Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
orang yang menyenangkan


__ADS_3

"Tapi anda tidak mendengar kabar atau tidak mengetahui sistem dalam situs tersebut? Sepertinya tidak mungkin kalau anda melihat grafik sistem investasi saham itu, karena sudah jelas itu seperti permainan judi online!" pungkas Jaksa, menatap seolah meremehkan.


"Masyarakat awam seperti kami tidak tahu menahu soal judi online! Maraknya investasi saham membuat kami tergiur, apalagi iming-iming keuntungan yang bukan main-main!" balas Mariner.


"Yang Mulia, Jaksa Penuntut Umum terlalu mengada-ada, saya ingin giliran saya menanyakan pada saksi," sanggah Defan, mengacungkan jari telunjuk.


"Baik, silahkan pengacara menanyai saksi." Hakim Ketua memperbolehkan mengganti posisi Jaksa Penuntut Umum.


"Saksi, kerugian apa saja yang anda dapatkan?" lontar Defan.


"Kerugian secara materil dan moril. Materi yang kami keluarkan tidak sedikit tapi pemerintah mengambilnya secara cuma-cuma. Sedangkan secara moril, kami menjadi olok-olokan masyarakat dan diremehkan! Seperti jaksa tadi," tegas Mariner.


"Yang Mulia, bisa dengar? Mereka sangat dirugikan, kami minta agar uang korban tetap dikembalikan!" desak Defan.


"Tenang ... Tenang." Hakim Ketua mengetuk palu hingga tiga kali.


"Kami belum bisa memutuskan persidangan ini, sidang lanjutan akan kita gelar pekan depan! Saya menginginkan bukti yang lebih akurat agar uang korban bisa benar-benar dikembalikan!" tandas Hakim Ketua, menutup persidangan hari ini dengan ketukan palu hingga tiga kali.


Hasil persidangan belum diputuskan, Hakim Ketua dan Majelis Hakim bersepakat untuk melanjutkan pada sidang kedua. Sebab, tidak ada titik terang, antara pengacara dan jaksa sama-sama memiliki pendapat yang kuat.


Mariner dengan wajah kecewa beranjak dari kursi. Ia menghampiri Defan di tempatnya. Tatapannya penuh kekecewaaan, meski Defan membalasnya dengan tatapan datar.


Bahkan, Defan sudah mengetahui persidangan itu akan berlanjut bahkan tidak tahu hingga sesi keberapa. Ia sendiri sangat optimis untuk memenangkan sidang kasus perjudian online.


"Maaf, Pak Mariner, lain kali bawakan kami bukti yang lebih kuat lagi. Tentunya sebelum pekan depan!" ungkap Defan, menyambut uluran tangan Mariner di ruang persidangan.


Para Hakim Ketua, Majelis Hakim, Jaksa Penuntut Umum, Panitera, serta beberapa tamu persidangan yang datang telah meninggalkan ruang sidang. Hanya tinggal Defan, Mariner serta beberapa orang yang perwakilan SKJO yang masih bertahan.


"Kami akan usahakan, pak! Yang terpenting bapak harus optimis kalau kita bisa memenangkan sidang ini," seloroh Mariner, menghentakkan tangannya saat berjabatan dengan Defan.


"Mudah-mudahan kita bisa menang, pak! Untuk hari ini memang masih sulit, jaksa sangat tegas dengan pendapatnya. Saya sudah memprediksi kalau persidangan ini harus berkali-kali digelar. Negara seakan-akan mengulur waktu," sahut Defan.

__ADS_1


"Saya mengerti pak, negara tidak ingin rugi, mengembalikan uang yang berhasil mereka rampas dari korban masyarakat kecil seperti kami!" balas Mariner.


"Kalau begitu, hari ini kita sudahi dulu. Saya akan menunggu bukti-bukti lain dari SKJO. Saya harap buktinya lebih kuat lagi. Silahkan antar ke kantor kami, pak!" imbuh Defan, melepaskan jabatan tangan keduanya.


Mariner mengangguk, disisi lain ia justru sedang memikirkan bukti apalagi yang harus diserahkan kepada pihak pengacara. "Terima kasih, pak! Kalau begitu kami permisi dulu," pamit Mariner.


Defan juga segera keluar persidangan didampingi oleh Juni. Ia bahkan tak berniat untuk kembali ke kantor. Sesuai dengan arahan CEO S.N.G Lawfirm, Defan diperbolehkan langsung pulang, bekerja dari rumah pun tak masalah.


"Jun, kau urus semua pekerjaan yang belum sempat ditinjau. Pilih-pilih kasus yang masuk, jangan asal terima!" tukas Defan.


"Kenapa, pak? Loh, apa bapak tidak ke kantor?" timpal Juni, menatap bosnya dengan tajam.


Defan menggeleng seketika, langkah kakinya semakin cepat. Ia ingin segera tiba di rumah.


****


Ting ... Tong...


"Dir!" panggil Jenny, sedikit berteriak.


Melihat mertua Dira masih sibuk di dapur, ketiga gadis remaja itu langsung mengulurkan tangan. Menjabat tangan Melva dengan sopan, mencium punggung tangan wanita yang bertubuh sedikit gempal itu.


"Cepat juga kalian datang!" kata Melva, memberi sapaan untuk ketiga remaja itu.


"Hehe! Iya, namboru! Memang sudah rencana kami mau menjenguk Dira, makanya cepat siap-siap dan langsung datang ke sini," sahut Jenny antusias.


Dira baru saja tiba di dapur. Ia mendengar suara ribut-ribut dari sana, semakin yakin bahwa ketiga temannya langsung menyambangi mertuanya untuk memberikan sapaan.


Melihat ketiga temannya yang asik mengobrol dengan sang mertua, Dira langsung mendekati. "Cepat kali kelen sampai!" celetuk Dira, menyambut ketiga temannya dengan sapa-sapa manja ala remaja, mencium pipi kiri dan kanan bergantian.


"Sana bawa kawanmu, Dir, di ruang keluarga aja. Biar nanti Nena yang siapkan minum dan snacknya," tutur Melva.

__ADS_1


Sedari tadi, Melva masih sibuk mempersiapkan bahan masakan. Kebiasaannya sangat suka memasak berbagai macam menu. Tidak di rumahnya sendiri, bahkan di rumah menantunya ia sangat senang jika direpotkan.


Terlebih, usahanya tak akan sia-sia mempersiapkan banyak makanan lantaran teman-teman Dira juga hadir di rumah ini.


"Na, bikinkan minum sama bawakan snack, ya!" titah Melva, setelah Dira dan ketiga sahabatnya berpindah tempat.


****


Di ruang keluarga, Dira bersama tiga remaja itu telah bergurau. Tak hanya itu, kesedihan yang menggeluti di pikiran Dira seketika menghilang setelah kehadiran tiga orang rempong yang memeriahkan rumahnya.


"Kau baik-baik aja kan, Dir!" ucap Shinta, meneliti tubuh Dira yang duduk dengan santai, tak ada kesakitan secara fisik yang terlihat.


"Nggak apa-apa kok! Aku sudah sehat!" Dira berdiri, membentangkan tangan, lalu memutar tubuhnya, menunjukkan tubuh yang memang baik-baik saja.


"Kok cepat kali sembuhnya," timpal Jenny terkekeh kecil.


"Jadi kau mau aku terus sakit?" cecar Dira, menatap sengit wajah Jenny.


"Ya, nggaklah! Siapa sih yang mau lihat sahabatnya sakit!" ujar Carol, merangkul pundak Dira yang duduk di sampingnya.


"Cuma si Carol sama Shinta yang peduli samaku. Kalau si Jenny suka kali meledek," tampik Dira, memberikan candaan.


"Elaaah! Gitu aja kau merajuk." Jenny menoel pipi Dira dengan gemas.


Keempat wanita itu tertawa terbahak-bahak. Dira sangat bahagia dikelilingi orang-orang baik dan peduli. Seperti ketiga sahabatnya itu, selalu ada buatnya bahkan membuat dirinya menjadi orang yang menyenangkan.


*****


"Hari ini saya tidak ke kantor. Istri saya sedang sakit. Saya serahkan dulu semuanya kepadamu. Urus pekerjaan yang belum sempat saya sentuh!" kata Defan, memberikan arahan.


"Baiklah, pak! Kalau begitu saya akan ke kantor! Semoga istri bapak cepat sembuh," pamit Juni, dirinya dan Defan berpisah di depan gedung pengadilan.

__ADS_1


Defan langsung berjalan menuju perpakiran. Buru-buru masuk ke dalam, ia menancapkan gas meninggalkan pengadilan kota medan.


__ADS_2