
Pembicaraan itupun kembali ke topik awal. Tentang kepindahan Defan dan Dira dalam waktu dekat.
"Kondominiumnya ada di pusat Kota Medan, nggak jauhlah dari rumah kita ini. Tapi kalian berdua harus sering berkunjung kesini ya," beber Desman.
"Kenapa harus kondominium sih pak? Kenapa nggak rumah biasa saja?" protes Defan.
"Ya itu lebih cocok untuk anak muda seperti kalian! Kalau kau mau rumah biasa ya beli sendiri aja!" tampik Desman.
"Intinya secepatnya lah kalian pindah ke sana. Biar lebih fokus kalian berdua membina rumah tangga."
"Pak, Defan izin setelah beres sidang baru pindah. Lagian nggak ada yang dikejar kok, ngapain buru-buru. Aku mau fokus dulu sama kerjaanku," kilah Defan sekaligus ia belum mau repot mengurus kepindahannya. Banyak hal yang harus diurusnya untuk persidangan dalam waktu dekat.
"Berapa lama?" cecar Desman tak mau anaknya beralasan.
"Tiga hari lagi aku sidang. Paling butuh seminggu lah baru kami pindah dari sini," papar Defan menyakinkan.
"Okelah! Kalau itu keinginanmu. Yang penting kau pastikan bisa menang sidang!" kecam Desman menuntut karena kasus itu sangat menyita perhatian publik.
"Beres bos!" Defan mengacungkan jempolnya. Meskipun ia belum yakin akan mendapatkan bukti itu esok tapi dirinya sangat optimis bisa memenangkan kasusnya.
"Udah istirahat lah kalian sana. Udah beres semua yang bapak sampaikan. Besok cek dulu kondominium kalian. Lagian nggak perlu persiapan apa-apa kok. Semua barangnya sudah lengkap terisi," ucap Desman, kemudian beranjak dari sofa.
Begitu juga dengan Melva, ia ikut beranjak mengikuti jejak suaminya. Mereka meninggalkan Defan dan Dira karena ingin beristirahat.
*Hening
Defan tampak berpikir sejenak. Sementara Dira hanya memperhatikan suaminya dengan tenang. Keputusan mertuanya sangat tepat menyuruh Defan dan Dira pindah dari rumah ini.
Dira bahkan merasa tak nyaman setelah baru beberapa hari tinggal bersama mertua dan iparnya. Apalagi ipar-iparnya yang ketus dan dingin, sikapnya sama seperti suaminya. Sangat memuakkan bagi Dira.
"Ayo bang ke kamar. Udah sepi juga. Aku mau belajar." Dira beranjak berjalan gontai menaiki anak tangga. Defan kali ini mengekori istrinya, ia menurut saja apa yang dikatakan oleh gadis kecil itu.
Setelah sampai di kamar. Dira mulai membuka buku-bukunya. Sedangkan Defan berjalan ke arah lemari, mengambil sesuatu dari sana. Sebuah kantong belanjaan Defan tenteng, memberikannya pada Dira.
__ADS_1
"Apa ini bang?" tanya Dira datar, mengintip isi kantong belanjaan tersebut tapi tak terlihat jika hanya sekedar diintip saja.
"Buka saja!" titah Defan meninggalkan Dira yang duduk di meja belajarnya. Defan menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.
Karena merasa tak sabaran, Dira mengoyak kantong belanjaan itu. Matanya berbinar melihat tas sekolah yang cantik bahkan sedang trend dikalangan anak remaja saat ini.
Tas gendong berwarna merah maroon itu sangat lucu dan cantik terbuat dari kulit asli dipadukan dengan busa di bagian tali gendongannya agar semakin empuk dan tidak cepat membuat bahu lelah.
"Makasih yah bang," ucap Dira semangat. Suaminya ternyata memperhatikannya. Padahal ia tak pernah mengatakan apapun setelah membuang tas kesayangannya di Bali.
"Hmmm." Defan hanya bergumam. Namun jauh dilubuk hatinya ia sangat senang mendengar kata terimakasih itu. Apalagi sore tadi setelah pulang ngantor ia menyempatkan diri mampir ke toko tas. Sayangnya Dira malah tidak ada di rumah saat kepulangannya.
Satu hari ini, Dira hanya memakai tas gendong yang dibeli oleh mertuanya. Tas itu sebenarnya sejak awal kepindahannya sudah ada di dalam lemari. Tapi ia tak berniat memakainya. Barulah setelah tidak lagi memiliki tas, ia terpaksa menggunakan tas gendong tersebut.
Tas dari mertuanya memang tidak sesuai seleranya. Tapi ia bersyukur, berkas tas itu Dira bisa bersekolah hari ini.
"Buka dalamnya!" perintah Defan lagi.
Seketika Dira membuka tas itu dengan semangat. Tetapi tidak nampak apapun dari dalam sana.
"Buka aja!" titahnya lagi.
Dira beralih ke kantong depan tas itu. Disana ada sebuah kartu ATM berwarna hitam. "Kartu apa ini bang?" sambar Dira kebingungan.
"Itu kartu ATMmu. Mulai sekarang mau beli apapun pakai kartu itu. Tarik tunai untuk uang jajan juga," jawab Defan santai dari atas ranjang. Ia sedang bersandar pada dipan kasurnya. Sambil memegang berkas dari kantornya yang ia bawa pulang ke rumah.
"Yah abang, padahal kasih tunai saja. Aku juga nggak perlu-perlu kali kok ATM begini," seloroh Dira.
"Aku nggak mau tiap hari harus ngasih uang tunai samamu! Kalau mau punya uang, ya ambil sendirilah," desis Defan kesal.
"Yaudah bang, tapi berapa isi ATMnya?" tanya Dira penasaran, menoleh ke arah Defan menunggu jawabannya.
"Banyaklah! Cek aja sendiri. Kalau habis tinggal bilang aja." Defan dengan angkuh mengangkat kepalanya. Ia merasa bangga sudah bisa menafkahi istrinya.
__ADS_1
"Oke! Aku akan pakai ATM ini dengan baik," lontar Dira mengerling. Menggoda suaminya sebagai tanda terimakasih. Lalu ia menoleh lagi kearah tas dan buku-bukunya.
Dengan cepat Dira memasukkan buku-buku sesuai mata pelajaran besok ke dalam tas barunya. Tas pemberian dari suaminya. Dira merasa sangat senang dan bahagia karena Defan mulai peka serta memberikan perhatian.
Defan dari atas ranjangnya, merasa mulai terserang kantuk. Kemudian, ia simpan berkas itu ke atas nakas. Membaringkan tubuhnya dengan santai. Kedua kelopak matanya mulai menyipit.
Tanpa pamit ataupun sapaan, Defan tidur meninggalkan Dira seorang diri. Sedangkan Dira masih asik membaca buku pelajarannya. Selama seminggu izin tak masuk, membuatnya ketinggalan pelajaran.
Beruntung para sahabatnya memberikan catatan pelajaran yang terlewatkan olehnya. Setelah hampir satu jam bergelut dengan buku pelajaran, matanya mulai terasa berat.
Ia menyimpan buku-buku miliknya di dalam tas serta di rak meja belajar. Kemudian berjalan mendekati Defan. Ia melihat di atas ranjang Defan sudah tertidur pulas.
"Tumben dia tidur nggak berisik. Bisanya kaya pake toa ngoroknya," cibir Dira menggerutu.
Namun, karena Defan tidur dengan tenang malah membuat Dira yang jadi tidak tenang. Ia malah merindukan suara ngorok khas suaminya.
Padahal matanya sudah terasa berat sekali, tapi dari tadi Dira membolak-balikkan tubuhnya. Merasa resah ada sesuatu yang kurang.
Karena merasa kesal, ia mendekatkan tubuhnya disamping Defan. Tak berselang lama ia pun tertidur.
Setelah tidak sadarkan diri, tangan Dira ternyata menjalar kemana-mana. Tidurnya semakin rusuh. Bahkan ia memeluk Defan bak bantal guling.
Pelukannya membuat Defan merasa sesak malam itu. Seperti ada yang sengaja melilit lehernya dengan erat.
"Awww!" pekik Defan merasa kehabisan nafas dan kegerahan.
Ia membuka matanya perlahan, ternyata gadis kecil itu memeluknya sangat erat sampai dia hampir kehabisan nafas.
Dengan sigapnya Defan melepaskan pelukan Dira.
Hahhhh
Ia mengeluarkan nafas beratnya sangat cepat. Mulai menghirup oksigen sekitarnya, menormalkan pernapasannya.
__ADS_1
"Lasak kali lah anak ini tidurnya! Untung aku nggak mati," keluh Defan mendramatisir.
Ia menjauhkan tubuh Dira, menatap lekat gadis kecil itu. "Ada-ada tingkahnya, bikin orang semakin gemas saja!" gerutu Defan.