
"Ayo berangkat!" Defan menoleh ke arah punggung Dira.
"I—iya," ucap Dira terbata-bata. Ia bergegas mengambil koper didalam lemari. Baju kotor sisa yang dipakai tadi, dimasukkan kedalam sebuah totebag untuk ditenteng.
"Mana baju abang tadi?" ucapnya sebelum melangkah keluar pintu.
"Oh iya! Ada di kamar mandi," cetus Defan setelah berpikir.
Dira berjalan cepat, melangkah dengan terburu-buru mengambil baju yang berserakan diatas lantai. Disana ada dalaman, serta piyama Defan.
Dengan cepat ia memasukkan ke dalam totebag tersebut, tanpa ada rasa ragu meski celana dalaman Defan ada dihadapannya.
"Nggak ada yang ketinggalan lagikan bang?" celetuk Dira memastikan.
"Nggak ada, barangmu coba cek lagi," ucapnya.
"Udah aman, tadi semua sudah kurapihkan," sambung Dira.
Dira dan Defan berlari melintasi koridor hotel. Masuk ke dalam lift, sampai akhirnya di lobi, pak Jay sudah menunggu kedatangan mereka.
Melihat Dira dan Defan yang berlari-lari, pak Jay langsung bergerak cepat menuju perpakiran. Menyalakan mobil itu, bergegas menjemput Dira dan Defan yang sudah menunggu di halaman hotel.
Sebelum supir itu turun untuk membukakan pintu, Defan sudah menarik handel pintu mobil itu.
"Masuk." Defan membuka lebar pintunya, mempersilahkan istrinya untuk masuk lebih dulu.
"Buka bagasinya pak," tutur Defan. Ia memasukkan koper bawaan mereka ke dalam bagasi, beruntung hanya satu koper walaupun kopernya sangat besar.
Kemudian Defan duduk di jok kursinya dengan nafas yang terengah-engah. "Bisa sampai di bandara sebelum jam 10 nggak pak?" ujar Defan menatap tajam pak Jay yang sedang fokus mengendarai.
"Mudah-mudahan bisa terkejar ya pak," jawabnya santai.
"Oke gas pak! Jangan sampai penerbangan kita terlambat," sahutnya.
*Hening
Baik Defan maupun Dira larut dalam pikirannya masing-masing. Mereka masih merasa tidak tenang bila belum tiba di bandara. Terlebih waktu mepet yang tersisa, membuat Dira merasa bersalah karena telah bangun kesiangan.
"Bang! Maaf ya, aku kesiangan," tuturnya merasa bersalah, kepalanya tertunduk enggan menatap wajah suaminya.
"Hmmmm." Defan hanya bergumam menjawab perkataan Dira, ia sedang malas mencari masalah, hanya akan membuat emosinya meningkat.
__ADS_1
Dira yang mengerti dengan jawaban singkat itupun tak memperpanjang lagi perkataanya. Ia memilih membungkam mulut hingga tiba di bandara nanti.
Daripada harus memancing keributan pada suaminya, ia memilih menyibukkan menatap layar ponselnya. Tiba-tiba, ia teringat pada panggilan tak terjawab tadi pagi.
Panggilan dari mertuanya yang tak sengaja terbaikan. Sejenak, ia memikirkan apakah harus menghubungi kembali mertuanya atau tidak.
Tetapi, kondisi saat ini masih tegang, tatapan amarah Defan tak juga mereda. Sehingga ia mengurungkan niatnya untuk menghubungi mertuanya.
"Sudah sampai pak. Terimakasih untuk bapak Defan dan bu Dira. Semoga selamat sampai tujuan," tutur pak Jay dengan tatapan haru akan terpisah dari pasangan suami istri tersebut.
"Baik pak, terimakasih sudah menemani. Maaf kami tidak bisa banyak mengucap perpisahan, karena terburu-buru mengejar penerbangan," terang Defan seraya turun mengitari mobil, membuka bagasi mobil Jay Travel, mengambil koper miliknya.
Dira dan Defan melambaikan tangannya pada pak Jay. Mereka akhirnya terpisah, pak Jay kembali pulang. Sedangkan Defan dan Dira masuk ke dalam bandara, melakukan boarding pass.
Saat itu sudah pukul 09.45, kurang dari lima belas menit, boarding akan ditutup.
"Selamat pagi, bisa lihat kartu identitas dan nomor penerbangannya," ujar staf bandara yang menjaga konter chek-in pagi itu.
Defan menyodorkan kartu identitas dan menunjukkan tiket pesawatnya. Sangat beruntung sekali, mereka tiba sangat tepat waktu untuk chek-in keberangkatan.
Koper pun ditimbang untuk dimasukkan ke dalam bagasi.
"Bang maaf!" lirih Dira tertunduk.
"Kenapa?" tanya Defan datar, ia menatap lekat istrinya yang merasa bersalah seperti orang yang ketakutan.
"Maaf aku terlambat bangun tadi pagi, jadinya kita buru-buru hari ini," jelas Dira masih menundukkan kepalanya.
"Loh, kitakan nggak terlambat," ucap Defan santai. Sebenarnya ia daritadi panik, tapi tak ingin menyalahkan Dira sepenuhnya, karena dirinya sendiri juga tak terbangun dipagi hari.
"Iya, tapi karena aku lalai, untung aja kita nggak ketinggalan pesawat, maaf seharusnya aku memasang alarm. Maaf ya bang, sudah bikin abang kecewa," ungkapnya berwajah sendu.
"It's okay! Yang penting lain kali jangan diulang lagi," tegas Defan duduk diruang tunggu.
"Lagian aku heran, kenapa sih kita harus berada di bandara dua jam sebelum keberangkatan. Toh pada akhirnya kita disuruh nunggu juga!" keluh Defan seraya mengkipas-kipas tubuhnya yang serasa gerah dengan satu tangannya.
"Namanya juga peraturan bang," cetus Dira, rasa bersalahnya tak kunjung hilang meski tak mendapatkan amukan dari suaminya.
Setelah dua jam menunggu, akhirnya waktu keberangkatan mereka tiba.
Pengumuman
__ADS_1
Untuk penerbangan dengan nomor BIWXxxxx silahkan memasuki pesawat!
Dira dan Defan beranjak dari duduknya, mereka berjalan menyusuri lorong menuju pesawat.
Setelah duduk manis dikursi bisnis class, Dira dan Defan merasa lega. Tepatnya saat itu, pukul 12 siang, keduanya belum mengisi perut mereka.
Karena rasa penyesalan tadi, Dira bahkan tak ingat kalau dia belum makan apapun sejak pagi. Sedangkan Defan hanya fokus pada penerbangan saja.
Suara keroncongan terdengar dari perut Dira. Bunyinya itu bahkan masuk ke gendang telinga Defan. Ia menatap Dira dengan lekat. Namun, Dira malah tersenyum menyengir bak senyum kuda.
"Lapar ya? Kenapa nggak bilang daritadi, padahal kita punya waktu banyak tadi saat di ruang tunggu," sambar Defan setelah mendengar suara cacing di perut Dira memberontak.
"He'em, aku juga lupa bang belum makan dari pagi hehehe," balasnya terkekeh, menyesali kebodohannya.
"Yasudah bentar lagi take off, baru pesan ke pramugarinya untuk dibawakan makanan. Sabar ya!" ucap Defan dengan lembut.
Seharian Dira keheranan, mengapa sikap suaminya begitu berbeda. Padahal dia sudah berbuat salah tapi mengapa suaminya tidak murka padanya.
Setelah pesawat lepas landas, Defan memanggil seorang pramugari.
"Mbak, tolong bawakan makanan ya," pintanya pada pramugari yang sudah berdiri dihadapannya.
Pramugari itu melemparkan senyum simpul, mengangguk pelan merespon permintaan Defan.
"Ditunggu sebentar ya pak!" ujarnya dengan lembut.
Tak berselang lama, pramugari itu kembali. Membawakan beberapa sajian makanan cepat saji khas pesawat. Khusus untuk penumpang bisnis class memang sudah disiapkan makanan.
Apalagi, penerbangan mereka dilakukan disiang hari, sehingga sudah disiapkan untuk makan siang bagi seluruh penumpang bisnis class tersebut.
"Silahkan dinikmati pak, bu," ujar pramugari setelah memberikan beberapa makanan pada Dira dan Defan, lalu pamit undur diri mengantarkan makanan pada penumpang lainnya.
Dengan lahap Dira menghabiskan makanan yang ada dihadapannya. Rasa laparnya sirna setelah memindahkan seisi makanan dihadapannya ke dalam perutnya.
"Ahhhh kenyang," desahnya seraya menggulum senyum.
Dira jadi merasa tak enak hati pada suaminya, selama perjalanan mereka pulang, ia diperlakukan begitu baik.
Coba kalau sikap abang Defan baik begini terus, jadi aku nggak perlu tenaga untuk marah-marah dan bikin moodku berubah-ubah terus.
Ia bergumam menatap lekat suaminya yang sedang makan dengan santainya. Menikmati sajian siang itu.
__ADS_1