
Defan menikmati makan siangnya seorang diri di restoran yang tak jauh dari lokasi kantornya. Ia agak bersantai karena waktu memenuhi janji untuk pergi ke rumah pemberian bapaknya masih lama.
Kemudian setelah 20 menit berada di dalam, Defan beranjak meninggalkan restoran itu. Saat berjalan menyusuri lobi kantor, Defan bertemu dengan Dania.
"Def, daritadi udah ditungguin tuh," ucap Dania mengekori langkah kaki Defan dari belakang. Padahal pria itu sudah pura-pura tak melihat sahabatnya.
"Siapa?" sahut Defan sembari memencet tombol liftnya.
"Klien baru kayanya. Sudah ada di ruanganmu daritadi," balas Dania seraya menggulum senyum lebarnya.
"Oh." Defan hanya terdiam tak menanggapi lebih jauh.
"Gimana tadi? Udah ketemu Shaira? Terus dia mau ceritain lagi kejadian itukan? Apa kau sudah dapat buktinya," cecar Dania dengan gerak-gerik yang tak biasa. Ia mendekati sahabatnya itu, berdiri tepat di samping Defan.
Pria itu hanya melirik tingkah sahabatnya yang menurutnya hal lumrah dilakukan oleh seorang Dania.
"Udah ... untung saja dia mau cerita." Defan lagi-lagi terdiam hanya menjawab seadanya.
"Def, kau masih marah ya? Sorry deh, itu murni nggak sengaja. Padahal aku yakin sudah merekamnya." Dania menatap lekat sahabat prianya itu, memasang wajah memelas agar kembali mendapatkan perhatiannya.
"Iya," lirih Defan, ia langsung berjalan menjauhi Dania ketika lift terbuka lebar.
"Def, nanti sore jalan yuk," Dania terus mengikuti langkah kaki sahabatnya itu, terus menyosor perkataan yang sudah tak pantas lagi terdengar ditelinga Defan.
Hufftttt
Defan membuang nafas kasarnya. Ia semakin muak dengan sikap Dania yang kerap sekali merasa bodo amat. Bahkan tak pernah tahu malu terus-terusan mendekatinya.
Pria itu menghentikan langkah kakinya tepat berada di depan ruangannya. Sementara Dania yang terus sibuk mengekori Defan tiba-tiba tersandung tubuh pria itu.
"Awwww," pekik Dania setelah keningnya terbentur punggung Defan.
"Bilang-bilang dong kalau berhenti jalannya," sambung Dania.
"Dania, lebih baik kau pergi ke ruanganmu sekarang. Soal pertanyaanmu tadi, jangan berharap lebih lagi. Aku sudah beristri, tidak ada waktu lagi untuk menemanimu. Kuharap kau sudah tahu batasannya." Defan memberikan peringatan dengan perkataannya yang panjang lebar.
Membuat Dania merasa sedih ketika mendengar perkataan sahabatnya itu. Dulu, ketika Defan belum memiliki istri, kemanapun Dania ajak pasti ia mau.
Tak pernah sekalipun ajakan Dania ia tolak. Namun, sekarang Dania harus mundur teratur mengikuti permintaan Defan. Menjauhinya? Apa dia pikir semudah itu mengakhiri persahabatan yang sudah terjalin bertahun-tahun lamanya.
__ADS_1
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Dania pergi ke ruangannya. Bahkan ia tak mau menatap wajah Defan setelah pria itu memberikan peringatan.
"Halo pak ... ada yang bisa saya bantu?" tanya Defan ketika memasuki ruangannya, disana rupanya sudah ada beberapa orang yang menunggu kehadirannya.
Para tamu itu langsung berdiri menyambut kedatangan sang empunya ruangan. Satu-persatu mengulurkan tangannya, tangan itu disambut oleh Defan. Ia menyalaminya dari satu orang ke yang lainnya.
Setelah Defan duduk dihadapan para tamu. Barulah, tamunya itu mulai membuka suaranya. Ia menyodorkan selembar kertas berisi laporan tentang kasusnya.
Di ruangan sebelah, Dania yang merasa kesal saat menghempaskan bokongnya di kursi kerjanya. Ia mengacak-acak rambutnya karena frustasi.
"Defan ... Defan ... Aku yang lebih dulu hadir di kehidupanmu. Sebelum ada istrimu, aku dulu yang selalu berada disisimu. Tidak semudah itu kau menyingkirkanku," gumam Dania dalam lamunannya.
Ia semakin frustasi kalau sikap Defan terus berubah. Baru satu minggu menikah, Defan sudah membentak-bentaknya. Memberikan peringatan agar tak lagi mengajaknya jalan bersama.
Tapi Dania tak kehabisan akal. Berbagai hal nantinya akan ia coba untuk terus berada disisi Defan. Terlebih waktu untuk bertemu Dania justru lebih banyak dibandingkan bertemu istrinya. Apalagi jika Defan sengaja lembur di kantor, Danialah satu-satunya orang yang akan menemaninya bekerja.
*******
Dira bersama teman-temannya fokus mengikuti pelajaran terakhir. Siang itu sudah jam 1, pelajaran terakhir membuat Dira mengantuk berat.
Dira menoel-noel lengan Carol yang sebangku dengannya, bermaksud untuk menggodanya. Mereka berdua saling berbisik satu sama lain.
"Heh, lihat tuh kuis di depan! Kerjakan jangan malah ngobrol," bisik Carol merasa terganggu.
"Ngantuk," lirih Dira sebagai jawaban atas perkataan Carol.
Seketika Carol meneteskan sedikit air mineral ke telapak tangannya, lalu ia mendekati Dira. Tiba-tiba Carol menyiprat-nyipratkan air tersebut ke wajah Dira.
"Ihhhh," decak Dira dengan pelan agar tak mendapat perhatian dari gurunya.
"Ngapasin sih," imbuh Dira seraya menyeka cipratan air yang ada di wajahnya dengan satu telapak tangannya.
"Nakal ya!" goda Dira menyubit lengan Carol. Namun, kedua sahabatnya yang berada dibelakang mereka tiba-tiba nimbrung.
"Ngapin sih? Rame kali kelen dua," celetuk Jenny berbisik.
"Husssh! Udah kerjakan aja kuisnya," balas Carol merasa terusik dengan kejailan Dira serta sahabatnya yang lain ingin ikut bergabung.
*Hening
__ADS_1
Keempat sahabat itu akhirnya fokus mengerjakan kuis yang diberikan oleh guru mereka. Suasana mulai tenang lagi serta mereka semua cepat-cepat menuntaskan isi lembarannya karena tidak sabar menunggu jam pulang sekolah setelah jawaban kuis itu dikumpulkan.
******
"Setelah saya baca, kasus ini cukup menarik" ucap Defan menatap para tamunya itu.
"Iya pak. Saya mohon bantuannya, saya akan bayar berapapun kalau kasus ini bisa berakhir damai," ujar tamu yang belum resmi menjadi kliennya.
Defan membaca BAP kasus tersebut. Jadi kedatangan para tamunya itu bertujuan untuk mendapatkan pembelaan terhadap kasus KDRT.
Namun, calon kliennya bukanlah korban, melainkan sang pelakunya. Ia ingin mendapatkan pengacara handal yang mampu menciptakan perdamaian diantara dirinya dan istrinya.
"Saya mengerti maksud bapak. Kalau begitu saya akan menghubungi kembali setelah membuat keputusan mau mengambil kasus ini atau tidak," kata Defan mengakhiri pertemuan mereka hari ini.
Defan menjabat tangan pelaku KDRT serta keluarganya yang ikut mengantarkan untuk mendapatkan pengacara seperti Defan.
Setelah tamu itu pergi, Defan tampak berpikir sejenak.
Sepertinya sulit menangani kasus ini bila yang dibantu adalah pelaku. Kalau saja tadi korban yang datang kesini, aku pasti langsung menerimanya.
Defan menyandarkan kepalanya ke kursi kebesarannya. Ia beristirahat sejenak memikirkan kasus-kasus yang belum tertangani.
Ada banyak kasus yang harus ia persiapkan. Esok, dia harus berperang melawan si pelaku pelecehan seksual dalam sidangnya.
Ting
Satu pesan dari istrinya baru saja ia terima.
Dira
Bang, Dira udah pulang sekolah. Mau jam berapa berangkatnya?
Defan langsung mengambil ponsel miliknya, menatapnya dari jauh. Matanya tertuju pada nama si pengirim pesan. Ketika melihat nama Dira disana, ia langsung menarik ponsel itu.
Ia melirik jam tangannya, ternyata masih jam 2 siang. Seketika ia semakin pusing, memijit-mijit pelipisnya sejenak sekaligus berpikir.
Apa lebih baik sekarang pergi saja ya? Ah, tapi tumpukan berkasku yang belum tersentuh masih menanti.
Defan larut dalam pikirannya. Ia menjadi bimbang. Namun, hatinya mengatakan lebih baik pergi menjemput Dira untuk mengecek rumah mereka. Bila ia berada disamping istrinya, entah mengapa hatinya merasa ketenangan.
__ADS_1