
Namun, Dira yang masih merebahkan diri di atas ranjang, rasanya sangat malas untuk mendapatkan sentuhan-sentuhan dari suaminya. Apalagi, saat ini ia masih merasakan kekenyangan karena menyantap nasi goreng serta mie goreng sekaligus.
"Sebentar lagi dong, Bang masih jam 9 malam kok ini, kan masih panjang waktunya. Mungkin hari ini kita harus begadang kalau Abang mau mendapatkan jatah," papar Dira, dengan senyum lebar.
"Astaga, kok lama sekali sih," keluh Defan, tak sabaran seraya menggelitik pinggul istrinya, setelah ia duduk di tepi ranjang.
"Iya sabarlah, Bang masih kekenyangan aku, sudah santai dulu Abang di situ istirahat sejenak. Apa mau dipijitin?" tawar Dira, menatap lekat sang suami.
"Boleh juga tuh," usul Defan, lalu ia meregangkan tubuhnya dan mendekati istrinya agar perempuan itu segera duduk sehingga memijit punggungnya yang terasa terasa melelahkan seharian penuh.
"Yaudah cepat nih pijit lah, Yang capek kali badan aku nih," sosor Defan makin tak sabaran, lalu menyondongkan punggungnya agar Dira segera meraih.
Tanpa banyak bicara, Dira melakukan aksinya untuk memijat pria itu, ia setengah berjongkok, meregangkan tangannya, lalu menunjukkan keahliannya untuk memijat punggung suaminya dengan kencang agar lebih terasa di tubuh Defan.
Sedikit-sedikit, sentuhan itu malah menjurus meraih leher jenjang suaminya hingga ada adegan meraba-raba sehingga membuat tubuh pria itu bergidik dan meremang. Defan menyematkan senyum tipis karena semakin yakin bahwa tawaran untuk memijit itu adalah salah satu trik Dira untuk meningkatkan hawa nafsunya.
"Kayaknya ada yang sengaja mau mijit, Abang! Pura-pura alasannya ngasih pijitan padahal sebenarnya mau goda-goda, kan," ledek Defan sembari senyum-senyum sendiri.
"Ih, kepedean ... siapa juga yang mau goda-goda, Abang sih!" gerutu Dira sembari memijit punggung suaminya dengan keras agar pria itu kesakitan.
"Awww! Pelan-pelan lah, Yang! Sakit tahu," erang Defan.
Dira memijit tubuh suaminya dengan keras, lagi-lagi kejahilannya muncul. Tak lama, ia meraba leher suaminya hingga menjurus ke dada bidangnya. Kemudian dari belakang, Dira menciumi ceruk leher suaminya dengan gemas sehingga pria itu merasakan sensasi tubuh yang meremang.
__ADS_1
"Sayang, giliran diajak kayak gituan aja nggak mau. Malah nolak tapi malah goda-goda aku terus," sesal Defan, lalu menggendong tubuh istrinya dan menghadapkan ke depan wajahnya.
Tanpa basa-basi, Defan langsung melumatt bibir tipis istrinya dengan kedua tangan yang dilingkarkan di leher jenjang Dira. Ciuman itu semakin larut dan semakin dalam.
Mereka berdua menikmati pagutan yang tak kunjung mau terlepas, malam itu terasa syahdu dan nikmat bagi mereka berdua.
Tak ada suara yang keluar dari mulut keduanya, Defan semakin dalam menjelajahi rongga mulut Dira. Keduanya bertukar shaliva, dengan kepala yang bergantian bergerak ke kanan dan ke kiri.
Dira semakin lihai untuk memainkan lidah agar bisa mengapit lidah suaminya. Tak lama, saat keduanya semakin larut dan semakin terasa meningkatan gairah, tiba-tiba saja Dira mendorong tubuh suaminya.
Sontak pagutan itu terlepas begitu saja, membuat Defan mengerang dan menyesalkan kejadian itu. Raut wajahnya seketika berubah tapi tak lama ia menarik ceruk leher istrinya lalu kembali melumatt bibirnya dengan lebih dalam, saat keduanya berada di dalam pembaringan.
Dira pun menikmati setiap lumatann demi lumatann. Tak hanya itu, tangan Defan juga mulai menjejelajah ke sepasang gunung kembar milik istrinya. Ia meraba semakin dalam hingga mereka berdua merasakan sensasi yang makin meningkatkan gairah. Tak lama, tanpa adanya gangguan, keduanya melakukan penyatuan.
Sebelum melakukan penyatuan antara suami istri, Defan sempat menyematkan doa agar Tuhan mewujudkan impiannya yaitu dengan mengirimkan anak kecil di antara keluarga kecil mereka.
Sekali penyatuan ternyata belum memuaskan bagi Defan, bahkan ada ronde kedua hingga ronde ketiga sampai berakhir pada pukul 1 malam. Mereka berdua benar-benar begadang sesuai permintaan sang istri.
Hingga selesai ronde ketiga, akhirnya Dira merasakan kelelahan, mungkin saja itu terjadi karena sudah beberapa hari tidak melakukan hubungan intim.
Sementara pria itu malah merasa ketagihan terus hingga meminta jatah terus-terusan pada istrinya.
"Abang, please lah udahan. Aku udah capek nih, cukuplah tiga kali saja." Dira mengingatkan suaminya agar tak lagi meminta jatah, tubuhnya seakan remuk terus bergoyang sepanjang malam.
__ADS_1
"Hehehe ... Abang, juga udah capek kok, Yang. Yaudah, kita istirahat aja." Defan menarik selimut menutupi tubuh keduanya, terutama menutupi tubuh istrinya yang masih toples karena ia masih terkulai lemas akibat tiga kali diserang oleh suaminya secara berturut-turut.
Dira memang tak bisa menolak keinginan suaminya, apalagi ia juga merasakan sensasi kenikmatan yang cukup memuaskan saat penyatuan dengan sang suami. Oleh karena itu, hingga tiga kali ronde pun ia tetap meladeni untuk memenuhi hasrat suaminya.
****
Dira terbangun kesiangan karena merasa lelah memberi pelayanan saat tadi malam pada suaminya. Bahkan, ia terus-terusan diserang oleh suaminya.
Saat ini, ia terbangun tepat pada pukul 8 pagi, padahal kelasnya ada di jam 7 pagi. Dira berteriak histeris saat ia bangun kesiangan.
Lain hal dengan Defan, pria itu justru masih terlelap tidur saat istrinya sudah terjaga dan berteriak seorang diri.
"Abang, bangun sudah jam 8 loh," teriak Dira, seraya menggoyang-goyangkan paha suaminya.
Baru kali ini, Dira bangun terlalu kesiangan hingga akhirnya membuat ia membolos untuk jadwal kuliah pertama. Tak berselang lama, Dira bergegas memasuki kamar mandi. Ia membersihkan diri dengan waktu yang singkat, setelah jadwal kelas pertama ia juga harus mengikuti kelas kedua yang akan diisi oleh dosen Maudy.
Sebab, dosen Maudy sudah memerintahkan bahwa hari ini ada pengumuman nilai saat ujian dadakan mereka kemarin. Dira tidak boleh melewatkan kesempatan ini, apalagi dosen Maudy akan memberikan hukuman pada siapapun yang memiliki nilai jelek dari hasil ujian mereka.
Setelah selesai mandi, ternyata Defan tak kunjung terbangun dari tidurnya. Dira langsung menarik selimut dan berteriak di samping telinga suaminya agar pria itu segera terbangun.
"Abang, bangun! Cepetan mandi ini sudah jam 08.10," kata Dira dengan sedikit berteriak.
Defan akhirnya membulatkan kedua bola mata, lalu ia menatap istrinya dengan mata menyipit. Tak lama matanya beralih menatap jam di dinding. Betapa terkejutnya Defan, saat melihat jam saat ini sudah menunjukkan pukul 08.10 pagi.
__ADS_1
"Astaga, Sayang kenapa nggak bangunin Abang, ini sudah jam 08.10 seharusnya Abang sudah berada di kantor." Devan mengucek-ngocek bola matanya dan memastikan jam di dinding tidaklah salah.