Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
orang terakhir


__ADS_3

"Aku juga mau!" sambar Carol, tak ingin ketinggalan.


"Husshh! Jangan ribut, orangnya mulai mendekat," tandas Shinta lirih, lalu fokus menatap seluruh orang di meja makan.


Dira melingkarkan tangannya di pinggang sang suami, berjalan gontai menuju meja makan. Rosma dan Sahat pun sudah biasa saja melihat kemesraan suami istri tersebut.


Sebab, mereka merasa Dira sudah cukup umur untuk melakukan semua itu. "Ayo, hela, makan dulu!" titah Sahat, menarik kursi di sebelah agar ditempati oleh Defan.


"Iya, Amang, terima kasih." Defan duduk, langsung menyantap makanan yang disajikan oleh sang istri.


Defan dan Sahat makan berdua, sementara Dira, Rosma dan sahabat Dira menyingkir dari meja makan.


"Kami di ruang tamu, ya, pak!" ucap Rosma, tak ingin mengganggu waktu makan suami dan helanya.


Sahat mengangguk saja, ia fokus melahap makanan nikmat masakan sang istri. Begitu juga dengan Defan, pria itu sudah lama tak menyantap makanan sederhana masakan sang mertua.


Makanan yang dihidangkan di rumah Dira memang berbeda dengan makanan di rumah orangtuanya. Namun, Defan sangat menyukai masakan sang mertua.


****


"Mak, belum beres tadi kita cerita-cerita, soal kabar buruk itu mau kuceritakan sekarang," beber Dira, menatap datar sang mamak.


"Apa boru, ceritakanlah! Udah dari semalam mamak penasaran," desak Rosma.


Ketiga sahabat Dira malah lanjut mengemil. Ada bolu kukus buatan Rosma memang khusus disiapkan untuk cemilan saat mengobrol.


"Maaf, ya, mak!" ucap Dira lirih. Saat mengingat kejadian itu, memorinya langsung mengotrol pikirannya sehingga perasaan sedih mulai memuncak.


"Kenapa, boru?" Rosma memutar bola matanya, jengah lantaran Dira tak langsung menjelaskan inti cerita dari kabar buruk tersebut.


Ketiga teman Dira hanya bisa menghela nafas berat secara bersamaan. Mereka sudah tahu kalau Dira akan menceritakan kejadian kelam yang menimpa mereka berempat.


"Kenapa kalian tiga? Kok susah kali bernafas?" celetuk Rosma, memicingkan mata.


Ketiganya hanya diam, sementara Dira mempersiapkan Diri untuk merangkai kata-kata yang akan dilontarkan di depan sang mamak.

__ADS_1


"Aku keguguran, mak!" ungkap Dira, tertunduk malu, kerapuhan mulai menyelimuti, hatinya seakan hancur saat mengucap kata yang semakin tabu untuk dirinya.


"Hah?" Rosma seketika berjingkat, ia tak pernah menduga hal itu bisa terjadi.


Sesaat, Rosma menenangkan dirinya yang masih shock mendengar kabar buruk tersebut. Benar nyata adanya kalau itu adalah kabar buruk untuk keluarga mereka.


"Kenapa bisa keguguran?" ucap Rosma, setelah menarik nafas panjang, lalu duduk kembali di sofa.


Carol, Jenny dan Shinta hanya menatap sengit tak berani menyela obrolan ibu dan anak tersebut. Suasana mulai menegang dan sangat serius.


"Pas kami jalan-jalan ke Toba mak, aku terjatuh ke tepi jurang!" Tanpa terasa, buliran bening sudah membasahi pipi Dira.


"Astaga, ya, Tuhan!" Rosma mengamit kedua tangannya ke kepala. Ia masih belum percaya dengan kejadian yang menimpa boru panggoarannya.


"Tenang, namboru!" Carol memberikan pundaknya, menyandarkan Rosma di pundak agar wanita yang rapuh itu memiliki penyanggah.


"Kenapa baru kau bilang sekarang, Dira? Mamak kan bisa merawatmu saat keguguran!" kata Rosma, mulai menunjukkan amarahnya.


"Ada inang di rumah, mak! Aku juga nggak mau bikin mamak sedih," balas Dira, menyeka air matanya yang terus saja mengalir.


Ia kecewa menjadi orang terakhir yang menerima kabar buruk tersebut. Bahkan, ia tak diberikan kesempatan untuk merawat boru sasadanya saat mengalami rasa sakit kehilangan seorang anak.


"Maaf, mak, saat itu aku juga merasakan kesedihan mendalam. Aku juga nggak sanggup menceritakan sama mamak!" sergah Dira.


"Iya, ngerti mamak, boru tapi setidaknya kau kasih kabar sama kami. Mamak kecewa samamu!" Rosma pun menangis tersedu-sedu, ia merasa seperti orang asing bagi putrinya sendiri.


Dira meraih tangan Rosma, menepuk punggung tangan sang mamak untuk menenangkan. Lalu, duduknya pun bergeser semakin mendekat. Ia mengambil alih tubuh Rosma yang terus saja menangis.


Memeluk mamaknya dengan kelembutan. Suara isak tangis keduanya pun membuat Sahat dan Defan penasaran. Keduanya langsung cepat membersihkan tangan dari sisa makanan yang menempel.


"Ada apa?" tanya Sahat setelah berlari menuju ruang tamu.


Dira dan Rosma menangis mengeluarkan peluh yang menusuk di dada. Seraya menyesali yang telah terjadi.


Defan yang melihat kejadian itu sudah menyangka kalau Dira sudah menyampaikan kabar buruk tentang kepergian anak mereka.

__ADS_1


"Amang, mungkin Dira sudah menyampaikan soal kabar buruk yang menimpa kami," beber Defan, menatap datar.


"Kabar buruk apa?" Sahat yang tidak tahu tentang apapun, hanya menatap tajam kedua wanita yang masih menangis terisak-isak.


"Dira keguguran, Amang. Maaf aku sudah lalai," jawab Defan, kepalanya menunduk, merasa putus asa sebagai seorang suami.


"Astaga!" seloroh Sahat, merasakan kesedihan yang menimpa anaknya.


"Kenapa baru kalian kabari sama kami? Kapan rupanya kejadiannya?" cecar Sahat, menatap sinis helanya.


"Dua minggu lalu, Amang. Maaf kami tidak ingin membuat amang dan inang merasakan kesedihan yang mendalam seperti yang kami alami," seloroh Defan panjang lebar.


"Kalian nggak menganggap kami orang tua? Sampai menyembunyikan hal sepenting itu?" erang Sahat, tak terima dengan sikap Defan yang tidak bijaksana sebagai seorang suami.


"Maaf, Amang, situasinya juga masih rumit bagi kami. Untung ada mamak yang merawat Dira," ucap Defan, tertunduk penuh penyesalan.


Sahat berjalan lemah menuju tempat duduk Dira dan Rosma. Ia duduk di samping Rosma, lalu memeluk istrinya dengan erat.


"Sudahlah! Yang sabar, mungkin ini sudah jalan Tuhan!" lontar Sahat menengahi.


Rosma yang tadinya masih dipenuhi rasa amukan dan amarah pada Dira, kini mulai mereda. Kata-kata suaminya sangat menenangkan.


"Mamak nggak nyangka, pak, Dira tidak memberi kabar sepenting ini pada kita. Malah kita orang terakhir yang mengetahuinya," sesal Rosma, menyeka air mata yang terus bercucuran.


"Itu karena si Dira juga merasakan kesedihan yang mendalam. Dia juga belum siap menyampaikan kabar buruk itu pada kita. Jangan jadi kita malah membebani pikiran boru dan hela kita itu!" jelas Sahat, menyampaikan pendapatnya.


Rosma pun menenangkan diri. Tangisnya sudah mereda begitu juga dengan Dira. Setelah tak ada isak tangis, obrolan mulai dilanjutkan. Defan ikut bergabung dan duduk di dekat istrinya.


"Maaf, amang, inang!" sesal Defan, tertunduk.


"Udahlah, yang berlalu biarkan berlalu," tegas Sahat.


"Jadi kayak mana kuliahmu, boru? Bisa kau ikuti?" tanya Sahat, mengalihkan topik pembicaraan agar persoalan tak semakin berlarut dan istrinya segera melupakan kejadian tersebut.


"Masih ospek kami, pak! Selama seminggu penuh. Setelah itu baru ada kegiatan belajar biasa," papar Dira, yang masih sesenggukan dampak menangis tadi.

__ADS_1


"Syukurlah!" Sahat tersenyum, seketika ia tak ingin mengingat persoalan keguguran yang menimpa boru panggoarannya. Ia tahu apa yang dirasakan oleh Dira saat kehilangan seorang anak.


__ADS_2