
Ahhh! Akhirnya yang aku tunggu-tunggu sudah tiba!
Defan terus larut dalam pikirannya. Betapa senang hatinya bahkan serasa mau melayang karena sang istri sudah memperbolehkan untuk memulai malam pertama mereka.
Dengan rasa bangga, Defan keluar dari kamar. Sedangkan, Sahat dan Rosma mulai bersiap-siap berpamitan setelah proses acara selesai.
"Pak, mak, mau diantar?" tawar Dira saat kedua orangtuanya mulai beranjak.
Defan yang baru tiba di ruang tamu pun menatap sekeliling. Mendengar tawaran Dira, sepertinya, keputusan untuk pulang ke rumah mereka sendiri lebih baik.
"Boleh aja kalau kalian berdua nggak nginap disini. Jadi sekalian pulang kan? Biar sekalian. Kalau menginap disini, kami pulang naik taksi online saja," jawab Sahat.
"Gimana bang? Mau nginap di sini atau pulang?" Dira menatap Defan penuh selidik, menunggu jawaban pasti dari sang suami.
"Ma, apa boleh kami nggak nginap disini?" tanya Defan setelah sekian lama tak berkunjung ke rumah ini, dia bahkan merasa tak enak hati bila langsung pulang begitu saja.
"Udah pulanglah sana kalian! Biar bebas buatkan cucu untuk kami." Melva mengerlingkan mata pada putra semata wayangnya.
"Kok mama tahu aja!" racau Defan tetapi malah Dira yang menjadi malu karena obrolan frontal ibu dan anak di hadapannya.
Mereka semua berpamitan, Defan dan Dira lebih dulu mengantarkan Sahat dan Rosma ke rumah mereka. Saat di perjalanan, Rosma teringat setiap bulannya Dira tetap menyuntikkan KB ke Bidan terdekat. Untuk bulan ini, ia penasaran apakah borunya itu sudah melanjutkan suntik KB atau belum?
"Boru?" tanya Rosma memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Apa ma?" sambungnya lagi.
"Kayak mana KBmu itu? Kau lanjut bulan ini?"
"Belum, Aku lupa ma ..."
Sontak Defan terkejut mendengar obrolan ibu dan anak yang ada di dalam mobil.
"Emang kau pasang KB, Dir?" tanya Defan sesekali menoleh pada istrinya.
"Iya bang," jawab Dira singkat.
"Kok nggak bilang selama ini?" Defan membelalakkan matanya menatap nanar istrinya.
Sia-sia ia berpuasa bahkan tak berani menyentuh Dira. Padahal wanita itu sudah memasang KB hampir dua tahun kemarin.
"Abang, juga nggak nanya tuh!" timpal Dira.
__ADS_1
"Loh, jadi kalian belum ngapa-ngapain selama dua tahun ini?" Sahat begitu terkejut dengan pasangan suami istri yang masih polos itu.
"Iya, Amang! Karena ada perjanjian diatas materai, aku tak berani menyentuhnya," tandas Defan datar.
"Buat jaga-jaga ajanya itu pak!" hardik Rosma memberikan pendapat.
"Meskipun jaga-jaga atau persiapan, atau apalah namanya. Untuk memakai KB pun tetap harus persetujuan suami," debat Sahat.
Pembicaraan pun mengarah semakin serius. Perdebatan terus terlontar dari keempat orang itu. Sampai akhirnya, mereka sudah sampai di rumah kedua orangtua Dira.
"Udah jangan lagi kau KB, Dir! Itu harus tetap dibicarakan—"
"Udah sampai, Amang, dari tadi," potong Defan. Pembicaraan pun belum tuntas tapi harus berakhir.
"Iyalah, hela, makasih sudah kau antarkan kami pulang. Hati-hati kalian di jalan," pamit Sahat.
Sahat dan Rosma keluar dari mobil. Mereka melambaikan tangan pada pasangan suami istri yang sudah bersiap untuk pulang ke rumah.
Defan melirik jam di tangan, ia tak mau memulai perdebatan sore ini. Sebab, ada satu tujuan yang harus digapai. Jika ia mempermasalahkan soal KB, jatah untuk malam ini tak akan ada.
"Bang, maaf tidak bilang ke abang soal KB. Sebenarnya aku takut untuk melakukan itu," lirih Dira tertunduk malu.
"Ya, itu ... yang suami istri lakukan," jawab Dira datar.
"Sekarang masih takut?" Defan malah mengungkit lagi.
"Masih!"
"Tapi nanti malam jadi kan?" Defan masih memastikan persiapan malam ini.
"Terserah, abang." Dira sangat pasrah pada keputusan suaminya. Lagipula, itu sudah menjadi hak pria itu. Seharusnya, mereka melakukannya setelah sah menjadi pasangan suami istri.
"Okay!"
Pria itu bergegas melajukan kecepatan mobil, berharap bisa sampai di rumah dengan cepat. Sementara Dira dipacu dengan perasaan harap-harap cemas. Ia takut melakukan hal yang terus saja berputar dalam pikiran.
******
"Dir, mau mandi bersama?" tawar Defan setelah mereka tiba di rumah seusai matahari terbenam dengan sempurna.
"Enggak ah! Malu!" tolak Dira secara halus.
__ADS_1
"Coba dulu!" Defan semakin antusias untuk memulai persiapan malam mereka.
"Nggak mau! Masing-masing aja, bang!" lirih Dira yang nyalinya semakin ciut.
"Yaudah deh! Lain kali mungkin bisa," ucap Defan dengan lirih, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan Dira, mulai menghapus make up dengan pembersih wajah sebelum bisa membersihkan diri di kamar mandi. Selama 10 menit, ia berhasil menghapus semua make up yang menghiasi wajah.
Dan selama itu pula, Defan belum keluar dari kamar mandi. Di dalam kamar mandi terdengar samar-samar suara siulan yang terdengar sangat kegirangan.
Bang Defan kayaknya senang kali mau anu-anu. Sementara aku ketakutan! Hadeh
Dira bergumam dalam pikirannya sendiri. Perasaan takut sebelum mencoba malam yang menggairahkan bagi mereka berdua. Dira langsung menuju lemari, mengambil satu lingerie seksi yang dulu pernah dibelikan oleh sang mertua.
Lingerie itu tak pernah terpakai. Dengan rasa malu, Dira menyibakkan lingerie itu. Lingerie berwarna salem muda. Sangat cantik tapi juga sangat seksi.
"Masa aku harus pakai ini sih? Malu aku di depan bang Def," sesal Dira memelototi lingerie yang ada di hadapannya.
Ceklek
Defan menarik daun pintu, ia baru saja keluar dari kamar mandi. Aroma tubuhnya begitu mengisi seisi ruangan. Apa mungkin ia bermandikan sabun satu kilogram? Disisi lain, Dira cepat-cepat menyembunyikan lingeri yang dari tadi ia pandang.
Harum semerbak dari tubuh suaminya begitu menyengat, parasnya tampak gagah dan tampan saat ia mulai menyugar rambut basah yang menitikkan percikan air.
Glek
Tanpa sadar, Dira menelan shaliva. Tubuh kekar yang ada di depannya begitu menggoda. Sulit untuk dilupakan. Dua tahun terakhir, Dira terkadang memalingkan wajah saat suaminya selesai mandi.
Ia tak mau diselimuti rasa penasaran dengan tubuh yang eksotis itu. Tubuh kekar suaminya seolah-olah terus memanggil untuk disentuh dan memberikan pelukan hangat. Tak heran, jika saat Dira tertidur, tanpa sadar pun ia kerap sekali memeluk tubuh itu dengan erat.
"Buruan mandi!" titah Defan saat melihat istrinya diam tak berkutik tapi tangannya dibelakang seolah-olah menyembunyikan sesuatu.
"Iya!" jawab Dira datar. Nyatanya, jauh dilubuk hatinya, ia ingin sekali cepat-cepat menyambut malam pertama sesungguhnya milik mereka berdua.
Dira berjalan gontai melintasi sang suami. Tangannya pun masih menyembunyikan gulungan lingeri yang buru-buru tadi ia lakukan.
"Eits ... tunggu dulu." Defan penasaran di dalam genggaman tangan Dira yang terus saja tersembunyi.
"Apa itu?" Defan menunjuk tangan Dira yang baru ia pindahkan ke depan tubuhnya.
"Hmmm ... ini, ada deh!" sahut Dira langsung masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1