Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
perayaan kemenangan


__ADS_3

"Setelah kita menonton video pengakuan korban. Bagaimana terdakwa? Apa kau mau berkata jujur?" cecar Jaksa Penuntut Umum.


Pelaku masih diam tak berkutik. Pengacaranya pun tetap menjawab pertanyaan itu. "Sesuai dengan pengakuannya, terdakwa tetap bersikukuh dengan pendapatnya. Kalau ia saat itu tidak sadar karena sedang mabuk!"


Semua pengunjung persidangan semakin histeris mendengar pembelaan dari pengacara pelaku.


"Tetap saja, Yang Mulia! Kita sudah memiliki bukti yang kuat! Saya ingin terdakwa tetap dijatuhi hukuman yang sangat berat! Penjara seumur hidup serta denda untuk diberikan pada korban sebesar 500 juta," beber Defan dengan ambisius.


"Saya ingin membawa satu orang saksi, pemilik warung yang ada di depan rumah Shaira–Bu Jaka," timpal Defan.


Ketua Hakim pun menyetujui permintaan Defan. Seorang perempuan paruh baya duduk di depan menghadap Ketua Hakim.


"Tolong ceritakan apa yang ibu lihat hari itu," ucap Defan lalu segera duduk tenang di kursinya.


"Saat hari kejadian, saya seperti biasa melayani pelanggan. Memang saya sempat lihat pak Baymana datang ke rumah Shaira. Dia memang sadar! Tidak sedang mabuk. Saya hanya melihat dari jauh, tidak menyapanya. Karena Baymana ini sering berkunjung ke rumah keluarga korban dan merupakan kerabatnya, jadi saya anggap hal biasa saja," kata Bu Jaka panjang lebar.


"Setelah dia masuk, tiba-tiba ada suara teriakan! Tapi kami kira Shaira hanya menangis dan ditenangkan oleh laki-laki itu. Namun, setelah dia keluar, Shaira pun keluar sudah telanjangg dan ada darah dibagian kakinya!"


Keluarga korban semakin histeris. Sementara keluarga pelaku masih merasa tidak percaya, terutama istri Baymana. Ia tak percaya dengan apa yang diungkapkan dalam persidangan. Selama ini suaminya adalah kepala keluarga yang baik bahkan menyayangi anak-anaknya.


"Baiklah para hadirin. Setelah para hakim mempertimbangkan hukuman bagi terdakwa. Kita akan menjatuhi hukuman penjara selama 25 tahun karena alasan pelaku tidak sadar melakukannya serta denda 500 juta untuk diberikan kepada korban demi mengobati mentalnya."


Tok ... Tok ... Tok ...


Suara ketukan palu tiga kali menandakan sahnya vonisan para hakim. Hakim Ketua memutuskan vonis persidangannya untuk pelaku–Baymana. Ia dijatuhi kurungan penjara selama 25 tahun serta denda 500 juta yang akan diambil dari sebagian hartanya.


Istri Baymana melemas ketika mendengar vonis dari Ketua Hakim.


Bruggh


Tubuhnya ambruk seketika karena suaminya memang benar melakukan hal sekeji itu. Tulang-tulangnya terasa linu seperti mengendur, kepalanya pusing tak terhinga.


"Mas ... tega-teganya kau melakukan hal sekeji itu! Kau menghancurkan keluarga kita," lirih perempuan yang terkulai lemas jatuh ke sisi lantai.


Dua sipir langsung mengamankan dan membawa Baymana karena khawatir akan diserang oleh pihak keluarga korban.


Sementara keluarga korban tampak mengutukki kelakuan Baymana. Ibu Shaira dan Ayah Shaira sampai melepaskan sepatunya dan menimpuki Baymana saat pelaku itu dibawa pergi dari ruangan persidangan.


Para Hakim meninggalkan persidangan, disusul dengan kepergian Jaksa Penuntut Umum serta pengacara pelaku. Sementara Defan dari pengacara korban masih menenangkan keluarga korban. Permintaan vonisnya untuk kurungan penjara seumur hidup tidak direstui para hakim.


"Maaf pak, bu, vonis hukuman seumur hidup tidak setujui oleh para hakim. Namun, saya memastikan denda dari pelaku itu akan segera bisa digunakan untuk pengobatan Shaira," tutur Defan tertunduk.


"Nggak apa-apa pak! Bapak sudah berhasil memenangkan persidangan ini. Permintaan denda itupun sudah disetujui Ketua Hakim," balas Ayah Shaira. Ia meraih tangan Defan, menjabatnya sebagai rasa terimakasihnya.

__ADS_1


Desman mendekati putranya. Ia menepuk pundak Defan dengan rasa bangga. Setidaknya, ia berhasil mendapatkan satu vonis berupa denda untuk keluarga korban.


"Bapak pamit duluan. Sampai ketemu di kantor," imbuh Desman langsung keluar dari ruang persidangan. Meninggalkan pengadilan dan segera ke kantornya didampingi oleh Dania.


"Hebat juga si Defan ini! Makin lama makin matang persiapannya," puji Desman bangga.


"Iya amangboru ... udah lama kali itu dia persiapkan. Apalagi pengakuan korban sangat sulit. Bahkan sampai ada kendala," ungkap Dania.


"Kendala apa?" tanya Desman menoleh pada Dania.


"Rekamannya hilang amangboru. Aku lalai ternyata rekamannya nggak tersimpan," beber Dania tertunduk.


"Oh ... tapi untunglah, sudah bisa dia dapatkan lagi," lanjut Desman.


****


Di ruang sidang, Defan masih mengajak kedua orang tua Shaira untuk pulang bersama. "Pak, bu, mari saya antarkan," ajak Defan diangguki oleh kedua orang tua itu.


Mereka masuk ke dalam mobil Defan, mengantarkannya langsung ke rumah sakit. Hari itu, sudah cukup siang. Tepat pukul 12 siang, Defan sudah menyelesaikan persidangannya. Ia jadi teringat pada istrinya.


Namun, jam-jam segini tentunya Dira sedang makan siang di sekolahnya.


Defan mengambil ponselnya, menghubungi Dira setelah menurunkan kedua orang tua Shaira.


"Iya, ada apa bang?" tanya Dira to the point.


"Kau lagi ngapain?" ucap Defan basa-basi.


"Lagi di kantin bang. Kenapa?" Dira menatap bingung sahabatnya yang ada di depan saat ini. Tidak biasanya pria itu meneleponnya disaat jam sekolah.


"Nanti pulang sekolah jalan yuk? Perayaan kemenangan sidang abang," balas Defan.


"Selamat ya bang!! Tapi hari ini nggak bisa."


"Kenapa?"


"Dira mau jalan sama teman-teman! Udah janji tadi pagi."


"Yaudah malam aja ya?" tawar Defan.


"Oke bang!"


Kringg- Kringg

__ADS_1


Suara bel sekolah Dira berbunyi, Dira menutup teleponnya tanpa pamit pada suaminya.


"Kenapa Dir?" tanya Carol penasaran.


"Bang Defan ajak jalan. Tapi aku udah terlanjur janji sama kalian." Dira menatap ketiga temannya itu secara bergantian.


Flashback!


Saat Dira masuk ke sekolah, Jenny langsung menyekalnya tepat di depan pintu ruangan kelas mereka.


"Eh ... nggak lupa kau kan? Hari ini kita jadi ngumpul! Jangan banyak alasan lagi," cecar Jenny memicingkan matanya.


"Iya! Tenang! Hari ini aku nggak ada jadwal sama bang Defan. Kemana emang?" tanya Dira melemparkan senyum lebarnya.


"Ke rumahku aja!" Carol baru saja menghampiri kedua sahabatnya itu.


"Ah bosan ... lalap ke rumah kau," sambar Shinta yang juga baru tiba di depan pintu.


"Karokean ajalah, gimana?" usul Jenny.


"Oke!" ketiganya menjawab dengan kompak.


Mereka langsung masuk ke kelas, tak lama kemudian suara bel berbunyi. Pertanda pelajaran harus dimulai.


Flasback off!


"Oh terus kau jadi jalan sama kami apa bang Defan?" cecar Jenny dengan tatapan menyelidik.


Dira menggelengkan kepalanya lalu terbahak-bahak. "Ya jalan sama kelenlah! Bosan aku jalan sama bang Defan terus! Lagian udah lama kita nggak kumpul-kumpul," celetuk Dira dengan semangat.


"Nah ... gitu dong! Itu baru namanya sahabat kita–Dira!!!" kata Shinta dengan bangga.


Mereka berlari menuju ruangan kelas. Melanjutkan sisa dua mata pelajaran untuk hari ini.


*****


Defan kembali ke kantornya. Ia masih harus mengecek berkas-berkas pekerjaannya. Baru saja ia mau memasuki ruangannya tetapi Dania mencekalnya.


Dania mengulurkan tangannya seraya tersenyum manis pada sahabatnya. "Selamat ya Def! Mau aku traktir?"


Defan meraih tangan itu, menjabatnya dengan kencang penuh rasa bangga. "Makasih! Traktiran gausahlah! Menang sidang aja sudah cukup." Defan langsung memasuki ruangannya meninggalkan Dania.


Tapi, Dania mengejar sahabatnya itu. Masuk ke ruangan yang sama.

__ADS_1


__ADS_2