
Dira baru saja sampai di kampus, ia segera masuk dan duduk di samping Jenny yang sudah datang lebih awal. Tak lama setelah ia duduk, ternyata Angga juga baru saja tiba di dalam kelas.
"Jen, sudah kau kumpulkan tugas kita?" tanya Dira pada Jenny karena kemarin Dira memberikan makalah pada Jenny dan berpesan bahwa sahabatnya harus mengantarkan makalah itu pada sang dosen.
"Udah aman kok," jawab Jenny lugas, kemarin memang Dira meminta Jenny untuk menyimpan makalah dan harus segera diberikan kepada dosen sebelum tenggatnya habis, khususnya pada pagi ini.
Oleh karena itu, Jenny pun datang sejak pagi, ia langsung mengantarkan makalah kelompok yang sudah mereka selesaikan bersama kepada dosen yang memberikan tugas.
Dosen sengaja meminta mahasiswanya mengantar sebelum waktu mengajarnya dimulai. Kebetulan dosen itu akan mengajar tepat pada pagi ini.
Sang dosen—Tini, berniat saat mengajar di dalam kelas agar para mahasiswa membahas makalah satu persatu dari salah satu perwakilan kelompok. Oleh sebab itu, ia meminta makalah harus segera dikumpulkan saat pagi sebelum pelajaran dimulai.
"Pagi!" sapa dosen Tini pada seluruh mahasiswa, pagi itu sang dosen tampak cantik dengan sanggul kecil di kepala meskipun sudah memasuki usia paruh baya.
"Pagi, Ibu," jawab seluruh mahasiswa dengan kompak.
Mereka langsung memulai pelajaran tanpa ada basa-basi, dosen juga meminta untuk perwakilan kelompok Dira yang memulai penjelasan lebih dulu, mengenai hasil makalah yang mereka buat.
"Kelompok Dira perwakilannya maju ke depan untuk menjelaskan tentang makalah ini," ujar Tini dengan tegas.
Dira, Jenny dan Angga belum mengetahui konsep tentang pembahasan makalah tersebut. Bahkan mereka belum berkompromi sebelumnya, siapa yang akan maju ke depan untuk membahas penjelasan makalah itu.
"Siapa nih yang maju ke depan?" tanya Jenny berbisik pada Dira, ia merasa khawatir kalau dirinya yang maju menjelaskan, mereka malah mendapatkan nilai yang jelek, sebab dia tak mempelajari makalah itu sebelumnya secara menyeluruh.
"Nggak tahu, aku juga bingung juga sih, Angga aja deh," titah Dira sesekali melirik wajah Angga yang polos tengah duduk di pojokan.
Angga yang terdiam dan tak tahu menahu mengenai perdebatan Dira dan Jenny. Ia hanya duduk di pojokan ruangan dengan raut wajah yang datar. Akhirnya Dira menunjuk pada dirinya.
__ADS_1
"Angga, Bu!" teriak Dira, lalu telunjuknya diangkat mengarah pada Angga.
"Angga kau maju!" titah Tini.
Sementara Angga yang memperlihatkan wajah terkejut, justru Dira tanpa merasa bersalah menunjuk teman satu kelompoknya tanpa berdiskusi dahulu.
Akhirnya dengan pasrah, Angga maju ke depan menuruti keinginan Dira. Meskipun pria itu belum meneliti hasil makalah yang mereka buat secara menyeluruh.
"Siapa namamu?" tanya dosen Tini, saat Angga sudah maju ke depan.
Padahal sudah jelas-jelas tadi Dira dan dirinya meneriakkan nama Angga. Entah mengapa sang dosen itu justru malah menanyakan lagi, mungkin karena faktor usia juga.
"Nama saya Angga, Bu."
"Baiklah, ini makalahnya, silakan jelaskan secara rinci mengenai hasil makalah yang kalian buat dan jangan sampai ada yang terlewatkan," pesan sang dosen.
Angga hanya mengangguk sembari membolak-balikkan lembaran makalah secara sekilas dan cepat. Tanpa disangka-sangka ternyata Angga bisa menjelaskan serinci mungkin dari hasil makalah yang dibuat walaupun ia hanya menatap lembaran makalah secara sekilas.
Dira dan Jenny hanya bergeleng-geleng kepala lantaran salut pada teman satu kelompoknya. Kepintaran Angga tak tertebak sebelumnya. Dira dan Jenny tak menyangka kalau Angga memiliki kepintaran yang luar biasa, pantas saja saat mereka berada di bangku SMA, walaupun Angga terlihat seperti pria biasa pada umumnya hingga terkesan nakal dan cuek serta tak peduli dengan pelajaran tetapi ia berhasil diterima di fakultas kedokteran.
Saat menjelaskan tentang makalah mereka, akhirnya pikiran Jenny dan Dira terjawab mengapa Angga bisa lolos dan menjadi seorang mahasiswa di fakultas yang sama dengan mereka berdua.
***
Defan baru mendapat kabar dari preman yang ia suruh untuk mencari penipu yang merupakan rekan kerja mertuanya. Ternyata, penipu itu tengah bersembunyi di Dolok Sanggul, di sebuah desa kecil yang sangat sulit untuk menjangkaunya meskipun masih berada di pulau sumatera.
Namun, tidak dengan Rudy, pria itu justru dengan mudah menangkap penipu melalui anak buahnya. Tanpa pikir panjang, Rudy langsung menghubungi Defan, menyampaikan kalau ia sudah menemukan penipu itu.
__ADS_1
Kini, Rudy tengah menunggu anak buahnya yang sedang mengantarkan sang penipu hingga sampai di kota Medan.
Selain itu, Rudy juga mengatakan kepada Defan bahwa seluruh uang hasil tipuan itu belum terpakai sedikitpun. Anak buahnya berhasil membawakan uang cash yang disimpan dalam koper maupun tas, yang sering dibawa kemanapun oleh si penipu saat berpindah-pindah tempat.
Rudy menghubungi Defan siang itu. Ia hanya memerlukan waktu beberapa jam saja, tak lama Defan langsung menerima panggilan telepon tersebut.
****
Drt ... drt
"Halo, Bang apa ada kabar terbaru?" ucap Defan pada preman itu melalui sambungan telepon.
"Halo, Pak saya sudah menemukan orang yang Bapak cari, dalam waktu 4 jam dia akan berada di sini. Jangan khawatir, uangnya hanya terpakai sedikit untuk dia makan!" ungkap Rudy.
"Wah ... mantap kali, Abang bisa langsung dapat penipu itu, kenapa nggak dari beberapa hari yang lalu saya minta bantuan Abang!" kekeh Defan.
"Kalau soal cari-mencari itu sudah menjadi urusan saya, Pak jadi kau tidak perlu khawatir. Mau sesulit apapun tempatnya pasti akan kami temukan orangnya," tegas Rudy.
Tak lama, sambungan telepon pun terputus setelah pembicaraan mereka berakhir. Defan langsung menghubungi mertuanya untuk menyampaikan kabar baik yang baru saja ia terima.
"Halo, Amang saya mau kasih kabar baik!" ujar Defan tanpa basa-basi.
Saat Sahat mendapatkan panggilan telepon dari menantunya, ia buru-buru meminta izin pada manajer yang mengawasi agar diperbolehkan menjawab panggilan telepon. Sebab, prediksinya kalau panggilan telepon itu sangat penting.
"Kabar baik apa, Hela?" Sahat yang tengah berdiri sedikit bergeming dan penuh harap, ia berdoa bahwa kabar baik yang menghampiri adalah tertangkapnya penipu itu.
"Nanti malam sepertinya, Amang harus ikut dengan saya untuk menemui penipu yang Amang cari selama ini," beber Defan, membuat Sahat merasa lega.
__ADS_1
"Hah ... baru dalam beberapa jam, kau sudah mendapatkan penipu itu?" tanya Sahat, masih tak percaya bahwa menantunya itu sangat bisa diandalkan.
"Iya, emang aku sudah berhasil mendapatkan dia. Untung saja, uangnya pun masih utuh, belum dipakai sama sekali karena dia tidak berani menggunakan uang itu, paling hanya berkurang sedikit, kabarnya sih untuk dia makan," seloroh Defan.