
Namun, jika ditanya ia ingin marah atau tidak melihat situasi itu? Tentu saja ia marah. Sayangnya, momentnya sedang tidak tepat. Saat itu, Dania merasakan kesedihan yang luar biasa lantaran ibunya telah meninggal dunia.
Untuk kali ini, sepertinya Dira harus memaksakan Diri untuk merelakan suaminya sebagai pelipur lara wanita itu.
"Dir, ayo masuk! Tunggu apalagi," bisik Carol seraya mengedarkan pandangannya ke seisi ruangan. Saat itu, semua tamu sudah berkumpul, beberapa orang berdiri di depan mayat tengah menyanyikan lagu-lagu persembahan pujian rohani sebagai rangkaian acara peringatan kepergian mamak Dania.
Lagu-lagu rohani telah dikumandangkan diselingi doa-doa dari para tamu yang mengelilingi sang mayat.
"I–iya." Dira pun masuk, ia mendekatkan diri dan bersalaman pada Dania.
Suasana begitu canggung diantara Dira dan Defan. Namun, tidak dengan Dania. Ia bahkan tak peduli jika wanita itu protes kalau sahabat prianya hanya untuknya khusus hari ini. Ia cuek saja saat Dira menghampiri.
Karena menghormati kedatangan tamu, akhirnya ia berdiri menyambut Dira dan ketiga sahabatnya. "Turut berduka ya kak. Semoga kakak tabah dan tetap kuat menerima keadaan ini," ucap Dira menyampaikan belasungkawanya dan diikuti oleh ketiga sahabatnya.
Mereka pun duduk tak jauh dari posisi Dania dan Defan. Bahkan Defan tak mau mendekatkan diri pada Dira. Ia terus saja tetap berada disamping sahabatnya. Dira pun semakin geram pada suaminya yang telah berjanji untuk tidak lagi berada disisi Dania.
Sayangnya, momen ini sangat tidak tepat untuk dipeributkan. Siapapun yang merasakannya tentu saja ingin memiliki sandaran untuk sementara waktu. Menenangkan dirinya dibalik kesedihan yang membara kala itu.
Huftttt
Dira menarik dan membuang nafasnya dengan kasar melihat kedekatan suami serta perempuan yang menjadi sahabat suaminya. Sementara Jenny dan Shinta saling menoel-noel melihat kedekatan antara pria dan wanita itu.
Mereka bahkan berbisik-bisik melontarkan apa yang ada dibenak pikiran mereka masing-masing. "Bang Defan kok gitu sih, ada istrinya disini malah sama perempuan lain," ketus Jenny tak terima dengan keadaan ini. Ia melihat Dira tampak bersedih melihat kedekatan dua orang itu.
"Entahlah! Akupun jadi serba salah! Antara sedih atau membiarkan begitu saja. Soalnya sekarang kakak itu lagi berkabung. Dira juga nggak mungkin protes saat ini. Waktunya nggak tepat," lirih Shinta memberikan kata-kata bijaknya.
Sementara Carol yang mendengarkan percakapan dua orang itu, ikut menangkan Dira yang tengah diselimuti rasa amarah dan amukan. Dira bahkan mengepalkan tangannya karena rasa kalut dan kecewa terhadap suaminya.
__ADS_1
"Apa kita pulang aja?" usul Carol setelah mereka rasa memberikan kata belasungkawa telah cukup sehingga tak perlu lagi melihat kedekatan antara Dania dan Defan.
"Bentar lagi ya!" jawab Dira mengalah, ia harus mengerti kondisi saat ini.
"Kayanya sahabat kita ini terlalu sabar," lontar Jenny sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mau gimana lagi coba? Suaminya itu sahabatan dari kecil sama kakak itu. Jadi untuk kali ini, harus sabar kau ya, Dir?" Shinta mengelus punggung Dira dengan lembut meski jarak mereka terpaut cukup jauh.
Dira mengangguk patuh. Ia berkomitmen untuk tidak mempermasalahkan persoalan hari ini serta harus menerima dengan lapang dada. Mengecualikan hari dimana saat kematian mamak Dania serta dia dengan bebasnya menggunakan suaminya untuk bersandar.
Beberapa lagu pujian dilantunkan oleh para tamu saat itu dalam rangkaian acara penglayatan. Dira beserta ketiga sahabatnya juga ikut berdiri ikut dalam persembahan rohani itu.
Setelah cukup lama berada di sana, Dira memutuskan untuk pulang. Bahkan dia enggan menyapa suami ataupun mengajaknya pulang. "Ayo kita pulang," ajak Dira yang kecewa pada suaminya serta hatinya memanas melihat kedekatan dua orang yang bersahabat itu.
Ketiga sahabatnya pun langsung menyetujui, mereka juga tidak betah lama-lama disana sementara Dira sudah meradang. Tak hanya itu, mereka berempat juga masih mengenakan seragam sekolah, tidak menggunakan pakaian hitam untuk acara berkabung.
"Kak, kami pamit pulang ya! Yang sabar kakak sekeluarga," tutur Dira tersenyum rapuh dihadapan Dania.
"Kak, kami juga pamit." Ketiga sahabat Dira pun ikut menyalami Dania. Sedangkan pria disamping Dania hanya terdiam melihat keempat gadis itu berpamitan.
Tak lama, Defan memberanikan diri mendekati istrinya, ia berdiri dari tempatnya. Lalu, agak menjauhkan dirinya dan Dira dari kerumunan. "Dir, maaf pulang duluan ya kau. Nanti abang susul kalau acara sudah selesai," pinta Defan dengan tatapannya yang dingin.
Dira pun hanya mengangguk, tak ingin berkata ataupun menyuarakan pendapatnya. Ia pergi begitu saja dengan ketiga sahabatnya. Keluar dari rumah yang dipenuhi orang-orang yang tengah berkabung.
Setelah mereka keluar dari rumah itu, beberapa teman Dira protes atas kelakuan suaminya yang terlalu dekat dengan wanita lain.
"Dir, kau tegas dikit kek! Kimbek jugalah si Dania itu, memanfaatkan keadaan dia. Bisa-bisanya dia nempel terus sama suami orang," gerutu Jenny ceplas-ceplos saat sudah masuk di dalam mobil Carol.
__ADS_1
"Iya ih, kau kok diam aja sih Dir? Tegasin napa suamimu itu. Biar kau nggak disepelekan perempuan itu." Shinta pun semakin geram pada sahabatnya yang tak melakukan tindakan apapun. Hanya diam memantau kedekatan itu.
"Mau gimana lagi loh we? Dia lagi berkabung, masa aku malah bikin ribut di rumahnya? Kayak nggak ada simpatik kali nanti dikira orang-orang. Lagipula, kita kesini kan untuk mengucapkan belasungkawa," lirih Dira memendam perasaan penuh amarah.
"Sudah, yang sabarlah kau, Dir! Anggap aja hari ini nggak pernah terjadi. Yang kau lihat tadi pun juga nggak pernah terjadi," kata Carol menenangkan sekaligus mengusap lengan Dira dengan tangan kirinya, lalu melepaskannya dan kembali fokus pada stir mobilnya.
"Iya ... tenang lah kelen! Kita juga harus mengerti kondisi keadaan. Tapi kok tadi aku nggak lihat bapaknya si Dania ya?" celetuk Dira kembali mengingat-ingat memorinya pada pandangan sekitar di rumah itu.
"Iya juga!" timpal Jenny yang tampak memikirkannya juga.
"Apa karena nggak ada bapaknya makanya bang Defan terus nemenin dia?" jelas Shinta.
"Bisa jadi! Mungkin bapaknya sudah meninggal. Soalnya nggak ada sosok bapak juga tadi kulihat disana," papar Carol.
"Ya juga loh ... Yah mungkin dia lebih butuh sosok bang Defan dibanding aku kan? Biarkanlah dia berbuat semaunya untuk masa berkabungnya," hardik Dira.
"Siapa dulu yang mau diantar?" celetuk Carol mengalihkan pembicaraan mereka. Saat itu sudah termasuk sore hari, tepatnya sudah jam 5 sore, keempat gadis itu tampak lusuh karena seharian masih mengenakan seragam sekolah.
"Rumahku lah yang paling dekat!" sambung Jenny.
"Abis itu aku ya?" Shinta pun ikut menimpali.
"Udah kau antarlah orang itu dua. Aku terakhir aja! Untung rumah kita sekarang searah ya Carol!" kekeh Dira.
"Boleh aku mampir Dir?" tanya Carol dengan bimbangnya.
"Boleh aja!"
__ADS_1
"Kok kami nggak diajak! Wuuu," keluh Jenny.
"Kan kelen dua mau pulang cepat-cepat. Lagian rumah kelen kan dekat sini. Masa aku harus ngantar bolak balik?" sahut Carol bernada sinis.