Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
bumbu-bumbu persahabatan


__ADS_3

"Yang, sini!" titah Defan, memanggil istrinya agar segera menghampiri.


Dira yang termenung sembari berjalan langsung tersentak kaget. Padahal, ia masih larut dalam pikirannya sendiri mengenai Shinta yang berusaha mendekati suaminya.


"Susah emang punya suami ganteng dan kaya, banyak aja orang yang mau merebut," batin Dira, menatap Defan dan Shinta dari kejauhan, lalu mengulum senyum tipis di wajah.


Kemudian, Dira berlari agar mendekati suaminya. Menggenggam tangan Defan di depan wajah Shinta agar sahabatnya itu benar-benar iri.


"Abang, ngomongin apa sama Shinta?" sambar Dira, menatap lekat suaminya.


Sementara Shinta merasa tersisih, sebab Defan sudah berjalan beriringan dengan Dira. Dengan berat hati, Shinta menghampiri dua teman lainnya.


"Eh, tadi si Shinta nanya-nanya soal proses jadi pengacara. Iya kan, Shin?" tanya Defan, menoleh ke samping, yang ternyata Shinta sudah tidak ada karena sudah berpindah ke belakang.


"Iya," jawab Shinta lugas, karena ia masih bisa mendengar percakapan Defan dan Dira.


"Sesak kali kau di sini!" gerutu Jenny, melihat kehadiran Shinta tiba-tiba.


"Ih, nggak enak kalau jalan disamping pasutri," keluh Shinta, sedikit berdecak.


"Eh, tadi kau nanya apa, Shin? Sebelum abang panggil si Dira?" kata Defan, menoleh lagi ke belakang.


Dira hanya menatap sinis ketika melihat suaminya yang sibuk memperhatikan wanita lain meskipun itu adalah temannya sendiri.


"Aku tadi nanya, bang. Susah nggak sih jadi pengacara?" balas Shinta, tersenyum penuh kemenangan karena ternyata pria itu masih memperhatikannya.


"Oh ... susah-susah gampanglah!" jawab Defan, lalu tiba-tiba Dira mengalungkan tangannya ke lengan suaminya.


"Bang, kalau jalan tuh tatap di depan!" seru Dira, memutar bola matanya lantaran merasa jengah.


"Kau kenapa sih, dari tadi bicaranya ketus!" imbuh Defan, menatap Dira dengan datar.


"Nggak apa-apa, mau ke mana nih? Eh, kelen tiga, ke mana enaknya?" ujar Dira, menoleh ke belakang.


Alhasil, tiga temannya pun kebingungan. "Pulang ajalah, nanti dicari mamakku pula!" sambung Jenny.


"Iya, pulang aja, udah mau malam!" lanjut Shinta.


Hanya Carol yang terdiam, ia setuju dengan kubu manapun. Mau pulang atau melanjutkan jalan-jalan, dia akan ikut saja.


"Yaudah kalau kelen mau pulang duluan! Aku masih mau di sini sih!" beber Dira, mendelik kesal.


"Dih, merajuk kau, ya?" timpal Carol, karena melihat kekesalan di raut wajah Dira.


"Enggaklah! Siapa yang merajuk!" Dira berjalan sembari mengeratkan kaitan tangannya pada suami.


"Eh, jadi kelen mau pulang?" tanya Carol, menatap dua sahabatnya.

__ADS_1


Mereka pun tertinggal karena Dira sudah berjalan lebih dulu bersama Defan.


"Udah ikut ajalah!" tambah Jenny.


"Yaudah, beresin sekalian aja! Nanti pulang sama-sama," lanjut Shinta.


Ketiganya berlari mengejar kepergian Dira dan suaminya. Mereka lanjut mengekori dari belakang. Hingga akhirnya, Dira berhenti di tempat permainan anak-anak.


"Main basket, yuk, bang?" ajak Dira, menarik suaminya dengan cepat.


Ketiga sahabatnya bagaikan nyamuk yang menemani kencan sepasang suami istri. Bahkan, Dira sampai melupakan ketiga sahabatnya lantaran asik bermain sama suami sendiri.


"Aku beli kartunya dulu!" tandas Dira, berjalan ke kasir, membeli kartu untuk permainan di wahana-wahana yang ada di sana.


Lalu, ia sibuk bermain basket berdua dengan Defan. Sedangkan, ketiga temannya hanya menatap sinis keasikan pasangan itu.


"Pulang ajalah, yuk!" ajak Jenny, mengedarkan pandangan sekali lagi, memastikan kalau Dira tak mengetahui mereka masih di tempat yang sama.


"Iya, kayak nyamuk loh kita di sini! Si Dira pura-pura nggak lihat kita pula tadi!" imbuh Shinta.


"Yaudah, ayolah, pamitan dulu. Nggak enak sama bang defan dan dira," tutur Carol, saat tatapannya beralih pada pasutri itu.


Namun, Jenny dan Shinta sudah berjalan bergandengan. Meninggalkan Carol yang masih berdiri menunggu keputusan dua temannya. "We, tungguinlah!"


Carol mengejar Jenny dan Shinta hingga nafasnya terenggal-enggal. "Kelen kenapa sih? Nggak sopan loh, ninggalin tanpa pamit," sergah Carol, mengatur kembali nafasnya agar segera normal.


"Astaga, gantian kelen dua yang merajuk sama si Dira?" Carol terkekeh melihat dua temannya yang bersifat kekanak-kanakan.


***


Di tempat permainan, Dira dan Defan sudah lelah bermain basket. Mereka menghentikan permainan tersebut. Defan mengedarkan pandangan mencari ketiga teman Dira yang sudah tak kelihatan lagi.


"Yang, kawanmu mana?" tanya Defan, memastikan penglihatannya tidak salah.


"Loh, bukannya udah pulang?" tanya Dira polos, memang ia tak melihat ketiga temannya itu sejak pertengkaran kecil tadi.


"Tadi kan mereka di situ! Mereka ngikutin kita kok!" Defan menunjuk ke arah tempat yang tak jauh dari posisinya saat ini.


"Apa? Mereka nggak jadi pulang tadi?" tanya Dira, mengedarkan pandangan, dijawab dengan gelengan kepala Defan.


"Coba telepon!" ujar Defan, duduk di kursi yang disediakan pihak mall.


Dira mengambil ponsel dari dalam tas, melakukan satu panggilan untuk temannya.


****


Drrt ... drtt ...

__ADS_1


"Eh, si Dira nelepon nih," ungkap Carol, saat mengambil ponsel dari dalam tas yang bergetar sejak tadi.


Saat ini, ketiga perempuan itu sudah duduk di jok kursi mobil. Baru saja, Carol ingin meninggalkan perparkiran mall tapi sudah ada panggilan dari Dira.


"Cuekin ajalah!" sambar Shinta, dengan sengaja.


"Angkat aja!" timpal Jenny.


Carol pun menjadi kebingungan karena dua temannya berbeda pendapat. Baru ia akan mengangkat telepon tapi panggilannya sudah terhenti.


"Yah, udah mati!" tutur Carol, menatap lekat ponsel yang sudah berkedip menghitam.


"Jalan, Rol!" titah Shinta, tak ingin berlama-lama di dalam lantai pengap tempat perpakiran.


"Iya, jalan dulu," sambung Jenny.


****


"Nggak diangkat, Bang! Mungkin mereka sudah pulang," seloroh Dira, duduk bersebelahan dengan suaminya.


"Pastikan mereka sampai rumah dengan aman! Lagian kalian kenapa sih pake berantam-berantam segala!" hardik Defan, menatap istrinya dengan tatapan khawatir dengan pertengkaran kecil itu.


"Itu udah biasa, Bang! Namanya itu bumbu-bumbu persahabatan. Lagian bukan berantam kok!" kilah Dira, beranjak dari kursi, mengajak suaminya lanjut bermain.


"Ke mana lagi?" tanya Defan, karena tangannya ditarik oleh Dira.


"Main lagilah."


"Nggak capek?" Defan masih saja merasa terengah-engah karena permainan bola basket tadi.


"Enggak! Main mobil-mobilan, Bang! Seru kayaknya," lanjut Dira, menarik ke arena permainan mobil.


"Ih, kayak anak-anak!" gerutu Defan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Udah ikut aja!" Dira menarik lengan suaminya, berjalan gontai menuju arena permainan.


Lalu, keduanya menggesek kartu untuk permainan tersebut. Masing-masing satu mobil, keduanya bermain bahkan saling menabrakkan mobil mini itu.


****


Carol mengantarkan dua temannya secara bergantian. Karena rumah Shinta lebih dekat, ia mengantarkan Shinta sampai depan rumah.


"Makasih, Rol!" ucap Shinta, tersenyum pada dua temannya yang masih terduduk santai di jok mobil.


"Iya, istirahatlah! Kami pulang, ya!" pamit Carol.


Jenny dan Carol melambaikan tangan pada Shinta. Di tengah perjalanan, Shinta merasa curiga dengan sahabatnya yang satu tadi.

__ADS_1


"Jen, kau lihat tadi Shinta sok akrab sama bang Defan kan? Curiga nggak sih?" tandas Carol, melirik Jenny sekilas.


__ADS_2