
Defan mendekati Dira. Mendekatkan wajahnya dengan wajah Dira, ia mengangkat sebelah alis miliknya. Melihat tingkah Dira yang kikuk ia semakin bahagia.
Diangkatnya kedua tangannya, mengambil kedua tangan Dira yang tengah bersilang di dadanya. "Sudah ku lihat semuanya dari atas sampai bawah! Oh ini yang kau tutupi? Keciiillll," ledeknya dengan keras sambil menurunkan tangan Dira dari dadanya.
Dia tertawa terbelalak, merasa bangga telah melihat seisi tubuh gadis kecil berusia tujuh belas tahun itu.
"Apa sih bang?" ketus Dira kesal karena tak sanggup mendengar cemohan Defan.
"Gausah gitu juga kali," sindir Dira.
"Udah terjawab semua kan? Buruan sana mandi," ketus Defan meninggalkan Dira dari kamarnya.
Ia berjalan menuruni anak tangga, melemparkan senyuman kecut pertanda kemenangannya telah berhasil mengerjai gadis kecil berusia tujuh belas tahun itu.
Dira masih berada di kamar Defan, seketika menjadi linglung mengingat perkataan suaminya yang arogan itu. Baru saja sikap arogannya terbukti kembali, dari kata-katanya yang kasar tadi.
Hati Dira seketika runtuh, percaya dirinya berkurang, kala dia mengingat cemohan suaminya yang mengatakan buah dadanya kecil. Tak hanya buah dada saja yang dilihat, tetapi seluruh tubuhnya dari atas kebawah.
"Sial! Si tua bangka itu, pagi-pagi sudah bikin aku bad mood," hati kecil Dira meronta-ronta ingin membalas perbuatan Defan.
Baru ia tersadar dari lamunannya, kalau harus bergegas mandi, karena mertuanya sedang menunggu kehadirannya. "Astaga! Aku mandi dimana ya? " gumamnya.
Ia mencari kamar mandi di dalam kamar Defan. Buru-buru ia masuk, namun langkahnya terhenti melihat kamar mandi yang mewah tersebut. Dilengkapi dengan peralatan mandi yang tidak ia sangka-sangka. Alat mandi untuk wanita pun ada. Mungkinkah itu miliknya?
Dia mengambil satu handuk didalam lemari khusus handuk yang berada di dalam kamar mandi tersebut. Membasuh tubuhnya menggunakan shower dengan air hangat. "Rumah semewah ini pun akan jadi milikku kelak," gumamnya dengan senyum simpul.
Ia tertawa sendiri saat mandi, menikmati dunia yang tak pernah ia sangka. Meskipun suaminya pria dingin, arogan dan berkata ketus. Tapi itu akan dimakluminya untuk sementara waktu, selama kebutuhannya terpenuhi. Melebihi kebutuhan yang selama ini kedua orangtuanya berikan.
Setelah ia mandi, tubuhnya masih diselimuti handuk. Ia tersentak kaget saat baru saja keluar kamar mandi, ia mendapati suami arogannya itu ternyata sedang menatapnya dari atas ranjang tidurnya.
"Kenapa dia kesini? Perasaan tadi sudah keluar kamar," batin Dira.
"Apa? Kenapa melotot? Aku nggak lihat tubuhmu! Sorry aku nggak tertarik sama tubuh anak kecil sepertimu," singgung Defan dingin.
Entah apa yang membawa Defan kembali ke kamar ini. Padahal tadi dia sudah pergi meninggalkan Dira.
"Terus abang ngapain disini? Tadikan sudah keluar dari kamar ini!" ketus Dira semakin kesal.
"Aku lupa, di kamar tamu yang kita tempati tadi tidak ada kamar mandi! Akukan juga harus mandi, makanya kembali kesini," tegasnya beranjak dari kasur mendekati Dira.
__ADS_1
"Loh, ngapain dekatin aku bang?" tanya Dira khawatir Defan akan menyentuhnya karena saat ini ia hanya menutupi tubuhnya dengan handuk saja.
Dira memegang erat ikatan handuknya, takut sewaktu-waktu Defan akan menarik handuk itu. Ia juga memiringkan tubuhnya sebagai tanda menghindari Defan.
Tapi Defan malah menertawainya. "Aku nggak bakal sentuh kau," kecam Defan melintasi tubuh Dira, membuka daun pintu kamar mandi dan menutupnya kembali.
"Hufh! Aman!" lirih Dira sambil memegang dadanya.
Tapi Dira bingung akan mengganti bajunya dimana? Sementara hanya ada satu kamar mandi, itu sudah digunakan oleh Defan. Bagaimana saat ia mengganti bajunya, Defan tiba-tiba keluar?
Dira membuka lemari baju yang tadi ditunjukkan oleh Defan. Ia terpukau dengan seisi lemari tersebut. Bahkan pakaian dalamnya pun telah disiapkan di dalam lemari itu.
Ia mengambil pakaian dalamnya, ****** ***** dan bra. Kemudian diambil kaos putih serta celana jeans ketat yang ada dilemari tersebut.
Dira tak melepaskan handuk itu dari tubuhnya sedetikpun. Ia memakai pakaian dalamnya lebih dulu meski masih memakai handuk untuk menutupi tubuhnya. Dengan cepat Dira terus memakaikan bajunya tanpa melepaskan handuk dari eratannya.
"Ayo Dira cepat! Sebelum dia keluar," gumamnya terburu-buru. Ia memakaikan kaos putih yang tadi dia ambil. Kemudian berlanjut memakai celana jeans ketat. Dengan susah payah ia memakai baju, hingga keringatnya bercucuran.
Terakhir ia berhasil melepaskan handuk dari tubuhnya setelah semuanya terpakai lengkap. Dira mengeluarkan hembusan nafas kasarnya karena merasa lega.
Dengan polosnya Defan keluar dari kamar mandi. Ia hanya menutupi bagian dadi pinggang hingga kakinya dengan handuk. Menutupi area keperjakaannya, namun bertelanjang dada.
"Aaaaaa!!" teriak Dira membuat Defan salah tingkah hingga menggaruk-garuk tengkuknya.
"Stttt! Berisik," ucap Defan sinis.
"Baru pertama kali ya lihat dada pria tampan sepertiku?" singgungnya kembali.
Dira langsung berlari keluar dari kamar itu tanpa menjawab pertanyaan Defan. Dira membanting daun pintu dengan kencang hingga membuat Defan terkejut.
"Dasar anak kecil!" ketusnya.
Defan membuka lemarinya, mengambil pakaian kasual miliknya. Ia hanya mengambil kaos dan celana jeans panjang lalu memakainya.
Setelah selesai, dia turun kebawah, memerhatikan ruangan sesuai pesan mamanya. Ternyata disana Dira bersama keluarganya sudah berkumpul. Entah apa yang dibicarakan hingga membuat Dira tertawa.
Defan memperhatikan Dira dari kejauhan, gadis kecil itu sepertinya akan meruntuhkan imannya sebelum ia lulus sekolah. Kecantikan luar biasa dari Dira mampu membius Defan, membuat hatinya luluh.
Namun Defan gengsi untuk mengakui itu, ia masih saja bersikap arogan pada Dira demi menyakinkan kalau dia benar-benar mencintai gadis kecil yang sekarang sudah menjadi istrinya.
__ADS_1
"Defan! Ngapain bengong disitu? Sini! Ada yang mau mama bicarakan," perintah Melva membuyarkan lamunan Defan, ia mulai berjalan kearah keluarganya.
Disana hanya ada Dira dan kedua orangtuanya. Sedangkan adik-adiknya sudah berangkat sejak tadi, jadi tidak ikut membahas tentang rencana honeymoon mereka.
Desman mengeluarkan empat lembar tiket pesawat pulang pergi, diletakkannya diatas meja. Tiket bisnis class menuju pulau dewata. Pulau impian semua orang untuk didatangi.
"Sini duduk dulu bang," ucap Desman sambil menunjuk kursi disebelahnya.
Defan duduk melihat tiket pesawat yang ada dimeja. Tiket pesawat itu kembali melemahkan imannya, apakah ia sanggup untuk tidak menyentuh istri kecilnya saat di Bali nanti?
"Ma, pak, ngapainlah honeymoon segala! Kan Defan sama Dira nggak bisa ngapa-ngapain," ucap Defan dengan santai menolak pemberian Desman.
"Loh emangnya kau berharap ngapain?" sahut Desman kebingungan dengan jawaban putranya.
"Ehhmmm," Defan kemudian bergeming, enggan membalas pertanyaan bapaknya.
"Nanti disana kau sama Dira liburan saja! Anggap saja lagi refreshing! Daripada sibuk kerja terus,"
"Lagian supaya ada yang kau kenang setelah acara pernikahanmu sama Dira! Nikah itu kan sekali seumur hidup," ucap Melva yang tersenyum.
Ia tidak bisa mengharapkan cucu saat ini, karena harus menantikan Dira benar-benar dewasa, alias menunggu hingga ia lulus sekolah dulu.
"Iya bang! Dira belum pernah ke Bali loh! Sekali-kali Dira pengen ngerasain Bali itu kayak gimana tempatnya," ucap Dira dengan semangatnya.
"Jam berapa penerbangannya?" tanya Defan datar sambil melirik jam tangannya yang saat itu sudah jam delapan pagi lewat lima belas menit.
"Lihat saja tiketnya, jam sebelas siang ini," balas Desman dengan santainya.
"Apa? Kenapa nggak bilang dari tadi, Defan sama Dira kan belum siapin apa-apa," tegas Defan terkejut.
"Tuh kopernya sudah disiapin sama pembantu," Melva menunjukkan satu koper besar yang berisi pakaian Defan dan Dira.
Dira dan Defan terkejut, mertuanya secepat itu mempersiapkan segala kebutuhan mereka untuk honeymoon. Kalau Defan sudah biasa menghadapi kedua orangtuanya, tidak terlalu terkejut seperti Dira. Ia sering kali dibuat terbelalak seperti Dira saat ini.
"Ayo Dir berangkat," ajak Defan sambil beranjak dari kursinya.
"Naik mobil bapak saja, diantarkan supir. Biar kopernya dibawa oleh pembantu dan dimasukkan ke bagasi," tutur Desman dengan ekspresi datarnya. Wajah Desman dan Defan itu sangat mirip, apalagi ekspresinya. Wajarlah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Tidak heran kalau Defan bersikap arogan itu karena turunan dari sikap bapaknya.
__ADS_1