ck! Baru tadi merajuk, ternyata dia udah tidur, mungkin kecapekan bantu-bantu di sana," gumam Defan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Dira.


Cup


Satu kecupan pun mendarat di bibir gadisnya. Ia langsung berjalan gontai ke arah lemari, mengambil sepasang piyama. Lalu, menoleh lagi ke belakang, memastikan pakaian Dira telah terganti.


Namun, ia bergeleng-geleng saat melihat Dira masih mengenakan baju yang sama saat di rumah mertuanya tadi. Oleh karena itu, ia berinisiatif mengambil sepasang piyama yang sama dengan miliknya, dari tumpukan baju Dira.


Defan langsung memakai piyama miliknya terlebih dahulu. Seperti biasa, sebelum memakai baju, ia bercermin di meja rias, melihat wajah tampannya yang tak berubah. Lalu, menyugar rambutnya di sana agar tampak rapih.

__ADS_1


Setelah lengkap dengan setelan piyama, Defan membawa sepasang piyama milik Dira. Ia duduk di tepian ranjang, hendak menggantikan baju gadis itu.


__ADS_2