Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Ditaklukkan


__ADS_3

Dira mengangkat tinggi ponselnya, berharap pria itu kembali menghubungi. Namun, tak ada panggilan ataupun tawaran untuk sekedar bertanya pesanan makan malam ini.


Dira pun termenung di atas ranjang. Memerhatikan langit-langit. Ia membayangkan kalau pria dingin itu sudah kembali ke pelukannya.


Drrrtt Drrtt


Ponsel Dira bergetar, membuyarkan lamunannya saat itu juga. Saat di lihat pada layar, orangtuanya menelepon.


"Halo, pak, ada apa?" tanya Dira melalui sambungan telepon itu.


"Gimana kabarmu boru?" Sahat bersama Rosma duduk bersebelahan.


"Sehat pak, bapak sama mamak sehat?" ucap Dira.


"Sehat kami boru, gimana kabar hela itu?"


"Sehat pak, belum pulang orangnya."


"Ada yang mau bapak bilang, boru! besok kami pindah rumah. Bapak sudah beli rumah yang agak baguslah sikit."


"Ada uang bapak?" Dira menunggu jawaban itu.


"Iya boru, sisa sinamotmu yang dulu itu kami simpan. Nggak apa-apa kan? Kami pakai untuk beli rumah. Rumah lama kita nanti dijual, uangnya bisa ditabung untuk sekolah ito-itomu," terang Sahat sekaligus meminta izin pada boru panggoarannya itu.


"Nggak apa-apalah pak! Lagian rumah itu terlalu sesak. Mau kubantu besok bapak sama mamak pindahan?" tawar Dira.


"Nggak usahlah boru, ini mamakmu mau bicara." Sahat memberikan telepon itu pada Rosma.


"Halo, boru?" Rosma sangat gembira ketika menyapa boru panggoarannya.


"Sehatnya, mamak?" Dira pun ikut melayangkan senyuman walau mereka tak saling tatap.


"Sehat, boru! Jadi kek mana suamimu? Udah jadi kelen bikin cucu untuk kami?" tanya Rosma yang terkekeh seorang diri.


"Sudah, mak," jawab Dira singkat.


"Kau udah mens belum?"


"Belum mak! Apa masih pengaruh KB itu?" Dira pun menatap langit-langit semakin tajam, memikirkan efek KB yang hampir dua tahun dipakai.


"Biasanya nanti kalau nggak jadi kau hamil, mens itu. Tapi kalau kau hamil, ya nggak dapat mens sampai beres kehamilanmu. Tapi memang sudah nggak suntik lagi kau kan?" Rosma memastikan kembali.


"Nggak mak, memang lupa kali aku setelah ujian akhir sekolah!"


"Yaudahlah, jaga diri. Sebelum dapat mens, jaga perutmu! Siapa tahu tiba-tiba kau hamil!" tandas Rosma.

__ADS_1


"Baru juga sekali mak!" lirih Dira malu-malu.


"Sekali pun, kalau patennya benih suamimu, bisa itu langsung jadi!" pungkas Rosma.


"Yaudahlah, kalau besok kau mau lihat rumah baru kita, datang kau kesini ya!" Rosma menyampaikan proses kepindahan itu saat menjelang siang.


"Oke mak, besok aku mau datang! Penasaran aku mau lihat rumah baru kita!"


******


"Mau mampir, pak?" tawar Juni setelah berada di depan kost-kostan miliknya.


"Engga, saya pulang dulu!" balas Defan langsung menutup jendela kaca yang ditempati oleh Juni tadi.


Juni pun berdiri diam, menunggu kepergian sang bos. Ia menyibakkan senyum lebar di sudut bibir.


"Hati-hati pak! Terimakasih!" kata Juni seraya melambaikan tangan saat mobil itu berputar arah.


Defan tak memedulikan wanita itu. Ia langsung melaju kencang, sebab di rumah, Dira menantikan kepulangannya bahkan sudah merajuk. Selama perjalanan, Defan memikirkan bagaimana cara meluluhkan hati istrinya pada malam itu.


Saat di perjalanan pulang, Defan melihat para penjual bunga segar di sepanjang jalan. Ia semakin yakin untuk membeli buket bunga pada Dira sebagai permintaan maaf.


Defan menginjak pedal rem kaki, ia langsung menghentikan laju mobil itu mendadak, mengarahkan ke tepian jalan. Setelah memastikan aman posisi parkir, Defan langsung turun menyambangi salah satu penjual bunga tersebut.


"Bang, bunga mawar merah satu buket ya!" ujar Defan meyampikan pesanan.


"Biasanya, berapa untuk satu buket?"


"Yang kecil bisa 20 tangkai, yang besar bisa 100 tangkai!"


"Yang kecil ajalah bang!" Defan pun menunggu penjual bunga itu merangkai buket miliknya.


Tak menunggu waktu lama, kelihaian penjual bunga membuat Defan takjub.


"Pakai kartu ucapan nggak, bang?" tawar sang penjual.


"Bolehlah, bang!" Defan berpikir sejenak, kata-kata apa yang pantas tertulis dalam kartu ucapan.


"Apa ditulisannya, bang?" tanya lagi penjual itu.


"Maaf, sayang, aku terlambat pulang! Semoga kau suka bunga ini!" Defan pun malu-malu mengucapkan hal itu.


"Duh, mesra kali, bang!" goda penjual bunga itu.


Defan hanya melebarkan senyuman. Setelah selesai, ia mengambil bunga tersebut dan melakukan pembayaran. Bunga mawar merah yang segar dan wangi. Defan saja menyukai bunga itu, apalagi sang istri?

__ADS_1


*****


Dira termenung lagi setelah panggilan telepon bersama kedua orangtuanya terputus. Ia juga memikirkan cara bagaimana mengajak suaminya untuk liburan sesuai dengan permintaan para sahabatnya. Apalagi, saat ini ia sedang mode merajuk.


Namun, saat memikirkan itu, perut Dira pun memunculkan suara grok-grok menandakan ia tengah kelaparan. Sudah jam 8 malam, Dira tak juga melihat kedatangan pria gagah dan tampan miliknya.


Dira beranjak, melangkah gontai ke arah dapur. Mencari sisa makanan tadi siang tapi ternyata dia baru ingat kalau makanan itu telah ludes.


Hufft


Dira membuang nafas kasar. Ia kecewa tak ada lagi makanan yang tersisa di dapur maupun kulkas. Bahkan, mie instant saja juga tidak ada.


"Malas kali mau keluar malam-malam begini!" desah Dira mengacak-acak rambut lantaran kesal hingga ke ubun-ubun.


Ceklek


Suara tarikan daun pintu mengalihkan pandangan Dira. Ia menatap pria yang sedang menyembunyikan sebuket bunga di belakang punggung.


"Lagi apa, Dir?" Defan menghampiri istrinya, lalu ingin menciumi pipi itu dengan lembut. Nyatanya, Dira mengelak saat Defan hendak mendaratkan satu ciuman saja.


"Apa sih, bang!" racau Dira kesal.


Dengan terpaksa, Defan pun mengulurkan buket bunga kehadapan gadis kecil itu. "Ini untukmu. Maafin, abang ya! Telat pulang tanpa berkabar," kata Defan sedikit meluluhkan hati Dira.


Namun, perempuan itu masih merasa jengkel karen rasa lapar yang mendera. Bunga justru tak bisa membuatnya kekeyangan dalam waktu sekejap. Entah mengapa, rasa lapar pasti membuatnya menguras emosi.


Dira mengambil bunga dari uluran tangan Defan. Hanya menatap, tanpa menciumnya. "Bukan ini yang aku pengenin bang!" gerutu Dira kesal.


"Lalu apa?" tanya Defan mematung dihadapan istrinya.


"Waduh, salah lagi aku," gumam Defan menyesali pilihannya.


"Aku LAPAR!" dengus Dira penuh penekanan.


"Yaudah, ayo kita cari makan di luar!" ajak Defan, ia langsung menyimpan tas dan jas di kursi ruang tamu.


"Ayo, tunggu apalagi? Kok malah diam?" Defan pun semakin kikuk melihat tingkah sang istri dengan raut wajah penuh amarah.


"Ayo!" tandas Dira tanpa mengganti baju lebih dulu, ia tetap mengenakan piyama untuk tidur.


"Nggak mau ganti baju dulu?" usul Defan.


Suasana mereka berdua sangat tengang dan dingin, padahal Defan sudah bersusah payah untuk meluluhkan hati Dira. Usahanya tidak berhasil, gadis kecil itu sangat sulit untuk ditaklukkan.


"Nggak!" Dira melongos begitu saja, keluar dari rumah. Defan sampai tertatih mengejar kepergian Dira tanpa membawa apapun.

__ADS_1


"Tunggu sayang!"


__ADS_2