
"Oh gitu! Kirain kelen lagi bertiga ketemu makanya mau mampir. Nantilah dipikirkan dulu! Udah ya, aku mau pergi dulu nih," pamit Dira mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Dir–Dira?" Shinta melihat ponselnya yang ternyata sambungan teleponnya baru saja mati.
"Yeee! Orang belum beres ngomong udah dimatiin aja," gerutu Shinta menatap lekat ponselnya yang layarnya sudah mulai gelap.
Shinta langsung berkirim pesan di grup watsapp mereka. Mendesak agar Dira membuat acara penyambutan memasuki rumah baru. Tentunya dilaksanakan dihari libur begini. Agar mereka lebih leluasa untuk bermain hingga malam.
Shinta
Woi, kacau kali si Dira memang! Belum beres orang bicara udah dimatikannya teleponku. Dir, hari inilah bikin acaranya!
Carol
Iya Dir, bikinlah acara selamatan penyambutan rumah baru! Kami juga penasaran kayak apa rumahmu huhu.
Jenny
Iyaloh! Padahal dia udah janji akan ajak kita main ke rumahnya. Masa pindah ke rumah baru nggak ada kemek-kemek hahahaha
Dira hanya melihat notifikasi di layar ponselnya. Ponsel itu terus berdering dari notifikasi pesan yang masuk.
Defan dan Dira masuk ke dalam mall. Dira pun memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya tentang pertanyaan sahabatnya tadi. "Bang, tadi kawanku nelepon. Nanya, kok nggak ada acara selamatan penyambutan rumah baru."
Dira melirik suaminya dengan takut-takut sembari berjalan menyusuri mall. Menunggu sampai suaminya itu membalas ucapannya.
"Untuk apa ada acara kayak gitu?" Defan mengedarkan pandangannya, bingung mau kemana arah tujuannya.
"Namanya juga baru pindah bang. Biar orang-orang tahu kalau kita sudah punya rumah. Selamatan kecil-kecil aja, acara makan-makan gitu." Dira menunjuk jalannya, mereka masih ingin melihat perabot-perabotan yang masih kurang untuk mengisi rumah.
"Emang kau bisa masak?" tanya Defan serius.
__ADS_1
Dira pun langsung menatap lekat pria itu. Dia bisa saja masak misalnya seperti air, mie instant, rebus telor ataupun bikin telor dadar. Terkadang, hanya sekedar menumis sayur pun bisa Dira lakukan karena ia sering disuruh oleh mamaknya untuk memasak.
Tapi, kalau untuk jamuan tamu, rasanya itu mustahil bagi Dira. Bisa-bisa tamu yang datang sakit perut dan muntah karena rasa yang tidak karuan. Ia bahkan tak percaya diri untuk memasak jamuan-jamuan perayaan seperti itu.
"Nggaklah," jawab Dira singkat. Langkah Defan pun terhenti. Ia menangkupkan tangannya di pipi tirus milik istrinya.
"Kalau begitu nggak udah sok-sokan bikin acara anak kecil." Defan tiba-tiba melepaskan tangannya dari pipi yang kenyal itu, lalu ia mengacak-acak rambut Dira karena gemas.
"Ih abang! Jadi berantakan nih rambutnya. Sia-sia aku tadi ngeblow lama-lama," desah Dira mengeluh.
"Yaudah ayo kesana. Mau lihat perabotan dulu kan?" Defan menarik lengan gadis itu. Mengaitkan jari-jemarinya pada tangan Dira. Genggamannya begitu lembut. Setelah satu minggu marahan, kemesraan mereka pun makin terjalin.
Dira sembari berjalan sekaligus mencuri-curi pandangan pada suaminya. Menengadahkan kepalanya menatap pria bertinggi 180 cm itu. Pipinya agak memerah karena pria itu mengaitkan tangan mereka. Seperti anak ayam, sang induk yang takut kehilangan anaknya.
Deg deg deg
Suara degupan jantung Dira pun memekik cukup keras. Entah mengapa, perlakuan suaminya terasa istimewa. Apa mungkin karena selama seminggu kemarin mereka tak pernah bersama-sama seperti ini?
"Bang, jadi gimana? Mau bikin perayaan apa enggak? Kan bisa nanti makanannya sekalian kita beli. Mumpung masih di mall," ujar Dira melanjutkan topik pembicaraan yang belum selesai dipikirannya.
"Enggak ah ... repot bikin acara gitu. Kalau mereka enak tinggal makan. Lah, kita? Mereka beres, kita yang beberes!" keluh Defan dengan pendapatnya.
"Iya sih! Tapi kan seru tahu bang! Cuma sekali juga. Biar sahabatku yang tiga itu nggak rewel! Tadi itu yang nelepon si Shinta. Dia nodong acara selamat-selamatan itu," ungkap Dira jujur.
"Oh ... jadi itu si Shinta. Emang kalau mau bikin acaranya, kau mau bersih-bersih sendiri?" Defan dan Dira sudah masuk ke salah satu store penjualan perabotan perumahan. Store itu sangat terkenal dan lengkap. Semuanya serba ada, mulai dari kursi, sofa, lampu, alat-alat kamar mandi, pajangan dan lainnya.
"Hmmm ... minimal ya bantuin lah bang! Tega amat bikin aku ngerjain semuanya!" sindir Dira. Dira mulai melihat-lihat rak yang tersedia pajangan-pajangan untuk memperindah rumah.
"Ya, kalau gitu mending nggak usahlah." Defan tetap bersikukuh enggan mengadakan acara selamatan yang tidak penting itu.
"Bentar ya, abang ambil keranjang dulu." Defan berlari ke arah dekat pintu masuk store tadi, mengambil satu keranjang untuk tempat hasil belanjaan mereka.
__ADS_1
Dira mulai mengambil beberapa barang belanjaan untuk mereka beli. Ada pajangan, tempat tisu, keranjang baju, bahkan lemari kecil.
"Keranjang baju sama lemari, biarin aja dulu. Nanti tinggal bilang ke pelayannya biar dibawakan. Keranjangnya nggak muat ini." Defan mendorong troli yang sudah ia ambil tadi.
"Bang, kan bisa kita bikin acara selamatan sekalian undang inang, amang sama edak-edak loh! Makin seru tuh jadinya, sekalian mamak bapakku juga lah." Dira menunjukkan cengiran kudanya. Pembicaraan mereka balik lagi ke awal, padahal Defan sudah jelas menolak acara itu.
"Itu lagi yang dibicarakan! Bosan aku. Kalau ada yang bantu-bantu di rumah sih nggak apa-apa. Ini cuma kita berdua loh." Defan menatap sinis wajah istrinya agar mengikuti permintaannya.
Namun, Dira lagi-lagi masih menyinggung hal itu. Ia sangat ingin mengundang keluarga dan saudaranya.
"Suruh inang bawa mbak Nena aja hahahha." Dira terkekeh memberikan saran diluar dugaan. Lantaran tak mau repot bebersih rumah, ia sampai mengusulkan hal itu pada suaminya.
"Apa dibolehin sama mama?" Defan tampak memikirkan ulang rencana acara tersebut. Ia menjadi galau mau mengadakan acara dadakan itu atau tidak.
Namun, selama ada bala bantuan dari keluarganya pasti tidak masalah untuk mengadakannya.
"Bentar abang telepon mama dulu." Defan mengambil ponsel dari sakunya, melakukan satu panggilan pada mamanya.
"Halo ma ..." sapa Defan dari sambungan teleponnya setelah diangkat oleh Melva.
"Kenapa nak? Udah rindu kau? Ah, baru tadi pagi kita jumpa," canda Melva basa-basi.
"Bukan itu. Ma ... mbak Nena ada di rumah kan?" balas Defan seraya mendorong trolinya mengitari rak-rak yang ada di store. Sedangkan Dira masih melihat-lihat barang apa saja yang ingin dia ambil.
*******
"Mak, udah jadi pindah boru panggoaran kita itu," ucap Sahat dari teras rumahnya. Ia mendapat pesan singkat dari boru panggoarannya melalui pesan di ponselnya kemarin. Sementara, Rosma berada di ruang tamu sedang menyapu.
"Udah kayaknya pak. Coba bapak telepon aja boru kita," sambung Rosma masih tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Rindu kali aku sama dia. Udah mau sebulan dia nikah, kok nggak pernah dia nengok mamak sama bapaknya," cibir Sahat.
__ADS_1