
"Abis ini kita ke mana, bang? Mau langsung keliling?" tanya Carol setelah menyelesaikan sarapan pagi.
"Ehmm, enaknya ke mana?" Defan malah balik bertanya, biasanya para remaja lebih mengetahui seluk-beluk untuk liburan.
"Bentarlah, aku cek dulu di ponsel," tambah Carol.
Carol langsung membuka ponsel, mencari tempat wisata terdekat vila mereka. Beberapa tempat wisata terkenal sudah menjadi target untuk liburan pagi itu.
"Ada banyak nih, bang! Ada bukit beta tuk-tuk, pertunjukkan tari si gale-gale, huta siallagan, makam tua raja sidabutar, batak museum, pantai batuhoda, banyak deh," ungkap Carol antusias.
"Mau ke mana jadinya, bang?" cecar Jenny.
Defan langsung mengkerutkan dahi, agak kebingungan untuk memilih tujuan mereka. Namun, ia sangat penasaran dengan wisata pertunjukan tari si gale-gale.
"Kita nonton pertunjukan dulu. Masih pagi, cocoklah. Kayaknya seru dan khas di sini."
Keempat wanita itu setuju saja dengan penentuan pilihan Defan. Lagipula masih pagi, tontonan yang ringan tak memerlukan effort dan tenaga, cukup untuk mengisi waktu pagi mereka.
Setelah melakukan pembayaran, mereka langsung menuju lokasi tempat pertunjukan tari si gale-gale. Saat tiba di sana, sudah banyak pengunjung yang ingin menyaksikan juga.
Deretan rumah adat pun melengkapi pemandangan pagi itu. Dira yang berjalan bergandengan tangan bersama sang suami, menikmati pemandangan indah dari mulai melihat-lihat rumah adat, serta pertunjukkan tari si gale-gale yakni patung yang terbuat dari kayu.
Kelima orang itu langsung mengabadikan moment dengan latar rumah adat serta patung si gale-gale. Mereka juga foto bersama agar menjadi kenangan indah saat menikmati momen liburan itu.
Dengan berkunjung ke sana, mereka sudah manambah wawasan dan lebih mengenal wisata budaya tradisi di Pulau Samosir serta lebih mengetahui cerita sejarah batak.
Ternyata, tak jauh dari pertunjukan si gale-gale, ada beberapa tempat wisata lain, yang langsung ditelusuri oleh Defan dan empat wanita yang menemaninya.
Mereka langsung berjalan kaki, menelusuri makam raja dan museum batak. Di makam raja mereka hanya melihat-lihat karena makan yang dibangun dengan desain yang unik, ada yang berbentuk rumah adat, berbentuk bebatuan dan lainnya.
Lalu, mereka masuk ke museum batak, di sana banyak tersimpan benda-benda bersejarah. Terakhir, kunjungan mereka berakhir di Pasar Tomok, tempat souvenir untuk oleh-oleh dibawa pulang.
"Bang, aku mau beli souvenir lah," papar Dira, saat mereka menyusuri Pasar Tomok.
"Untuk siapa?" tanya Defan, sebab Dira sendiri masih libur, teman-temannya pun ikut liburan hari ini.
__ADS_1
"Untuk ito-itoku lah sama untuk edak juga," jawab Dira santai.
"Hmm ... yaudah, belinya yang perlu-perlu aja. Jangan yang nggak berguna," tandas Defan mengingatkan.
Dira dan ketiga sahabatnya mulai berburu. Mereka membeli souvenir gantungan kunci, topi, gelang serta kaos-kaos khas dari daerah Samosir.
Saat hendak melakukan pembayaran, Dira langsung meminta agar Defan yang membayar sehingga ketiga temannya tak perlu mengeluarkan uang saku.
"Abang, bayarin!" titah Dira seraya menyengir kuda.
"Hah? Kau juga kan punya duit, sayang. Masa minta ke abang lagi," protes Defan, tapi ia langsung berjalan menghampiri.
Lalu, ia langsung mempertanyakan total belanjaan Dira dan keempat temannya. Anehnya, belanjaan itu bisa menghabiskan hingga satu juta rupiah.
"Kalian beli apa aja sih? Kok mahal kali," keluh Defan setelah melakukan pembayaran.
"Cuma ini aja kok, souvenir sama kaos-kaos aja, bang!" jelas Jenny, menunjukkan kantong plastik yang ia pegang.
"Kayaknya kaos-kaos ini yang mahal," sambar Shinta.
"Untung abang ambil cash banyak. Kalau nggak, susah nyari ATM," desah Defan mengeluhkan kelakuan empat wanita yang mendampinginya.
"Maaf, ya, bang! Padahal kami tadi mau bayar sendiri-sendiri kok," terang Carol.
"Nggak apa-apalah! Yang penting kawan kalian ini senang." Defan mencubit pipi Dira dengan gemas.
"Awww ... sakit abang!" pekik Dira, lalu mengelus pipinya yang terasa sakit.
Setelah menghabiskan setengah hari berwisata, akhirnya mereka mencari makan siang di sekitar tepi danau toba. Ternyata banyak pedagang ikan bakar di sana.
Mereka langsung memesan khas makanan di sana, tersedia ikan bakar dengan sambal tuk-tuk, BP, natinombur serta kudapaan ombus-ombus sebagai pencuci mulut.
Setelah selesai menikmati wisata, mereka kembali lagi ke vila. Menikmati pemandian di bibir Danau Toba. Tanpa memerlukan waktu lama, setengah hari mereka menikmati air danau toba yang tawar.
Bahkan, menikmati sunset dari jendela kamar masing-masing. Entah mengapa pemandangannya sangat indah. Senja berlatar bukit membuat suasana sangat syahdu.
__ADS_1
Sore berganti malam, mereka melanjutkan dengan berbakar-bakar jagung di pelataran vila. Pembakaran itu memang sudah disiapkan oleh pemilik vila.
Tak hanya jagung, untuk makan malam mereka menikmati acara bakar-bakar ikan serta menu-menu lain untuk melengkapi.
Acara semakin meriah saat Dira dan ketiga sahabatnya mengisi acara dengan bernyanyi ria di lingkaran api unggung yang menghangatkan sekitar.
Lagu-lagu batak semakin memeriahkan malam itu. Bahkan mereka berkumpul hingga tengah malam. Menikmati suasana danau toba yang sangat dingin.
Tepat pukul 12 malam, semuanya masuk ke kamar. Carol, Jenny dan Shinta tidur di dalam satu kamar. Mereka langsung tepar saat menghempaskan diri di atas ranjang king size.
Sementara, Dira bersama sang suami melanjutkan momen berdua. Tanpa ac yang menyala, bahkan mereka berbalut selimut karena hawa yang sangat dingin.
"Yang, ayo, gas!" ucap Defan, mengerlingkan mata saat berbaring, menutupi tubuh keduanya dengan selimut.
"Bentar, abang! Dingin kali ini," imbuh Dira, tubuhnya bergetar karena cuaca dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Defan langsung menyergap, memeluk tubuh yang gemetar kedinginan. Pria itu menempatkan posisi, mengungkung tubuh sang istri dengan tubuh kekarnya.
Seketika, Dira merasa pengap karena dikungkung dengan tubuh pria itu, bahkan tertutup dengan selimut tebal.
"Huh! Bang, buka aja selimutnya. Jadi panas hawanya," keluh Dira.
Defan menghempaskan selimut itu entah ke mana. Mereka memulai percintaan malam ini, saling mencumbu dan meluapkan kasih yang tertunda kemarin.
"Ayang, buruan, makin dingin loh nanti," desah Defan saat melihat Dira yang tak bersemangat.
"Iya, iya! Sabar suami," balas Dira.
Defan mulai menciumi leher jenjang Dira, lalu beralih ke benda kenyal yang ada di sekitar wajah. Bahkan, dia melumatt penuh kasih sayang.
Di dalam dinginnya suasana, keduanya menjalin kasih, melakukan penyatuan yang hangat dan menegangkan. Sebab, keduanya harus memelankan suara desahaan agar tak terdengar ke kamar sahabat-sahabat Dira.
"Bang, ssstt .... jangan keras-keras suaranya." Dira mengingatkan sang suami saat keduanya larut dalam penyatuan pada honeymoon kedua.
"Iya, sayang!" Defan terus saja bergoyang dengan tempo yang kencang, ia tak sabaran untuk mencapai puncak kenikmatan malam itu.
__ADS_1