Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
pajak jadian


__ADS_3

Pagi itu, Dira baru sempat melihat ponsel. Ia melihat banyak notifikasi dari pesan-pesan ketiga temannya. Lalu, membaca pesan itu dengan sekilas saja. Meski dirinya terkejut mendengar kabar bahwa Carol telah menerima Jefri menjadi seorang pacar tapi Dira tidak membaca pesan mengenai rencana pertemuan pagi ini.


Carol


Oh, ya! Janjian di kantin kampus jam 7 pagi ya, kenalan sama si Enjep!


Pesan terakhir dari Carol pun dilewatkan oleh Dira. Namun, setelah ia mengetahui kalau Carol telah berganti status dari jomblo menjadi pacaran, Dira tersenyum-senyum sendiri saat membaca pesan tersebut meskipun ia masih dalam pembaringan di atas ranjang.


Saat melihat jam di dinding tepat pukul 6 pagi, Dira lebih memilih membangunkan suaminya daripada harus membalas pesan di grup chat WhatsApp.


"Bang, bangun! Buruan udah jam 6 pagi, katanya mau ada sidang," ujar Dira sembari menggoyangkan lengan suaminya agar terbangun dari tidur lelap.


"Apa?" ucap Defan mengigau.


Namun, pria itu tak kunjung membuka mata. Ia tetap saja kembali melanjutkan tidur meski sayup-sayup terdengar suara di telinga.


"Kebiasaan nih, Bang Defan kalau dibangunin susah!" sungut gadis itu.


Dira mendudukkan tubuh suami secara tiba-tiba sehingga membuat Defan terkejut lantaran belum tersadar 100 persen.


"Ada apa sih?" tutur Defan seraya mengedarkan pandangan dengan mata yang masih menyipit.


"Bangun! Katanya mau ada sidang!" imbuh Dira sedikit ketus.


Pria itu lantas mengusap wajah, lalu mengucek-ngucek kedua bola mata agar ia tersadar meski posisinya kini tengah terduduk di atas ranjang.


"Emangnya udah jam berapa sih, Yang?" tanya Defan.


"Jam 6 pagi loh, Bang! Cepetan siap-siap, aku mau bikin sarapan!" sahut Dira, mulai beranjak dari ranjang, berjalan gontai menuju dapur.


Ia bergegas menyiapkan sarapan untuk suaminya. Satu hidangan simple yakni nasi goreng dengan telur dadar sudah melengkapi sarapan pagi ini.


Tak lupa, Dira juga membuatkan jus jeruk segar untuk suaminya karena pria itu sangat menyukainya minuman tersebut. Kebetulan Dira sudah rajin menyimpan stok jeruk segar di dalam kulkas. Dan stok itu masih tersisa hasil belanja pekan lalu.


***


Pagi-pagi, Jefri sudah mengapel ke rumah Carol. Namun, hanya menjemput pacarnya saja, tidak sampai berkenalan pada kedua orang tua Carol. Saat dijemput, Carol tersipu malu.

__ADS_1


Sebelumnya, Jefri sudah menghubungi Carol, menanyakan di mana alamat rumahnya sehingga ia bergegas mengunjungi rumah itu dan menjemput sang kekasih untuk pergi ke kampus bersama.


Saat melihat kedatangan Carol, Jefri bersigap membukakan pintu mobil untuk kekasihnya. Dia langsung keluar dari dalam mobil, lalu mengitari mobil dan membukakan pintu untuk sang pacar.


Romantisnya Jefri layaknya pria-pria yang ada di film-film layar lebar. Ia benar-benar memberi perhatian penuh pada Carol sebagai seorang pacar pertamanya.


"Pagi!" sapa Jefri, dengan senyum yang lebar saat menatap wajah cantik sang pacar


"Pagi!" jawab Carol datar.


Perempuan itu masih bersikap jutek bahkan belum menganggap perlakuan Jefri adalah hal yang istimewa.


"Senyum dong, pagi-pagi gini masa udah jutek, sepet nih mata!" cibir Jefri, saat tak mendapatkan sebuah senyuman yang tersemat di bibir Carol.


"Nih senyum!" kata Carol, menyematkan senyuman terpaksa yang memperlihatkan wajah semakin terlihat jutek.


"Ih ... gitu senyumnya!" ledek Jefri, menarik kedua pipi Carol agar bibirnya ikut tertarik dan memperlihatkan sebuah senyuman yang cantik.


"Apa sih!" gerutu Carol, menatap sinis, lalu menghempaskan tangan sang pacar dari wajahnya.


****


Karena, Carol sudah berjanji akan mentraktir teman-temannya di kantin kampus sekaligus memperkenalkan Jefri pada mereka.


Sudah pasti, yang bayar makanan mereka adalah Jefri sebagai pria jantan yang akan ditodong pajak jadian oleh kedua wanita itu.


"Mana nih si Carol. Kok lama sih datangnya!" cetus Shinta, mulai mengedarkan pandangan menatap sekitar, mencari sosok sahabatnya.


"Sabar! Mungkin masih di jalan. Si Dira mana sih? Lagian kemarin si Dira juga nggak kelihatan di grup, gak ada satupun pesan dari kita yang dibalasnya," tukas Jenny sembari menatap ponsel, barangkali ada satu pesan dari Dira di sana.


"Iya, tumben loh si Dira nggak membalas pesan kita sama sekali," tambah Shinta.


"Masa dia sesibuk itu? Tapi kalau kita sekarang ditraktir oleh Carol, si Dira nggak ikutan dong?" imbuh Jenny.


"Eh, terus kenapa kau ada di sini? Emang kelen ada kelas jam berapa?" tanya Shinta.


"Harusnya aku datang jam 9 aja karena memang kelasku baru ada jam 10 pagi tapi karena si Carol menjanjikan akan mentraktir kita, makanya aku datang pagi-pagi ke sini," ungkap Jenny, sembari menunggu kedatangan sahabatnya yang tak kunjung terlihat.

__ADS_1


Selain untuk memenuhi janji Carol, kehadiran Jenny juga sekaligus untuk mengambil makalah yang dijanjikan oleh pihak tukang fotocopy. Pagi ini, makalah itu sudah jadi.


Jenny dan Dira sudah berkompromi, mereka bersepakat kalau Jenny lah yang akan mengambil makalah tersebut.


"Itu dia, si Carol datang!" Shinta menunjuk ke arah tubuh Carol yang mulai nampak di pandangan mereka, berjalan beriringan dengan pria yang bertubuh gagah.


****


15 menit yang lalu ...


Carol sudah menyampaikan pada Jefri kalau teman-temannya meminta pajak jadian hari ini.


"Bang, sahabatku pada mau ditraktir tuh!" celetuk Carol dengan raut wajah datar.


"Temanmu yang mana? Yang suka nongkrong samamu di kantin?" balas Jefri, sesekali menoleh pada pacarnya, lalu fokus mengemudikan stir.


"Siapa lagi temanku, cuma ada 3 orang sahabat karibku, kami bersama sejak duduk di bangku SMA!" beber Carol, fokus menatap jalanan karena malu melihat wajah Jefri.


"Oh ... mau ditraktir apa?" sahut Jefri, sesekali melirik pacarnya yang menatap ke arah depan jalanan.


"Bebas," jawab Carol singkat.


"Emang ditraktirnya mau di kantin kampus aja? Nggak mau makanan lain gitu?" tawar Jefri.


"Nggak tahu, pokoknya mereka pengen ketemu sama abang dulu dan pengen kenalan secara resmi tentunya!"


"Oh ... yaudah!"


Jefri pun menuruti permintaan pacarnya. Setelah tiba di kampus, keduanya berjalan gontai menuju kantin. Beberapa orang menatap keduanya dengan pandangan yang aneh seraya saling bertanya-tanya saat mereka berpapasan.


"Lama kali sih, Rol!" ketus Jenny, tak sabaran lantaran jam waktu masuk kuliah hampir mepet.


"Iya, macet jalanan!" kilah Carol, seraya memegang lengan pacarnya, sontak membuat Jefri terkejut dengan perlakuan sang pacar.


"Jadi mana nih?" cecar Shinta.


"Iya, kenalin nih ini, Bang Jefri, yang sebelumnya sudah sering kelen lihat dan pernah mentraktir kelen!" Carol melepaskan tangannya dari lengan Jefri.

__ADS_1


Pria itu mengulurkan tangan dengan cepat, saling berjabatan tangan, bergantian dengan Jenny dan Shinta. Disisi lain, Carol tengah sibuk mencari sosok satu lagi temannya yaitu Dira.


__ADS_2