Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
tersungkur


__ADS_3

Defan menatapnya dengan tajam. Mukanya sangat serius, membuat Dira bergidik ngeri mendapat sorotan yang menyeramkan.


"Siapa suruh narik-narik aku," ketusnya seraya mengacak-acak rambut Dira karena rasa kesalnya.


Dira malah tak marah rambutnya diacak-acak, justru hatinya meleleh ketika Defan memperlakukannya seperti itu. Gadis mana yang tak akan terlena ketika diperlakukan hal kecil namun istimewa seperti itu?


Sama halnya dengan Dira, baru kali ini ada lelaki yang memperhatikannya. Mengacak rambutnya dengan lembut, membuatnya hatinya luluh.


"Heh malah bengong," sindir Defan seraya menoel hidung Dira dengan lembut.


Ahhh rasanya Dira semakin melayang, lagi-lagi mendapatkan perlakuan yang membuat hatinya bergetar serasa ada yang nyetrum.


Ih abang ini kenapa sih? Tumben sok dewasa! Nggak ngamuk-ngamuk malah ngasih perhatian gitu!


Kesal Dira dalam gumamannya. Dira hanya terdiam mendapatkan perlakuan kecil sebagai bentuk perhatian dari Defan.


"Udah ah, aku kesana sendiri aja," celetuk Dira seraya membalikkan tubuhnya, membelakangi Defan, kemudian berjalan gontai ke arah bibir pantai.


"Tunggu!" teriak Defan dari kejauhan.


Setelah berpikir dalam diamnya, Defan akhirnya memilih mengikuti Dira bermain air laut dipinggiran pantai.


Dira menoleh ke belakang setelah mendengar teriakan paribannya. Ia tersenyum tipis setelah Defan merubah pikirannya untuk bermain dibibir pantai.


Dengan rasa malas, Defan melangkah dengan lebar, mengekorinya dari belakang.


"Ayo bang buruan," ucap Dira berlari kembali ke belakang, menarik dan menggenggam tangan Defan begitu erat, serta wajahnya menggulum senyum simpul.


"Shiiittt!! Anak ini kenapa terang-terangan sih, udah digalakin masih aja nyari perhatian. kalau terus begini bisa jatuh cinta beneran aku," batinnya sembari menerima genggaman tangan Dira.


Dira berlari dengan gembira, terpaksa Defan harus mengekorinya berlari agar tidak ada salah satu yang terjatuh.


"Berenang yuk bang," ajak Dira yang tertarik dengan dinginnya air laut.


"Nggak ah, nggak bawa ganti," seloroh Defan menolak ajakan tersebut. Sebenarnya ia malas sekali jika bajunya basah, apalagi sudah menjelang sore hari.


"Yaudah jalan-jalan aja bang, tapi dipinggirannya. Kan abang pakai celana pendek jadi nggak basah kok," pinta Dira memperlihatkan trik memelasnya.


"Yaudah. Tapi jangan nyiprat-nyiprat ya!" selanya.


"Okaii bos," balas Dira mengerling.


"Hush matanya jangan sering kaya gitu dong! Genit amat," singgung Defan merasa tak nyaman setiap kali Dira mengedipkan matanya.


Mereka berjalan santai dibibir pantai, sesekali kakinya terkena air dari sisa desiran ombak. Tanpa terasa Dira dan Defan terus bergandengan tangan. Mereka terenyuh saat menikmati siraman ombak.

__ADS_1


"Eh maaf bang, Dira lupa lepasin tangan abang hehehe," sesalnya sembari melepaskan ikatan tangan mereka.


"Oh iya, abang juga lupa kalau tangannya digenggam," kekeh Defan tak mau membuat suasana semakin canggung.


"Gitu dong bang, banyakin senyum," ledek Dira.


"Kalau abang sering-sering senyum nanti kau jadi suka," celetuk Defan, mulai menggiring-giring perdebatannya.


"Yeeeee siapa juga yang suka pria tua kaya abang hahahahah," cibirnya secara terang-terangan.


"Awas ya kalau sampai jatuh cinta," celetuk Defan tak mau kalah, ia mendekati Dira lalu mengacak-acak lagi rambutnya dengan lembut.


Wajah Dira memerah seketika. Ia malu-malu menatap wajah Defan. Dan memilih memalingkan wajahnya dari sorotan tajam suaminya.


Dira berjongkok, mengambil sedikit air laut lalu menyipratkannya ke wajah Defan.


"Upsss sorry bang, adek lupa hahahaha," goda Dira dengan suara manjanya, kemudian berlari takut mendapat balasan siraman air dari suaminya.


"Awas kau yaaaa!! Sini jangan kabooor," teriak Defan mengejar Dira ditepian pantai.


Lari Dira begitu kencang, sampai Defan tak mampu menyainginya. "Diraaa!! Siniii!!!" teriaknya lagi.


Dia mengatupkan kedua tangannya, mengambil air dari bawahnya dan menyiramkan ke arah Dira.


"Yeeeee nggak kenaaaa! Hueeekkk," ledek Dira seraya mengeluarkan lidahnya.


Apakah momen itu berlangsung lama?


Eitsss tentu tidak kawan🤫😅


"Awas yaaa!!" Defan berlari sekencang-kencangnya.


Tanpa Defan sadari larinya begitu kencang tak bisa dihentikan lagi. Padahal Dira sudah berada didepannya. Namun Defan malah hilang keseimbangan tubuhnya.


Brukkkkkhhh!!!


Defan tersungkur menabrak Dira. Mereka berdua jatuh kebawah pantai mengenai air laut.


"Awwww sakit bang," decit Dira saat badannya tertindih oleh tubuh Defan.


Dengan sigap Defan menggulingkan badannya kesamping agar Dira tak kesakitan.


"Tuhkan jadi basah! Lagian kau sih melanggar perjanjian," keluh Defan bernada sinis.


Defan merentangkan tubuhnya diatas pasir pantai, sesekali desiran ombak menyorot mereka. Basah sudah seluruh pakaian yang pasutri itu kenakan.

__ADS_1


Sementara Dira malah bergembira saat tubuhnya tergenang air, sesekali ia menenggelamkan tubuhnya ke dalam air laut. Dari tadi ia ingin sekali berenang di pantai itu. Akhirnya keinginannya tercapai meskipun harus melalui sebuah accident.


"Ih ayo pulang," ajak Defan dengan ketus, ia mulai beranjak dari tidurnya diatas pasir pantai.


Amarah Defan meningkat lagi. Moodnya langsung ambyar. "Ayo buruan!" bentak Defan bernada tinggi.


Huuuhh ngamuk lagi deh! Nggak bisa santai dikit napa!!


Dira menggumamkan isi hatinya. Kemudian beranjak dari pinggiran laut.


"Abang bentar lagi aja pulangnya yaa!! Please, kita nunggu sunset dulu, kan hotelnya juga dekat dari sini," rengek Dira memelas. Raut wajah yang ditunjukkannya pun terlihat sedih.


Sayang, Defan tidak akan termakan buaian gadis kecilnya. Ia merasa tak nyaman dengan bajunya yang basah semua.


Untung nggak bawa apa-apa kesini! Hanya duit disaku buat jaga-jaga! Kalau bawa ponsel, udah mati tuh ponsel!


Gerutu Defan dalam batinnya. Beruntung sebelum keluar dari mobil, sopir mereka sudah memperingatkan agar tak membawa apapun baik barang maupun ponselnya.


Saat ini, Defan tak mau memarahi istrinya didepan khalayak ramai. Sore itu sudah banyak pengunjung yang menunggu persiapan menonton matahari tenggelam.


"Pulang sekarang!" berang Defan tak mau mendengar alibi apapun.


"Please bang. Tinggal 20 menit lagi kok," imbuh Dira setelah melirik jam tangannya.


"20 menit itu lama ya, keburu aku kedinginan. Udah buruan pulang! Kalau nggak, aku tinggalin kau disini," dengusnya berwajah murka nan dingin.


Balik lagi deh sifat aslinya. Hadeh, nggak bisa lihat orang luluh bentaran aja! Laki-laki nyebelin huhhh


Defan terus mendapatkan cibiran dihati Dira. Kali ini, Dira harus melewatkan momen sunset di Pantai Kuta. Melihat wajah Defan yang begitu murka, ia semakin takut dan khawatir.


Huh memikirkan amukan Defan saja sudah membuat dirinya bergidik ngeri. Terlebih jika mendengar kata-kata tajam dari mulutnya akan menusuk jantungnya bertubi-tubi.


Defan sudah berjalan meninggalkan Dira yang termenung seorang diri. Berharap Defan akan luluh, nyatanya itu tidak akan pernah terjadi.


Dengan rasa kesalnya, Dira mengekori suaminya dari belakang. Meski ia berjalan dengan ogah-ogahan.


Sedangkan Defan berjalan mencari mobil mereka di parkiran, tempat awal saat tadi diturunkan.


"Pak ayo berangkat," titah Defan bernada tinggi serta membanting pintu mobilnya karena rasa kesal yang memuncak.


"Bentar pak, ibu Dira belum masuk," bantahan supir malah meningkatkan amukannya.


Tapi Defan tak mau meluapkan pada orang yang baru dikenalnya. Ia lebih memilih diam.


"Maaf pak, lama," kata Dira seraya menutup pintu mobilnya. Ia benar-benar ketakutan dengan sikap suaminya, apalagi saat melihatnya membanting pintu mobil tadi.

__ADS_1


"Kenapa nggak sekalian nunggu sunset aja pak, bu? Kan sudah basah juga bajunya," tanya supir yang tak bisa membaca situasi saat ini.


Dira kebingungan harus menjawab atau tidak pertanyaan dari supir tersebut. Karena semuanya diam, sang sopir mencoba melirik kedua pasturi yang saling memalingkan wajah dari broadway mirrornya.


__ADS_2