Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
masa mengabaikan


__ADS_3

Defan pun melangkahkan kakinya, mencari Dira yang dari tadi tidak ia lihat.


"Kemana anak itu? Pamit juga engga!" gumam Defan mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.


Ia bahkan sampai mengecek kamar mandi tapi beberapa kamar mandi yang ada di dalam kamar maupun di ruang tamu itu kosong.


*******


"A–aku mau belanja." Dira menunjuk minimarket yang ada di depannya.


"Maksudku, sedang apa di daerah sini?" desak Angga dengan tatapan menyelidik. Biasanya yang berbelanja di minimarket ini adalah orang-orang sekitar.


"Apa sedang berkunjung ke gedung itu?" Angga pun menunjukkan gedung kondominium itu.


"I–iya hehe. Aku permisi dulu ya, takut kelamaan," jawab Dira, ia pun langsung ke dalam minimarket.


Di dalam minimarket Dira memilih beberapa makanan cepat saji. Yang hanya tinggal dipanaskan dengan microwave. Serta beberapa mie instan untuk makan siangnya nanti.


Bahkan, Dira juga membeli minuman kaleng serta minuman botol yang manis-manis serta cemilan untuk menemani hari ini saat ia berlibur.


********


"Permisi, apa adik lihat tadi ada perempuan sebayamu disekitar sini?" tanya Defan pada Angga yang baru saja hendak naik dari lift di lantai 1.


Angga pun menoleh ke kanan ke kiri, mencari perempuan yang dimaksud. Tapi tak ada orang lain selain mereka berdua disini.


"Nggak ada tuh bang," jawab Angga penuh kebingungan. Tangganya menenteng satu kantong plastik berisi cemilan, yang satunya malah mendarat di kepalanya. Menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal itu.


"Baiklah ... terimakasih." Defan pun pergi kelur lobi. Ia mencari Dira yang tak diketahui entah dimana keberadaanya.


"Pak, tadi ada anak remaja perempuan kesini?" tanya Defan sedikit berlari menghampiri Satpam itu.


"Remaja? Ciri-cirinya gimana pak?" Satpam itu mencoba mengingat-ingat kembali. Satu orang yang ada di benaknya adalah anak perempuan tadi yang bertanya padanya.


"Ya tingginya seginilah. Cantik anaknya. Rambutnya panjang lurus," jelas Defan sembari menunjuk-nunjuk sesuai dengan penjelasan ciri-ciri tersebut.

__ADS_1


"Oh ... mirip seperti anak tadi," lirih satpam itu.


"Tadi ada perempuan nanya minimarket pak. Coba bapak kesana saja. Ada di samping gedung ini."


Defan pun langsung berlari menuju minimarket yang dimaksud. Ia langsung mendorong pintu minimarket tanpa pikir panjang. Entah mengapa ia sangat panik saat istrinya menghilang. Takut gadis itu melakukan sesuatu hal diluar nalarnya.


Defan mengedarkan pandangannya, mencari Dira diantara orang-orang yang berada di dalam minimarket. Dira yang berada di rak bagian mie instant dikagetkan oleh pria yang memegang bahunya dengan erat.


"Apa sih?" teriak Dira lalu membalikkan badannya ke arah pria yang berani menyentuhnya.


Mulutnya terdiam ketika melihat pria yang berwajah pias dengan nafas terengah-engah. Bahkan keringat bercucuran disekitar dahinya.


"Kenapa keluar rumah nggak bilang-bilang!" tandas Defan setengah berteriak. Ia gugup dan bimbang. Apa yang ia lakukan saat ini merupakan tindakan yang tak ia sangka-sangka.


Begitu panik rasanya saat ditinggalkan sang istri. Apa ini pertanda ia sudah sangat takut kehilangan istrinya?


"Malas mau bilang!" tutur Dira memalingkan wajahnya. Ia segera berjalan ke arah kasir meninggalkan Defan yang terdiam ditempatnya.


Dira buru-buru melakukan pembayaran belanjaannya. Dan keluar dari minimarket itu. Defan pun mengejar kepergian Dira dari tempat itu.


"Aku capek, Dir. Kalau harus begini terus! Sampai kapan kau marah begini?" lontar Defan merasa frustasi. Tangan itu ia genggam erat sampai Dira merasa kesakitan.


"Lepasin bang! Sakit!" pekik Dira mencoba melepaskan genggaman itu.


"Jawab aku! Kau maunya apa? Mengakhiri pernikahan ini? Iya?" tantang Defan penuh kemarahan. Dira pun terdiam seribu bahasa. Padahal masalahnya hanya hal sepele. Tidak berpamitan pada suaminya tapi kemarahannya justru luar biasa besarnya.


"Apa sih!" Dira pun berjalan mengabaikan suaminya. Seminggu lalu, ia merasakan kekesalan yang sama seperti suaminya alami saat ini.


Begitulah rasanya kira-kira. Diabaikan, tak dimengertiin bahkan tak menjaga perasaannya.


"Sekarang abang udah ngerti kan rasanya?" lontar Dira berjalan sangat cepat tapi mampu diimbangi oleh Defan.


"Apa maksudmu?" Defan terus mengekori istrinya, sejak tadi genggaman tangannya dipaksa lepas oleh Dira.


"Ya begitulah rasanya diabaikan! Masih mending aku dong! Aku nggak jalan sama laki-laki lain. Kalau bang Defan jalan sama perempuan lain loh," sungut Dira dengan kekesalan yang memuncak.

__ADS_1


"Aku kan sudah minta maaf! Tapi kau tidak menggubrisnya!" sanggah Defan.


"Itulah, sikap keras abang. Tidak mau pernah mengakui kesalahan. Untuk apa minta maaf tapi tidak merasa bersalah! Percuma," hardik Dira kemudian masuk ke dalam lift. Cepat-cepat Defan pun ikut masuk ke dalam sana.


"Gimana rasanya dicuekin satu minggu? Enak?" tambahnya lagi.


Defan menggeleng, pantulan tubuhnya terlihat dari sisi lift yang berwarna silver itu. "Aku ngaku salah! Aku janji nggak akan pergi berduaan dengan dia. Kalau perlu aku akan memutus hubungan persahabatanku," sesal Defan tertunduk malu.


Baru kali ini ia mengakui kesalahan. Padahal kesalahan itu ia kira adalah hal sepele. Ia bahkan takhluk dibawa pandangan gadis berusia 17 tahun itu.


"Oke! Kita lihat saja nanti! Aku ingin membuktikan kata-kata abang. Lantas apa yang akan abang lakukan jika masih terus-terusan bersamanya?" Dira membalikkan tubuhnya, menatap lekat pria yang sedang menunduk itu.


"Apapun yang kau inginkan, aku turuti!" Defan sangat frustasi.


"Baiklah! Untuk saat ini aku akan memaafkan abang. Tapi tidak untuk kesekian kalinya. Tidak akan ada maaf lagi. Untuk permasalahan hari ini, akupun minta maaf karena tidak berpamitan."


Defan dan Dira berjalan beriringan memasuki rumah mereka. Dira langsung menuju dapur, menyimpan semua belanjaannya. Sedangkan Defan memilih untuk bersantai di sofa. Meski telah berbaikan, keduanya masih merasa canggung.


Dira memilih untuk masuk ke kamar setelah merapihkan semua barang belanjaan. Defan mengira, istrinya itu akan mendekat padanya. Sepertinya butuh effort yang besar bagi Defan untuk meluluhkan hati istrinya.


Defan pun mengikuti Dira masuk ke dalam kamar. Dira yang memegang ponselnya ingin mengabari teman-temannya tentang berakhirnya masa mengabaikan suaminya tapi gagal ia lakukan.


"Dir, mau liburan nggak?" tawar Defan karena waktu kebersamaan mereka masih panjang.


"Hmm ... kemana?" tanya Dira tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Ke hatimu ... tapi boong. Ke mall gitu mau nggak?" canda Defan dengan garing.


"Boleh!"


"Yaudah yuk siap-siap!" Defan pun beranjak. Bergegas mengganti bajunya untuk pakaian kasual yang diambil dari dalam lemari.


Petualangan mereka pun akan dimulai. Proses pendekatan Defan sepertinya kali ini akan berhasil.


"Ayo buruan!" desak Defan ketika Dira belum mengganti bajunya.

__ADS_1


Dengan rasa malasnya, Dira mulai berganti baju. Tentunya masih di dalam kamar mandi, ia tak mau tubuhnya dipelototi sang suami.


__ADS_2