Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
kesaksian palsu


__ADS_3

Justru, anak itulah yang menawarkan diri untuk mengikuti dirinya selama 2 minggu berturut-turut, tinggal di rumah terdakwa dengan alasan kedua orang tuanya tengah bertengkar hebat.


"Tidak benar, Yang Mulia! Saya tidak menculik anak itu tapi dia sendiri yang meminta agar diperbolehkan ikut dengan saya, alasannya orang tuanya sedang bertengkar," akunya secara dramatis.


"Bohong, Yang Mulia! Orang tuanya baik-baik saja tidak pernah bertengkar sekalipun. Mereka sangat harmonis dan pengakuan dari keluarga korban memang terdakwa ini sudah selama seminggu sengaja mendekati anaknya!" tampik Defan, dengan suara yang lantang.


*****


Jenny bergegas mengambil makalah yang akan dikumpulkan kepada dosen. Saat berada di tempat fotocopy, ia bertemu pemilik fotocopy tersebut.


"Aku mau ngambil hasil print makalah, Bang. Apakah sudah jadi?" tanya Jenny, menatap datar pemilik fotocopy.


"Atas nama siapa, ya?" sahut Pemiliknya.


"Atas nama Dira, Bang kemarin sore kami menyerahkan bahannya!"


"Sudah jadi kok!" ucap Pemilik fotocopy, seraya mencari makalah yang dikatakan oleh Jenny di dalam rak tapi justru tidak ditemukan.


"Dek, sepertinya saya nggak tahu disimpan di mana. Tapi tadi malam sudah dikerjakan oleh karyawan saya kok. Coba kau tunggu sebentar sampai dia datang," kata Pemilik fotocopy itu.


"Oke, Bang." Jenny akhirnya dengan santai menunggu karyawan fotocopyan yang belum datang untuk bekerja, memang karyawan itu sudah meminta izin masuk siang karena tadi malam harus lembur.


Untung saja jadwal kuliah Jenny masih lama, kebetulan saat dia pergi ke tukang fotocopy masih 08.30 pagi. Ya, dia sengaja datang lebih awal.


Pemilik fotocopy itu pun mengajak Jenny berbincang dengan obrolan yang santai.


"Kuliah di depan, Dek?" tanya Pemilik Fotocopy itu, basa-basi.


"Iyalah, Bang masak saya kuliahnya jauh, ngeprintnya di sini," kilah Jenny.


"Bercanda!" kekehnya.


"Punya pacar?" lanjut pemilik fotocopy itu lagi.


"Belum, Bang!" jawab Jenny singkat.


"Oh ... bolehlah jadi pacarnya!" cetus pria itu.

__ADS_1


"Hahaha ... Abang, bisa aja!" ledek Jenny.


"Serius saya," sergah pria itu.


Jenny tampak memikirkan candaan pemilik fotocopy meski tidak ada ketertarikan baginya untuk berpacaran dengan pria yang bahkan terlihat lebih tua darinya. Entah berapa tahun perbedaannya usia mereka. Namun yang pasti, pria itu tampak sangat jauh umurnya dibandingkan dengan Jenny yang masih remaja.


"Ngga, Abang saya masih fokus kuliah karena ini masih baru tahun pertama!" sosor Jenny.


"Yah, padahal saya mau mencari calon istri loh bukan pacar," canda Pria itu.


"Yang lain aja tawari, Bang!" usul Jenny.


"Ah, adek cantik loh, masak cantik-cantik nggak punya pacar," ucapnya seraya terkekeh.


"Nggak ada hubungannya sih, Bang. Mau cantik sama status kita yang jomblo!" tampik Jenny, semakin merasa berang pada pria itu karena merasa sok akrab.


"Ya, biasanya yang cantik itu pasti dia sudah memiliki pacar dan banyak yang mengejar-ngejarnya!" sahut Pria itu.


Obrolan mereka pun tak henti-henti, membuat Jenny semakin malas menunggu di tempat itu. Ia akhirnya memilih kembali ke kampus.


"Saya balik ke kampus dulu deh. Nanti saya balik ke sini lagi kalau karyawan Abang udah datang!" sungut Jenny dengan sinis.


Akhirnya, Jenny berlalu pergi, meninggalkan pemilik fotocopyan seorang diri. Pagi itu, di tempat usahanya masih tampak sepi karena belum ada pelanggan yang datang kecuali Jenny.


****


Dira mengirimkan satu pesan pada suaminya meski pesan itu pun tak mendapatkan balasan karena Defan tengah sibuk menghadapi kasusnya dalam sidang perkara kali ini.


Dira


Bang, aku berangkat ke kampus ya naik ojek online.


Dira memang berangkat lebih awal, dia berangkat jam 9 pagi karena Jenny memaksanya untuk segera datang agar bisa memiliki teman di kampus.


Tak hanya itu, Jenny juga menanti kedatangan Dira di kantin kampus sembari menyantap gorengan yang sudah dipesannya untuk mengisi perut yang kosong.


Padahal, tadi pagi, ia sudah menyantap lontong Medan di kantin kampus. Tapi obrolan bersama pemilik fotocopyan sedikit membuatnya berpikir keras. Dan selang beberapa jam, ia kembali diserang rasa lapar.

__ADS_1


"Jen!" teriak Dira dari kejauhan seraya melambaikan tangan.


Dira baru saja tiba di kantin kampus, langsung menyambangi Jenny.


"Oi!" sahut Jenny seraya melambaikan tangan.


Keduanya pun saling mencium pipi kanan dan kiri bentuk saling sapaan akrab mereka. Lalu, Jenny menceritakan tentang kejadian tadi pagi. Saat Carol memperkenalkan Jefri pada dirinya dan Shinta.


Bahkan, Jenny membeberkan tentang rencana pergi makan bersama dengan pacar baru Carol seusai pulang dari kampus.


*****


Dari kejauhan Maudy baru saja tiba di halaman kampus. Ia melihat dari kejauhan, saat Angga keluar dari sebuah mobil mewah di halaman perparkiran. Bahkan, Maudy berpikiran kalau pacar berondongnya itu adalah anak orang kaya. Kebetulan sekali ia bisa menjadi pacarnya.


Disisi lain, Angga tak melihat sosok dosennya. Ia pergi terburu-buru lantaran merasa lapar, lalu ingin segera sarapan di kantin kampus. Sebab, setelah bangun tidur, ia langsung berangkat menuju kampus.


"Pantas aja dia ngaku tinggal sendiri, aku harus mencari tahu tentang tempat tinggalnya," gumam Maudy, dengan pikiran anehnya.


Maudy semakin penasaran pada sosok Angga, sudah memiliki paras tampan. Kini, pria itu tampak seperti seorang anak yang akan mewarisi kekayaan kedua orang tuanya.


Maudy semakin optimis untuk mempertahankan hubungannya dengan berondongnya. Meski niat awalnya main-main tapi kalau mengetahui pacarnya adalah pria kaya, maka Maudy akan mempertahankan Angga sampai kapanpun.


Kini, Maudy tak perlu mengkhawatirkan tentang uang saat berkencan dengan pacar brondongnya itu. Senyum kecut pun tersemat dikedua sudut bibir saat larut dalam pikirannya, jiwa matrenya seketika muncul jika mengingat kalau Angga adalah anak orang kaya.


*****


Pengacara terdakwa mengusulkan membawa seorang saksi untuk menguatkan pengakuan kliennya. Usulan itu pun disetujui oleh Hakim Ketua, agar saksi segera dibawa maju ke kursi saksi.


"Kita persilahkan saksi dari pihak terdakwa!" kata Hakim Ketua.


Pria paruh baya yang merupakan tetangga terdakwa, tiba-tiba muncul dari balik pintu, ia berjalan gontai menuju kursi tempat memberikan keterangan sebagai seorang saksi. Sebelumnya, ia mengucapkan saksi sumpah sesuai ajaran agamanya, untuk menghindari adanya kesaksian palsu.


"Silakan bersaksi!" ujar Hakim Ketua lagi.


"Yang mulia, saya ingin memberitahukan kalau terdakwa benar-benar merawat anak itu, dia tidak menculiknya. Bahkan dia akui kalau anak itu adalah keponakannya," tandas saksi menjelaskan.


"Intrupsi, Yang Mulia itu tidak benar. Dia pasti berbohong!" kecam Defan.

__ADS_1


"Benar, Yang Mulia, saya tidak berbohong karena saya menyaksikan sendiri selama 2 minggu berturut-turut. Anak itu selalu dirawat, pokoknya diberi makan, dimandikan. Bahkan dia sangat senang tinggal di rumah terdakwa," kilah pria itu.


Pria ini sengaja dibayar untuk memberikan kesaksian palsu. Ia menerima uang cash yang cukup besar dari terdakwa agar mau bersaksi untuk memberi dukungan pada terdakwa sehingga bisa meringankan hukuman.


__ADS_2