Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Rencana Tuhan


__ADS_3

Anggi dan Desman saling menatap, tak tahu mengapa Defan sampai melakukan itu.


"Ada apa sih?" cecar Melva tak sabaran, mengedarkan pandangan, mencari menantu yang tak kelihatan semenjak mereka datang.


"Entahlah ini si Defan! Malah berlutut dia di depan mamanya," keluh Desman.


"Ma, pak, maafin Defan, nggak bisa jagain Dira. Hari ini dia keguguran! Hiks ... hiks ..." Defan tak segan-segan mengeluarkan air mata, kesedihannya tak kuasa ditahan.


"Apa? Dira keguguran?" Melva langsung melemas mendengar pengakuan Defan.


Ia tak menyangka, hal itu bisa terjadi pada menantu kesayangannya.


"Kenapa bisa keguguran?" tanyanya lagi.


"Iya, kenapa kok bisa keguguran?" sambung Desman, cukup tertegun dengan pengakuan Defan.


Sementara, Anggi hanya terdiam, mengatupkan mulut. Responnya pun ikut terkejut dengan apa yang terjadi pada ipar satu-satunya.


"Itulah, kami pas jalan-jalan di Toba, Dira hampir terjatuh ke jurang. Untungnya berhasil kami selamatkan. Tapi korbannya, anak kami." Defan tertunduk, wajah sendu tak bisa disembunyikan lagi.


Melva menarik tangan putranya hingga ia berdiri, lalu memeluk untuk menenangkan. Lalu, saat ia mengendurkan pelukan, Ia menatap dalam wajah sendu Defan sembari menunjukkan senyum tipis.


"Tenang lah, nak! Itu semua sudah rencana Tuhan! Tidak bisa terelakkan lagi, bila belum rejeki, apapun caranya, Tuhan akan kembali mengambil anak itu."


Defan memeluk tubuh mamanya, menangis sekuat tenaga. Tak malu ia mengeluarkan suara terisak-isak, Desman bahkan ikut mengusap-usap punggung putranya.


Suara tangis Defan memecahkan ruangan, Dira sampai terbangun dibuatnya. Perempuan yang tak kalah sedihnya dengan sang suami hanya mengintip dari balik pintu. Mengedarkan pandangan, meneliti apa yang tengah terjadi di ruang keluarga.


Dira merasakan kesedihan mendalam sama yang dialami oleh Defan. Raut wajahnya tak bisa dipungkiri, rasa sendu itu seketika menghampiri.


Air mata sudah membanjiri pipinya, kehilangan anak yang belum sempat ia lihat wujudnya ternyata sangat menyakitkan. Dira mengusap dadanya, rasa sesak pun semakin terasa.


Ia tersedu-sedu melihat suaminya ada didekapan sang mama setelah membuat pengakuan yang mencengangkan.


"Maaf, bang defan!" lirih Dira menahan isak tangis agar tak semakin pecah, lalu kembali berbaring di tempat tidur.

__ADS_1


****


Di ruang keluarga, Defan baru saja menyeka air mata. Ia tahu ada yang memerhatikan sejak tadi. Bahkan, ia tak ingin melukai hati sang istri yang menangis dalam belenggu sang mama.


Setelah merasa tenang, Defan bersama keluarganya duduk di sofa. Menceritakan semua yang terjadi.


"Coba ceritakan dulu dari awal!" desak Desman, penasaran dengan apa yang terjadi pada keluarga kecil putranya.


"Intinya saat itu Dira terjatuh, pak. Saat kami berada di atas bukit, kakinya tak sengaja menyenggol sebuah batu sehingga tergelincir. Untung ada temannya yang menangkap tangan Dira jadi dia tidak jatuh ke jurang."


Defan terdiam sejenak memikirkan nasib kelam yang baru mereka alami. Menyiapkan kata-kata selanjutnya untuk menjelaskan kepada kedua orangtuanya.


"Kebetulan aku sedang jauh dengan Dira karena bertugas untuk memotret Dira dan teman-temannya. Setelah berjalan cukup jauh, aku berhasil menyelamatkan istriku, pak! Menarik tubuh Dira dari tepian jurang, pengunjung lain turut membantu kami setelah Dira selamat dari ancaman maut."


Defan menarik dan membuang nafas dengan susah payah. Tatapan nanarnya bergantian menoleh ke mama dan sang bapak. Sementara, adik bungsunya hanya menjadi pendengar yang baik.


"Jadi si Dira udah dikuret?" sambung Melva, sebab ia belum mengetahui kondisi menantunya.


Defan mengangguk kecil, lalu menundukkan kepala dengan perasaan sendu. "Langsung dikasih tindakan sama dokter di klinik sekitar tempat liburan kami, mam! Dokter bilang memang harus segera dikuret. Kami juga baru tahu saat di sana kalau Dira ternyata hamil."


Defan hanya mengangguk sembari menyesali semua yang telah terjadi. "Iya, mam! Karena belum ada tanda-tanda kehamilan Dira. Memang beberapa hari ini, dia makan banyak kali. Cuma aku juga nggak tahu kalau itu salah satu ciri-ciri kehamilan."


"Astaga!" sambar Desman.


Melva hanya terdiam sejenak, mengedarkan pandangan mencari sosok menantunya. "Di mana si Dira?"


"Di kamar, ma. Setelah minum obat langsung istirahat dan ketiduran. Kata dokter dia juga nggak boleh kerja berat-berat," imbuh Defan.


Melva langsung berdiri, menghampiri Dira yang pura-pura memejamkan mata saat tahu kalau mertuanya mendekati.


Melva duduk di tepian ranjang, ia ikut berduka atas kepergian cucu pertama mereka. Ditatap wajah Dira yang pura-pura tertidur, lalu mengelus tangan menantunya itu dengan lembut.


Dira memberanikan diri membuka mata. Ia tersenyum tipis pada mertuanya meski sejuta kekecewaan tersemat di wajah.


"Yang sabar, ya, sayang!" Melva langsung sigap meraih tubuh Dira yang hendak terduduk di atas ranjang, dipeluknya tubuh mungil itu.

__ADS_1


"Iya, Inang, maafin Dira nggak bisa jagain cucu untuk Inang dan Amang." Tanpa terasa, buliran bening kembali membanjiri pipinya.


Rasa peluh di dada tak terelakkan lagi. Ia semakin terisak saat mertuanya tengah mengusap-usap punggungnya dengan lembut.


"Nggak apa-apa, sayang. Itu tandanya belum menjadi rejekimu dan rejeki suamimu. Inang masih bisa sabar menunggu kehadiran cucu, yang terpenting kau dan Defan sehat-sehat," seloroh Melva, terus mengeratkan pelukan.


*****


Ketiga teman Dira sudah berada di rumah mereka masing-masing. Masih tersirat kesedihan yang mendalam pada ketiganya.


Carol terus melamun memikirkan sisa trauma yang dialami. Sementara, Jenny yang berbaring di atas ranjang juga masih terjebak dalam trauma yang baru mereka alami hari ini.


Tak kalah dengan Shinta, justru dirinya yang merasakan kekecewaan mendalam, trauma itu akan ia kenang sepanjang hidupnya. Isak tangis, wajah sendu, semua terlukis dalam pikiran Shinta.


Huft


Ketiganya membuang nafas kasar secara bersamaan meski di tempat yang berbeda. Dengan berat hati, mereka ingin menghilangkan memori ingatan tentang kejadian itu. Namun, usahanya tetap sia-sia, hal itu akan menjadi kenangan terburuk diantara mereka.


Mungkin, ketiganya tak akan pernah mau menginjakkan kembali kakinya di tempat itu. Sebab, tempat itu dirasa cukup mengerikan, menyisakan kenangan terkelam dihidup mereka.


*****


Dira mulai mengendurkan pelukan, menatap wajah mertuanya yang ikut merasakan kesedihan. Ia tahu, mertuanya juga merasakan kekecewaan karena apa yang diinginkan malah menghilang begitu saja.


*****


Defan, Desman, dan Anggi masih berada di ruang keluarga. Suasana seketika hening, Defan hanya melamun meratapi kekacauan yang terjadi pada dirinya.


Namun, Desman mencoba menenangkan putra semata wayangnya itu. Ia mencoba mengelus punggung Defan.


"Sudahlah, sekarang pikirkan istrimu agar dia cepat pulih. Yang berlalu, biarlah berlalu!" tandas Desman, memberikan pendapat.


Defan hanya terdiam, setelah bapaknya bersuara, ia teringat pada pekerjaan esok yang tak boleh terlewatkan.


"Pak, besok aku ada sidang tapi kondisi istriku belum baik. Apa bisa dialihkan ke pengacara lain?" tanya Defan, mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


__ADS_2