Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
tak enak hati


__ADS_3

Dua puluh menit Dira berada di dalam kamar mandi. Ia menikmati ritual mandinya sore itu. Sementara Defan sedang asik menunggu di dalam kamar sembari membaca sebuah novel online di aplikasi noveltoon yang ada di ponselnya.


Selain Defan hobi membaca komik, ia juga kerap mengisi waktu luang bahkan memulihkan pikirannya dengan membaca novel online.


Ia menatap fokus layar ponsel itu, sesekali melirik ke arah kamar mandi, berharap istrinya keluar dari sana.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi terbuka, mengalihkan pandangan Defan saat itu. Ia menoleh pada Dira yang yang tubuhnya terbalutkan handuk putih. Pundak dan pahanya terekspose, terlihat sangat mulus. Tubuh rampingnya sangat menyita perhatian Defan.


Glek


Defan menelan shalivanya setelah menatap tajam dengan kedua mata elangnya. Seakan-akan ia ingin menerkan istri cantiknya. Entah mengapa perasaan Defan sangat ingin menyentuh tubuh ramping tersebut.


"Kenapa bang?" sindir Dira setelah Defan terus saja menyorot tubuh Dira dari atas hingga bawah, membuatnya merasa sangat tidak nyaman.


"Nggak ada apa-apa!" jawab Defan sinis, mengembalikan pandangannya pada layar ponselnya.


Defan pura-pura tak memperhatikan Dira yang sedang sibuk mencari baju di dalam lemarinya. Ia meneliti piyama yang ada disana, ada satu piyama yang kembar, seperti saat ini sedang dipakai oleh suaminya.


Tapi ia malas untuk memakai piyama couple, akhirnya ia memutuskan untuk mengambil piyama yang lain. Sangat berbeda jauh dengan piyama yang digunakan Defan malam itu.


Defan yang melihat Dira sengaja memakai baju yang berbeda mulai merasa jengkel. Seharian Dira membuatnya murka. Tetapi ia menjaga harga dirinya, tak mau marah hanya karena menurutnya hal sepele.


Tok..


Tok..


Suara ketukan pintu menarik perhatian suami istri itu. Dira langsung berlari ke kamar mandi untuk memakai piyama yang sudah diambilnya. Sedangkan Defan berjalan mendekati pintu kamar, menarik handelnya lalu membuka daun pintu itu dengan lebar.


"Ada apa dek?" tanya Defan ketika melihat sosok niar ada di depannya.


"Makan malam bang. Semua udah kumpul," ujar Niar langsung meninggalkan kamar pasutri itu.


Defan membiarkan pintu terbuka, ia meneriaki Dira dari posisinya. "Buruan Dir, mau makan malam."

__ADS_1


Dira buru-buru memakai piyamanya. Ia tak ingat ada momen makan malam bersama, pastinya mertuanya akan mempertanyakan tentang baju mereka yang tak sama.


"Duh! Lupa kali aku, pasti inang protes nih," gumam Dira seraya berjalan keluar dari kamar mandi. Tapi ia biarkan saja memakai baju itu dengan cueknya.


"Ayo bang." Dira mengekori suaminya yang sudah berjalan lebih dulu.


Di meja makan, semua sudah berkumpul, kedua mertua serta iparnya. Defan dengan santainya duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Diikuti oleh Dira yang duduk di sebelah Defan dengan tenang dan anggun.


"Kok lama kali sih!" gerutu Anggi tak sabaran. Ia semakin malas melihat abangnya yang besikap sesuka hati. Tak tepat waktu datang ke meja makan.


"Santai lah," ketus Defan memutar bola matanya, menatap tajam adik bungsunya.


"Jangan biasakan telat gitu bang! Ajarin istrinya biar tepat waktu. Masa mau makan aja harus dipanggil-panggil dulu," cibir Niar.


Dira hanya tertunduk diam dan malu. Ia memang belum mengetahui aturan di rumah tersebut. Bahkan Defan tak kunjung mengajarkannya.


"Sudah-sudah. Dira itu hanya belum terbiasa saja," sahut Melva netral. Tak membela siapapun.


"Ayo kita makan! Seperti biasa bapak yang pimpin doa." Defan melirik bapaknya yang sudah melekatkan kedua jari jemarinya di depan dadanya bersiap untuk berdoa.


Dalam 15 menit mereka menuntaskan makan malamnya. Niar dan Anggi langsung beranjak dari meja makan, meninggalkan orang tua dan abangnya yang masih bersantai di meja makan mereka.


Kebiasaan itu memang sudah dilakukan Niar dan Anggi karena mereka harus lanjut belajar di kamarnya masing-masing.


Sementara di sana tinggal lah Defan dan Dira ditemani oleh kedua orang tuanya.


"Udah beres kalian kan? Ayo kita ngobrol dulu di ruang keluarga," ucap Desman beranjak dari kursi makannya menuju ruang keluarga.


Yang lainnya pun melakukan hal yang sama. Mengekori Desman dari belakang. Semua duduk santai di atas sofa panjang yang ada di depan tv. Tv sengaja tidak menyala karena ada sesuatu yang harus di sampaikan oleh orang tua Defan.


"Setelah kalian tinggal disini mau berjalan dua minggu. Bapak sama mama memutuskan agar kalian berdua pindah," tutur Desman serius seraya menatap wajah anak dan menantunya.


"Kenapa pindah pak?" timpal Defan, ia belum siap meninggalkan kamar kesayangannya.


"Kalian berdua ini sudah suami istri. Butuh privasi. Sudah tak pantas diatur-atur oleh orang tua lagi." Desman mengeluarkan sebuah kunci dari sakunya yang sudah ia simpan sebelum makan malam.

__ADS_1


Kunci itu ia berikan ke tangan Defan, meraih telapak tangan Defan dengan lembut, lalu meletakkan kunci itu di atas telapak tangan Defan.


"Kunci apa ini pak?" seloroh Defan sembari menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Ia pikir harus mempersiapkan rumah sendiri dari hasil keringatnya.


Sudah lama Defan menabung, tapi ia tidak kepikiran untuk membeli rumah sendiri.


"Itu kunci kondominium sebagai rumah yang akan kalian tempati. Dalam minggu ini kalian harus pindah dari rumah ini," tegas Desman.


"Hah kenapa secepat itu pak?" ketus Defan.


"Supaya kalian berdua punya waktu sendiri. Bisa saling mengenal satu sama lain nak. Biar Dira juga nggak sungkan mau ngapa-ngapain. Kalau tinggal disini kan dia sungkan sekali. Apalagi, adik-adikmu suka ngeluh seperti tadi," singgung Melva khawatir.


Dira hanya diam mendengarkan dari tadi. Tak ada suara apapun yang keluar dari mulutnya. Di dalam pikirannya, ia hanya menyesal setelah memakai piyama yang berbeda dengan suaminya.


Bahkan ia tak konsentrasi apapun yang menjadi pembicaraan mereka saat itu. Dira sangat menyesal ketika melihat baju yang dikenakan mertuanya berpasangan. Begitu pula dengan ipar-iparnya juga bajunya berpasangan padahal hanya kakak beradik.


Apa itu sudah menjadi tradisi dalam keluarga mereka? Dira menjadi merasa tak enak hati dengan mertuanya yang sudah rela menyiapkan segala keperluannya termasuk baju-baju yang dipakainya.


"Dir." Melva memanggil Dira tapi tidak ada respon dari gadis itu.


Defan menyenggol Dira yang tengah melamun.


"Hmmm." Dira membuyarkan lamunannya, menoleh pada Defan karena telah menyenggolnya.


"Itu dipanggil mamaku," lirih Defan menatap tajam gadis itu.


"Kenapa Inang?" balas Dira menoleh ke arah mertuanya.


"Kau dengarnya semua percakapan kami? Kok dari tadi bengong?" cibir Melva meskipun dengan nada yang lembut.


"Dengar kok Inang." Dira mulai memfokuskan pendengarannya.


"Oh ya, satu lagi. Dira biasakan kalau pakai baju, baju tidurnya samaan dengan pasangannya ya sayang. Karena itu sudah terbiasa kami lakukan sejak dulu. Biar terlihat sangat harmonis dan senada," tegur Melva dengan lembut mengulas senyum simpulnya.


Dira mengangguk patuh, benar saja prediksinya ia akan mendapatkan protes dari mertuanya meski pun ucapan itu terdengar lembut dan santun. Tapi ia merasa semakin tak enak hati.

__ADS_1


__ADS_2