
"Udah mati kok panggilannya," jawab Defan datar.
Dira memendam rasa jengkelnya karena Defan dengan sengaja tidak mengangkat telepon dari sahabat perempuannya itu.
"Yaudah bang, Dira masuk dulu. Abang hati-hati," ucap Dira, kemudian keluar dari dalam mobil Defan.
Dira langsung masuk ke dalam rumah, tidak menunggu Defan hingga pergi meninggalkan halaman rumahnya. Namun dia teringat kalau baru saja dia keluar dari mobil tanpa membawa apapun.
Tas Dira hingga gaunnya yang tadi dia pakai tertinggal semua didalam Mobil. "Tasku!" batin Dira.
Ia juga tidak bisa mengubungi Defan lantaran ponselnya berada di dalam tas itu. Dira langsung mencari mamaknya. Tetapi malah tidak ditemukan satu orang pun didalam rumah.
Kebetulan hari itu, semua orang di rumahnya pergi entah kemana. Akhirnya Dira memilih masuk ke kamar dan tidur. Tidak banyak yang dapat ia lakukan, kecuali menunggu kesadaran Defan kalau semua barangnya tertinggal di dalam mobilnya.
Defan menyetir sambil berbicara dengan sahabatnya. Dia sengaja tidak mengangkat panggilan dari sahabatnya karena merasa tidak enak pada Dira.
Namun setelah Dira keluar dari mobilnya, dengan cepat Defan menghubungi kembali sahabatnya.
"Sorry tadi nggak keangkat! Ada apa tadi telepon?" tanya Defan dengan tenang. Ia tidak menyadari kalau barang-barang Dira masih berada di dalam mobil karena fokus menyetir sambil mengobrol dengan sahabatnya.
"Apa kau sedang sibuk? Aku perlu bantuanmu mengantarkan aku ke suatu tempat," ucap Dania diseberang teleponnya dengan candaannya.
"Kemana? Aku masih ada disekitar rumah Dira,"
"Aku baru saja selesai bekerja dan bosan. Aku mau mengajakmu bermain! Karokean yuk berdua," ajak Dania.
Defan bingung harus menerima atau menolak ajakan sahabatnya itu. Tapi jika ia menolak ajakan Dania, keesokannya Dania akan merajuk. Memilih untuk diam, tak mau berbicara dengan Defan. Seperti itulah sikap Dania selama ini.
Ia selalu merajuk ketika ditolak ajakannya. Dan menganggap Defan bukan lagi sahabatnya.
"Duh gimana ya Dania! Aku masih menggunakan setelan jas karena baru selesai pemotretan seharian," balas Defan yang ingin dimengerti oleh Dania kalau ia sebenarnya menolak secara halus.
"Ayolah! Sahabatmu ini sedang bosan!" ketusnya.
Mendengar suara ketus Dania, Defan semakin takut untuk menolak ajakan sahabatnya. Mood swing dari Dania kadang membuatnya pusing. Dania tidak segan-segan menyemprot Defan, memaki hingga nyuekin Defan karena ajakannya ditolak mentah-mentah.
"Ngak apa-apa kalau aku pakai jas," ucap Defan menyakinkan Dania agar memilih untuk membatalkan acara untuk ke tempat karoke.
"Ngak masalah! Kan nggak ada yang lihat kita Def! Lagian kita didalam ruangan kok mau nyanyi-nyanyi. Sekali-kalilah kau buang suntukmu itu," tegas Dania.
"Oke! Kau sekarang dimana? Mau aku jemput?" tanya Defan.
__ADS_1
Sikap Defan saat berbicara dengan Dania ini sangat berbeda 360 derajat jika dibandingkan saat berbicara dengan Dira. Defan bersikap dingin, arogan dan sesukanya jika saat bersama Dira.
Namun kalau ia sedang bersama Dania, sikap saat bersama Dira itu hilang semua. Defan menjadi orang yang berbeda. Begitu riang, sering tersenyum bahkan menuruti semua keinginan Dania.
"Aku masih di kantor. Jemputlah kesini," pinta Dania dengan nada lembutnya.
"Oke aku meluncur kesana," kata Defan sambil mengakhiri teleponnya.
Ia tetap fokus pada penglihatan jalanan. Dari tadi tidak memperhatikan sekitar dalam mobilnya. Barang-barang Dira masih berada diatas kursi sebelah Defan.
Baru saja ia memarkirkan mobilnya, Dania tiba-tiba menarik pintu mobil dan masuk ke dalam. Tetapi dia tak jadi duduk karena melihat kursi itu dipenuhi barang berupa tas sekolah milik Dira.
"Def tas siapa ini," tanya Dania dengan polos. Karena ia memang tak mengetahui tas itu adalah milik pariban Defan.
"Astaga! Tas si Dira itu. Ketinggalan kayanya," ucap Defan tersentak kaget.
"Loh emangnya kau habis darimana? Kok ada tas si Dira disini?" tanya Dania sambil menyingkirkan tas itu kebagian belakang dan melihat gaun milik Dira, kemudian ia menduduki kursi sebelah Defan.
"Kan tadi sudah kubilang! Kalau aku baru selesai pemotretan seharian. Preweddingku," ucap Defan sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Oh Prewed," sinis Dania.
Defan kebingungan, apakah ia harus mengantarkan tas milik Dira atau mengikuti kemauan Dania. Tetapi Dania akan merajuk jika harus mengantarkan tas itu lebih dulu.
Defan mengambil ponselnya didalam kantong celananya. Ia mencoba menghubungi Dira, tapi suara dering ponsel milik Dira malah ada didalam mobilnya sendiri.
"Sial! Ponselnya disini juga," ketus Defan yang semakin bingung. Dira pasti menunggu kehadirannya untuk mengembalikan semua barang miliknya.
"Dania, kita sepertinya harus ke rumah Dira. Kasian dia kalau nunggu barangnya daritadi. Soalnya aku juga nggak sadar kalau barangnya tertinggal. Karena sibuk nyetir dan menghubungimu," jelas Defan kepada sahabatnya itu.
Dania yang sebenarnya ogah ke rumah Dira mengantarkan barang-barang miliknya. Apalagi melihat wajah Dira yang dianggap sebagai saingannya yang tak bisa ia kalahkan.
Tetapi Dania juga penasaran seperti apa rumah Dira. "Yaudah ayoklah kita antarkan aja dulu barang dia," ketus Dania.
Defan menginjakkan gas mobilnya, ia melaju dengan kecepatan tinggi. Defan ingin segera mengantarkan barang milik Dira, karena pasti Dira akan mencarinya.
"Kayaknya aku terlalu fokus nelepon nih. Sampai nggak sadar kalau semua barang Dira ketinggalan," keluhnya.
Dania dengan santai mengotak-atik layar mobil untuk mendengarkan musik. Ia sudah terbiasa menjadi penumpang di mobil audi milik Defan. Bahkan disupiri pria tampan yang dingin seperti hari ini.
Jadi baginya melakukan hal apapun di dalam mobil Defan sudah menjadi hal biasa. Tidak ada rasa segan, karena Defan juga selalu memperbolehkan Dania berbuat semaunya.
__ADS_1
Tidak terasa Defan yang daritadi fokus menyetir menyadari kalau sekarang dia sudah tiba di rumah Dira. Ia tak melihat ada siapapun didalam rumah itu.
Tok... Tok...
Suara ketukan pintu rumah dari Defan tak didengar oleh Dira. Dira sedang tertidur lelap. Tak menyadari kedatangan seseorang di rumahnya.
Tok..
Tok..
Kali ini ketukan keras sengaja Defan lakukan agar Dira segera membuka pintu rumahnya. Defan melihat sekitar rumah, tapi tidak ada tanda-tanda ada orang didalamnya.
Sambil menenteng-nenteng tas Dira, meski gaunnya masih didalam mobil. Defan terus mengetuk pintu itu.
Dania yang melihat dari kejauhan penasaran mengapa tidak ada tanda-tanda kehadiran Dira. Ia hanya melihat rumah jelek Dira yang beralaskan tepas, kemudian mencibirnya.
"Jelek kali lah rumah si Dira ini. Kok mau si Defan sama dia sih! Harusnya aku yang pantas jadi istri Defan," gumamnya.
"Kok lama kali sih," lirihnya lagi.
Baru saja Defan membalikkan tubuhnya, ingin melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam mobil, tiba-tiba suara pintu terbuka.
Keluar sosok anak gadis kecil yang cantik. Dialah Dira, perempuan yang daritadi ditunggu oleh Defan. Dengan wajah baru bangun tidurnya, ia tetap saja kelihatan cantik dan natural.
"Nih tas mu ketinggalan," ucap Defan sambil menyodorkan tas milik Dira.
Dira padahal belum sadar dari tidurnya. Ia mengucek-ngucek matanya sambil melihat sekitarnya. "Oh iya tas ku bang," Dira kemudian mengambil tas itu dari tangan Defan.
"Abang pulang dulu ya," kata Defan yang langsung berjalan meninggalkan Dira.
Dira tersadar serta teringat dengan gaun preweddingnya. "Bang gaunku," teriaknya lalu mengejar Defan.
Tak jauh dari mobil sedan milik Defan, Dira melihat sosok perempuan yang tidak ia sukai. Perempuan itu berada dikursi yang ia duduki tadi. Tempat duduk dimana Dira sudah terbiasa saat sedang bersama Defan.
"Hmmm perempuan ini kenapa ada di dalam mobil," batinnya.
"Kenapa lagi Dir?" tanya Defan setelah masuk ke dalam mobil menyadari kalau Dira berada didekat mobilnya.
Defan membuka kacanya dan Dira melihat dengan jelas wajah sahabat Defan. "Gaunku bang ada di dalam" celetuk Dira sinis.
"Oh ambil aja sendiri. Buka aja pintunya," ucap Defan dingin tapi ia menyadari saat ini Dira sedang menatap kearah Dania dengan tajam.
__ADS_1